Rio menatap awan putih yang berarak lambat di langit yang biru.
Semalaman Rio berpikir akan melakukan apa. Dia sangat ingin pulang untuk
menemui orangtuanya, tetapi dia juga tidak ingin meninggalkan Ify.
"Oi," kata Ify sambil menepuk bahu Rio. Rio menoleh dan mendapati
Ify yang sedang nyengir sambil membawa dua gelas cokelat hangat. Ify
menyodorkan salah satunya pada Rio. "Lagi mikirin apa, sih? Serius
amat."
Rio menatap heran Ify yang menghirup cokelatnya. Ify bersikap
biasa-biasa saja—seolah tidak terjadi apa-apa kemarin—padahal dia sudah
tahu tentang ayah Rio yang sudah kembali. Mendadak Ify menoleh.
"Kenapa? Kok, nggak diminum?" tanya Ify lagi membuat Rio tersadar dan meminum cokelatnya yang kemanisan, tanpa berkata apa pun.
Ify meregangkan kedua tangannya sampai isi gelasnya mau tumpah. Dia
melakukan senam-senam kecil dengan menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke
kanan, membuat Rio tersenyum karena teringat pada pertemuan mereka yang
pertama. Saat itu, Ify juga melakukan senam seperti ini.
"Huaah... udah lama nggak senam," kata Ify ringan sambil menghirup
udara pagi. Ify tiba-tiba terdiam sambil menatap awan. "Dari sini...
kira-kira apa yang bakal terjadi sama kita, ya?"
"Ify," panggil Rio membuat gadis itu menoleh. "Kalo lo minta gue
tinggal, gue bakal tetep tinggal. Gue nggak bakal balik ke Manado, kalo
lo mau."
"Hah? Kamu gila, ya? Nggak mungkin!" seru Ify kaget. "Kamu harus pulang! Ayah dan ibu kamu udah nunggu kepulangan kamu!"
Rio terdiam sambil menatap cokelatnya yang tinggal setengah gelas. Ify menghela napas.
"Yo, kamu harus tau. Kalo kamu bahagia, aku juga ikutan bahagia.
Kamu harus pulang, dan kamu harus ngelanjutin cita-cita kamu," kata Ify
lagi, mata nya menerawang ke langit biru yang cerah.
"Terus, lo gimana?" tanya Rio.
"Aku? Aku juga akan berusaha di sini. Aku bakal lulus kuliah dan
berhasil jadi penulis best-seller," kata Ify mantap. Ify beralih menatap
Rio. "Kita pasti bisa, Yo. Ayo kita sama-sama berusaha."
Rio menghela napas. Sangat berat rasanya membicarakan ini dengan
Ify. Rio sebenarnya ingin mengajak Ify bersamanya, tetapi Ify memiliki
cita-citanya sendiri, dan Rio tidak bisa menghentikannya. Rio juga harus
mendukungnya seperti Ify mendukungnya.
"Ify," kata Rio membuat Ify menoleh. "Soal janji lo itu... lupain
aja. Lo jangan khawatir lagi soal gue. Kalo nanti lo menemukan orang
yang lebih baik..."
Rio langsung berhenti bicara saat melihat ekspresi Ify. Ify seperti
sudah siap untuk menamparnya atau bahkan melakukan sesuatu yang lebih
sadis dari sekedar tamparan.
"Sori," kata Rio cepat-cepat, sambil mengangkat kedua tangannya di depan dada. Dia menatap Ify dalam-dalam.
"Gue pasti balik ke sini."
Ify menatap Rio, lalu mengangguk. "Aku tunggu," ujar Ify sambil tersenyum manis.
Rio ikut tersenyum, lalu mengacak-acak rambut Ify. Ri segera meminum
habis cokelat dari gelasnya, dia menatap pemandangan berupa atap-atap
rumah di depannya. Dia pasti akan sangat kehilangan tempat ini.
Rio sudah memutuskan untuk pulang ke Manado besok. Sekarang, dia
sedang membereskan barang-barangnya. Tiba-tiba, matanya tertumbuk pada
sebuah benda di dalam ranselnya. Rio mengambilnya. Sebuah belati yang
dibelinya di sebuah pasar malam saat dia sedang emosi.
Rio menarik napas, memasukkan belati itu kembali ke dalam ranselnya.
Seberapa besar pun dendam yang disimpannya dia harus bisa menahannya
karena sekarang sudah banyak orang yang peduli padanya. Rio tidak ingin
menghabiskan sisa-sisa hidupnya di penjara.
Setelah selesai mengepak barang, Rio bermaksud untuk pergi ke kost
Alvin karena Rio belum sempat bercerita padanya. Rio keluar dari kamar
dan mendapati Ify sedang lewat dengan membawa baju yang baru diangkat
dari jemuran.
"Eh? Mau ke mana?" tanya Ify dari balik tumpukan baju yang dibawanya.
"Ke kost Alvin," jawab Rio. Tahu-tahu sebuah bra jatuh dari tumpukan
itu, Ify tampak tak sadar. Rio tersenyum simpul, lalu mengambilnya dan
menyangkutkannya ke kepala Ify. Ify melongo sementara Rio buru-buru
kabur.
"Heeehh! Dasar cabuuull!" seru Ify, tetapi Rio sudah keluar dari kost.
Ify menghela napas, lalu nyengir sendiri. Untuk kali ini tidak apa-apa.
***
Rio berjalan ke kost Alvin sambil mendengarkan musik dari headphone
besarnya. Hari ini, tampaknya hujan mau turun, dilihat dari sekumpulan
awan hitam yang ada di langit kota Bandung. Rio mempercepat langkahnya
ke kost Alvin. Di tengah jalan, mendadak musik di telinganya terhenti.
Rio berhenti berjalan, lalu mengecek iPod-nya. Ternyata, semalam dia
tidak mengisi baterainya. Rio menghela napas, melepaskan headphone dari
telinganya dan membiarkannya terpasang di leher.
Saat Rio mau kembali berjalan, dua orang pria lewat sambil mengobrol.
"Gue kemaren maen ke kost-nya," kata pria yang memakai kaus merah.
"Gila, dia tajir mampus! Punya segala macem peralatan elektronik!"
"Lhah, bukannya emang bokapnya si Gabriel itu pengusaha kaya di
Manado, ya?" sahut temannya, membuat langkah Rio tiba-tiba terhenti.
Rio berbalik dan menatap kedua pria itu. Rio merasakan tangan dan
kakinya dingin. Rio tahu itu mungkin saja bukan Gabriel yang dicarinya,
tetapi tetap saja Rio merasakan sebuah firasat.
Rio segera berlari menuju kedua pria tadi dan menghadangnya. Kedua pria itu menatap Rio heran.
"Eh, tunggu. Tadi kalian ngomongin Gabriel?" tanya Rio membuat kedua pria tadi mengangguk. "Gabriel ini... anak Manado?"
"Iya. Lo siapa, ya?" tanya pria yang berbaju merah, tapi Rio tak mendengarkannya.
"Gabriel Stevent... anak SMA 05 Manado? Angkatan 2004?" tanya Ri lagi, jantungnya berdetak tak berarturan.
Kedua pria tadi saling berpandangan, lalu sama-sama mengangguk. Rio segera bergerak buas ke arah pria yang
berbaju merah dan mencengkeram kerah bajunya.
"Eh, lo kenapa, Man?" seru pria itu, terkejut.
"Di mana kost-nya?" seru Rio kalap. "DI MANA KOST-NYA?"
Teman pria itu segera maju, berusaha melerai, tetapi kekuatan Rio melebihi mereka berdua.
"Apa urusan lo, sih?" sahut pria itu, membuat Rio memperkuat cengkeramannya.
"Lo nggak perlu tau apa urusan gue! Sekarang, kasih tau gue di mana kost-nya?" sahut Rio lagi.
"Di daerah Bandung Raya!" seru pria itu membuat Rio mengumpat. Dia sama sekali tidak tahu daerah itu.
"Kampusnya?" seru Rio lagi sambil mengguncang-guncang tubuh pria itu. "Kampusnya di mana?"
"ITB!" seru pria itu. "ITB Jurusan Teknik Kimia!"
Rio segera melepaskan cengkeramannya pada pria itu yang segera terbanting ke tanah. Temannya segera menghampirinya.
"Lo kenepa, sih? Gila, ya?" sahut temannya pada Rio, tetapi Rio tak peduli.
Tangan Rio sudah terkepal keras di samping pahanya. Ternyata, Rio memang tidak bisa melepaskan Gabriel.
Rio segera berlari. Kepalanya sudah panas dan dia benar-benar sudah tidak bisa berpikir jernih lagi.
Ify sedang menyapu lantai gang depan kamarnya ketika Rio muncul dari tangga dan berlari kalap menuju kamarnya.
"Yo? Kenapa?" tanya Rukia, tetapi Rio tidak menjawab. Rio buru-buru
membuka pintunya, lalu masuk. Ify segera mengintip dari luar.
Rio tampak sedang mengobrak-abrik ransel yang telah dipaknya dengan kalap. Ify menatapnya takut-takut.
"Rio?" tanya Ify lagi dan Rio telah mendapatkan apa yang dicarinya. Belati tajam yang dibungkus sarung kulit hitam.
Ify mengenali barang itu, lalu terpekik. "Yo! Kamu mau apa dengan itu?"
Rio tidak mendengarkan. Dia menyelipkan belati itu ke pinggangnya,
lalu berdiri, bermaksud untuk pergi lagi. Ify segera menghadangnya di
pintu dan menatapnya khawatir.
"Rio! Kamu udah janji, kan? Kamu mau pulang, kan? Yo!" seru Rukia, tapi Rio hanya menatapnya tanpa menjawab.
"Rio! Jangan lakukan ini, Yo, aku mohon..."
Rio menatap Ify sebentar , lalu segera berderap pergi. Ify merasa
seluruh tubuhnya lemas. Rio pasti sudah menemukan Gabriel, dan sekarang
dia bermaksud untuk membunuhnya.
Ify merasa tak berdaya. Sekarang, Ify hanya bisa berdoa semoga Rio mengingat janjinya.
Rio turun dari bus dan menatap bangunan besar di depannya. Institut
Teknik Bandung. Universitas elit tempat Gabriel berkuliah. Rio segera
melangkahkan kakinya ke dalam. Dia harus bisa menemukan Gabriel.
Rio tidak tahu apa yang akan dia perbuat dengan Gabriel nanti,
tetapi ada satu hal yang harus ditanyakannya. Rio tidak akan melepaskan
Gabriel sebelum mendapatkan jawabannya.
Rio bertanya pada beberapa orang di mana kampus teknik kimia berada,
dan sekarang dia sudah ada tepat di depannya. Rio menatap kampus itu.
Ternyata selama ini Gabriel ada di sini. Sebuah keberuntungan Rio
bertemu dengan orang-orang tadi.
Rio menunggu beberapa jam sampai dia menemukan sesosok pria berambut
hitam panjang yang sedang sibuk dengan ponselnya. Rio merasa semua
darahnya naik ke kepala saat melihat sosok itu. Sosok yang terlihat
sehat dan baik-baik saja. Sosok yang sudah menghancurkan seluruh
kehidupannya.
Rio mendekati Gabriel dan berhenti tepat di depannya. Gabriel yang masih sibuk dengan ponselnya tidak sadar dan menabraknya.
"Ah, sori," kata Gabriel sekenanya—tanpa melihat sosok yang sudah ditabraknya—sambil terus berjalan.
"Lo keliatannya sehat-sehat aja," ujar Rio membuat langkah Gabriel
terhenti seketika. Kusaka berbalik pelan-pelan, dan melongo menatap Rio.
"Ri... o?" kata Gabriel, tak percaya.
"Yah, Rio. Mario Stevano," kata Rio dingin. "Kaget?"
Gabriel masih menatap Rio tak percaya. "Lo... ngapai di sini?"
"Nyari lo," jawab Rio membuat Gabriel mengangguk-angguk walaupun masih bingung.
"Udah lama banget, ya?" kata Gabriel kemudian, agak terasa canggung. "Apa kabar lo, Yo?"
Rio terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Gabriel yang tampak
tenang-tenang saja seperti ini semakin membuatnya emosi. Gabriel memang
tidak tahu apa-apa tentang penyakitnya, karena sebelum dia sempat tahu,
dia sudah keburu pindah sekolah.
"Kabar gue?" kata Rio. "Nggak pernah sebahagia ini bisa ketemu lo."
Gabriel mengangguk sambil tersenyum kaku. Sudah begitu lama semenjak
mereka berpisah. Gabriel benar-benar kaget bisa melihat Rio di sini.
"Bisa kita ngomong sebentar?" tanya Rio.
"Oh, oke," jawab Gabriel. "Di belakang kampus aja."
Gabriel kemudian berjalan duluan, sementara Rio mengikutiya dari
belakang. Rio sebisa mungkin menahan emosinya. Mereka kemudian sampai di
belakang kampus yang sepi.
"Rio, dulu gue..."
Rio sudah keburu meninju pelipis Gabriel sebelum Gabriel sempat
meneruskan kata-katanya. Gabriel sekarang sudah terkapar di tanah. Rio
menatap Gabriel bengis.
"Bangun, lo," kata Rio sambil menarik kemeja Gabriel dan memaksanya
bangun. Rio menatap Gabriel dari atas sampai ke bawah. "Wah, wah...
kayaknya lo baik-baik aja, ya?"
"Rio, gue..."
Rio meninju perut Gabriel sehingga Gabriel tersungkur ke tanah. Gabriel terbatuk kesakitan.
"Gue pikir lo bakalan kurus kering, menyedihkan, dan nggak ada
bentuk karena segala jenis narkoba yang lo pakai, tapi ternyata lo
sehat-sehat aja," kata Rio sinis.
"Gue... udah berhenti, Yo," ujar Gabriel sambil terbatuk. "Lima
tahun yang lalu, gue dipindahin sekolah sama bokap gue, dan semenjak itu
gue nggak pernah pakai lagi."
Rio terdiam sambil menatap orang yang pernah menjadi orang yang penting dalam hidupnya itu.
"Yel... Lo nggak pernah berusaha nyari gue? Lo nggak mau tau keadaan gue?" tanya Rio lagi membuat Gabriel menatapnya.
"Gue... terlalu malu untuk nelepon lo, Yo. Gue takut lo marah," kata Gabriel membuat Rio tertawa keras.
"Marah, ya... Apa menurut lo gue nggak punya hak buat marah? Lo udah ngehancurin hidup gue!" sahut Rio sengit.
"Sori, Yo," ujar Gabriel, tetapi Rio tidak mau mendengar. Dia
kemudian mengeluarkan belatinya, membuat mata merah Gabriel melebar.
"Yo, lo mau apa?"
"Ngeliat lo sehat, seneng, punya kehidupan yang baik... gue tambah
muak," kata Rio sambil berjalan mendekati Gabriel. Gabriel mulai mundur
teratur, matanya yang berwarna merah darah menatap ngeri belati yang ada
di tangan
Rio. "Menurut lo, gue mau apa?" tanya Rio balik.
"Yo, gue minta maaf," kata Gabriel takut. "Apa lo segitu dendamnya sama gue?"
Rio tertawa lagi, lalu menatap Gabriel tajam. "Apa gue segitu
dendam? Menurut lo?" katanya sambil membuka sarung belatinya. "Kenapa
Gabriel? Kenapa lo ngelakuin ini sama gue?"
"Yo, dulu... gue iri sama lo, karena lo punya semua yang gue nggak
punya. Lo punya keluarga yang hangat, lo punya cita-cita, dan lo punya
Shilla," ujar Gabriel gugup. "Waktu itu... gue cuma khilaf, Yo! Lo nggak
kecanduan,
kan? Kalo cuma sekali pasti nggak kecanduan!"
Rio menatap Gabriel bengis. Jadi, itu jawabannya. Gabriel iri
padanya, karena itu dia menyuntiknya. Dan, hanya karena masalah keirian
bodoh itu, Rio mendapatkan semua kesialan ini.
"Oh, yah, gue emang nggak kecanduan, tapi jauh lebih buruk dari
itu," kata Rio membuat Gabriel bingung. "Hidup gue hancur lebur,
Gabriel. Semua yang lo bilang gue punya itu hilang gara-gara lo."
Gabriel bergerak mundur sampai punggungnya membentur dinding karena Rio terus mendekatinya dengan belati tajam di tangannya.
"Jangan lakukan ini, Yo. Gue tau lo nggak mau ngebunuh gue," kata Gabriel takut.
"Oh, ya? Kenapa gue nggak mau ngebunuh lo? Lo yang udah bikin gue
hancur," kata Rio sambil terus mendekati Gabriel. "Lima tahun gue nyari
lo, dan sekarang lo udah ada di depan mata gue, kenapa gue nggak mau
ngebunuh
lo? Biar gue nggak mati sendirian."
"Maksud lo apa, Rio?" tanya Gabriel heran.
"Lo bener-bener mau tau, Yel?" tanya Rio. "Lo bener-bener mau tau?
Yah, karena ini udah menjelang akhir hidup lo, gue bakal kasih tau
supaya lo nggak mati penasaran. Karena lo udah nyuntik gue pakai jarum
suntik sialan itu,
gue kena HIV. Puas lo?"
Mata Gabriel—untuk kesekian kalinya—membesar setelah mendengar kata-kata yang meluncur dari mulut Rio.
"Karena gue kena HIV, gue bakal ke AIDS. Dan, karena gue bakal kena
AIDS, semua kebahagiaan yang lo bilang tadi lenyap. Nyokap gue, bokap
gue, Shilla, semua pergi. Cita-cita? Musnah. Selama lima tahun gue hidup
dalam pengasingan, sementara lo senang-senang. Jadi, apa yang..."
Rio berhenti bicara, karena Gabriel tiba-tiba merosot hingga terduduk di tanah. Wajahnya tampak pucat.
"Kenapa lo? Ngerasa bersalah?" tanya Rio sinis. "Yah, emang udah semestinya. Jadi, lo nggak marah, kan, kalo gue..."
"Yo... Lo... serius?" tanya Gabriel, tampak kacau.
"Apa yang bikin lo berpikir kalo gue bercanda?" seru Rio emosi.
Gabriel menjambak rambut hitamnya, tampak tidak percaya. Rio hanya
menatapnya. Gabriel pasti merasa bersalah karena selama ini tidak tahu.
Mendadak hujan turun rintik, tetapi Rio tidak peduli. Sudah sangat
terlambat bagi Gabriel untuk menyesal.
"Nah, gue nggak mau berlama-lama lagi. Gue harus menyelesaikan ini," kata Rio. " Gue jijik liat lo bahagia, jadi lo harus..."
"Yo," kata Gabriel gugup sambil menatap Rio. Di antara rintik hujan
yang membasahi wajah Gabriel, Rio bisa melihat dengan jelas air mata
yang mengalir di wajahnya. "Suntikan itu... punya gue."
Petir menggelegar tepat setelah kalimat tadi meluncur keluar dari mulut Gabriel. Rio rasanya salah mendengar.
"Apa?" kata Rio, sementara Gabriel sudah kembali menjambak-jambak rambut hitamnya lagi.
"Suntikan itu punya gue," ulang Gabriel miris. "Sebelum gue suntik lo... gue pakai dulu suntikan itu."
Mendadak tubuh Rio terasa aku. Rio menatap nanar sosok di depannya. Rio tak bisa memercayai pendengarannya,
tapi seluruh tubuh Gabriel sudah gemetar. Bukan karena dinginnya
hujan, melainkan karena baru menyadari sesuatu yang mengerikan telah
terjadi pada dirinya.
Rio mendengus geli. Lalu dia terbahak untuk menyembunyikan air mata yang keluar tanpa bisa ditahan.
"AAARRGGHHH!" sahut Rio emosi sambil menendang batu yang ada di
sebelahnya, lalu bergerak buas ke arah Gabriel yang tampak sudah pasrah.
"Kenapa Yel? Kenapa?"
Gabriel tampak seperti sudah tidak bernyawa, masih syok dengan
kenyataan yang baru diterimanya. Rio meninju tembok di sebelahnya dengan
sekuat tenaga.
Rio benar-benar tidak pernah menyangka kalau persahabatannya dengan Gabriel akan berakhir dengan cara seperti ini.
***
Ify duduk di depan kamar Rio sambil terus berdoa. Ify memeluk
lututnya karena merasa hawa di sekitarnya semakin dingin. Ify
benar-benar khawatir pada Rio yang sampai saat ini belum juga pulang.
Mungkinkah Rio benar-benar membunuh Gabriel?
Ify segera menggeleng, tidak mau memikirkan kemungkinan itu. Namun,
bila mengingat Rio yang tadi seperti hilang kendali begitu, Ify tidak
tahu.
Mendadak, Rio muncul dari tangga, membuat Ify segera berdiri. Rio
berjalan terseok-seok, tampak basah kuyup. Ify segera menghampirinya.
"Rio? Yo, kamu nggak..." Ify tidak meneruskan perkataannya, karena
belati yang dipegang Rio terjatuh. Rio juga ikut terjatuh. Ify
cepat-cepat menangkapnya.
Ify melirik takut belati yang ada di sebelahnya, takut melihat
darah, tetapi belati itu bersih. Ify melirik Rio yang tampak pucat.
"Yo..."
"Fy, gue tadi ketemu Gabriel," kata Rio dengan pandangan kosong.
"Terus... kamu nggak..." Ify tidak bisa meneruskan pertanyaannya,
terlalu takut kalau-kalau hal itu benar-benar terjadi. Rio tiba-tiba
mendengus, dan air mata mengalir dari mata indahnya. Ify menatapnya
khawatir. "Rio...?"
"Suntikan itu... punya dia, Fy," ujar Rio miris, membuat Ify berpikir. Detik berikutnya, Ify membekap mulutnya sendiri,
tak percaya.
"Itu berarti... dia...?" kata Ify takut. Rio mengangguk pelan.
"Dia yang nularin virus ini," kata Rio membuat Ify menahan napas. "Dia mengidap penyakit yang sama, dan dia baru
sadar tadi—setelah gue bilang kalo gue kena HIV."
"Ya ampun," gumam Ify. Air mata Rio masih mengalir.
"Selama perjalanan ke sini gue berpikir. Apa salah kami? Kenapa kami
harus mengalami semua ini? Kenapa?" kata Rio lirih. "Memang bener gue
pengen ngebunuh dia, tapi gue sama sekali nggak pernah sedikit pun
berharap dia punya penyakit yang sama kayak gue. Kenapa kami bisa jadi
kayak sekarang ini? Kenapa?"
Ify mengusap lembut pipi Rio untuk menghapus air matanya.
"Dulu gue begitu deket sama dia, Fy. Kami tertawa bersama, menangis
bersama, semuanya akan gue lakukan untuk dia. Dia udah kayak kakak gue
sendiri. Tapi, kenapa?" kata Rio lagi. "Cuma karena satu kesalahan
kecil, hidup kami langsung hancur. Kenapa dia harus berurusan sama
narkoba sialan itu?"
Ify ikut menangis melihat Rio yang terlihat begitu menderita. Ify
tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan sahabat, tetapi rasanya Ify bisa
ikut merasakan kepedihan hati Rio.
"Tapi, setelah gue pikir-pikir lagi, Ify, mungkin ini kesalahan gue.
Mungkin gue nggak pernah jadi sahabat yang baik buat dia. Gue tau dia
selalu kesepian karena di rumahnya semua orang sibuk, tapi gue nggak
peduliin dia. Semenjak gue kenal film, gue sering nolak ajakan maen dia.
Gue jadi jarang ada buat dia," kata Rio sambil menjambak rambutnya. "
Mungkin ini salah gue juga dia jadi bergaul dengan orang-orang nggak
jelas."
"Yo, jangan menyalahkan diri kamu sendiri," kata Ify sambil menahan tangan Rio yang mau menjambak rambut lagi.
"Kalau pun ada kesalahan kamu, semuanya udah terjadi, Yo. Sekarang,
yang kamu bisa lakukan adalah meneruskan hidup kamu, dan berharap
Gabriel juga melakukan hal yang sama."
Rio menatap Ify dalam-dalam.
"Ify, menurut lo gue ini jahat? Gue menimpakan semua kesalahan sama
Gabriel tanpa berpikir kesalahan gue, apa menurut lo gue jahat?" tanya
Rio membuat Ify terdiam. Ify menggeleng.
"Yo, semua orang pernah berbuat kesalahan. Kamu seharusnya bersyukur
karena kamu nggak mengulangi kesalahan itu," jawab Ify sambil menatap
belati yang tergeletak. "Walaupun berat, kamu dan Gabriel sudah
sama-sama menerima akibat dari kesalahan itu. Yo, kamu mungkin sedikit
lebih beruntung dari Gabriel. Kamu punya keluarga, punya teman seperti
Alvin dan Shilla, dan kamu juga punya aku. Kita semua pasti bisa melalui
ini, Rio."
Rio menatap Ify, dan mulai menangis lagi. Ify merengkuhnya tanpa
memedulikan bajunya yang sudah ikut basah. Ify membiarkan Rio menangis
di pelukannya untuk beberapa saat.
Tangan Ify terkepal keras. Karena benda haram seperti narkoba, hidup
dua orang anak manusia sudah hancur. Mengapa benda-benda seperti itu
harus ada di dunia? Mengapa orang-orang tidak bisa lebih menyayangi diri
mereka sendiri sehingga tidak ada orang yang putus asa dan terjerumus
ke dalam dunia narkoba?
Begitu banyak pertanyaan yang ada di dalam benak Ify, tetapi Ify sendiri tidak tahu siapa yang bisa menjawabnya.
Selasa, 26 Juni 2012
The Truth About Forever - Chapter 12 : There Is Still Tomorrow
Rio baru saja berkeliaran di kampus Teknik Universitas Bandung. Setelah
berbagai kejadian kemarin, Rio kembali bernapsu untuk menemukan Gabriel.
Gabriel-lah yang harus bertanggung jawab di balik semua penderitaan
yang dialami Rio.
Rio pulang tanpa membawa hasil. Dia menaiki tangga sambil mematikan iPod-nya, tanpa melihat Ify yang menatapnya terkejut dari depan kamarnya. Rio baru sadar saat dia melihat sepasang kaki di depannya. Rio mendongak, lalu menatap Ify kaget.
"Lo bukannya..." Rio mendadak terdiam. Dia tidak akan membuka percakapan apa pun lagi dengan Ify. Dulu, semua adalah kesalahannya. Dia sudah membiarkan dirinya terlibat terlalu jauh dengan Ify. Sekarang, Rio memastikan hal itu tidak akan terjadi lagi. Lalu, Rio kembali melangkahkan kaki menuju kamarnya.
"Rio, tunggu!" sahut Ify sambil menghalanginya. Rio menatap cewek itu, dan mendadak Rio menyadari bahwa sudah terlalu lama dia tidak melihat mata Ify. Rio segera mengalihkan pandangannya.
"Apa?" tanya Rio, berusaha supaya terdengar tidak peduli.
"Apa? Apa?!" tanya Ify tak percaya sambil mengulang ucapan Rio sebelumnya. "Bukannya 'apa'! Kamu harusnya minta maaf sama aku!"
"Hah?" seru Rio.
"Kamu harusnya minta maaf setelah semua yang kamu lakuin selama ini! Dasar pembohong," ujar Ify, tetapi tak sedikit pun terlihat marah. Rio yakin, Shilla pasti sudah mengatakan yang tidak-tidak pada Ify.
Ify sekarang melipat kedua tangannya di depan dada, dan menatap Rio seolah menunggu permintaan maafnya. Rio menghela napas. Pola ini terulang lagi, tetapi kali ini Rio tidak akan mau kalah.
"Denger, ya, apa pun yang Shilla bilang sama lo..."
"Aku lebih percaya sama Shilla," balas Ify, memotong perkataan Rio, membuat cowok manis itu terdiam. "Kamu selalu bohong, jadi aku udah nggak percaya lagi sama kamu."
"Lo... bisa nggak, sih, biarin gue sendiri?" sahut Rio geram.
"Apa? Kamu mau ngomong sesuatu yang kejam lagi?" tantang Ify, sama sekali tidak terlihat takut. Rio menatapnya tajam, dan dia meninju pintu di depannya, tepat di samping wajah Ify. Ify balas menatap Rio berani, dia yakin, sekejam-kejamnya Rio terhadapnya, pemuda itu tak akan sampai tega memukulnya.
"Apa Shilla udah bilang kalo gue sebenernya takut kehilangan lo?" tanya Rio. "Karena kalo iya, berarti lo kegeeran banget. Sama sekali nggak pernah terlintas di pikiran gue..."
"Aku udah nggak peduli lagi sama semua kebohongan kamu," potong Ify membuat Toushiro melotot. "Mau kamu bilang aku ini cewek yang sok pengen jadi malaikat dengan ikut campur urusan orang lain, aku bukan tipe kamu, kamu nggak suka aku, kamu benci aku, aku nggak peduli."
Rio menatap Ify bingung.
"Yo, aku udah denger semuanya dari Shilla, dan aku sekarang tau apa penyebab kamu punya penyakit ini," ujar Ify lembut, matanya menatap mata Rio dalam-dalam. "Aku sekarang tau kalau bukan salah kamu bisa dapat penyakit itu. Sebenernya, alasan apa pun nggak penting, karena aku nggak akan menjauhi kamu cuma karena kamu punya
penyakit itu."
"Berhenti ngomong sesuatu yang manis-manis," potong Rio geram. "Lo dulu sempat ragu, kan?"
"Emang bener aku sempat ragu, tapi aku nyesel. Harusnya aku nggak pernah ragu. Waktu itu—aku akui—aku emang takut. Tapi, setelah itu, aku benci diriku yang penakut seperti itu. Waktu itu, aku pikir, kalo aku takut, aku nggak akan pantas buat kamu," kata Ify lagi. "Tapi, Yo, sekarang aku nggak akan pernah takut lagi. Aku tau kayak apa kamu mungkin berubah beberapa tahun lagi, tapi, Yo, aku nggak pernah punya perasaan sekuat ini sama siapa pun selain kamu. Kamu berubah jadi apa juga nggak akan mungkin bikin aku mundur."
"Lo nggak akan pernah tau apa yang bakal terjadi di masa depan," ujar Rio dengan suara gemetar. Ify tersenyum.
"Kamu juga nggak tau, kan?" Ucapan Ify membuat mata Rio melebar sempurna. "Jadi, kenapa kita nggak coba ambil risiko itu?"
Rio ingin sekali merengkuh gadis di depannya ini. Setitik air matanya menetes. Ify mengelap air mata itu dan memegang pipi Rio lembut. Rio bahkan tidak menghindar.
"Gue cuma punya waktu lima tahun," kata Rio membuat Ify tersenyum lagi.
"Jadi, ayo kita pergunakan waktu itu sebaik-baiknya," jawab Ify membuat setitik lagi air mata jatuh dari mata indah Rio. "Kalo kamu tau kamu cuma punya waktu lima tahun, ayo kita buat kenangan sebanyak-banyaknya dalam kurun waktu itu."
"Lo... rela ngorbanin lima tahun hidup lo buat gue?" tanya Rio lagi.
"Aku nggak mau bilang aku rela ngorbanin lima tahun hidupku untuk kamu," kata Ify. "Karena aku nggak mau cuma lima tahun bareng kamu. Aku mau selamanya bareng kamu."
Rio menatap Ify dalam-dalam, mencari kebenaran dalam matanya.
"Fy... Boleh gue percaya omongan lo sekarang?" tanya Rio membuat air mata Ify juga mulai menetes. Ify mengangguk, membelai pipi Rio yang sudah basah oleh air mata. Ify lalu memeluk Rio. Awalnya Rio hanya membatu, menyangka dirinya sedang berada di alam mimpi. Namun, wangi lavender rambut Ify menyadarkannya, bahwa saat ini dia benar-benar hidup dalam dunia nyata. Rio mengangkat tangannya ragu, dia lalu menyentuh punggung Ify yang terasa hangat. Semuanya terasa begitu nyata.
Rio mempererat pelukannya pada Ify. Rio tidak ingat kapan dia pernah merasa sebahagia ini sebelumnya. Kali ini, dia tidak akan melepaskan Ify lagi. Tidak akan pernah lagi.
***
Rio membuka matanya dan seberkas cahaya menelusup melewati jendela kamarnya. Rio mengerjap-ngerjapkan matanya, dan setelah semua nyawanya terkumpul, dia berusaha mengingat kejadian semalam.
Semalam, dia bermimpi telah memeluk Ify. Dia bermimpi bahwa Ify mengatakan akan selalu bersamanya. Rio mengangkat tangannya dan menatap tangan itu. Tangan yang sudah menyerah pada seorang gadis bernama Alyssa Sufika.
Mendadak Rio sadar, kalau kejadian semalam bukanlah mimpi. Wangi tubuh Ify ada di mana-mana di kamar ini. Semalam, setelah Rio memeluk Ify, emosinya begitu meledak-ledak sampai-sampai dia tak ingin melepaskan Ify dari dekapannya. Rio terus memeluk Ify sampai Ify jatuh tertidur.
Rio terbangun dengan tersentak, dia melihat sekelilingnya. Ify sudah tidak ada. Rio segera bangkit dan membuka pintu kamarnya. Dia sekarang berdiri di depan kamar Ify dan menatap pintu kamar Ify ragu.
Rio menjambak-jambaknya sendiri. Harusnya semalam dia bisa lebih menahan diri. Harusnya dia bisa melepaskan Ify dan membiarkan Ify tidur di kamarnya sendiri. Rio benar-benar takut Ify sudah menganggapnya yang tidak-tidak. Ify pasti sangat terkejut saat melihat Rio di sampingnya saat bangun, sehingga langsung kabur dan tidak mau melihat Rio lagi.
Rio masih saja menjambak-jambak rambut putihnya frustasi saat dia mendengar suara pintu di tingkap atas. Rio menatap pintu itu penasaran. Mungkin saja Ify ada di atas.
Rio segera naik ke lantai tiga dan Ify ada di sana, sedang bersandar pada pagar pembatas, menatap bangunan-bangunan di depannya. Rio menghela napas lega karena setidaknya Ify masih berada di kost ini.
Tiba-tiba Ify menoleh, dan tersenyum pada Rio yang segera salah tingkah. Rio lalu menghampiri Ify ragu-ragu.
"Ng...," gumam Rio tak jelas. "Sori, semalem gue..."
"Nggak apa-apa," kata Ify sambil tersenyum. "Semalem aku kebangun, terus kamu udah ketiduran. Jadi, aku selimutin kamu terus pindah ke kamar."
Rio mengangguk-angguk, benar-benar lega karena Ify tidak berpikiran yang aneh-aneh tentangnya. Rio kemudian ikut bersandar di sebelah Ify. Sebenarnya, Rio masih ingin memeluk Ify, tapi keinginan itu ditahannya.
"Kok, diem?" tanya Ify membuat Rio menoleh. Ify tertawa kecil. "Rio, aku belum dengar dari kamu, lho, kalo kamu suka sama aku..."
Rio menatap Ify tak percaya, membuat Ify terbahak.
"Nggak usah bilang juga udah tau, kan?" ucap Rio tanpa melihat Ify. Ify berhenti tertawa, lalu ikut menatap pemandangan di depannya.
"Sampai saat ini, aku masih belum percaya kalau kamu akhirnya mau percaya sama aku," kata Ify membuat Rio menatapnya. "Aku seneng banget sampai rasanya pengen nangis."
Ify tidak bisa mengatakan kalau semalam saat dia terbangun dan mendapati Rio ada di sampingnya, dia menangis lagi. Ify benar-benar senang karena Rio sudah bisa memercayainya.
Ify menggigit bibirnya, mau menangis lagi. Rio menepuk kepalanya dan mengacak rambutnya.
"Harusnya gue yang ngomong begitu," ujar Rio membuat Ify benar-benar menangis. "Hus. Jangan nangis terus, ah! Dasar cengeng."
"Biarin cengeng juga!" sahut Ify sambil terisak. Rio tersenyum simpul.
Mereka terdiam sesaat sampai akhirnya Rio berbaring di lantai dengan kedua tangan terlipat di belakang kepalanya.
Ify ikut duduk di sebelahnya. Sejenak mereka menikmati angin berembus sepoi.
Ify melirik Rio yang sudah terpejam. Ify memeluk lututnya.
"Ng... Yo?" tanya Ify pelan.
"Hm?"
"Ng... Aku boleh tanya sesuatu, nggak?"
Rio membuka matanya, menatap awan putih yang berarak menghiasi langit. Dia tahu, cepat atau lambat Ify pasti akan bertanya soal masa lalunya.
"Boleh aja," kata Rio akhirnya.
"Hm... Apa bener cita-cita kamu jadi sutradara?" tanya Ify hati-hati. Rio terdiam sesaat. "Kata Shilla, dulu pas SMA kamu pengen jadi sutradara."
"Bener," jawab Rio setelah terdiam beberapa saat. Dia duduk dan mengorek saku celananya, mengeluarkan rokok.
Ify dengan segera merampas rokok itu dan membuangnya. Rio menatapnya sebentar, dan menghela napas. "Tapi, sekarang udah nggak ada gunanya lagi, kan, ngomongin itu?"
Ify menatap Rio bingung. "Kenapa?" tanyanya. Rio balas menatapnya.
"Kenapa? Ya udah jelas, kan? Mana bisa gue jadi sutradara," kata Rio lagi.
"Kenapa nggak bisa?" tanya Ify lagi membuat Rio sekarang benar-benar memusatkan perhatian padanya.
"Denger, ya," ujar Rio setengah geli. "Orang kayak gue ini udah nggak punya masa depan. Nggak mungkin gue bisa jadi sutradara."
Mata Rukia membesar saat Rio mengatakan itu.
"Yo, aku pikir kamu nggak akan menyerah." Ucapan Ify sukses membuat Rio mendengus.
"Emangnya gue pernah ngomong begitu?" katanya, dan Ify sadar kalau Rio memang tak pernah mengatakannya.
"Rio, kamu jangan nyerah gitu, dong. Kamu pasti bisa jadi apa pun yang kamu mau kalo kamu nggak nyerah!" ujar Ify. Rio menatapnya kesal.
"Jangan ngasih gue ceramah lagi, deh," katanya, membuat Ify terkejut. Rio menghela napas. "Gue emang berterima kasih karena lo udah mau nerima keadaan gue, tapi bukan berarti lo bisa nyeramahin gue."
Ify menatap Rio tak percaya. Rio menolak untuk menatapnya balik.
"Yo, aku tau kamu emang sakit. Tapi, apa sekarang kamu lumpuh? Apa sekarang kamu cacat? Nggak, kan?" seru Ify membuat Rio kaget. "Kamu masih bisa jadi apa pun yang kamu mau!"
"Kalo sekarang gue berusaha pun belum tentu ntar gue bisa jadi sutradara!" sahut Rio balik.
"Tapi itu lebih baik daripada kamu nggak ngelakuin apa pun!" sahut Ify lagi. "Setidaknya kamu udah berusaha, itu
yang penting!"
Rio terdiam mendengar kata-kata Ify. Ify menghela napas.
"Rio, orang yang udah tau bakal mati dan hanya diam menerima nasib itu orang yang paling menyedihkan," lanjut Ify, volume suaranya sudah sedikit turun. "Semua orang tau kalau mereka mungkin aja mati besok, tapi nggak ada satu orang pun yang cuma diam menunggu kematian menjemputnya."
"Tapi, nggak semua orang tau kapan tepatnya mereka mati, nggak kayak gue," kata Rio miris. "Gue cuma diprediksi bisa hidup lima tahun lagi, dan setiap inget itu, gue jadi hilang semangat."
"Kalo bener kamu cuma hidup lima tahun lagi, berarti kamu harus bisa menghargai setiap harinya." Ucapan Ify membuat Rio menatapnya. "Bahkan, setiap detiknya. Karena cuma tinggal lima tahun, makanya jangan biarkan sedetik pun berjalan begitu aja."
"Rio," kata Ify sambil tersenyum pada Rio. "Kalo kamu, aku yakin pasti bisa. Aku yakin suatu saat nanti kamu pasti bisa jadi sutradara. Kamu cuma harus berusaha, jangan pernah menyerah sama keadaan kamu. Itu aja."
Rio berhenti menatap Ify, dia kini beralih menatap awan. Sudah begitu lama Rio tidak memikirkan cita-citanya. Rio selalu menganggap cita-cita itu bagian dari masa lalu yang tak akan pernah diungkitnya lagi. Namun, sekarang, seorang gadis bernama Ify telah membuatnya kembali menginginkan cita-cita itu.Ify mengatakan hal-hal yang tadinya dirasa tidak mungkin menjadi mungkin.
Dulu, Rio menyerah untuk masuk sekolah perfilman karena terlalu takut. Takut kalau ada yang mengetahui penyakitnya dan menjauhinya. Takut kalau sebelum sempat memulai dia sudah akan mati.
Sekarang, mendengarkan Ify, Rio mulai menyadari kalau hidupnya yang tinggal sedikit ini tidak oleh disia-siakan.
Ify melirik Rio yang tampak sedang berpikir keras. Ify benar-benar menginginkan Rio untuk kembali bersemangat dan melupakan dendamnya pada Gabriel. Ify tidak ingin melihat Rio lebih menderita lagi.
"Rio," ujar Ify pelan. "Tolong, janji satu hal sama aku."
Rio menatap Ify. Ify menggigit bibir bagian bawahnya ragu.
"Lupain soal... Gabriel," kata Ify lirih membuat mata Rio melebar. Rio terdiam sebentar, dan kemudian mendengus.
"Lo nyuruh gue lupain baji**an itu?" tanya Rio, tiba-tiba kembali menjadi seorang Mario yang dingin. "Lo bercanda, kan?"
"Yo, kalo kamu masih nyari dia, kamu nggak akan bisa nerusin cita-cita kamu! Kamu ngerti, kan, akibatnya kalo membunuh dia? Kamu bakalan menghabiskan sisa hidup kamu di penjara!" seru Ify. "Kamu mau seperti itu?"
Tangan Rio terkepal keras, bahkan sampai bergetar. Rio bukannya tidak pernah memikirkan kemungkinan itu. Memang dulu Rio tidak peduli kalau dia sampai dipenjara atau mati sekalipun, karena tidak ada yang peduli padanya.
Namun, sekarang berbeda. Sekarang, ada yang peduli padanya. Seorang gadis dengan wajah khawatir yang sedang duduk di sebelahnya.
"Rio, aku udah janji mau nemenin kamu, kan? Terus apa gunanya kalo kamu malah ada di penjara?" kata Ify lagi. Dia memegang pipi Rio dan memandangnya dalam-dalam. "Rio, aku mohon."
Rio balas memandang Ify. Rio benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Memang benar dia sekarang tidak mau kehilangan Ify, tetapi dia juga tidak bisa melupakan dendam lima tahunnya begitu saja. Karena Gabriel, seluruh kehidupannya hancur berantakan.
Rio tiba-tiba bangkit, membuat Ify terkejut. Rio turun tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Ify. Sedangkan Ify hanya bisa terduduk pasrah sambil menatap punggung Rio yang segera menghilang.
Ify benar-benar merasa Rio sudah tidak tersentuh lagi.
***
Rio duduk di atas kasur di kamarnya. Rio melirik seprai itu. Seprai berwarna ungu dengan gambar kelinci yang sering disebut-sebut Ify dengan nama Chappy. Rio menghela napas, lalu meraih handycam di sebelahnya.
Dari semua hal, Rio paling tidak pernah bisa melepaskan handycam ini. Handycam yang diberikan ayahnya—Zeth—saat dia berumur sepuluh tahun. Handycam yang tidak akan pernah digantinya dengan apa pun.
Rio menyetel sebuah kaset saat ulang tahunnya yang kesebelas. Tampak figur ayah dan ibunya yang bahagia. Handycam itu kemudian dipegang oleh orang lain, dan figur Rio tampak di sana. Dia meniup lilin, sementara Zeth dan Manda memeluknya erat.
Tangan Rio bergetar menatap pemandangan itu. Melihat putaran video itu membuat semuanya terputar balik di otaknya. Saat-saat mereka mengetahui penyakit Rio. Saat Ayahnya memutuskan pergi dari rumah karena tak kuat menanggung malu. Saat Ibunya menangis tak henti-henti.
Kalau saja Tuhan mengizinkan Rio untuk membuat satu saja permohonan, Rio ingin kembali ke saat-saat di mana semuanya masih baik-baik saja, seperti saat ulang tahunnya yang kesebelas ini.
Rio mengelus handycam itu pelan-pelan. Handycam yang sudah belasan tahun menemaninya. Handycam yang merekam semua perjalanan hidupnya. Handycam yang menjadi awal dari cita-citanya.
Rio menjambak rambutnya. Dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Tahu-tahu ponsel di sebelahnya bergetar. Rio meraih ponsel itu heran. Setahunya, dia tidak pernah memberikan nomor ponselnya pada siapa pun, kecuali Alvin.
Mata Rio membesar saat membaca angka yang tertera di layar ponselnya. Itu nomor telepon rumahnya. Rio merasakan tangannya menjadi dingin saat dia menekan tombol hijau dan mendekatkan ponsel itu ke telinganya.
"Halo? Vano?" Terdengar sebuah suara perempuan dari seberang.
Rio bergeming saat mendengar suara Mamanya. Sudah begitu lama, sampai-sampai Rio begitu merindukannya.
"Rio? Ini Rio, kan?" tanya Mamanya lagi. Tenggorokan Rio terasa kering.
"Kenapa?" kata Rio dengan suara serak.
"Rio!" seru Retsu. "Untung nomernya benar! Kamu ada di mana sekarang, Nak? Masih di Bandung?"
Mendadak, Rio sadar kalau Shilla pasti sudah melaporkan segalanya pada Ibunya. Dan, Shilla mendapatkan nomor ponsel Rio dari Alvin. Rio mengatur napasnya.
"Kenapa?" tanya Rio lagi.
"Rio, ayo pulang, Nak," kata Manda, terdengar seperti mau menangis. "Ayo pulang, Yo. Kami sudah menunggu di rumah."
Rio tertawa dalam hati. Kami? Kami siapa maksudnya?
Rio masih terdiam. Sebenarnya, dia hanya ingin mendengar suara Ibunya. Rio juga takut kalau dia bicara, dia akan menangis dan ingin cepat pulang.
"Rio, kamu marah sama mama, ya?" tanya Manda kemudian. "Kamu masih marah sama Mama, kan? Rio, maafkan Mama. Maafkan Mama, Nak."
Rio hampir tidak bisa menahan emosinya. Rio sama sekali tidak menyangka kalau ibunya akan meminta maaf seperti itu.
"Maafkan Mama karena Mama bukan ibu yang baik," kata Manda, sudah tersedu. "Maafkan Mama karena Mama nggak bisa merawat kamu dengan baik. Pulanglah, Rio, izinkan Mama merawat kamu sekali lagi."
Rio masih mendengarkan tanpa bisa berkata apa pun. Rahang Rio sudah mengeras, menahan segala keinginannya untuk menangis.
"Mama nggak akan menangis lagi, Rio, Mama akan tegar. Mama akan lebih percaya diri. Mama nggak akan peduli lagi apa kata tetangga. Rio pulang, ya?" kata Manda lagi. "Rio, kalau kamu pulang, ada seseorang yang menunggu kamu di rumah."
Rio mengernyit heran. Siapa yang menunggunya? Shilla-kah?
"Rio?" kini, terdengar suara yang berat dari seberang, membuat jantung Rio serasa berhenti berdetak.
Rio tak bisa memercayai pendengarannya. Mungkin Rio sudah salah dengar. Mungkin Rio tadi berkhayal.
"Rio? Nak? Ini Papa," kata suara itu lagi membuat Rio benar-benar hilang kendali. Dadanya terasa sesak karena mendengar suara itu untuk yang pertama kalinya dalam lima tahun terakhir.
Zeth terdiam sebentar di ujung sana.
"Rio? Papa tahu kamu pasti sangat marah sama Papa. Tapi, beri Papa kesempatan sekali lagi, Yo. Beri Papa kesempatan sekali lagi," kata Zeth membuat tangis Rio tak terbendung lagi. Zeth sendiri juga sudah mulai terisak.
"Papa...," gumam Rio di tengah tangisannya.
"Rio, maafkan Papa, ya? Papa benar-benar bodoh karena sudah meninggalkan kamu dan ibumu. Selama lima tahun Papa mengintrospeksi diri, dan ternyata memang Papa yang salah. Kamu tidak bersalah, Nak. Papa yang sudah salah karena pergi. Seharusnya, Papa tetap mendukung kamu. Maafkan ayahmu yang pengecut ini, Rio," kata Zeth lagi membuat tangisan Rio semakin keras.
"Rio, kamu pulang, ya, Nak? Ayo, kita coba sekali lagi," kata Zeth lagi. "Kali ini, Papa tidak akan lari lagi. Kita ulangi lagi semuanya dari awal. Kamu, Papa, dan Mama."
Rio tidak bisa menjawab. Dia sudah menangis sejadi-jadinya. Seumur hidupnya, dia tidak pernah sebahagia ini. Dia sangat bahagia sampai dadanya seperti mau meledak.
Terdengar ketukan di pintu, tetapi Rio tak bisa mendengarnya. Ify muncul dari pintu dan terkejut menatap Rio yang sedang menangis. Ify segera menghambur ke arah Rio.
"Rio? Kamu kenapa?" tanya Ify panik. "Kamu sakit? Apanya yang sakit?"
Rio tak bisa menjawab. Ify bingung menatap Rio yang menangis sejadi-jadinya itu, lalu menatap ponsel yang sedang dipegang Rio. Ify mengambil ponsel itu, dan ternyata masih tersambung. Ragu, Ify mendekatkan telinganya pada
ponsel.
"Rio? Nak? Kamu masih di sana?" sahut sebuah suara wanita. Ify terbelalak, yakin itu suara ibu Rio. Ify tak berani menjawab. "Rio, setelah kamu tenang, kami telepon lagi, ya. Cepat pulang, ya, Rio, kami tunggu."
Setelah itu sambungan terputus. Ify tersenyum, sudah mengerti arti dari tangisan Rio. Ternyata, keluarga Rio mengharapkan Rio untuk pulang. Rio sekarang sudah tidak sendirian lagi.
Ify mengulurkan tangan untuk mengusap air mata Rio, dia lalu memeluk Rio yang masih menangis. Ify benar-benar bahagia karena akhirnya Rio sudah kembali mendapatkan kehidupannya.
Ify ikut menitikkan air mata. Ify tahu seharusnya dia tidak boleh sedih, tetapi dengan begini Rio akan lebih cepat menghilang darinya. Rio akan kembali pada keluarganya di Manado, tetapi Ify harus bisa mendukungnya.
Karena Ify sudah berjanji akan menjadi kuat untuk Rio.
Rio pulang tanpa membawa hasil. Dia menaiki tangga sambil mematikan iPod-nya, tanpa melihat Ify yang menatapnya terkejut dari depan kamarnya. Rio baru sadar saat dia melihat sepasang kaki di depannya. Rio mendongak, lalu menatap Ify kaget.
"Lo bukannya..." Rio mendadak terdiam. Dia tidak akan membuka percakapan apa pun lagi dengan Ify. Dulu, semua adalah kesalahannya. Dia sudah membiarkan dirinya terlibat terlalu jauh dengan Ify. Sekarang, Rio memastikan hal itu tidak akan terjadi lagi. Lalu, Rio kembali melangkahkan kaki menuju kamarnya.
"Rio, tunggu!" sahut Ify sambil menghalanginya. Rio menatap cewek itu, dan mendadak Rio menyadari bahwa sudah terlalu lama dia tidak melihat mata Ify. Rio segera mengalihkan pandangannya.
"Apa?" tanya Rio, berusaha supaya terdengar tidak peduli.
"Apa? Apa?!" tanya Ify tak percaya sambil mengulang ucapan Rio sebelumnya. "Bukannya 'apa'! Kamu harusnya minta maaf sama aku!"
"Hah?" seru Rio.
"Kamu harusnya minta maaf setelah semua yang kamu lakuin selama ini! Dasar pembohong," ujar Ify, tetapi tak sedikit pun terlihat marah. Rio yakin, Shilla pasti sudah mengatakan yang tidak-tidak pada Ify.
Ify sekarang melipat kedua tangannya di depan dada, dan menatap Rio seolah menunggu permintaan maafnya. Rio menghela napas. Pola ini terulang lagi, tetapi kali ini Rio tidak akan mau kalah.
"Denger, ya, apa pun yang Shilla bilang sama lo..."
"Aku lebih percaya sama Shilla," balas Ify, memotong perkataan Rio, membuat cowok manis itu terdiam. "Kamu selalu bohong, jadi aku udah nggak percaya lagi sama kamu."
"Lo... bisa nggak, sih, biarin gue sendiri?" sahut Rio geram.
"Apa? Kamu mau ngomong sesuatu yang kejam lagi?" tantang Ify, sama sekali tidak terlihat takut. Rio menatapnya tajam, dan dia meninju pintu di depannya, tepat di samping wajah Ify. Ify balas menatap Rio berani, dia yakin, sekejam-kejamnya Rio terhadapnya, pemuda itu tak akan sampai tega memukulnya.
"Apa Shilla udah bilang kalo gue sebenernya takut kehilangan lo?" tanya Rio. "Karena kalo iya, berarti lo kegeeran banget. Sama sekali nggak pernah terlintas di pikiran gue..."
"Aku udah nggak peduli lagi sama semua kebohongan kamu," potong Ify membuat Toushiro melotot. "Mau kamu bilang aku ini cewek yang sok pengen jadi malaikat dengan ikut campur urusan orang lain, aku bukan tipe kamu, kamu nggak suka aku, kamu benci aku, aku nggak peduli."
Rio menatap Ify bingung.
"Yo, aku udah denger semuanya dari Shilla, dan aku sekarang tau apa penyebab kamu punya penyakit ini," ujar Ify lembut, matanya menatap mata Rio dalam-dalam. "Aku sekarang tau kalau bukan salah kamu bisa dapat penyakit itu. Sebenernya, alasan apa pun nggak penting, karena aku nggak akan menjauhi kamu cuma karena kamu punya
penyakit itu."
"Berhenti ngomong sesuatu yang manis-manis," potong Rio geram. "Lo dulu sempat ragu, kan?"
"Emang bener aku sempat ragu, tapi aku nyesel. Harusnya aku nggak pernah ragu. Waktu itu—aku akui—aku emang takut. Tapi, setelah itu, aku benci diriku yang penakut seperti itu. Waktu itu, aku pikir, kalo aku takut, aku nggak akan pantas buat kamu," kata Ify lagi. "Tapi, Yo, sekarang aku nggak akan pernah takut lagi. Aku tau kayak apa kamu mungkin berubah beberapa tahun lagi, tapi, Yo, aku nggak pernah punya perasaan sekuat ini sama siapa pun selain kamu. Kamu berubah jadi apa juga nggak akan mungkin bikin aku mundur."
"Lo nggak akan pernah tau apa yang bakal terjadi di masa depan," ujar Rio dengan suara gemetar. Ify tersenyum.
"Kamu juga nggak tau, kan?" Ucapan Ify membuat mata Rio melebar sempurna. "Jadi, kenapa kita nggak coba ambil risiko itu?"
Rio ingin sekali merengkuh gadis di depannya ini. Setitik air matanya menetes. Ify mengelap air mata itu dan memegang pipi Rio lembut. Rio bahkan tidak menghindar.
"Gue cuma punya waktu lima tahun," kata Rio membuat Ify tersenyum lagi.
"Jadi, ayo kita pergunakan waktu itu sebaik-baiknya," jawab Ify membuat setitik lagi air mata jatuh dari mata indah Rio. "Kalo kamu tau kamu cuma punya waktu lima tahun, ayo kita buat kenangan sebanyak-banyaknya dalam kurun waktu itu."
"Lo... rela ngorbanin lima tahun hidup lo buat gue?" tanya Rio lagi.
"Aku nggak mau bilang aku rela ngorbanin lima tahun hidupku untuk kamu," kata Ify. "Karena aku nggak mau cuma lima tahun bareng kamu. Aku mau selamanya bareng kamu."
Rio menatap Ify dalam-dalam, mencari kebenaran dalam matanya.
"Fy... Boleh gue percaya omongan lo sekarang?" tanya Rio membuat air mata Ify juga mulai menetes. Ify mengangguk, membelai pipi Rio yang sudah basah oleh air mata. Ify lalu memeluk Rio. Awalnya Rio hanya membatu, menyangka dirinya sedang berada di alam mimpi. Namun, wangi lavender rambut Ify menyadarkannya, bahwa saat ini dia benar-benar hidup dalam dunia nyata. Rio mengangkat tangannya ragu, dia lalu menyentuh punggung Ify yang terasa hangat. Semuanya terasa begitu nyata.
Rio mempererat pelukannya pada Ify. Rio tidak ingat kapan dia pernah merasa sebahagia ini sebelumnya. Kali ini, dia tidak akan melepaskan Ify lagi. Tidak akan pernah lagi.
***
Rio membuka matanya dan seberkas cahaya menelusup melewati jendela kamarnya. Rio mengerjap-ngerjapkan matanya, dan setelah semua nyawanya terkumpul, dia berusaha mengingat kejadian semalam.
Semalam, dia bermimpi telah memeluk Ify. Dia bermimpi bahwa Ify mengatakan akan selalu bersamanya. Rio mengangkat tangannya dan menatap tangan itu. Tangan yang sudah menyerah pada seorang gadis bernama Alyssa Sufika.
Mendadak Rio sadar, kalau kejadian semalam bukanlah mimpi. Wangi tubuh Ify ada di mana-mana di kamar ini. Semalam, setelah Rio memeluk Ify, emosinya begitu meledak-ledak sampai-sampai dia tak ingin melepaskan Ify dari dekapannya. Rio terus memeluk Ify sampai Ify jatuh tertidur.
Rio terbangun dengan tersentak, dia melihat sekelilingnya. Ify sudah tidak ada. Rio segera bangkit dan membuka pintu kamarnya. Dia sekarang berdiri di depan kamar Ify dan menatap pintu kamar Ify ragu.
Rio menjambak-jambaknya sendiri. Harusnya semalam dia bisa lebih menahan diri. Harusnya dia bisa melepaskan Ify dan membiarkan Ify tidur di kamarnya sendiri. Rio benar-benar takut Ify sudah menganggapnya yang tidak-tidak. Ify pasti sangat terkejut saat melihat Rio di sampingnya saat bangun, sehingga langsung kabur dan tidak mau melihat Rio lagi.
Rio masih saja menjambak-jambak rambut putihnya frustasi saat dia mendengar suara pintu di tingkap atas. Rio menatap pintu itu penasaran. Mungkin saja Ify ada di atas.
Rio segera naik ke lantai tiga dan Ify ada di sana, sedang bersandar pada pagar pembatas, menatap bangunan-bangunan di depannya. Rio menghela napas lega karena setidaknya Ify masih berada di kost ini.
Tiba-tiba Ify menoleh, dan tersenyum pada Rio yang segera salah tingkah. Rio lalu menghampiri Ify ragu-ragu.
"Ng...," gumam Rio tak jelas. "Sori, semalem gue..."
"Nggak apa-apa," kata Ify sambil tersenyum. "Semalem aku kebangun, terus kamu udah ketiduran. Jadi, aku selimutin kamu terus pindah ke kamar."
Rio mengangguk-angguk, benar-benar lega karena Ify tidak berpikiran yang aneh-aneh tentangnya. Rio kemudian ikut bersandar di sebelah Ify. Sebenarnya, Rio masih ingin memeluk Ify, tapi keinginan itu ditahannya.
"Kok, diem?" tanya Ify membuat Rio menoleh. Ify tertawa kecil. "Rio, aku belum dengar dari kamu, lho, kalo kamu suka sama aku..."
Rio menatap Ify tak percaya, membuat Ify terbahak.
"Nggak usah bilang juga udah tau, kan?" ucap Rio tanpa melihat Ify. Ify berhenti tertawa, lalu ikut menatap pemandangan di depannya.
"Sampai saat ini, aku masih belum percaya kalau kamu akhirnya mau percaya sama aku," kata Ify membuat Rio menatapnya. "Aku seneng banget sampai rasanya pengen nangis."
Ify tidak bisa mengatakan kalau semalam saat dia terbangun dan mendapati Rio ada di sampingnya, dia menangis lagi. Ify benar-benar senang karena Rio sudah bisa memercayainya.
Ify menggigit bibirnya, mau menangis lagi. Rio menepuk kepalanya dan mengacak rambutnya.
"Harusnya gue yang ngomong begitu," ujar Rio membuat Ify benar-benar menangis. "Hus. Jangan nangis terus, ah! Dasar cengeng."
"Biarin cengeng juga!" sahut Ify sambil terisak. Rio tersenyum simpul.
Mereka terdiam sesaat sampai akhirnya Rio berbaring di lantai dengan kedua tangan terlipat di belakang kepalanya.
Ify ikut duduk di sebelahnya. Sejenak mereka menikmati angin berembus sepoi.
Ify melirik Rio yang sudah terpejam. Ify memeluk lututnya.
"Ng... Yo?" tanya Ify pelan.
"Hm?"
"Ng... Aku boleh tanya sesuatu, nggak?"
Rio membuka matanya, menatap awan putih yang berarak menghiasi langit. Dia tahu, cepat atau lambat Ify pasti akan bertanya soal masa lalunya.
"Boleh aja," kata Rio akhirnya.
"Hm... Apa bener cita-cita kamu jadi sutradara?" tanya Ify hati-hati. Rio terdiam sesaat. "Kata Shilla, dulu pas SMA kamu pengen jadi sutradara."
"Bener," jawab Rio setelah terdiam beberapa saat. Dia duduk dan mengorek saku celananya, mengeluarkan rokok.
Ify dengan segera merampas rokok itu dan membuangnya. Rio menatapnya sebentar, dan menghela napas. "Tapi, sekarang udah nggak ada gunanya lagi, kan, ngomongin itu?"
Ify menatap Rio bingung. "Kenapa?" tanyanya. Rio balas menatapnya.
"Kenapa? Ya udah jelas, kan? Mana bisa gue jadi sutradara," kata Rio lagi.
"Kenapa nggak bisa?" tanya Ify lagi membuat Rio sekarang benar-benar memusatkan perhatian padanya.
"Denger, ya," ujar Rio setengah geli. "Orang kayak gue ini udah nggak punya masa depan. Nggak mungkin gue bisa jadi sutradara."
Mata Rukia membesar saat Rio mengatakan itu.
"Yo, aku pikir kamu nggak akan menyerah." Ucapan Ify sukses membuat Rio mendengus.
"Emangnya gue pernah ngomong begitu?" katanya, dan Ify sadar kalau Rio memang tak pernah mengatakannya.
"Rio, kamu jangan nyerah gitu, dong. Kamu pasti bisa jadi apa pun yang kamu mau kalo kamu nggak nyerah!" ujar Ify. Rio menatapnya kesal.
"Jangan ngasih gue ceramah lagi, deh," katanya, membuat Ify terkejut. Rio menghela napas. "Gue emang berterima kasih karena lo udah mau nerima keadaan gue, tapi bukan berarti lo bisa nyeramahin gue."
Ify menatap Rio tak percaya. Rio menolak untuk menatapnya balik.
"Yo, aku tau kamu emang sakit. Tapi, apa sekarang kamu lumpuh? Apa sekarang kamu cacat? Nggak, kan?" seru Ify membuat Rio kaget. "Kamu masih bisa jadi apa pun yang kamu mau!"
"Kalo sekarang gue berusaha pun belum tentu ntar gue bisa jadi sutradara!" sahut Rio balik.
"Tapi itu lebih baik daripada kamu nggak ngelakuin apa pun!" sahut Ify lagi. "Setidaknya kamu udah berusaha, itu
yang penting!"
Rio terdiam mendengar kata-kata Ify. Ify menghela napas.
"Rio, orang yang udah tau bakal mati dan hanya diam menerima nasib itu orang yang paling menyedihkan," lanjut Ify, volume suaranya sudah sedikit turun. "Semua orang tau kalau mereka mungkin aja mati besok, tapi nggak ada satu orang pun yang cuma diam menunggu kematian menjemputnya."
"Tapi, nggak semua orang tau kapan tepatnya mereka mati, nggak kayak gue," kata Rio miris. "Gue cuma diprediksi bisa hidup lima tahun lagi, dan setiap inget itu, gue jadi hilang semangat."
"Kalo bener kamu cuma hidup lima tahun lagi, berarti kamu harus bisa menghargai setiap harinya." Ucapan Ify membuat Rio menatapnya. "Bahkan, setiap detiknya. Karena cuma tinggal lima tahun, makanya jangan biarkan sedetik pun berjalan begitu aja."
"Rio," kata Ify sambil tersenyum pada Rio. "Kalo kamu, aku yakin pasti bisa. Aku yakin suatu saat nanti kamu pasti bisa jadi sutradara. Kamu cuma harus berusaha, jangan pernah menyerah sama keadaan kamu. Itu aja."
Rio berhenti menatap Ify, dia kini beralih menatap awan. Sudah begitu lama Rio tidak memikirkan cita-citanya. Rio selalu menganggap cita-cita itu bagian dari masa lalu yang tak akan pernah diungkitnya lagi. Namun, sekarang, seorang gadis bernama Ify telah membuatnya kembali menginginkan cita-cita itu.Ify mengatakan hal-hal yang tadinya dirasa tidak mungkin menjadi mungkin.
Dulu, Rio menyerah untuk masuk sekolah perfilman karena terlalu takut. Takut kalau ada yang mengetahui penyakitnya dan menjauhinya. Takut kalau sebelum sempat memulai dia sudah akan mati.
Sekarang, mendengarkan Ify, Rio mulai menyadari kalau hidupnya yang tinggal sedikit ini tidak oleh disia-siakan.
Ify melirik Rio yang tampak sedang berpikir keras. Ify benar-benar menginginkan Rio untuk kembali bersemangat dan melupakan dendamnya pada Gabriel. Ify tidak ingin melihat Rio lebih menderita lagi.
"Rio," ujar Ify pelan. "Tolong, janji satu hal sama aku."
Rio menatap Ify. Ify menggigit bibir bagian bawahnya ragu.
"Lupain soal... Gabriel," kata Ify lirih membuat mata Rio melebar. Rio terdiam sebentar, dan kemudian mendengus.
"Lo nyuruh gue lupain baji**an itu?" tanya Rio, tiba-tiba kembali menjadi seorang Mario yang dingin. "Lo bercanda, kan?"
"Yo, kalo kamu masih nyari dia, kamu nggak akan bisa nerusin cita-cita kamu! Kamu ngerti, kan, akibatnya kalo membunuh dia? Kamu bakalan menghabiskan sisa hidup kamu di penjara!" seru Ify. "Kamu mau seperti itu?"
Tangan Rio terkepal keras, bahkan sampai bergetar. Rio bukannya tidak pernah memikirkan kemungkinan itu. Memang dulu Rio tidak peduli kalau dia sampai dipenjara atau mati sekalipun, karena tidak ada yang peduli padanya.
Namun, sekarang berbeda. Sekarang, ada yang peduli padanya. Seorang gadis dengan wajah khawatir yang sedang duduk di sebelahnya.
"Rio, aku udah janji mau nemenin kamu, kan? Terus apa gunanya kalo kamu malah ada di penjara?" kata Ify lagi. Dia memegang pipi Rio dan memandangnya dalam-dalam. "Rio, aku mohon."
Rio balas memandang Ify. Rio benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Memang benar dia sekarang tidak mau kehilangan Ify, tetapi dia juga tidak bisa melupakan dendam lima tahunnya begitu saja. Karena Gabriel, seluruh kehidupannya hancur berantakan.
Rio tiba-tiba bangkit, membuat Ify terkejut. Rio turun tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Ify. Sedangkan Ify hanya bisa terduduk pasrah sambil menatap punggung Rio yang segera menghilang.
Ify benar-benar merasa Rio sudah tidak tersentuh lagi.
***
Rio duduk di atas kasur di kamarnya. Rio melirik seprai itu. Seprai berwarna ungu dengan gambar kelinci yang sering disebut-sebut Ify dengan nama Chappy. Rio menghela napas, lalu meraih handycam di sebelahnya.
Dari semua hal, Rio paling tidak pernah bisa melepaskan handycam ini. Handycam yang diberikan ayahnya—Zeth—saat dia berumur sepuluh tahun. Handycam yang tidak akan pernah digantinya dengan apa pun.
Rio menyetel sebuah kaset saat ulang tahunnya yang kesebelas. Tampak figur ayah dan ibunya yang bahagia. Handycam itu kemudian dipegang oleh orang lain, dan figur Rio tampak di sana. Dia meniup lilin, sementara Zeth dan Manda memeluknya erat.
Tangan Rio bergetar menatap pemandangan itu. Melihat putaran video itu membuat semuanya terputar balik di otaknya. Saat-saat mereka mengetahui penyakit Rio. Saat Ayahnya memutuskan pergi dari rumah karena tak kuat menanggung malu. Saat Ibunya menangis tak henti-henti.
Kalau saja Tuhan mengizinkan Rio untuk membuat satu saja permohonan, Rio ingin kembali ke saat-saat di mana semuanya masih baik-baik saja, seperti saat ulang tahunnya yang kesebelas ini.
Rio mengelus handycam itu pelan-pelan. Handycam yang sudah belasan tahun menemaninya. Handycam yang merekam semua perjalanan hidupnya. Handycam yang menjadi awal dari cita-citanya.
Rio menjambak rambutnya. Dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Tahu-tahu ponsel di sebelahnya bergetar. Rio meraih ponsel itu heran. Setahunya, dia tidak pernah memberikan nomor ponselnya pada siapa pun, kecuali Alvin.
Mata Rio membesar saat membaca angka yang tertera di layar ponselnya. Itu nomor telepon rumahnya. Rio merasakan tangannya menjadi dingin saat dia menekan tombol hijau dan mendekatkan ponsel itu ke telinganya.
"Halo? Vano?" Terdengar sebuah suara perempuan dari seberang.
Rio bergeming saat mendengar suara Mamanya. Sudah begitu lama, sampai-sampai Rio begitu merindukannya.
"Rio? Ini Rio, kan?" tanya Mamanya lagi. Tenggorokan Rio terasa kering.
"Kenapa?" kata Rio dengan suara serak.
"Rio!" seru Retsu. "Untung nomernya benar! Kamu ada di mana sekarang, Nak? Masih di Bandung?"
Mendadak, Rio sadar kalau Shilla pasti sudah melaporkan segalanya pada Ibunya. Dan, Shilla mendapatkan nomor ponsel Rio dari Alvin. Rio mengatur napasnya.
"Kenapa?" tanya Rio lagi.
"Rio, ayo pulang, Nak," kata Manda, terdengar seperti mau menangis. "Ayo pulang, Yo. Kami sudah menunggu di rumah."
Rio tertawa dalam hati. Kami? Kami siapa maksudnya?
Rio masih terdiam. Sebenarnya, dia hanya ingin mendengar suara Ibunya. Rio juga takut kalau dia bicara, dia akan menangis dan ingin cepat pulang.
"Rio, kamu marah sama mama, ya?" tanya Manda kemudian. "Kamu masih marah sama Mama, kan? Rio, maafkan Mama. Maafkan Mama, Nak."
Rio hampir tidak bisa menahan emosinya. Rio sama sekali tidak menyangka kalau ibunya akan meminta maaf seperti itu.
"Maafkan Mama karena Mama bukan ibu yang baik," kata Manda, sudah tersedu. "Maafkan Mama karena Mama nggak bisa merawat kamu dengan baik. Pulanglah, Rio, izinkan Mama merawat kamu sekali lagi."
Rio masih mendengarkan tanpa bisa berkata apa pun. Rahang Rio sudah mengeras, menahan segala keinginannya untuk menangis.
"Mama nggak akan menangis lagi, Rio, Mama akan tegar. Mama akan lebih percaya diri. Mama nggak akan peduli lagi apa kata tetangga. Rio pulang, ya?" kata Manda lagi. "Rio, kalau kamu pulang, ada seseorang yang menunggu kamu di rumah."
Rio mengernyit heran. Siapa yang menunggunya? Shilla-kah?
"Rio?" kini, terdengar suara yang berat dari seberang, membuat jantung Rio serasa berhenti berdetak.
Rio tak bisa memercayai pendengarannya. Mungkin Rio sudah salah dengar. Mungkin Rio tadi berkhayal.
"Rio? Nak? Ini Papa," kata suara itu lagi membuat Rio benar-benar hilang kendali. Dadanya terasa sesak karena mendengar suara itu untuk yang pertama kalinya dalam lima tahun terakhir.
Zeth terdiam sebentar di ujung sana.
"Rio? Papa tahu kamu pasti sangat marah sama Papa. Tapi, beri Papa kesempatan sekali lagi, Yo. Beri Papa kesempatan sekali lagi," kata Zeth membuat tangis Rio tak terbendung lagi. Zeth sendiri juga sudah mulai terisak.
"Papa...," gumam Rio di tengah tangisannya.
"Rio, maafkan Papa, ya? Papa benar-benar bodoh karena sudah meninggalkan kamu dan ibumu. Selama lima tahun Papa mengintrospeksi diri, dan ternyata memang Papa yang salah. Kamu tidak bersalah, Nak. Papa yang sudah salah karena pergi. Seharusnya, Papa tetap mendukung kamu. Maafkan ayahmu yang pengecut ini, Rio," kata Zeth lagi membuat tangisan Rio semakin keras.
"Rio, kamu pulang, ya, Nak? Ayo, kita coba sekali lagi," kata Zeth lagi. "Kali ini, Papa tidak akan lari lagi. Kita ulangi lagi semuanya dari awal. Kamu, Papa, dan Mama."
Rio tidak bisa menjawab. Dia sudah menangis sejadi-jadinya. Seumur hidupnya, dia tidak pernah sebahagia ini. Dia sangat bahagia sampai dadanya seperti mau meledak.
Terdengar ketukan di pintu, tetapi Rio tak bisa mendengarnya. Ify muncul dari pintu dan terkejut menatap Rio yang sedang menangis. Ify segera menghambur ke arah Rio.
"Rio? Kamu kenapa?" tanya Ify panik. "Kamu sakit? Apanya yang sakit?"
Rio tak bisa menjawab. Ify bingung menatap Rio yang menangis sejadi-jadinya itu, lalu menatap ponsel yang sedang dipegang Rio. Ify mengambil ponsel itu, dan ternyata masih tersambung. Ragu, Ify mendekatkan telinganya pada
ponsel.
"Rio? Nak? Kamu masih di sana?" sahut sebuah suara wanita. Ify terbelalak, yakin itu suara ibu Rio. Ify tak berani menjawab. "Rio, setelah kamu tenang, kami telepon lagi, ya. Cepat pulang, ya, Rio, kami tunggu."
Setelah itu sambungan terputus. Ify tersenyum, sudah mengerti arti dari tangisan Rio. Ternyata, keluarga Rio mengharapkan Rio untuk pulang. Rio sekarang sudah tidak sendirian lagi.
Ify mengulurkan tangan untuk mengusap air mata Rio, dia lalu memeluk Rio yang masih menangis. Ify benar-benar bahagia karena akhirnya Rio sudah kembali mendapatkan kehidupannya.
Ify ikut menitikkan air mata. Ify tahu seharusnya dia tidak boleh sedih, tetapi dengan begini Rio akan lebih cepat menghilang darinya. Rio akan kembali pada keluarganya di Manado, tetapi Ify harus bisa mendukungnya.
Karena Ify sudah berjanji akan menjadi kuat untuk Rio.
The Truth About Forever - Chapter 11 : The Truth Revealed
Ify memandang kosong dinding di depannya. Bekas-bekas air mata yang
sudah mengering tampak di pipinya yang putih. Ify tidak tidur semalaman,
menyesali kebodohannya karena sudah sekian lama dipermainkan oleh Rio.
Tidak masalah kalau saja Rio mengatakan dia tidak menyukai Ify dari awal. Tetapi, Rio melakukan hal-hal kejam yang sudah menyakiti hati Ify. Bahkan, Ify tidak tahu apakah dia bisa memaafkan Rio setelah ini.
Tiba-tiba, terdengar suara pintu ditutup dari arah kamar Rio. Ify melirik jam yang ada di meja kamarnya. Delapan lebih lima belas. Rio pasti akan berangkat untuk mencari Gabriel, orang yang katanya sedang dicarinya entah karena apa. Ify pikir, Rio pasti berbohong lagi. Rio selalu berbohong padanya, seorang gadis lugu yang merupakan mangsa empuk untuk dipermainkan.
Ify sudah tidak mau tahu lagi apa pun yang berkaitan dengan Mario Stevano. Ify sudah tidak mau peduli lagi.
Rio sedang menatap marah Alvin yang sedang tergeletak di depannya dengan mulut penuh darah. Rio baru saja memberinya serangan fajar, setelah apa yang sudah dilakukan Alvin kemarin. Rio sama sekali tidak pernah menyangka kalau Alvin akan berbuat sebodoh itu dengan memberi tahu Shilla di mana tempat tinggalnya sekarang.
Rio berjongkok di depan Alvin, lalu mencengkeram kaus Alvin. Alvin membalas tatapan marah Rio dengan tatapan tanpa ekspresi.
"Bangun lo!" kata Rio geram. "Apa yang membuat lo berpikir kalo lo berhak ngasih tau di mana gue tinggal ke Shilla?"
"Dia cuma mau minta maaf sama lo," jawab Alvin dengan susah payah. "Dia nyesel udah ninggalin lo."
"Gue udah bilang, kan, gue nggak mau berurusan lagi sama dia! Lo bebal atau dungu, sih, Vin? Udah bagus dia ngejauhin gue!" sahut Rio kalap. "Kenapa lo malah ngasih tau dia?"
"Karena dia ngancem mau bunuh diri kalo nggak gue kasih tau!" sahut Alvin membuat Rio terdiam. "Ya, dia sampai semenyesal itu, Yo. Dia bener-bener nyesel udah ninggalin lo!"
"Lo pengecut banget, sih, Vin! Nggak mungkin dia mau bunuh diri begitu aja!" sahut Rio lagi. Alvin mendorong Rio sampai Rio terbanting. Kemudian, Alvin duduk.
"Menurut gue, Yo, elo itu yang pengecut! Yang lo tau cuma menghindar dari semua masalah! Lo nggak pernah berusaha untuk menyelesaikan masalah lo! Lo cuma bisa lari dan sembunyi dari masalah!" cecar Alvin sambil menyeka
darah yang sudah mengalir ke dagunya. "Kalo lo nggak mau Shilla balik, seenggaknya lo bisa maafin dia supaya dia bisa nerusin hidupnya, kan? Supaya dia nggak terus-terusan dihantui rasa bersalah."
Rio terdiam, lalu menyandarkan dirinya pada tembok.
"Gue udah ngelakuin itu. Gue udah maafin dia dari dulu," ujar Rio pelan. "Gue udah nggak ada masalah sama dia, tapi yang jadi masalah sekarang adalah cewek itu."
Alvin menatap Rio, seolah dia tak pernah memikirkan kemungkinan itu.
"Cewek itu ngeliat Shilla, dan semua alibi gue hancur," kata Rio sambil melirik Alvin tajam. "Itu semua karena lo."
"Terus... dia gimana?" tanya Alvin hati-hati.
"Yah, intinya, sekarang dia benci sama gue. Mungkin dia nggak mau liat gue lagi. Dan, karena itu, gue harus cepet-cepet pindah kost," kata Rio.
"Sori, Yo," ujar Alvin menyesal.
"Nggak perlu minta maaf," kata Rio. "Sori, gue udah mukul lo. Tapi, lo emang pantes dapet pukulan itu, karena lo nggak ngomong-ngomong dulu sama gue."
Alvin mengelus pipinya yang tadi ditonjok Rio, dia menatap Rio yang tampak melamun.
"Lo... nggak apa-apa, kan, Yo?" tanya Alvin cemas.
"Gue cuma ngerasa kalo gue udah keterlaluan sama dia, Vin," kata Rio sambil menjambak rambutnya. "Semua omongan gue kemaren kayaknya keterlaluan. Kalo dia nampar gue atau gimana, gue bisa terima. Tapi..."
"Tapi...?" tanya Alvin penasaran.
"Tapi, dia cuma bilang, kenapa kamu nggak sekalian bunuh aku? Dan, bagi gue itu lebih dari cuma sekedar tamparan," ujar Rio, matanya kembali menerawang hampa. "Baru kali ini gue nyesel kenal sama seseorang, selain Gabriel."
Alvin tahu dengan pasti maksud kata-kata Rio. Rio pasti sedang berharap dia tidak pernah mengenal cewek itu sehingga tidak akan pernah berpisah dengannya. Karena jika ada pertemuan, pasti akan ada perpisahan, bukan?
***
Ify memutuskan untuk keluar dari kamar karena Rio pasti sudah tidak ada. Ify membuka pintu dan mendapati Shilla sedang ada di depan kamar Rio, bermaksud untuk mengetuk pintunya. Shilla menoleh, dan tersenyum pada Ify yang tidak sempat membalasnya karena terlalu kaget.
"Hai," sapa Shilla ramah. Ify hanya membalasnya dengan anggukan. "Rio ada?"
"Nggak tau, ya," jawab Ify, dengan suara yang bukan miliknya. "Coba diketok aja."
Ify berjalan melewati Shilla untuk ke kamar mandi. Shilla memerhatikan Ify sampai dia menghilang di balik pintu kamar mandi.
Tak berapa lama, Ify keluar dan langsung terlonjak kaget karena Shilla sudah ada di depan pintu kamar mandi, terlihat seperti sedang menunggunya. Shilla tersenyum ramah lagi pada Ify.
"Kamu Ify, kan? Kita ngobrol sebentar, yuk?" tanya Shilla membuat Ify menganga. Namun, akhirnya, dia mengikuti Shilla ke lantai tiga.
Ify menatap punggung Shilla yang bahkan terlihat sempurna. Ify tidak heran kalau Rio mati-matian menolaknya karena Ify sama sekali berbeda dengan Shilla. Shilla tipe gadis cantik yang begitu sempurna, bukannya gadis lugu yang tidak berarti apa-apa sepertinya.
"Ify, aku Shilla," kata Shilla membuka pembicaraan. Dia mengulurkan tangannya, yang disambut dengan bingung oleh Ify. "Aku rasa kamu udah tau siapa aku dari Rio."
"Yah, kurang lebih," balas Ify kaku. Dia tidak mau mengatakan kalau Shilla adalah satu-satunya cewek untuk Rio.
"Kamu... suka sama Rio?" tanya Shilla membuat Ify bengong untuk kesekian kalinya. Ify tidak langsung menjawab
pertanyaan itu. Dia tertunduk, merasa malu sudah berpikiran untuk menyukai Rio yang sudah punya pacar secantik
Shilla.
"Aku..." Ify kehilangan kata-kata.
"Aku tau, kok," ujar Shilla sambil tersenyum. "Hhhh... Rio sebenernya beruntung, ya, punya orang-orang yang suka dan sayang sama dia."
Beberapa saat, tidak ada satu pun yang berbicara di antara mereka.
"Fy, kamu tau, kenapa Rio bisa punya penyakit seperti ini?" tanya Shilla kemudian.
"Aku nggak tau lagi mana alasan yang bener," jawab Ify getir. "Rio udah terlalu banyak berbohong sama aku. Aku nggak tau lagi..."
Shilla menatap Ify yang tampak menahan tangis.
"Kayaknya Rio masih merahasiakan soal 'itu', ya, sama kamu," ujar Shilla membuat Ify menatapnya. "Mungkin, dia berbohong demi kebaikan kamu. Ya, dia ngelakuin itu semua buat melindungi kamu."
"Melindungi? Dia nyakitin aku terus!" balas Ify dengan suara serak. Sejenak, dia menyesal karena sudah berteriak.
"Maaf."
Shilla tersenyum menatap gadis ringkih di depannya yang sudah membuat Rio jatuh cinta.
"Ify, kamu tau seseorang bernama Gabriel Stevent?" tanya Shilla lagi membuat Ify mendengus.
"Ya, tokoh rekaannya Rio," ujar Ify skeptis.
"Bukan rekaan, dia emang bener-bener ada." Jawaban Shilla membuat Ify menatapnya tak percaya. "Gabriel itu dulu
sahabatnya Rio."
Shilla mengambil napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya sementara Ify tak melepas pandangannya.
"Lima tahun yang lalu, aku, Rio, Gabriel, dan satu orang lagi bernama Alvin Jonathan, bersahabat. Kami sekelas dari kelas satu sampai kelas tiga SMA. Kami udah nggak terpisahkan, ke mana-mana selalu bareng." Shilla memulai ceritanya. "Kami semua punya cita-cita masing-masing, kecuali Gabriel. Dia ini pengacau, selalu aja bikin keributan dan sama sekali nggak punya visi buat masa depan.
Gabriel paling akrab sama Rio, karena mereka berdua udah kenal dari SD. Dengan Rio, Gabriel nggak pernah macem-macem. Mereka udah seperti kakak-adik. Kamu tau cita-cita Rio?" tanya Shilla di tengah-tengah ceritanya, membuat Ify menggeleng. "Sutradara. Rio pengen banget jadi sutradara, sampai-sampai dia rela menghabiskan uang tabungannya untuk beli kaset dan bikin film kecil-kecilan yang pemainnya kami-kami ini.
Suatu hari, entah kenapa, Gabriel jadi agak berubah. Dia jadi agak cenderung pemarah, bahkan ke Rio sekalipun. Kadang, dia suka marahin Rio kalau Rio terlalu banyak bergaul sama anak-anak ekskul film. Dan, akhirnya, peristiwa itu terjadi," kata Shilla. Dia berhenti sejenak, lalu menarik napas.
"Saat pulang sekolah, Rio diajak Gabriel ketemu sama teman-temannya yang juga merupakan preman sekolah kami. Mereka adalah murid-murid drop out sekolah kami. Entah bagaimana Gabriel bisa berteman dengan mereka. Saat itu mereka... sedang di bawah pengaruh alkohol dan obat-obatan," ucap Shi;;a, suaranya sudah mulai serak. "Mereka nyuruh Gabriel untuk... nyuntik Rio dengan suntikan bekas pakai."
Mata Ify membesar, tak percaya dengan cerita Shilla. Air mata Shilla sendiri sudah mengalir.
"Gabriel yang takut sama mereka akhirnya cuma bisa ngelakuin apa yang mereka minta. Setelah itu, Rio nggak cerita sama siapa-siapa lagi. Dia takut sama Gabriel dan selalu menghindar kalau mereka ketemu di sekolah. Waktu itu, aku sama Alvin nggak tau apa-apa," kata Shilla. "Suatu ketika, Gabriel dipindah sekolah sama orang tuanya karena ketauan ngobat. Rio jadi ceria lagi, dan dia juga mulai bikin film lagi. Tapi, beberapa bulan kemudian, dia kena kecelakaan yang cukup parah, yang membuat dia harus dirawat di rumah sakit. Dan, dari sana, baru ketahuan kalo ada virus HIV di darah Rio.
Saat itu, yang tau cuma orang tuanya dan aku. Aku kebetulan ada di rumah sakit saat dokter ngasih tau vonis itu. Waktu itu aku masih remaja yang pemikirannya masih labil, aku masih terlalu ngeri dengan kata-kata HIV. Setelah tau kalau Rio punya virus itu, aku langsung perlahan-lahan menjauhinya," ujar Shilla sambil terisak. "Bukan cuma aku, tapi kedua orang tuanya juga menjauh. Mereka—seperti aku—malu dan takut karena penyakit itu. Alvin yang emang nggak tau apa-apa memang nggak menjauh, tapi Rio yang malah menjauhinya."
Shilla menatap Ify yang juga sudah terisak. Ify sama sekali tidak tahu kalau kejadian yang sebenarnya seperti ini. Ify sama sekali tidak tahu bahwa penderitaan Rio jauh lebih besar dari yang dibayangkannya.
"Fy, kamu jangan membenci Rio karena dia berusaha menjauhi kamu," kata Shilla. "Dia cuma nggak ingin kamu terkena imbasnya juga. Di balik sikapnya yang dingin dan kasar itu, dia sebenarnya takut, Fy."
Ify menangis lebih keras. Dadanya sampai terasa sakit. Shilla mengelus-elus punggungnya.
"Ify, aku kagum sama kamu," katanya. "Aku yang pengecut ini, nggak pantes untuk ada di samping Rio. Di saat semua orang menjauhi Rio, kamu ada untuk dia. Aku bener-bener malu sama kamu, Fy."
"Haah? Maksud kamu apa?" tanya Ify di sela-sela isakannya, bingung dengan kata-kata Shilla. Bukankah Shilla adalah kekasih Rio?
"Aku yakin, sekarang cuma kamu yang bisa jadi kekuatan buat Rio. Cuma kamu yang bisa menghentikan dia," kata Shilla.
"Menghentikan apa?" tanya Ify lagi.
"Fy," kata Shilla dengan tatapan serius. "Kamu tau apa alasan Rio datang ke sini? Kamu tau apa alasan Rio mau ketemu Gabriel lagi?"
Ify menggeleng, tetapi rasanya dia sudah tahu jawabannya.
"Dia mau membunuh Gabriel." Ucapan Shilla membuat Ify membekap mulutnya sendiri. "Dia udah nggak peduli lagi tentang apa yang akan terjadi setelah itu. Dia mau membunuh Gabriel karena udah merusak hidupnya."
Ify tak bisa berkata-kata. Tangan dan kakinya sudah dingin begitu memikirkan kata-kata Shilla. Ify langsung teringat pada sebilah belati yang pernah dia temukan di dalam ransel Rio. Ternyata, untuk itu dia membawa belati itu. Untuk membunuh Gabriel.
"Kenapa...?" tanya Ify dengan suara tercekat.
"Dia merasa udah nggak ada gunanya lagi dia hidup, selain untuk membunuh Gabriel, akar dari semua penderitaan yang menimpanya," kata Shilla lemah. "Aku udah nggak berhak lagi untuk menahan dia, Fy, karena dulu aku udah ninggalin dia. Dan sekarang, cuma kamu yang bisa."
Ify menatap Shilla tak percaya. Rio kemarin bilang kalau hanya Shilla cewek satu-satunya, tetapi kalau Shilla saja tidak bisa menahan Rio, bagaimana Ify bisa menahannya?
"Shilla, dia nggak suka sama aku. Dia benci sama aku. Gimana aku bisa nahan dia?" tanya Ify membuat Shilla tersenyum.
"Dia bilang begitu, ya?" kata Shilla. "Ini tips buat kamu, Fy. Mulai sekarang, apa pun yang dia bilang, maknai sebaliknya. Kamu tau sendiri, kan, kalau Rio tukang bohong? Jadi, mulai sekarang, jangan terlalu kamu anggap serius perkataan Rio."
"Dia... bohong lagi...?" tanya Ify dengan suara serak, dan akhirnya menangis lagi, tetapi lebih karena bahagia. Ini artinya, Rio kemarin sudah berbohong saat mengatakan bahwa Shilla adalah cewek satu-satunya untuk dia.
"Ify," kata Shilla lagi. "Aku percayakan Rio sama kamu, ya? Karena kalau sama kamu, aku bisa merelakan dia."
Ify menatap Shilla lagi. Shilla tersenyum hangat.
"Aku nggak pernah cukup baik buat dia, Fy. Aku pergi ketakutan saat dia membutuhkan aku, dan baru sadar bertahun-tahun kemudian. Aku baru cukup kuat untuk menerima kenyataan itu setelah bertahun-tahun kemudian. Aku bener-bener nggak sebanding sama kamu," ujar Shilla lagi.
Mata Shilla menatap Ify dalam-dalam. Lalu mulai melanjutkan perkataannya, "Fy, aku mohon, tolong jangan jauhi Rio apa pun yang terjadi. Satu-satunya kesempatan Rio untuk bahagia adalah kamu. Kamu tau kenapa Rio selama ini membohongi kamu? Ini karena Rio nggak ingin kamu mencintainya, karena kalau hal itu sampai terjadi, dia harus siap kehilangan kamu lagi suatu saat nanti. Kamu ngerti, kan, Fy? Dia cuma takut kehilangan kamu."
Ify langsung terisak lagi. Pikiran Ify benar-benar kacau, setelah mendengar kebenaran dari mulut Shilla. Selama ini, Rio selalu membohongi Ify supaya Ify menjauhinya. Rio bahkan rela melakukan apa pun supaya Ify membenci dirinya. Ternyata, alasan dari itu semua adalah karena dia takut akan kehilangan Ify.
"Fy, kamu bisa, kan, menjawab kekhawatirannya itu?" tanya Shilla, tetapi Ify tak bisa menjawab.
Ify tidak harus menjawab dan Shilla pun sudah tahu jawabannya. Shilla lalu menghela napas lega. Kalau di dunia ini diciptakan satu orang yang bisa mengembalikan Rio seperti Mario Stevano yang dulu, gadis inilah orangnya.
***
Rio memasang sebuah kaset di handycam-nya. Saat itu, Rio sedang sendirian di kamar kost Alvin karena si empunya kamar sedang bekerja. Rio memerhatikan orang-orang yang ada di layar handycam-nya.
Film yang sedang ditontonnya adalah sebuah film pendek yang dibuat Rio di Pantai Manado tahun 2004 lalu. Film yang tadinya akan dimasukkan ke lomba film indie. Film yang dibuat dengan segenap hati dan dibintangi oleh orang-orang yang paling disayanginya.
Rio menatap Alvin, Gabriel, Shilla, Mama, serta Papanya di layar handycam-nya. Baru kali ini, Rio memberanikan diri untuk menonton lagi film ini dari awal sampai akhir. Sebelumnya, Rio bermaksud untuk melupakannya, karena menonton film ini membuatnya teringat pada orang-orang yang sudah menjauhinya karena penyakit yang dideritanya.
Wajah Gabriel, si pemeran utama, tiba-tiba muncul sendirian di layar. Rio menatap sosok itu, dan tanpa terasa tangannya sudah terkepal keras. Dia adalah orang yang yang membuat semua kehidupannya hancur berantakan, orang yang menjadi akar dari semua permasalahannya.
Ingatan Rio tiba-tiba terlempar ke masa silam, lima tahun yang lalu.
~*oOo*~ Flashback mode ON ~*oOo*~
"Oi, Rio! Pulang sekolah nanti kita ke belakang kantin dulu, ya," kata Gabriel sambil menghampiri Rio yang sedang berkutat dengan handycam-nya.
"Ngapain?" tanya Rio tanpa menoleh.
"Gue mau ketemu sama temen lama gue, dia mau kasih gue sesuatu," kata Gabriel lagi sambil mengamati video yang sedang ditonton Rio. "Ya ampun. Another documantary?"
Rio hanya mengedikkan bahu, matanya masih tertancap ke video dokumenter yang baru saja diselesaikannya. Namun kemudian, dia beralih menatap sahabat karibnya itu.
"Apa yang mau dia kasih? Another blue film?" sindir Rio, dan Gabriel hanya terkekeh.
"Bukan. Ini sesuatu yang lebih daripada itu," kata Gabriel, mencondongkan dirinya pada Rio. "Lo juga harus coba."
Rio menatap Gabriel tanpa ekspresi. Dia tahu kalau menyangkut Gabriel, pasti semuanya berhubungan dengan cewek.
"Oke, terserah lo aja, deh. Asal jangan lama-lama, karena gue harus transfer ini video. Gue lagi ngejar deadline, nih," kata Rio akhirnya.
"Siap, bos. Dasar maniak film," balas Gabriel sambil terkekeh.
"Calon sutradara," ralat Rio, dan Gabriel tergelak lebih hebat.
Sepulang sekolah,
"Serius, Yel, siapa, sih, yang lagi lo tunggu?" tanya Rio setelah menunggu hampir selama satu jam.
"Temen lama gue," jawab Gabiel. Sekarang dia tampak gelisah. Rio memerhatikannya bingung.
Tak lama kemudian, beberapa orang bertubuh besar dan bertato di sana-sini muncul. Sejenak Rio merasa kalau mereka tidak mungkin teman lama yang dimaksud Gabriel, tapi mendadak Rio merasa takut. Rio tidak tahu, sejak kapan Gabriel bergaul dengan orang-orang seperti ini.
"Oi, Gabriel! Apa kabar lo?" sahut seseorang dari mereka yang di wajahnya terdapat codet. Rio bisa mencium bau alkohol dalam radius tiga meter.
"Baik. Mana barangnya?" kata Gabriel cepat.
"Sabar, dong, man," ucap laki-laki tadi lalu melirik ke arah Rio yang mulai mundur teratur. "Wah, siapa, nih? Temen lo? Calon pelanggan baru?"
"Bukan," kata Gabriel sambil menahan laki-laki itu yang sekarang sedang berjalan sempoyongan ke arah Rio. "Dia cuma temen gue."
"Temen ya...?" kata laki-laki itu, lalu menarik Gabriel ke pinggiran, dan membisikkinya sesuatu. Rio tak bisa mendengar mereka, tetapi firasatnya mulai tidak enak.
Tak lama kemudian, kawanan itu mendekati Rio. Bau alkohol menguar hebat dari tubuh mereka. Gabriel menatap Rio takut-takut, dan saat itulah, Rio tahu kalau sesuatu yang sangat buruk akan terjadi. Rio baru akan berlari kabur saat beberapa tangan menahannya. Rio langsung meronta sekuat tenaga, tapi kawanan itu jauh lebih besar darinya.
"LEPASIN GUE!" sahut Rio sekuat tenaga sambil berusaha melepaskan diri dari cengkeraman dua orang besar yang ada di sampingnya. Namun, cengkeraman mereka malah bertambah kuat.
"DIEM LO!" sahut seseorang di depan Rio. Seseorang berdagu kasar menonjoknya dengan sekuat tenaga dan membuat pelipisnya berdarah.
"MAU APA LO?" sahut Rio lagi. Dia melirik Gabriel, sahabatnya yang ada tepat di belakang lelaki yang barusan menonjoknya. Ekspresinya aneh, sama sekali tak dapat ditebak. "Yel, apa maksud lo, hah?"
"Yo, nggak sakit, kok," kata Gabriel sambil membawa sebuah suntikan, membuat mata Rio melebar. "Cuma sekali doang nggak bikin ketagihan, kok."
"Yel! Lo apa-apaan! Buang!" seru Rio, tapi Gabriel seperti tak punya pilihan. Laki-laki di belakangnya tampak sedang mengancamnya.
Kawanan itu terkekeh saat Gabriel menghampiri Rio yang sudah tak bisa berkutik lagi. Gabriel membuka tutup suntikan itu, lalu salah seorang dari kawanan itu memberikan lengan kiri Rio yang sudah menegang karena kerasnya perlawanan Rio.
"Sori, Yo," kata Gabriel, lalu dengan mata menatap lurus pada mata Rio, Gabriel menusukkan suntikan itu ke tangan Rio.
Rio sudah tak bisa merasakan rasa sakit. Dia hanya melihat mata sahabatnya dengan tatapan marah, bertanya-tanya apa yang membuatnya berbuat setega itu.
~*oOo*~ Flashback mode OFF ~*oOo*~
Rio mencengkeram lengan kirinya keras. Kenangan itu sudah sekian lama menjadi mimpi buruk Rio. Kejadian itu sudah berlalu sekitar lima tahun, tetapi rasa panas yang menjalar di lengan kiri Rio masih terasa sampai sekarang. Rio juga tidak bisa melupakan tatapan aneh Gabriel saat dia menyuntikkan obat terlarang itu ke lengan Rio.
Bukan, bukan obat terlarangnya yang membuat Rio hancur. Obat itu memang berpengaruh sedikit, tetapi Rio telah berhasil melaluinya. Suntikan itulah yang membuat seluruh kehidupannya hancur. Suntikan yang entah berasal dari mana dan membawa virus yang akan menjadi penyebab kematiannya.
Rio menghantamkan kepalan tangannya ke lantai, rahangnya mengeras. Bagaimana pun, dia harus menemukan Gabriel untuk balas dendam. Karena kejadian itu, Rio sudah tidak mempunyai tujuan hidup lagi, selain menuntut balas atas perbuatan Gabriel lima tahun yang lalu.
Kejadian itu juga yang telah membawanya pada seorang Alyssa Saufika, dan memaksanya untuk berpisah lagi dengan cewek yang sedikit demi sedikit telah mencairkan hatinya yang telah lama membeku—meski belum sepenuhnya. Rio mengambil sebuah kaset di antara beberapa kaset yang tergeletak, lalu memasangnya di
handycam-nya.
Air mata Rio langsung menetes tanpa disadarinya saat melihat gambar Ify berlarian dengan latar belakang Pantai Bandung di layar handycam-nya. Rio sama sekali tidak bermaksud untuk menangis, tetapi air mata itu keluar dengan sendirinya. Otak Rio memang telah memerintahkannya untuk melupakan Ify, tetapi ternyata hatinya tidak bisa.
Rio sekarang tahu kalau air mata dan kesedihan sama sekali tak ada hubungannya dengan otak. Karena sekuat apa pun Rio menahannya, air matanya akan tetap jatuh.
***
Rio menatap kost tua di depannya ragu. Hari ini, Rio bermaksud untuk kembali ke tempat kost-nya untuk mengambil beberapa baju. Dia tidak akan tinggal di kost ini sampai menemukan tempat kost baru, dan selama itu pula Rio akan numpang di kost Alvin selama beberapa malam. Rio sama sekali tak ingin berurusan dengan seorang Ify lagi.
Mengingat nama itu lagi membuat Rio pening. Semalaman, kepala Rio sudah dipenuhi oleh bayang-bayang Ify hingga membuatnya hampir gila. Rio memijat lehernya dan berjalan masuk. Ozy tampak sedang mengelap motornya.
"Rio, baru pulang, ya?" tanya Ozy. Rio hanya balas tersenyum. Tiba-tiba langkah Rio terhenti.
"Zy, ng... Ify... ada nggak, ya?" tanyanya membuat Ozy mengernyit bingung.
"Eh? Ify? Nggak ada, dia lagi nemenin Tante Winda dan suaminya ke rumah saudaranya di Solo. Kenapa, Yo?" tanya Ozy lagi.
"Oh, nggak apa-apa," jawab Rio cepat dan segera bergerak menuju tangga. Rio menghela napas lega. Ternyata Ify tidak ada di kos. Dengan begini dia bisa bebas tanpa harus bertemu dengannya selama beberapa hari. Ketika Rio sampai pada anak tangga terakhir, Rio terpaku saat melihat sosok di hadapannya.
Déja vu.
"Tapi, kalo cewek cantik yang dateng kemaren ada, Yo!" seru Ozy dari bawah. Sedikit terlambat memang, karena Rio sudah lebih dulu melihat Shilla. Shilla pun sudah melihat Rio.
Shilla tersenyum pada Rio, yang dibalas dengan sedikit ogah-ogahan oleh Rio. Rio tak tahu apa yang masih dilakukan Shilla di sini. Rio lalu beranjak mendekati Shilla.
"Ada apa, Shil?" tanya Rio.
"Aku mau pulang ke Manado, Yo," jawab Shilla pelan. Rio mengangguk. "Tapi... aku mau ngobrol sebentar lagi sama kamu, sekalian pamitan."
Rio menatap Shilla sebentar, lalu mengangguk lagi.
"Ayo ke atas," ajak Rio sambil melangkah duluan ke lantai tiga. Shilla mengikutinya. Setelah sampai, Rio langsung bersandar di pagar pembatas, sementara Shilla menatapnya lekat-lekat. Rio meliriknya. "Apa, kamu mau minta maaf lagi?"
Shilla segera tersenyum lemah. Dia duduk di bangku panjang.
"Rio, kemarin aku... ngobrol sama Ify," kata Shilla membuat mata Rio melebar sempurna.
"Apa?" kata Rio dingin. Shilla tahu, Rio pasti sangat marah.
"Aku udah cerita tentang penyebab kamu bisa dapet penyakit ini. Aku udah cerita semuanya sama dia. Maaf kalo aku ngelakuin ini semua tanpa permisi dulu sama kamu, tapi aku rasa, dia berhak untuk tau." Ucapan Shilla barusan membuat Rio membuang pandangannya. "Yo, dia tulus sama perasaannya, dan aku tau persis gimana perasaan kamu."
Rio mendengus skeptis. "Oh, ya? Kamu tau, ya?"
"Iya. Kamu takut. Iya, kan, Yo?" ujar Shilla membuat Rio terdiam. "Kamu cuma takut kehilangan dia, seperti dulu kamu kehilangan semua orang yang kamu sayangi. Iya, kan, Yo?"
Rio tidak menjawab. Dia hanya menatap bangunan-bangunan di depannya tanpa ekspresi. Shilla menghampiri Rio.
"Rio, aku tau aku nggak berhak ngomong ini, tapi kamu berhak bahagia sama Ify, Rio. Aku tau, dulu aku begitu bodoh udah ninggalin kamu, dan sekarang kamu nggak mau terima aku lagi. Tapi, Rio, Ify adalah orang yang paling tepat buat kamu. Jadi, mendukung kamu sama Ify adalah satu-satunya yang aku bisa lakukan untuk kamu!" sahut Shilla sambil menarik lengan Rio.
"Shilla," kata Rio dingin membuat Shilla berhenti menarik Rio. Rio menoleh dan menatap Shilla tajam. "Cukup sampai di sini campur tangan kamu. Aku berterima kasih kamu udah sejauh ini mikirin aku, tapi nggak ada kebahagiaan lain buatku selain balas dendam sama Gabriel."
"Tapi, Yo..."
"Shil," desak Rio lagi. "Tolong jangan paksa aku. Aku nggak mau ngebentak kamu."
Shilla terdiam, sementara Rio sudah membuang pandangannya lagi. Air mata Shilla mulai jatuh. Cewek itu merasa tak berdaya menghadapi Rio yang sudah tak tergapai seperti ini. Shilla juga kesal pada dirinya sendiri karena sekali lagi telah gagal menghadapi Rio. Dia hanya bisa menggigit bibir bagian bawahnya agar tidak terisak.
Rio menoleh menatap Shilla lama. Gadis yang dulu pernah dicintainya sepenuh hati. Gadis yang juga sudah meninggalkannya dan kini kembali lagi untuknya, bahkan mendukungnya untuk bahagia bersama orang lain. Shillao tidak bisa lebih berterima kasih lagi padanya.
"Shilla," kata Rio membuat Shilla sedikit mengangkat wajahnya. Rio terdiam sebentar, berusaha mengendalikan emosinya. "Kamu... harus bahagia, ya."
Shilla menatap Rio, dan kembali menangis hebat sampai jatuh terduduk di lantai yang dingin. Tidak pernah hati Shilla merasa sesakit ini seumur hidupnya. Perkataan Rio tadi seakan menyiratkan bahwa dia akan bahagia bersama orang lain selain Rio, tetapi saat Rio mengatakannya sekarang, Shilla tahu, kalau dia sudah membuat kesalahan yang paling besar dalam hidupnya, meninggalkan Rio begitu saja beberapa tahun yang lalu. Dan sekarang, Shilla tahu, bahwa dia tak akan bisa lebih bahagia dari saat-saat bersama Rio dulu.
Rio membiarkan Shilla menangis untuk beberapa saat. Rio harus bisa merelakannya. Rio harus bisa merelakan semua yang dia miliki, termasuk apa yang disayanginya sekarang. Ya, Ify.
Tidak masalah kalau saja Rio mengatakan dia tidak menyukai Ify dari awal. Tetapi, Rio melakukan hal-hal kejam yang sudah menyakiti hati Ify. Bahkan, Ify tidak tahu apakah dia bisa memaafkan Rio setelah ini.
Tiba-tiba, terdengar suara pintu ditutup dari arah kamar Rio. Ify melirik jam yang ada di meja kamarnya. Delapan lebih lima belas. Rio pasti akan berangkat untuk mencari Gabriel, orang yang katanya sedang dicarinya entah karena apa. Ify pikir, Rio pasti berbohong lagi. Rio selalu berbohong padanya, seorang gadis lugu yang merupakan mangsa empuk untuk dipermainkan.
Ify sudah tidak mau tahu lagi apa pun yang berkaitan dengan Mario Stevano. Ify sudah tidak mau peduli lagi.
Rio sedang menatap marah Alvin yang sedang tergeletak di depannya dengan mulut penuh darah. Rio baru saja memberinya serangan fajar, setelah apa yang sudah dilakukan Alvin kemarin. Rio sama sekali tidak pernah menyangka kalau Alvin akan berbuat sebodoh itu dengan memberi tahu Shilla di mana tempat tinggalnya sekarang.
Rio berjongkok di depan Alvin, lalu mencengkeram kaus Alvin. Alvin membalas tatapan marah Rio dengan tatapan tanpa ekspresi.
"Bangun lo!" kata Rio geram. "Apa yang membuat lo berpikir kalo lo berhak ngasih tau di mana gue tinggal ke Shilla?"
"Dia cuma mau minta maaf sama lo," jawab Alvin dengan susah payah. "Dia nyesel udah ninggalin lo."
"Gue udah bilang, kan, gue nggak mau berurusan lagi sama dia! Lo bebal atau dungu, sih, Vin? Udah bagus dia ngejauhin gue!" sahut Rio kalap. "Kenapa lo malah ngasih tau dia?"
"Karena dia ngancem mau bunuh diri kalo nggak gue kasih tau!" sahut Alvin membuat Rio terdiam. "Ya, dia sampai semenyesal itu, Yo. Dia bener-bener nyesel udah ninggalin lo!"
"Lo pengecut banget, sih, Vin! Nggak mungkin dia mau bunuh diri begitu aja!" sahut Rio lagi. Alvin mendorong Rio sampai Rio terbanting. Kemudian, Alvin duduk.
"Menurut gue, Yo, elo itu yang pengecut! Yang lo tau cuma menghindar dari semua masalah! Lo nggak pernah berusaha untuk menyelesaikan masalah lo! Lo cuma bisa lari dan sembunyi dari masalah!" cecar Alvin sambil menyeka
darah yang sudah mengalir ke dagunya. "Kalo lo nggak mau Shilla balik, seenggaknya lo bisa maafin dia supaya dia bisa nerusin hidupnya, kan? Supaya dia nggak terus-terusan dihantui rasa bersalah."
Rio terdiam, lalu menyandarkan dirinya pada tembok.
"Gue udah ngelakuin itu. Gue udah maafin dia dari dulu," ujar Rio pelan. "Gue udah nggak ada masalah sama dia, tapi yang jadi masalah sekarang adalah cewek itu."
Alvin menatap Rio, seolah dia tak pernah memikirkan kemungkinan itu.
"Cewek itu ngeliat Shilla, dan semua alibi gue hancur," kata Rio sambil melirik Alvin tajam. "Itu semua karena lo."
"Terus... dia gimana?" tanya Alvin hati-hati.
"Yah, intinya, sekarang dia benci sama gue. Mungkin dia nggak mau liat gue lagi. Dan, karena itu, gue harus cepet-cepet pindah kost," kata Rio.
"Sori, Yo," ujar Alvin menyesal.
"Nggak perlu minta maaf," kata Rio. "Sori, gue udah mukul lo. Tapi, lo emang pantes dapet pukulan itu, karena lo nggak ngomong-ngomong dulu sama gue."
Alvin mengelus pipinya yang tadi ditonjok Rio, dia menatap Rio yang tampak melamun.
"Lo... nggak apa-apa, kan, Yo?" tanya Alvin cemas.
"Gue cuma ngerasa kalo gue udah keterlaluan sama dia, Vin," kata Rio sambil menjambak rambutnya. "Semua omongan gue kemaren kayaknya keterlaluan. Kalo dia nampar gue atau gimana, gue bisa terima. Tapi..."
"Tapi...?" tanya Alvin penasaran.
"Tapi, dia cuma bilang, kenapa kamu nggak sekalian bunuh aku? Dan, bagi gue itu lebih dari cuma sekedar tamparan," ujar Rio, matanya kembali menerawang hampa. "Baru kali ini gue nyesel kenal sama seseorang, selain Gabriel."
Alvin tahu dengan pasti maksud kata-kata Rio. Rio pasti sedang berharap dia tidak pernah mengenal cewek itu sehingga tidak akan pernah berpisah dengannya. Karena jika ada pertemuan, pasti akan ada perpisahan, bukan?
***
Ify memutuskan untuk keluar dari kamar karena Rio pasti sudah tidak ada. Ify membuka pintu dan mendapati Shilla sedang ada di depan kamar Rio, bermaksud untuk mengetuk pintunya. Shilla menoleh, dan tersenyum pada Ify yang tidak sempat membalasnya karena terlalu kaget.
"Hai," sapa Shilla ramah. Ify hanya membalasnya dengan anggukan. "Rio ada?"
"Nggak tau, ya," jawab Ify, dengan suara yang bukan miliknya. "Coba diketok aja."
Ify berjalan melewati Shilla untuk ke kamar mandi. Shilla memerhatikan Ify sampai dia menghilang di balik pintu kamar mandi.
Tak berapa lama, Ify keluar dan langsung terlonjak kaget karena Shilla sudah ada di depan pintu kamar mandi, terlihat seperti sedang menunggunya. Shilla tersenyum ramah lagi pada Ify.
"Kamu Ify, kan? Kita ngobrol sebentar, yuk?" tanya Shilla membuat Ify menganga. Namun, akhirnya, dia mengikuti Shilla ke lantai tiga.
Ify menatap punggung Shilla yang bahkan terlihat sempurna. Ify tidak heran kalau Rio mati-matian menolaknya karena Ify sama sekali berbeda dengan Shilla. Shilla tipe gadis cantik yang begitu sempurna, bukannya gadis lugu yang tidak berarti apa-apa sepertinya.
"Ify, aku Shilla," kata Shilla membuka pembicaraan. Dia mengulurkan tangannya, yang disambut dengan bingung oleh Ify. "Aku rasa kamu udah tau siapa aku dari Rio."
"Yah, kurang lebih," balas Ify kaku. Dia tidak mau mengatakan kalau Shilla adalah satu-satunya cewek untuk Rio.
"Kamu... suka sama Rio?" tanya Shilla membuat Ify bengong untuk kesekian kalinya. Ify tidak langsung menjawab
pertanyaan itu. Dia tertunduk, merasa malu sudah berpikiran untuk menyukai Rio yang sudah punya pacar secantik
Shilla.
"Aku..." Ify kehilangan kata-kata.
"Aku tau, kok," ujar Shilla sambil tersenyum. "Hhhh... Rio sebenernya beruntung, ya, punya orang-orang yang suka dan sayang sama dia."
Beberapa saat, tidak ada satu pun yang berbicara di antara mereka.
"Fy, kamu tau, kenapa Rio bisa punya penyakit seperti ini?" tanya Shilla kemudian.
"Aku nggak tau lagi mana alasan yang bener," jawab Ify getir. "Rio udah terlalu banyak berbohong sama aku. Aku nggak tau lagi..."
Shilla menatap Ify yang tampak menahan tangis.
"Kayaknya Rio masih merahasiakan soal 'itu', ya, sama kamu," ujar Shilla membuat Ify menatapnya. "Mungkin, dia berbohong demi kebaikan kamu. Ya, dia ngelakuin itu semua buat melindungi kamu."
"Melindungi? Dia nyakitin aku terus!" balas Ify dengan suara serak. Sejenak, dia menyesal karena sudah berteriak.
"Maaf."
Shilla tersenyum menatap gadis ringkih di depannya yang sudah membuat Rio jatuh cinta.
"Ify, kamu tau seseorang bernama Gabriel Stevent?" tanya Shilla lagi membuat Ify mendengus.
"Ya, tokoh rekaannya Rio," ujar Ify skeptis.
"Bukan rekaan, dia emang bener-bener ada." Jawaban Shilla membuat Ify menatapnya tak percaya. "Gabriel itu dulu
sahabatnya Rio."
Shilla mengambil napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya sementara Ify tak melepas pandangannya.
"Lima tahun yang lalu, aku, Rio, Gabriel, dan satu orang lagi bernama Alvin Jonathan, bersahabat. Kami sekelas dari kelas satu sampai kelas tiga SMA. Kami udah nggak terpisahkan, ke mana-mana selalu bareng." Shilla memulai ceritanya. "Kami semua punya cita-cita masing-masing, kecuali Gabriel. Dia ini pengacau, selalu aja bikin keributan dan sama sekali nggak punya visi buat masa depan.
Gabriel paling akrab sama Rio, karena mereka berdua udah kenal dari SD. Dengan Rio, Gabriel nggak pernah macem-macem. Mereka udah seperti kakak-adik. Kamu tau cita-cita Rio?" tanya Shilla di tengah-tengah ceritanya, membuat Ify menggeleng. "Sutradara. Rio pengen banget jadi sutradara, sampai-sampai dia rela menghabiskan uang tabungannya untuk beli kaset dan bikin film kecil-kecilan yang pemainnya kami-kami ini.
Suatu hari, entah kenapa, Gabriel jadi agak berubah. Dia jadi agak cenderung pemarah, bahkan ke Rio sekalipun. Kadang, dia suka marahin Rio kalau Rio terlalu banyak bergaul sama anak-anak ekskul film. Dan, akhirnya, peristiwa itu terjadi," kata Shilla. Dia berhenti sejenak, lalu menarik napas.
"Saat pulang sekolah, Rio diajak Gabriel ketemu sama teman-temannya yang juga merupakan preman sekolah kami. Mereka adalah murid-murid drop out sekolah kami. Entah bagaimana Gabriel bisa berteman dengan mereka. Saat itu mereka... sedang di bawah pengaruh alkohol dan obat-obatan," ucap Shi;;a, suaranya sudah mulai serak. "Mereka nyuruh Gabriel untuk... nyuntik Rio dengan suntikan bekas pakai."
Mata Ify membesar, tak percaya dengan cerita Shilla. Air mata Shilla sendiri sudah mengalir.
"Gabriel yang takut sama mereka akhirnya cuma bisa ngelakuin apa yang mereka minta. Setelah itu, Rio nggak cerita sama siapa-siapa lagi. Dia takut sama Gabriel dan selalu menghindar kalau mereka ketemu di sekolah. Waktu itu, aku sama Alvin nggak tau apa-apa," kata Shilla. "Suatu ketika, Gabriel dipindah sekolah sama orang tuanya karena ketauan ngobat. Rio jadi ceria lagi, dan dia juga mulai bikin film lagi. Tapi, beberapa bulan kemudian, dia kena kecelakaan yang cukup parah, yang membuat dia harus dirawat di rumah sakit. Dan, dari sana, baru ketahuan kalo ada virus HIV di darah Rio.
Saat itu, yang tau cuma orang tuanya dan aku. Aku kebetulan ada di rumah sakit saat dokter ngasih tau vonis itu. Waktu itu aku masih remaja yang pemikirannya masih labil, aku masih terlalu ngeri dengan kata-kata HIV. Setelah tau kalau Rio punya virus itu, aku langsung perlahan-lahan menjauhinya," ujar Shilla sambil terisak. "Bukan cuma aku, tapi kedua orang tuanya juga menjauh. Mereka—seperti aku—malu dan takut karena penyakit itu. Alvin yang emang nggak tau apa-apa memang nggak menjauh, tapi Rio yang malah menjauhinya."
Shilla menatap Ify yang juga sudah terisak. Ify sama sekali tidak tahu kalau kejadian yang sebenarnya seperti ini. Ify sama sekali tidak tahu bahwa penderitaan Rio jauh lebih besar dari yang dibayangkannya.
"Fy, kamu jangan membenci Rio karena dia berusaha menjauhi kamu," kata Shilla. "Dia cuma nggak ingin kamu terkena imbasnya juga. Di balik sikapnya yang dingin dan kasar itu, dia sebenarnya takut, Fy."
Ify menangis lebih keras. Dadanya sampai terasa sakit. Shilla mengelus-elus punggungnya.
"Ify, aku kagum sama kamu," katanya. "Aku yang pengecut ini, nggak pantes untuk ada di samping Rio. Di saat semua orang menjauhi Rio, kamu ada untuk dia. Aku bener-bener malu sama kamu, Fy."
"Haah? Maksud kamu apa?" tanya Ify di sela-sela isakannya, bingung dengan kata-kata Shilla. Bukankah Shilla adalah kekasih Rio?
"Aku yakin, sekarang cuma kamu yang bisa jadi kekuatan buat Rio. Cuma kamu yang bisa menghentikan dia," kata Shilla.
"Menghentikan apa?" tanya Ify lagi.
"Fy," kata Shilla dengan tatapan serius. "Kamu tau apa alasan Rio datang ke sini? Kamu tau apa alasan Rio mau ketemu Gabriel lagi?"
Ify menggeleng, tetapi rasanya dia sudah tahu jawabannya.
"Dia mau membunuh Gabriel." Ucapan Shilla membuat Ify membekap mulutnya sendiri. "Dia udah nggak peduli lagi tentang apa yang akan terjadi setelah itu. Dia mau membunuh Gabriel karena udah merusak hidupnya."
Ify tak bisa berkata-kata. Tangan dan kakinya sudah dingin begitu memikirkan kata-kata Shilla. Ify langsung teringat pada sebilah belati yang pernah dia temukan di dalam ransel Rio. Ternyata, untuk itu dia membawa belati itu. Untuk membunuh Gabriel.
"Kenapa...?" tanya Ify dengan suara tercekat.
"Dia merasa udah nggak ada gunanya lagi dia hidup, selain untuk membunuh Gabriel, akar dari semua penderitaan yang menimpanya," kata Shilla lemah. "Aku udah nggak berhak lagi untuk menahan dia, Fy, karena dulu aku udah ninggalin dia. Dan sekarang, cuma kamu yang bisa."
Ify menatap Shilla tak percaya. Rio kemarin bilang kalau hanya Shilla cewek satu-satunya, tetapi kalau Shilla saja tidak bisa menahan Rio, bagaimana Ify bisa menahannya?
"Shilla, dia nggak suka sama aku. Dia benci sama aku. Gimana aku bisa nahan dia?" tanya Ify membuat Shilla tersenyum.
"Dia bilang begitu, ya?" kata Shilla. "Ini tips buat kamu, Fy. Mulai sekarang, apa pun yang dia bilang, maknai sebaliknya. Kamu tau sendiri, kan, kalau Rio tukang bohong? Jadi, mulai sekarang, jangan terlalu kamu anggap serius perkataan Rio."
"Dia... bohong lagi...?" tanya Ify dengan suara serak, dan akhirnya menangis lagi, tetapi lebih karena bahagia. Ini artinya, Rio kemarin sudah berbohong saat mengatakan bahwa Shilla adalah cewek satu-satunya untuk dia.
"Ify," kata Shilla lagi. "Aku percayakan Rio sama kamu, ya? Karena kalau sama kamu, aku bisa merelakan dia."
Ify menatap Shilla lagi. Shilla tersenyum hangat.
"Aku nggak pernah cukup baik buat dia, Fy. Aku pergi ketakutan saat dia membutuhkan aku, dan baru sadar bertahun-tahun kemudian. Aku baru cukup kuat untuk menerima kenyataan itu setelah bertahun-tahun kemudian. Aku bener-bener nggak sebanding sama kamu," ujar Shilla lagi.
Mata Shilla menatap Ify dalam-dalam. Lalu mulai melanjutkan perkataannya, "Fy, aku mohon, tolong jangan jauhi Rio apa pun yang terjadi. Satu-satunya kesempatan Rio untuk bahagia adalah kamu. Kamu tau kenapa Rio selama ini membohongi kamu? Ini karena Rio nggak ingin kamu mencintainya, karena kalau hal itu sampai terjadi, dia harus siap kehilangan kamu lagi suatu saat nanti. Kamu ngerti, kan, Fy? Dia cuma takut kehilangan kamu."
Ify langsung terisak lagi. Pikiran Ify benar-benar kacau, setelah mendengar kebenaran dari mulut Shilla. Selama ini, Rio selalu membohongi Ify supaya Ify menjauhinya. Rio bahkan rela melakukan apa pun supaya Ify membenci dirinya. Ternyata, alasan dari itu semua adalah karena dia takut akan kehilangan Ify.
"Fy, kamu bisa, kan, menjawab kekhawatirannya itu?" tanya Shilla, tetapi Ify tak bisa menjawab.
Ify tidak harus menjawab dan Shilla pun sudah tahu jawabannya. Shilla lalu menghela napas lega. Kalau di dunia ini diciptakan satu orang yang bisa mengembalikan Rio seperti Mario Stevano yang dulu, gadis inilah orangnya.
***
Rio memasang sebuah kaset di handycam-nya. Saat itu, Rio sedang sendirian di kamar kost Alvin karena si empunya kamar sedang bekerja. Rio memerhatikan orang-orang yang ada di layar handycam-nya.
Film yang sedang ditontonnya adalah sebuah film pendek yang dibuat Rio di Pantai Manado tahun 2004 lalu. Film yang tadinya akan dimasukkan ke lomba film indie. Film yang dibuat dengan segenap hati dan dibintangi oleh orang-orang yang paling disayanginya.
Rio menatap Alvin, Gabriel, Shilla, Mama, serta Papanya di layar handycam-nya. Baru kali ini, Rio memberanikan diri untuk menonton lagi film ini dari awal sampai akhir. Sebelumnya, Rio bermaksud untuk melupakannya, karena menonton film ini membuatnya teringat pada orang-orang yang sudah menjauhinya karena penyakit yang dideritanya.
Wajah Gabriel, si pemeran utama, tiba-tiba muncul sendirian di layar. Rio menatap sosok itu, dan tanpa terasa tangannya sudah terkepal keras. Dia adalah orang yang yang membuat semua kehidupannya hancur berantakan, orang yang menjadi akar dari semua permasalahannya.
Ingatan Rio tiba-tiba terlempar ke masa silam, lima tahun yang lalu.
~*oOo*~ Flashback mode ON ~*oOo*~
"Oi, Rio! Pulang sekolah nanti kita ke belakang kantin dulu, ya," kata Gabriel sambil menghampiri Rio yang sedang berkutat dengan handycam-nya.
"Ngapain?" tanya Rio tanpa menoleh.
"Gue mau ketemu sama temen lama gue, dia mau kasih gue sesuatu," kata Gabriel lagi sambil mengamati video yang sedang ditonton Rio. "Ya ampun. Another documantary?"
Rio hanya mengedikkan bahu, matanya masih tertancap ke video dokumenter yang baru saja diselesaikannya. Namun kemudian, dia beralih menatap sahabat karibnya itu.
"Apa yang mau dia kasih? Another blue film?" sindir Rio, dan Gabriel hanya terkekeh.
"Bukan. Ini sesuatu yang lebih daripada itu," kata Gabriel, mencondongkan dirinya pada Rio. "Lo juga harus coba."
Rio menatap Gabriel tanpa ekspresi. Dia tahu kalau menyangkut Gabriel, pasti semuanya berhubungan dengan cewek.
"Oke, terserah lo aja, deh. Asal jangan lama-lama, karena gue harus transfer ini video. Gue lagi ngejar deadline, nih," kata Rio akhirnya.
"Siap, bos. Dasar maniak film," balas Gabriel sambil terkekeh.
"Calon sutradara," ralat Rio, dan Gabriel tergelak lebih hebat.
Sepulang sekolah,
"Serius, Yel, siapa, sih, yang lagi lo tunggu?" tanya Rio setelah menunggu hampir selama satu jam.
"Temen lama gue," jawab Gabiel. Sekarang dia tampak gelisah. Rio memerhatikannya bingung.
Tak lama kemudian, beberapa orang bertubuh besar dan bertato di sana-sini muncul. Sejenak Rio merasa kalau mereka tidak mungkin teman lama yang dimaksud Gabriel, tapi mendadak Rio merasa takut. Rio tidak tahu, sejak kapan Gabriel bergaul dengan orang-orang seperti ini.
"Oi, Gabriel! Apa kabar lo?" sahut seseorang dari mereka yang di wajahnya terdapat codet. Rio bisa mencium bau alkohol dalam radius tiga meter.
"Baik. Mana barangnya?" kata Gabriel cepat.
"Sabar, dong, man," ucap laki-laki tadi lalu melirik ke arah Rio yang mulai mundur teratur. "Wah, siapa, nih? Temen lo? Calon pelanggan baru?"
"Bukan," kata Gabriel sambil menahan laki-laki itu yang sekarang sedang berjalan sempoyongan ke arah Rio. "Dia cuma temen gue."
"Temen ya...?" kata laki-laki itu, lalu menarik Gabriel ke pinggiran, dan membisikkinya sesuatu. Rio tak bisa mendengar mereka, tetapi firasatnya mulai tidak enak.
Tak lama kemudian, kawanan itu mendekati Rio. Bau alkohol menguar hebat dari tubuh mereka. Gabriel menatap Rio takut-takut, dan saat itulah, Rio tahu kalau sesuatu yang sangat buruk akan terjadi. Rio baru akan berlari kabur saat beberapa tangan menahannya. Rio langsung meronta sekuat tenaga, tapi kawanan itu jauh lebih besar darinya.
"LEPASIN GUE!" sahut Rio sekuat tenaga sambil berusaha melepaskan diri dari cengkeraman dua orang besar yang ada di sampingnya. Namun, cengkeraman mereka malah bertambah kuat.
"DIEM LO!" sahut seseorang di depan Rio. Seseorang berdagu kasar menonjoknya dengan sekuat tenaga dan membuat pelipisnya berdarah.
"MAU APA LO?" sahut Rio lagi. Dia melirik Gabriel, sahabatnya yang ada tepat di belakang lelaki yang barusan menonjoknya. Ekspresinya aneh, sama sekali tak dapat ditebak. "Yel, apa maksud lo, hah?"
"Yo, nggak sakit, kok," kata Gabriel sambil membawa sebuah suntikan, membuat mata Rio melebar. "Cuma sekali doang nggak bikin ketagihan, kok."
"Yel! Lo apa-apaan! Buang!" seru Rio, tapi Gabriel seperti tak punya pilihan. Laki-laki di belakangnya tampak sedang mengancamnya.
Kawanan itu terkekeh saat Gabriel menghampiri Rio yang sudah tak bisa berkutik lagi. Gabriel membuka tutup suntikan itu, lalu salah seorang dari kawanan itu memberikan lengan kiri Rio yang sudah menegang karena kerasnya perlawanan Rio.
"Sori, Yo," kata Gabriel, lalu dengan mata menatap lurus pada mata Rio, Gabriel menusukkan suntikan itu ke tangan Rio.
Rio sudah tak bisa merasakan rasa sakit. Dia hanya melihat mata sahabatnya dengan tatapan marah, bertanya-tanya apa yang membuatnya berbuat setega itu.
~*oOo*~ Flashback mode OFF ~*oOo*~
Rio mencengkeram lengan kirinya keras. Kenangan itu sudah sekian lama menjadi mimpi buruk Rio. Kejadian itu sudah berlalu sekitar lima tahun, tetapi rasa panas yang menjalar di lengan kiri Rio masih terasa sampai sekarang. Rio juga tidak bisa melupakan tatapan aneh Gabriel saat dia menyuntikkan obat terlarang itu ke lengan Rio.
Bukan, bukan obat terlarangnya yang membuat Rio hancur. Obat itu memang berpengaruh sedikit, tetapi Rio telah berhasil melaluinya. Suntikan itulah yang membuat seluruh kehidupannya hancur. Suntikan yang entah berasal dari mana dan membawa virus yang akan menjadi penyebab kematiannya.
Rio menghantamkan kepalan tangannya ke lantai, rahangnya mengeras. Bagaimana pun, dia harus menemukan Gabriel untuk balas dendam. Karena kejadian itu, Rio sudah tidak mempunyai tujuan hidup lagi, selain menuntut balas atas perbuatan Gabriel lima tahun yang lalu.
Kejadian itu juga yang telah membawanya pada seorang Alyssa Saufika, dan memaksanya untuk berpisah lagi dengan cewek yang sedikit demi sedikit telah mencairkan hatinya yang telah lama membeku—meski belum sepenuhnya. Rio mengambil sebuah kaset di antara beberapa kaset yang tergeletak, lalu memasangnya di
handycam-nya.
Air mata Rio langsung menetes tanpa disadarinya saat melihat gambar Ify berlarian dengan latar belakang Pantai Bandung di layar handycam-nya. Rio sama sekali tidak bermaksud untuk menangis, tetapi air mata itu keluar dengan sendirinya. Otak Rio memang telah memerintahkannya untuk melupakan Ify, tetapi ternyata hatinya tidak bisa.
Rio sekarang tahu kalau air mata dan kesedihan sama sekali tak ada hubungannya dengan otak. Karena sekuat apa pun Rio menahannya, air matanya akan tetap jatuh.
***
Rio menatap kost tua di depannya ragu. Hari ini, Rio bermaksud untuk kembali ke tempat kost-nya untuk mengambil beberapa baju. Dia tidak akan tinggal di kost ini sampai menemukan tempat kost baru, dan selama itu pula Rio akan numpang di kost Alvin selama beberapa malam. Rio sama sekali tak ingin berurusan dengan seorang Ify lagi.
Mengingat nama itu lagi membuat Rio pening. Semalaman, kepala Rio sudah dipenuhi oleh bayang-bayang Ify hingga membuatnya hampir gila. Rio memijat lehernya dan berjalan masuk. Ozy tampak sedang mengelap motornya.
"Rio, baru pulang, ya?" tanya Ozy. Rio hanya balas tersenyum. Tiba-tiba langkah Rio terhenti.
"Zy, ng... Ify... ada nggak, ya?" tanyanya membuat Ozy mengernyit bingung.
"Eh? Ify? Nggak ada, dia lagi nemenin Tante Winda dan suaminya ke rumah saudaranya di Solo. Kenapa, Yo?" tanya Ozy lagi.
"Oh, nggak apa-apa," jawab Rio cepat dan segera bergerak menuju tangga. Rio menghela napas lega. Ternyata Ify tidak ada di kos. Dengan begini dia bisa bebas tanpa harus bertemu dengannya selama beberapa hari. Ketika Rio sampai pada anak tangga terakhir, Rio terpaku saat melihat sosok di hadapannya.
Déja vu.
"Tapi, kalo cewek cantik yang dateng kemaren ada, Yo!" seru Ozy dari bawah. Sedikit terlambat memang, karena Rio sudah lebih dulu melihat Shilla. Shilla pun sudah melihat Rio.
Shilla tersenyum pada Rio, yang dibalas dengan sedikit ogah-ogahan oleh Rio. Rio tak tahu apa yang masih dilakukan Shilla di sini. Rio lalu beranjak mendekati Shilla.
"Ada apa, Shil?" tanya Rio.
"Aku mau pulang ke Manado, Yo," jawab Shilla pelan. Rio mengangguk. "Tapi... aku mau ngobrol sebentar lagi sama kamu, sekalian pamitan."
Rio menatap Shilla sebentar, lalu mengangguk lagi.
"Ayo ke atas," ajak Rio sambil melangkah duluan ke lantai tiga. Shilla mengikutinya. Setelah sampai, Rio langsung bersandar di pagar pembatas, sementara Shilla menatapnya lekat-lekat. Rio meliriknya. "Apa, kamu mau minta maaf lagi?"
Shilla segera tersenyum lemah. Dia duduk di bangku panjang.
"Rio, kemarin aku... ngobrol sama Ify," kata Shilla membuat mata Rio melebar sempurna.
"Apa?" kata Rio dingin. Shilla tahu, Rio pasti sangat marah.
"Aku udah cerita tentang penyebab kamu bisa dapet penyakit ini. Aku udah cerita semuanya sama dia. Maaf kalo aku ngelakuin ini semua tanpa permisi dulu sama kamu, tapi aku rasa, dia berhak untuk tau." Ucapan Shilla barusan membuat Rio membuang pandangannya. "Yo, dia tulus sama perasaannya, dan aku tau persis gimana perasaan kamu."
Rio mendengus skeptis. "Oh, ya? Kamu tau, ya?"
"Iya. Kamu takut. Iya, kan, Yo?" ujar Shilla membuat Rio terdiam. "Kamu cuma takut kehilangan dia, seperti dulu kamu kehilangan semua orang yang kamu sayangi. Iya, kan, Yo?"
Rio tidak menjawab. Dia hanya menatap bangunan-bangunan di depannya tanpa ekspresi. Shilla menghampiri Rio.
"Rio, aku tau aku nggak berhak ngomong ini, tapi kamu berhak bahagia sama Ify, Rio. Aku tau, dulu aku begitu bodoh udah ninggalin kamu, dan sekarang kamu nggak mau terima aku lagi. Tapi, Rio, Ify adalah orang yang paling tepat buat kamu. Jadi, mendukung kamu sama Ify adalah satu-satunya yang aku bisa lakukan untuk kamu!" sahut Shilla sambil menarik lengan Rio.
"Shilla," kata Rio dingin membuat Shilla berhenti menarik Rio. Rio menoleh dan menatap Shilla tajam. "Cukup sampai di sini campur tangan kamu. Aku berterima kasih kamu udah sejauh ini mikirin aku, tapi nggak ada kebahagiaan lain buatku selain balas dendam sama Gabriel."
"Tapi, Yo..."
"Shil," desak Rio lagi. "Tolong jangan paksa aku. Aku nggak mau ngebentak kamu."
Shilla terdiam, sementara Rio sudah membuang pandangannya lagi. Air mata Shilla mulai jatuh. Cewek itu merasa tak berdaya menghadapi Rio yang sudah tak tergapai seperti ini. Shilla juga kesal pada dirinya sendiri karena sekali lagi telah gagal menghadapi Rio. Dia hanya bisa menggigit bibir bagian bawahnya agar tidak terisak.
Rio menoleh menatap Shilla lama. Gadis yang dulu pernah dicintainya sepenuh hati. Gadis yang juga sudah meninggalkannya dan kini kembali lagi untuknya, bahkan mendukungnya untuk bahagia bersama orang lain. Shillao tidak bisa lebih berterima kasih lagi padanya.
"Shilla," kata Rio membuat Shilla sedikit mengangkat wajahnya. Rio terdiam sebentar, berusaha mengendalikan emosinya. "Kamu... harus bahagia, ya."
Shilla menatap Rio, dan kembali menangis hebat sampai jatuh terduduk di lantai yang dingin. Tidak pernah hati Shilla merasa sesakit ini seumur hidupnya. Perkataan Rio tadi seakan menyiratkan bahwa dia akan bahagia bersama orang lain selain Rio, tetapi saat Rio mengatakannya sekarang, Shilla tahu, kalau dia sudah membuat kesalahan yang paling besar dalam hidupnya, meninggalkan Rio begitu saja beberapa tahun yang lalu. Dan sekarang, Shilla tahu, bahwa dia tak akan bisa lebih bahagia dari saat-saat bersama Rio dulu.
Rio membiarkan Shilla menangis untuk beberapa saat. Rio harus bisa merelakannya. Rio harus bisa merelakan semua yang dia miliki, termasuk apa yang disayanginya sekarang. Ya, Ify.
The Truth About Forever - Chapter 10 : Another Lies
Ify menatap langit-langit kamarnya hampa. Semalaman, Ify tidak bisa
tidur lagi, masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa Rio adalah seorang
gay. Ify masih sulit memercayainya. Ify setengah mati berharap bahwa
Rio hanya berbohong, tetapi yang Ify lihat kemarin terlalu meyakinkan.
Bahkan, Rio sampai memanggil namanya dan memeluknya.
Ify terduduk lemah. Ify merasa terlalu lelah dengan semua ini, tetapi Ify tidak pernah menyesal telah menyukai Rio. Sampai sekarang pun, Ify masih menyukai Rio walaupun Rio tidak mungkin mencintainya.
Ify tidak tahu harus melakukan apa dan bersikap bagaimana di depan Rio. Ify tidak jijik padanya karena dia seorang gay, tetapi Ify terlalu menyukainya sampai tidak mampu menatapnya.
Ify membentur-benturkan kepalanya ke lutut, berharap bahwa semalam tidak pernah terjadi apa-apa. Mendadak, semua kenangannya selama bersama Rio terputar di otaknya. Ify benar-benar tidak mau percaya.
Tiba-tiba, ponsel Ify berdering. Sivia meneleponnya. Ify kemudian cepat-cepat mengangkatnya.
"Ify? Lo, kok, nggak kuliah?" seru Sivia dari seberang. "Kenapa, Fy? Lo sakit?"
Belum sempat menjawab, Ify sudah keburu terisak.
"Fy? Lo kenapa? Ada apa?" tanya Sivia panik sementara isakan Ify semakin menjadi-jadi.
"Via...," kata Ify, dan selanjutnya kronologi kejadian semalam mengalir seperti air bah. Di ujung sana, Sivia diam membisu, tak bisa berkata-kata.
"Dia... gay?" kata Sivia lambat-lambat, tak percaya. Ify makin terisak. "Fy! Lo tunggu, ya! Gue langsung ke kost lo sekarang!"
Sivia memutuskan sambungan telepon sementara Ify kembali tersuruk di antara bantal-bantalnya.
Sivia sekarang sudah berada di kost Ify, memegang tangan Ify erat-erat. Sivia benar-benar tak habis pikir dengan cobaan yang sepertinya dialami Ify tanpa berkesudahan. Sivia pikir sudah cukup kenyataan bahwa Rio adalah seorang penderita HIV positif, sekarang ditambah kenyataan bahwa Rio menderita penyakit itu gara-gara hubungan sesama jenis. Sivia jadi semakin menyesal kenapa kemarin-kemarin dia malah memberi semangat pada sahabatnya itu.
"Ify... Maafin gue, ya," kata Sivia membuat Ify menatapnya lemah.
"Kenapa, Sivia? Emangnya kamu salah apa?" tanya Ify bingung.
"Karena kemaren gue udah bilang yang nggak-nggak. Soal takdir itu," jawab Sivia hati-hati. Ify tersenyum menatap sahabatnya itu.
"Nggak apa-apa, Sivia. Bukan salah kamu," balas Ify pelan.
Sivia menatap Ify lama. Sivia tahu kesedihan Ify hanya dengan melihatnya. Hati Ify sudah hancur, tetapi gadis itu berusaha mati-matian untuk tegar.
"Terus... lo mau gimana?" tanya Sivia, kembali berhati-hati.
Ify terdiam sebentar, dia tersenyum dengan sisa-sisa kekuatan yang dimilikinya.
"Aku nggak bisa ngejauhin dia, Vie. Perasaanku masih sama, bahkan setelah aku tau kalau dia itu gay. Aku nggak bisa lantas benci sama dia," ujar Ify lirih.
"Jangan maksain diri, Fy," kata Sivia. "Dia pasti ngerti."
Ify menggeleng. "Aku mau nemenin dia sampai dia pergi. Itu udah keputusanku," jawab Ify tegas. Sivia menatap Ify sedih.
"Tapi, Fy, dia bisa aja nyakitin lo lagi," katanya membuat Ify menggeleng.
"Vie, apa lagi yang tersisa dari aku, yang masih bisa buat disakiti?" Ify tersenyum getir. "Dia nggak mungkin suka sama aku. Tapi, aku nggak nyesel pernah suka sama dia. Dia... sedikit banyak udah ngasih aku pelajaran dalam hidup. Dia sangat menghargai orang lain sampai-sampai dia rela hidup sendirian, Sivia. Itu yang bikin aku nggak bisa ninggalin dia. Dia... kesepian."
Sivia menatap Ify, matanya masih menyiratkan ketidakpercayaan. Sebenarnya, Sivia ingin berteriak pada Ify agar tidak berhubungan lagi dengan Rio. Ify menghela napas melihat kekhawatiran Sivia.
"Vie, di luar dia punya penyakit HIV dan seorang gay, dia butuh seseorang. Kita semua butuh seseorang," kata Ify.
"Tapi, kenapa harus lo, Ify?" tanya Sivia lagi membuat Ify tersenyum lembut.
"Mungkin karena ini takdir. Kamu sendiri, kan, yang bilang," jawab Ify membuat Sivia terkesiap.
Ify sudah mengambil keputusan. Ify tidak akan menjauhi Rio. Ify akan menerima Rio apa adanya walaupun itu berarti cinta Ify tidak akan terbalas. Ify akan berusaha semampunya untuk mendukung Rio.
Sivia mempererat genggamannya pada tangan Ify, mengagumi kekuatan hati sahabatnya itu. Ify juga sudah tidak menangis lagi. Dia berjanji dalam hati untuk menjadi lebih kuat, agar bisa menemani Rio tanpa membebaninya.
***
Rio menatap kosong langit penuh bintang di atasnya. Pikiran Rio melayang ke mana-mana, mulai dari kenangan masa SMA-nya sampai kejadian beberapa malam lalu saat dia mengaku gay pada Ify. Dan, sekarang, wajah sedih Ify sudah memenuhi kepalanya.
Mendadak, terdengar suara pintu yang seperti ditendang paksa, membuat Rio menoleh. Ify sudah berdiri di sana dengan kedua tangan memegang mug yang mengepul. Di wajahnya, terpasang cengiran nakal.
Rio menatapnya nanar. Cewek itu masih saja mau mencarinya, bahkan setelah tahu dia gay. Kali ini, Rio benar-benar tak habis pikir. Rio menyerah pada cewek yang satu ini.
Ify menghampiri Rio, dia lalu duduk di sebelahnya. Dia menyodorkan mug plastik berisi cokelat panas pada Rio. Rio menerimanya dan mengangguk kecil, berterima kasih.
"Wah, bintangnya lagi banyak, ya?" ujar Ify, berusaha terdengar ceria, sambil melayangkan pandangannya ke arah langit yang membentang di atasnya. Rio hanya diam tak menjawabnya. Dia pura-pura sibuk menyeruput cokelat panasnya. Ify menatap Rio.
"Gimana, Rio? Udah ketemu?" tanya Ify membuat Rio menatapnya heran. "Gabriel. Udah ketemu belum?"
Rio melotot mendengar pertanyaan Ify. Rio sama sekali tak menyangka kalau Ify akan membahas masalah ini dengannya. Dia pikir, Ify akan jijik dengannya dan menghindar, tetapi pikirannya salah. Cewek ini ternyata benar-benar ingin menyampuri kehidupannya.
"Belum," jawab Rio setelah terdiam beberapa detik. Ify mengangguk-angguk.
"Eh, Yo, aku punya ide bagus," kata Ify membuat Rio menatapnya. "Gimana kalo aku bantuin nyari di kampusku? Aku bakalan tanya-tanyain ke semua jurusan. Gimana?"
Rio hampir saja menganga. Dan dia bahkan sudah menganga, tetapi untungnya Ify sibuk menghirup cokelat panasnya, jadi tidak sempat menyadarinya. Rio segera mengatupkan mulutnya. Gelas di tangannya sudah hampir remuk.
Rio tidak tahu mengapa dia bisa sebegini kesal, tetapi perkataan Ify tadi membuat darahnya naik ke kepala. Bisa-bisanya dia mengatakan akan membantu Rio mencari Gabriel, padahal kemarin-kemarin cewek itu bilang sayang dan sebagainya.
"Kenapa lo ngelakuin ini?" tanya Rio kemudian, membuat Ify kembali menatapnya. Rio menatap Ify tajam. "Kenapa lo mau ngebantu gue?"
"Rio, dulu aku pernah bilang, kan, kalo aku mau nemenin kamu?" kata Ify lembut. "Dan, sekarang, mungkin kita udah nggak bisa bersama, tapi aku tetep mau bantu kamu. Sebagai teman. Boleh, kan?"
Rio mengalihkan pandangannya dari Ify. Tentu saja. Perasaan Ify yang kemarin memang cuma simpati, makanya sekarang Ify sudah melupakannya dan memutuskan untuk membantunya. Rio tertawa dalam hati, menertawakan kebodohannya sendiri. Sekarang, Rio hanya harus berhati-hati untuk tidak terbawa oleh perasaannya sendiri. Rio harus meneruskan perannya.
"Yo," ujar Ify lirih tapi masih bisa didengar oleh Rio, sehingga membuat si empunya nama menoleh. "Jangan khawatirkan perasaanku. Aku pasti baik-baik aja."
Mata Rio melebar setelah mendengar perkataan Ify. Pikiran Rio ternyata salah besar. Cewek itu masih menyukainya, hanya saja dia berusaha untuk terlihat tegar. Perasaan Ify untuknya ternyata tulus. Hati Rio terasa sakit bila mengingat hal ini. Tidak seharusnya dia berbohong pada cewek itu, tetapi Rio tak mau mengambil risiko. Menyelamatkan Ify dari masa-masa suram bersamanya adalah tugas utamanya sekarang.
"Boleh aja," kata Rio kemudian sambil tersenyum pada Ify. "Thanks, ya. Lo udah baik banget sama gue selama ini."
Ify balas tersenyum, lalu mengangguk. Kalau saja Rio tidak menahan diri, dia pasti sudah menangis lagi di hadapan Ify. Rio mengalihkan pandangannya, sebisa mungkin tidak melihat cewek itu.
"Yo, karena sekarang kita temen, kamu bisa, kan, cerita sama aku?" pinta Ify ceria. Ify tidak mau terlihat sedih di depan Rio.
"Hm... cerita apa, ya?" kata Rio. "Gimana kalo... si Kancil?"
Ify tertawa lepas mendengar gurauan Rio, sementara dalam hatinya dia sedih karena baru kali ini Rio mau bercanda dengannya. Rio sendiri lebih memilih untuk diam dan menolak untuk melirik Ify.
Keheningan menyelimuti mereka selama beberapa saat, tak satu pun dari mereka yang mengeluarkan suara, sibuk dengan pikiran masing-masing. Sampai akhirnya, Ify tiba-tiba bergidik.
"Kamu nggak kedinginan, Yo?" tanya Ify.
"Nggak," jawab Rio pendek.
"Aku... kedinginan, nih. Aku turun duluan, ya?" ujar Ify sambil bangkit dan membersihkan bagian bawah dari terusannya yang kotor oleh debu. Ify bergerak ke pintu.
"Ify," panggil Rio membuat Ify menoleh. Rio mengangkat mug plastik yang dipegangnya. "Ini, makasih, ya."
Ify mengangguk, meneruskan berjalan menuju pintu. Sedih juga, Rio tidak lagi memanggilnya dengan nama kecil seperti beberapa hari yang lalu. Beberapa langkah kemudian, dia kembali menoleh.
"Rio," kata Ify membuat Rio menatapnya. "Kalo ada apa-apa, kamu boleh cerita sama aku. Kalo aku bisa, aku pasti bantu kamu."
"Oke. Thanks, ya," kata Rio, dan Ify menghilang di balik pintu.
Rio menatap pintu itu lama dan setelah yakin kalau Ify sudah tidak ada di sana, air matanya mengalir tanpa bisa dihentikannya. Dari sekian banyak penderitaan yang pernah dialaminya, inilah yang paling menyakitkan. Sebelumnya, Rio sudah pasrah menerima penyakitnya dan sudah siap mati kapan pun juga, tetapi semenjak mengenal Ify, Rio menjadi sangat marah pada Tuhan.
"Kenapa...," gumam Toushiro geram. Mat kembali terpancang pada langit malam yang bertaburan bintang. "Kenapa harus dipertemukan sama dia kalau pada akhirnya mesti dipisahin lagi?"
Mug di tangan Rio sudah remuk, isinya tumpah. Tangannya terkepal keras dan gemetar hebat. Dia menunduk, dan tetesan air matanya dengan segera membasahi langit semen yang dingin.
***
Ify berjalan gontai menuju kamarnya. Air matanya pun sudah menganak sungai di pipinya. Dia masuk dan menutup pintu kamarnya, lalu merosot ke lantai.
Ternyata, perasaan Ify terhadap Rio masih sama besarnya seperti sebelum Rio mengatakan bahwa dia gay. Ify masih belum bisa sepenuhnya merelakan Rio. Ify masih saja berharap Rio akan berkata bahwa dia bohong soal perkataannya itu.
Tiba-tiba, Ify tersadar. Sekarang sudah tidak ada gunanya terus-terusan memikirkan itu. Ify harus mengesampingkan perasaannya demi membantu Rio. Rio membutuhkan teman, dan hal itulah yang akan dilakukan Ify. Ify akan menjadi lebih kuat dan tegar untuk menolong Rio.
Ify menghapus air matanya, dan tanpa sengaja melirik komputernya, ia mendapat ide, lalu mulai mengetik.
***
Rio menyalakan korek api, dia membakar rokok yang terselip di mulutnya. Setelah itu dia menarik napas, dan menghembuskannya. Hari ini, Rio sedang mencari Gabriel di Universitas Fakultas Olahraga. Namun, tampaknya orang itu tidak ada di sana.
Rio menghela napas, membuka layar handycam-nya. Di dalam handycam itu, terdapat kaset yang selama ini selalu dihindari Rio, yaitu kaset dengan judul "Manado Beach 2004". Rio menggigit bibir bagian bawahnya ragu, tetapi dinyalakannya juga handycam itu.
Mata Rio sampai terasa panas karena tidak berkedip saat menonton film yang terputar di sana. Rahang Rio mengeras. Mungkin memang seharusnya dia tidak pernah menonton film ini lagi. Mungkin seharusnya Rio membuangnya.
Film ini terlalu mengingatkan Rio pada semua hal yang dulu pernah dimilikinya, namun sekarang telah hilang, terampas secara paksa darinya karena penyakit mengerikan yang diidapnya. Keluarganya. Sahabatnya. Kekasihnya. Mimpinya. Hidupnya. Semua kebahagiaannya.
Setetes air jatuh ke layar handycam itu. Bukan hujan, melainkan itu hanyalah tetes air yang berasal dari mata Rio.
***
Ify mengendarai motornya tanpa semangat. Tadi di dekat kampus, dia hampir menabrak seseorang karena melamun. Dan barusan di dekat kost-nya, dia juga hampir menabrak Ozy yang baru pulang dari warung.
Ify mematikan mesin motornya dan mendorongnya masuk. Dia membuka helm. Sementara itu, Ozy menatap wajah Ify yang kusut.
"Lo kenapa, Fy?" tanyanya bingung.
"Nggak apa-apa, kok," jawab Ify sambil naik tangga menuju ke lantai dua dengan gontai.
Tadi di kampus, dia sudah mencari orang yang sedang dicari Rio selama ini, Gabriel. Namun, tak ada satu pun yang bernama Gabriel Stevent, juga tak ada yang mengenal Gabriel. Ify merasa kalau dia tak akan menemukan orang itu kalau caranya seperti ini.
Ify menghela napas lagi. Ify akan melakukan apa pun untuk menolong Rio, tak peduli yang sedang dicarinya itu pasangan sejenisnya atau siapa pun. Ify mengangguk semangat, tak mau terlihat sedih di hadapan Rio. Ketika sampai di lantai dua, Ify terpaku melihat seorang cewek cantikdengan rambut yang dibiarkan terurai di depan kamar Rio.
Cewek itu menoleh dengan wajah cemas, namun kemudian dia tersenyum pada Ify. Rukia balas senyumannya, tetapi masih terlihat heran.
"Hai," sapa cewek itu ramah. "Ng... Kamu... kost di sini?"
"Iya," jawab Ify pendek. Ekspresi cewek itu berubah cerah. Ify mengamati cewek yang cantik dan semampai itu.
"Kamu... kenal sama Vano, Eh maksudnya Rio?" tanya cewek itu lagi.
"Kenal. Itu kamar dia," jawab Ify lagi, tapi entah mengapa firasatnya terhadap cewek ini tidak bagus.
"Dia lagi keluar, ya?" tanya cewek itu lagi.
"Mungkin," jawab Ify. "Kamu... siapa, ya?"
Baru ketika cewek itu akan menjawab, terdengar suara langkah orang yang sedang menaiki tangga. Rio muncul dari tangga dengan wajah lelah. Dia sedang memijati lehernya, namun kemudian terpaku menatap sosok cewek yang berdiri di depan kamarnya.
Rio serasa tidak bisa melakukan apa pun, baik bernapas maupun bergerak, saat melihat cewek manis itu. Cewek itu membekap mulut, lalu berlari ke arah Rio dan memeluknya erat-erat. Rio terlalu kaget sampai-sampai tidak sempat menghindar.
"VAno" sahut cewek itu, air matanya mulai mengalir. "Aku pikir, aku nggak bakal bisa ketemu lagi sama kamu lagi!"
"Shil...la...?" gumam Rio, masih terlalu terkejut. Cewek yang ternyata memiliki nama Ashilla Zahrantiara itu sekarang sudah mempererat pelukannya.
"Rio, maafin aku. Maafin aku... Aku janji nggak bakal ninggalin kamu lagi..." Shilla sudah terisak. "Aku nyesel udah ninggalin kamu. Maafin aku, Vano..."
Rio merasakan seluruh tubuhnya membeku, termasuk lidahnya. Dia sama sekali tak menyangka Shilla akan menyusulnya dan meminta maaf. Rio berusaha mengambil napas, dan saat itulah, dia menyadari keberadaan Ify yang sedang menatapnya marah.
Kedua tangan Ify gemetar di samping pahanya. Ify sangat marah sampai-sampai ingin meninju Rio di tempat, tetapi tak bisa dilakukannya. Entah mengapa, Ify hanya bisa terdiam menonton adegan romantis si pembohong Mario Stevano dan mungkin pacarnya.
Rio menatap Ify, berpikir keras sementara Shilla masih terus terisak sambil memeluknya erat. Rio akhirnya balas memeluk Shilla, membuat Ify memalingkan pandangannya.
Rio berusaha untuk tidak melihat bagaimana Ify menangis. Rio juga menahan segala keinginannya untuk menahan Ify saat dia berderap turun. Yang sekarang Rio pikirkan hanyalah, bagaimana Ify bisa menjauhinya, apa pun caranya.
"Apa kabar, Yo?" tanya Shilla setelah didesak Rio untuk tidak memanggilnya dengan sebutan "Vano".
Rio mengisap rokoknya, lalu menghembuskannya. Sekarang, mereka ada di lantai tiga. Shilla menatap punggung Rio yang tampak kesepian.
"Begini aja," jawab Rio pendek. "Jadi, tau dari mana alamat ini?"
"Aku... nelpon Alvin, terus aku ancam dia. Akhirnya, dia ngasih tau alamat kamu," kata Shilla.
Rio mendengus. Tentu saja, Alvin. Hanya Alvin satu-satunya yang tahu di mana Rio tinggal sekarang.
"Terus... ngapain ke sini?" tanya Rio lagi.
"Aku... Maafin aku, Rio," ujar Shilla pelan. "Dulu, kita masih muda. Dulu, aku nggak pernah berpikir kalo aku bakal sangat kehilangan kamu."
Rio hanya diam, tak berkomentar apa pun. Dia menatap langit yang mulai berubah warna menjadi jingga keemasan.
"Rio, aku bener-bener bodoh udah ninggalin kamu," ujar Shilla lagi. "Sekarang, aku sadar kalo aku..."
"Shilla, kamu udah bener," potong Rio membuat Shilla menatapnya. "Kamu dulu udah membuat keputusan yang benar, ninggalin aku. Jangan mikir macem-macem lagi. Aku udah nggak apa, kok."
"Tapi, Yo, aku masih say..."
"Shill, kalo emang kamu masih sayang sama aku, tolong bantu aku. Kamu ngerti, kan?" potong Rio lagi. Rio kemudian duduk di samping Shilla.
"Rio..."
"Shilla, aku udah maafin kamu," kata Rio. "Dulu mungkin aku nggak bisa terima kenapa kamu ninggalin aku di saat aku merasa sangat membutuhkan kamu. Tapi, sekarang aku udah merelakan kamu."
Shilla menatap Rio yang menolak untuk menatapnya balik. Air mata Shilla sudah jatuh.
"Yo, kamu beneran mau maafin aku?" tanya Shilla. Rio mengangguk, menepuk kepala Shilla, membuat cewek itu langsung terisak.
"Jangan nagis, dong," kata Rio sambil mengacak-acak rambut Shilla. "Thanks, ya, kamu udah dateng ke sini."
Shilla mengangguk di sela-sela tangisnya. Shilla benar-benar menyesal mengapa dulu dia meninggalkan Rio. Shilla sampai sekarang masih tak mengerti, kenapa Tuhan memilih Rio untuk menerima penyakit ini, penyakit yang telah merenggut semua kebahagiaannya.
"Yo...," kata Shilla sambil menatap Rio. "Jangan cari dia lagi."
Rio menatap Shilla sebentar, lalu mengalihkan pandangannya. "Nggak bisa, Shil. Aku harus cari dia sampe ketemu. Setelah itu, aku nggak peduli lagi sama apa yang bakal terjadi sama aku."
"Rio, kamu harus peduli! Kamu masih punya ibumu, kamu masih punya aku! Jangan cari Gabriel lagi, Yoo, aku mohon!" seru Shilla sambil menarik tangan Rio.
"Shil, sampai sekarang, dia yang membuat aku tetap hidup. Kebencianku terhadap dia juga yang udah membuat aku bertahan, tetap hidup untuk menemukan dia. Nggak ada siapa pun yang bisa menghentikan aku," ujar Rio tegas. "Karena dia, aku kena penyakit sialan ini. Kamu ngerti, kan, gimana perasaanku?"
Shilla menatap Rio yang tampak emosi.
"Yo, janji sama aku, jangan ngelakuin hal-hal bodoh. Janji, Yo," desak Shilla cemas.
"Shill, kalo soal yang satu ini, aku nggak bisa menjanjikan apa pun," balas Rio keras kepala. "Thanks karena udah mikirin aku."
Shilla terisak lagi, memikirkan Rio yang sudah berada jauh di luar jangkauannya. Alvin memang sudah memperingatkannya, tetapi dia tak menyangka kalau Rio akan menjadi seperti ini. Benar-benar bukan Rio yang dulu pernah dikenalnya.
"Shilla," kata Rio kemudian. "Jangan pernah mikirin aku lagi. Kamu juga harus nerusin hidup kamu. Kamu udah punya cowok, kan?"
Shilla melirik Rio marah membuat Rio nyengir.
"Yah, masa, sih, kamu jomblo terus selama lima tahun," kata Rio lagi.
"Tau nggak, Rio. Hatiku sakit banget, lho, denger kamu ngomong begitu," jawab Shilla membuat cengiran Rio lenyap. "Denger kamu bisa nanya-nanya yang begitu sama aku seolah kamu udah bener-bener ngelupain aku, hatiku sakit banget."
Rio terdiam sesaat. "Sori," kata Rio membuat Shilla menatapnya.
"Rio," kata Shilla. "Kamu suka... cewek itu, ya?"
Rio segera menoleh pada Shilla yang tampak serius. Tahu siapa cewek yang dimaksud, Rio segera mengalihkan pandangannya. Sepertinya percuma saja jika dia berusaha berbohong. Rio mengangguk, pandangannya menerawang langit yang sudah mulai petang. Shilla menghela napas.
"Udah aku kira," kata Shilla. "Apa dia... udah tau, ng... penyakit kamu?"
Rio mengangguk lagi. "Dia udah tau dan dia bisa terima," jawab Rio membuat Shilla mengangguk-angguk.
"Aku kagum sama dia," ujar Shilla, matanya jauh menerawang. "Aku dulu... bodoh, ya?"
"Shilla," tegur Rio membuat Shilla tersenyum.
"Rio, aku bener-bener minta maaf," kata Shilla lagi. "Aku tau ini mungkin udah sangat terlambat, tapi kapan pun kamu ngebutuhin aku, aku nggak akan lari lagi."
"Thanks." Rio tersenyum pada Shilla.
Mereka kemudian menghabiskan petang itu dalam diam.
***
Ify melangkahkan kakinya ke atas tangga, berharap setengah mati kalau Rio tidak ada. Mata Ify sudah bengkak karena terlalu banyak menangis di kost Shilla tadi, dan Rio adalah makhluk terakhir yang ingin dilihatnya.
Baru ketika Ify muncul di tangga, Rio baru kembali dari kamar mandi dengan handuk tersampir di lehernya. Ify menatap Rio marah, dan berjalan menuju kamarnya. Rio menatap Ify yang tampak enggan menatapnya balik.
"Jadi, yang tadi itu yang namanya Gabriel, ya?" sindir Ify, tak tahan untuk tidak bertanya. Rio tampak tak berekspresi. Dia bersandar di dinding sambil menatap Ify malas.
"Namanya Ashilla Zahrantiara." Jawaban Rio membuat Ify melotot. Ify refleks mengambil sepatu dan melempar Rio dengan sepatu itu. Rio bahkan tidak mengelak. Air mata Ify sekarang sudah jatuh lagi.
"Kamu kejam! Aku bahkan nggak mau tau siapa namanya!" sahut Ify emosi. Rio hanya menatapnya.
Rio mengambil sepatu yang tadi dilempar Ify, dan meletakkannya kembali ke rak sepatu. Dia menghela napas, berusaha menatap ke arah lain selain Ify yang sedang menatapnya marah.
"Kenapa, sih, kamu bohong terus?" tanya Ify lagi, hampir menjerit. "Kenapa kamu harus sekejam ini sama aku? Kenapa, Rio?"
"Sori," kata Rio membuat Ify menatapnya tajam. "Gue nggak bermaksud nyakitin..."
"Nggak bermaksud?" ulang Ify tak percaya. "Nggak bermaksud kamu bilang? Kamu pakai segala cara buat ngejauhin aku dari kamu!"
Rio terdiam, sementara Ify sudah memukul-mukulinya sambil terisak.
"Kenapa kamu harus bilang kalau kamu gay? Kenapa kamu seneng banget nyakitin aku?" seru Ify lagi. "Kalo kamu emang segitu nggak sukanya sama aku, kenapa nggak bilang terus terang?"
"Gue nggak suka sama lo!" sahut Rio membuat Ify terdiam dan berhenti memukulinya. Rio menatapnya serius. "Lo mau gue bilang itu, kan? Gue bilang sekarang, gue nggak suka sama lo. Gue udah kasih peringatan dari awal, kan? Tapi, lo tetep mau tau urusan gue. Gue nggak tau lagi gimana caranya supaya lo menjauh dari gue, dan terus terang aja, gue nggak tega ngomong langsung kalo gue nggak suka sama cewek yang selalu ingin ikut campur urusan orang lain kayak lo!"
Rio tersengal setelah mengatakan semua itu pada Ify. Ify menatap Rio tanpa berkedip, membuat air matanya mengalir makin deras.
"Rio," ujar Ify kemudian. "Kamu bisa lebih kejam lagi dari ini?"
Rio terdiam menatap Ify yang sudah gemetar.
"Maaf, Ify. Tapi, Shilla adalah satu-satunya cewek buat gue. Dari dulu sampai sekarang, cuma dia yang ada di hati gue. Nggak akan ada yang bisa menggantikan dia," kata Rio membuat Ify tersenyum miris.
"Rio... Kenapa kamu nggak sekalian bunuh aku?" kata Ify getir, membuat Rio terdiam. "Kenapa, Mario... Kenapa kamu harus datang ke sini? Kenapa? Kenapa aku bisa kenal sama kamu?"
Ify berderap menuju kamarnya, bergerak masuk dan membanting pintunya. Rio hanya bisa menatapnya tanpa mampu berbuat banyak. Misi berhasil. Sekarang yang harus Rio lakukan adalah pergi secepatnya dari kost ini.
Ify terduduk lemah. Ify merasa terlalu lelah dengan semua ini, tetapi Ify tidak pernah menyesal telah menyukai Rio. Sampai sekarang pun, Ify masih menyukai Rio walaupun Rio tidak mungkin mencintainya.
Ify tidak tahu harus melakukan apa dan bersikap bagaimana di depan Rio. Ify tidak jijik padanya karena dia seorang gay, tetapi Ify terlalu menyukainya sampai tidak mampu menatapnya.
Ify membentur-benturkan kepalanya ke lutut, berharap bahwa semalam tidak pernah terjadi apa-apa. Mendadak, semua kenangannya selama bersama Rio terputar di otaknya. Ify benar-benar tidak mau percaya.
Tiba-tiba, ponsel Ify berdering. Sivia meneleponnya. Ify kemudian cepat-cepat mengangkatnya.
"Ify? Lo, kok, nggak kuliah?" seru Sivia dari seberang. "Kenapa, Fy? Lo sakit?"
Belum sempat menjawab, Ify sudah keburu terisak.
"Fy? Lo kenapa? Ada apa?" tanya Sivia panik sementara isakan Ify semakin menjadi-jadi.
"Via...," kata Ify, dan selanjutnya kronologi kejadian semalam mengalir seperti air bah. Di ujung sana, Sivia diam membisu, tak bisa berkata-kata.
"Dia... gay?" kata Sivia lambat-lambat, tak percaya. Ify makin terisak. "Fy! Lo tunggu, ya! Gue langsung ke kost lo sekarang!"
Sivia memutuskan sambungan telepon sementara Ify kembali tersuruk di antara bantal-bantalnya.
Sivia sekarang sudah berada di kost Ify, memegang tangan Ify erat-erat. Sivia benar-benar tak habis pikir dengan cobaan yang sepertinya dialami Ify tanpa berkesudahan. Sivia pikir sudah cukup kenyataan bahwa Rio adalah seorang penderita HIV positif, sekarang ditambah kenyataan bahwa Rio menderita penyakit itu gara-gara hubungan sesama jenis. Sivia jadi semakin menyesal kenapa kemarin-kemarin dia malah memberi semangat pada sahabatnya itu.
"Ify... Maafin gue, ya," kata Sivia membuat Ify menatapnya lemah.
"Kenapa, Sivia? Emangnya kamu salah apa?" tanya Ify bingung.
"Karena kemaren gue udah bilang yang nggak-nggak. Soal takdir itu," jawab Sivia hati-hati. Ify tersenyum menatap sahabatnya itu.
"Nggak apa-apa, Sivia. Bukan salah kamu," balas Ify pelan.
Sivia menatap Ify lama. Sivia tahu kesedihan Ify hanya dengan melihatnya. Hati Ify sudah hancur, tetapi gadis itu berusaha mati-matian untuk tegar.
"Terus... lo mau gimana?" tanya Sivia, kembali berhati-hati.
Ify terdiam sebentar, dia tersenyum dengan sisa-sisa kekuatan yang dimilikinya.
"Aku nggak bisa ngejauhin dia, Vie. Perasaanku masih sama, bahkan setelah aku tau kalau dia itu gay. Aku nggak bisa lantas benci sama dia," ujar Ify lirih.
"Jangan maksain diri, Fy," kata Sivia. "Dia pasti ngerti."
Ify menggeleng. "Aku mau nemenin dia sampai dia pergi. Itu udah keputusanku," jawab Ify tegas. Sivia menatap Ify sedih.
"Tapi, Fy, dia bisa aja nyakitin lo lagi," katanya membuat Ify menggeleng.
"Vie, apa lagi yang tersisa dari aku, yang masih bisa buat disakiti?" Ify tersenyum getir. "Dia nggak mungkin suka sama aku. Tapi, aku nggak nyesel pernah suka sama dia. Dia... sedikit banyak udah ngasih aku pelajaran dalam hidup. Dia sangat menghargai orang lain sampai-sampai dia rela hidup sendirian, Sivia. Itu yang bikin aku nggak bisa ninggalin dia. Dia... kesepian."
Sivia menatap Ify, matanya masih menyiratkan ketidakpercayaan. Sebenarnya, Sivia ingin berteriak pada Ify agar tidak berhubungan lagi dengan Rio. Ify menghela napas melihat kekhawatiran Sivia.
"Vie, di luar dia punya penyakit HIV dan seorang gay, dia butuh seseorang. Kita semua butuh seseorang," kata Ify.
"Tapi, kenapa harus lo, Ify?" tanya Sivia lagi membuat Ify tersenyum lembut.
"Mungkin karena ini takdir. Kamu sendiri, kan, yang bilang," jawab Ify membuat Sivia terkesiap.
Ify sudah mengambil keputusan. Ify tidak akan menjauhi Rio. Ify akan menerima Rio apa adanya walaupun itu berarti cinta Ify tidak akan terbalas. Ify akan berusaha semampunya untuk mendukung Rio.
Sivia mempererat genggamannya pada tangan Ify, mengagumi kekuatan hati sahabatnya itu. Ify juga sudah tidak menangis lagi. Dia berjanji dalam hati untuk menjadi lebih kuat, agar bisa menemani Rio tanpa membebaninya.
***
Rio menatap kosong langit penuh bintang di atasnya. Pikiran Rio melayang ke mana-mana, mulai dari kenangan masa SMA-nya sampai kejadian beberapa malam lalu saat dia mengaku gay pada Ify. Dan, sekarang, wajah sedih Ify sudah memenuhi kepalanya.
Mendadak, terdengar suara pintu yang seperti ditendang paksa, membuat Rio menoleh. Ify sudah berdiri di sana dengan kedua tangan memegang mug yang mengepul. Di wajahnya, terpasang cengiran nakal.
Rio menatapnya nanar. Cewek itu masih saja mau mencarinya, bahkan setelah tahu dia gay. Kali ini, Rio benar-benar tak habis pikir. Rio menyerah pada cewek yang satu ini.
Ify menghampiri Rio, dia lalu duduk di sebelahnya. Dia menyodorkan mug plastik berisi cokelat panas pada Rio. Rio menerimanya dan mengangguk kecil, berterima kasih.
"Wah, bintangnya lagi banyak, ya?" ujar Ify, berusaha terdengar ceria, sambil melayangkan pandangannya ke arah langit yang membentang di atasnya. Rio hanya diam tak menjawabnya. Dia pura-pura sibuk menyeruput cokelat panasnya. Ify menatap Rio.
"Gimana, Rio? Udah ketemu?" tanya Ify membuat Rio menatapnya heran. "Gabriel. Udah ketemu belum?"
Rio melotot mendengar pertanyaan Ify. Rio sama sekali tak menyangka kalau Ify akan membahas masalah ini dengannya. Dia pikir, Ify akan jijik dengannya dan menghindar, tetapi pikirannya salah. Cewek ini ternyata benar-benar ingin menyampuri kehidupannya.
"Belum," jawab Rio setelah terdiam beberapa detik. Ify mengangguk-angguk.
"Eh, Yo, aku punya ide bagus," kata Ify membuat Rio menatapnya. "Gimana kalo aku bantuin nyari di kampusku? Aku bakalan tanya-tanyain ke semua jurusan. Gimana?"
Rio hampir saja menganga. Dan dia bahkan sudah menganga, tetapi untungnya Ify sibuk menghirup cokelat panasnya, jadi tidak sempat menyadarinya. Rio segera mengatupkan mulutnya. Gelas di tangannya sudah hampir remuk.
Rio tidak tahu mengapa dia bisa sebegini kesal, tetapi perkataan Ify tadi membuat darahnya naik ke kepala. Bisa-bisanya dia mengatakan akan membantu Rio mencari Gabriel, padahal kemarin-kemarin cewek itu bilang sayang dan sebagainya.
"Kenapa lo ngelakuin ini?" tanya Rio kemudian, membuat Ify kembali menatapnya. Rio menatap Ify tajam. "Kenapa lo mau ngebantu gue?"
"Rio, dulu aku pernah bilang, kan, kalo aku mau nemenin kamu?" kata Ify lembut. "Dan, sekarang, mungkin kita udah nggak bisa bersama, tapi aku tetep mau bantu kamu. Sebagai teman. Boleh, kan?"
Rio mengalihkan pandangannya dari Ify. Tentu saja. Perasaan Ify yang kemarin memang cuma simpati, makanya sekarang Ify sudah melupakannya dan memutuskan untuk membantunya. Rio tertawa dalam hati, menertawakan kebodohannya sendiri. Sekarang, Rio hanya harus berhati-hati untuk tidak terbawa oleh perasaannya sendiri. Rio harus meneruskan perannya.
"Yo," ujar Ify lirih tapi masih bisa didengar oleh Rio, sehingga membuat si empunya nama menoleh. "Jangan khawatirkan perasaanku. Aku pasti baik-baik aja."
Mata Rio melebar setelah mendengar perkataan Ify. Pikiran Rio ternyata salah besar. Cewek itu masih menyukainya, hanya saja dia berusaha untuk terlihat tegar. Perasaan Ify untuknya ternyata tulus. Hati Rio terasa sakit bila mengingat hal ini. Tidak seharusnya dia berbohong pada cewek itu, tetapi Rio tak mau mengambil risiko. Menyelamatkan Ify dari masa-masa suram bersamanya adalah tugas utamanya sekarang.
"Boleh aja," kata Rio kemudian sambil tersenyum pada Ify. "Thanks, ya. Lo udah baik banget sama gue selama ini."
Ify balas tersenyum, lalu mengangguk. Kalau saja Rio tidak menahan diri, dia pasti sudah menangis lagi di hadapan Ify. Rio mengalihkan pandangannya, sebisa mungkin tidak melihat cewek itu.
"Yo, karena sekarang kita temen, kamu bisa, kan, cerita sama aku?" pinta Ify ceria. Ify tidak mau terlihat sedih di depan Rio.
"Hm... cerita apa, ya?" kata Rio. "Gimana kalo... si Kancil?"
Ify tertawa lepas mendengar gurauan Rio, sementara dalam hatinya dia sedih karena baru kali ini Rio mau bercanda dengannya. Rio sendiri lebih memilih untuk diam dan menolak untuk melirik Ify.
Keheningan menyelimuti mereka selama beberapa saat, tak satu pun dari mereka yang mengeluarkan suara, sibuk dengan pikiran masing-masing. Sampai akhirnya, Ify tiba-tiba bergidik.
"Kamu nggak kedinginan, Yo?" tanya Ify.
"Nggak," jawab Rio pendek.
"Aku... kedinginan, nih. Aku turun duluan, ya?" ujar Ify sambil bangkit dan membersihkan bagian bawah dari terusannya yang kotor oleh debu. Ify bergerak ke pintu.
"Ify," panggil Rio membuat Ify menoleh. Rio mengangkat mug plastik yang dipegangnya. "Ini, makasih, ya."
Ify mengangguk, meneruskan berjalan menuju pintu. Sedih juga, Rio tidak lagi memanggilnya dengan nama kecil seperti beberapa hari yang lalu. Beberapa langkah kemudian, dia kembali menoleh.
"Rio," kata Ify membuat Rio menatapnya. "Kalo ada apa-apa, kamu boleh cerita sama aku. Kalo aku bisa, aku pasti bantu kamu."
"Oke. Thanks, ya," kata Rio, dan Ify menghilang di balik pintu.
Rio menatap pintu itu lama dan setelah yakin kalau Ify sudah tidak ada di sana, air matanya mengalir tanpa bisa dihentikannya. Dari sekian banyak penderitaan yang pernah dialaminya, inilah yang paling menyakitkan. Sebelumnya, Rio sudah pasrah menerima penyakitnya dan sudah siap mati kapan pun juga, tetapi semenjak mengenal Ify, Rio menjadi sangat marah pada Tuhan.
"Kenapa...," gumam Toushiro geram. Mat kembali terpancang pada langit malam yang bertaburan bintang. "Kenapa harus dipertemukan sama dia kalau pada akhirnya mesti dipisahin lagi?"
Mug di tangan Rio sudah remuk, isinya tumpah. Tangannya terkepal keras dan gemetar hebat. Dia menunduk, dan tetesan air matanya dengan segera membasahi langit semen yang dingin.
***
Ify berjalan gontai menuju kamarnya. Air matanya pun sudah menganak sungai di pipinya. Dia masuk dan menutup pintu kamarnya, lalu merosot ke lantai.
Ternyata, perasaan Ify terhadap Rio masih sama besarnya seperti sebelum Rio mengatakan bahwa dia gay. Ify masih belum bisa sepenuhnya merelakan Rio. Ify masih saja berharap Rio akan berkata bahwa dia bohong soal perkataannya itu.
Tiba-tiba, Ify tersadar. Sekarang sudah tidak ada gunanya terus-terusan memikirkan itu. Ify harus mengesampingkan perasaannya demi membantu Rio. Rio membutuhkan teman, dan hal itulah yang akan dilakukan Ify. Ify akan menjadi lebih kuat dan tegar untuk menolong Rio.
Ify menghapus air matanya, dan tanpa sengaja melirik komputernya, ia mendapat ide, lalu mulai mengetik.
***
Rio menyalakan korek api, dia membakar rokok yang terselip di mulutnya. Setelah itu dia menarik napas, dan menghembuskannya. Hari ini, Rio sedang mencari Gabriel di Universitas Fakultas Olahraga. Namun, tampaknya orang itu tidak ada di sana.
Rio menghela napas, membuka layar handycam-nya. Di dalam handycam itu, terdapat kaset yang selama ini selalu dihindari Rio, yaitu kaset dengan judul "Manado Beach 2004". Rio menggigit bibir bagian bawahnya ragu, tetapi dinyalakannya juga handycam itu.
Mata Rio sampai terasa panas karena tidak berkedip saat menonton film yang terputar di sana. Rahang Rio mengeras. Mungkin memang seharusnya dia tidak pernah menonton film ini lagi. Mungkin seharusnya Rio membuangnya.
Film ini terlalu mengingatkan Rio pada semua hal yang dulu pernah dimilikinya, namun sekarang telah hilang, terampas secara paksa darinya karena penyakit mengerikan yang diidapnya. Keluarganya. Sahabatnya. Kekasihnya. Mimpinya. Hidupnya. Semua kebahagiaannya.
Setetes air jatuh ke layar handycam itu. Bukan hujan, melainkan itu hanyalah tetes air yang berasal dari mata Rio.
***
Ify mengendarai motornya tanpa semangat. Tadi di dekat kampus, dia hampir menabrak seseorang karena melamun. Dan barusan di dekat kost-nya, dia juga hampir menabrak Ozy yang baru pulang dari warung.
Ify mematikan mesin motornya dan mendorongnya masuk. Dia membuka helm. Sementara itu, Ozy menatap wajah Ify yang kusut.
"Lo kenapa, Fy?" tanyanya bingung.
"Nggak apa-apa, kok," jawab Ify sambil naik tangga menuju ke lantai dua dengan gontai.
Tadi di kampus, dia sudah mencari orang yang sedang dicari Rio selama ini, Gabriel. Namun, tak ada satu pun yang bernama Gabriel Stevent, juga tak ada yang mengenal Gabriel. Ify merasa kalau dia tak akan menemukan orang itu kalau caranya seperti ini.
Ify menghela napas lagi. Ify akan melakukan apa pun untuk menolong Rio, tak peduli yang sedang dicarinya itu pasangan sejenisnya atau siapa pun. Ify mengangguk semangat, tak mau terlihat sedih di hadapan Rio. Ketika sampai di lantai dua, Ify terpaku melihat seorang cewek cantikdengan rambut yang dibiarkan terurai di depan kamar Rio.
Cewek itu menoleh dengan wajah cemas, namun kemudian dia tersenyum pada Ify. Rukia balas senyumannya, tetapi masih terlihat heran.
"Hai," sapa cewek itu ramah. "Ng... Kamu... kost di sini?"
"Iya," jawab Ify pendek. Ekspresi cewek itu berubah cerah. Ify mengamati cewek yang cantik dan semampai itu.
"Kamu... kenal sama Vano, Eh maksudnya Rio?" tanya cewek itu lagi.
"Kenal. Itu kamar dia," jawab Ify lagi, tapi entah mengapa firasatnya terhadap cewek ini tidak bagus.
"Dia lagi keluar, ya?" tanya cewek itu lagi.
"Mungkin," jawab Ify. "Kamu... siapa, ya?"
Baru ketika cewek itu akan menjawab, terdengar suara langkah orang yang sedang menaiki tangga. Rio muncul dari tangga dengan wajah lelah. Dia sedang memijati lehernya, namun kemudian terpaku menatap sosok cewek yang berdiri di depan kamarnya.
Rio serasa tidak bisa melakukan apa pun, baik bernapas maupun bergerak, saat melihat cewek manis itu. Cewek itu membekap mulut, lalu berlari ke arah Rio dan memeluknya erat-erat. Rio terlalu kaget sampai-sampai tidak sempat menghindar.
"VAno" sahut cewek itu, air matanya mulai mengalir. "Aku pikir, aku nggak bakal bisa ketemu lagi sama kamu lagi!"
"Shil...la...?" gumam Rio, masih terlalu terkejut. Cewek yang ternyata memiliki nama Ashilla Zahrantiara itu sekarang sudah mempererat pelukannya.
"Rio, maafin aku. Maafin aku... Aku janji nggak bakal ninggalin kamu lagi..." Shilla sudah terisak. "Aku nyesel udah ninggalin kamu. Maafin aku, Vano..."
Rio merasakan seluruh tubuhnya membeku, termasuk lidahnya. Dia sama sekali tak menyangka Shilla akan menyusulnya dan meminta maaf. Rio berusaha mengambil napas, dan saat itulah, dia menyadari keberadaan Ify yang sedang menatapnya marah.
Kedua tangan Ify gemetar di samping pahanya. Ify sangat marah sampai-sampai ingin meninju Rio di tempat, tetapi tak bisa dilakukannya. Entah mengapa, Ify hanya bisa terdiam menonton adegan romantis si pembohong Mario Stevano dan mungkin pacarnya.
Rio menatap Ify, berpikir keras sementara Shilla masih terus terisak sambil memeluknya erat. Rio akhirnya balas memeluk Shilla, membuat Ify memalingkan pandangannya.
Rio berusaha untuk tidak melihat bagaimana Ify menangis. Rio juga menahan segala keinginannya untuk menahan Ify saat dia berderap turun. Yang sekarang Rio pikirkan hanyalah, bagaimana Ify bisa menjauhinya, apa pun caranya.
"Apa kabar, Yo?" tanya Shilla setelah didesak Rio untuk tidak memanggilnya dengan sebutan "Vano".
Rio mengisap rokoknya, lalu menghembuskannya. Sekarang, mereka ada di lantai tiga. Shilla menatap punggung Rio yang tampak kesepian.
"Begini aja," jawab Rio pendek. "Jadi, tau dari mana alamat ini?"
"Aku... nelpon Alvin, terus aku ancam dia. Akhirnya, dia ngasih tau alamat kamu," kata Shilla.
Rio mendengus. Tentu saja, Alvin. Hanya Alvin satu-satunya yang tahu di mana Rio tinggal sekarang.
"Terus... ngapain ke sini?" tanya Rio lagi.
"Aku... Maafin aku, Rio," ujar Shilla pelan. "Dulu, kita masih muda. Dulu, aku nggak pernah berpikir kalo aku bakal sangat kehilangan kamu."
Rio hanya diam, tak berkomentar apa pun. Dia menatap langit yang mulai berubah warna menjadi jingga keemasan.
"Rio, aku bener-bener bodoh udah ninggalin kamu," ujar Shilla lagi. "Sekarang, aku sadar kalo aku..."
"Shilla, kamu udah bener," potong Rio membuat Shilla menatapnya. "Kamu dulu udah membuat keputusan yang benar, ninggalin aku. Jangan mikir macem-macem lagi. Aku udah nggak apa, kok."
"Tapi, Yo, aku masih say..."
"Shill, kalo emang kamu masih sayang sama aku, tolong bantu aku. Kamu ngerti, kan?" potong Rio lagi. Rio kemudian duduk di samping Shilla.
"Rio..."
"Shilla, aku udah maafin kamu," kata Rio. "Dulu mungkin aku nggak bisa terima kenapa kamu ninggalin aku di saat aku merasa sangat membutuhkan kamu. Tapi, sekarang aku udah merelakan kamu."
Shilla menatap Rio yang menolak untuk menatapnya balik. Air mata Shilla sudah jatuh.
"Yo, kamu beneran mau maafin aku?" tanya Shilla. Rio mengangguk, menepuk kepala Shilla, membuat cewek itu langsung terisak.
"Jangan nagis, dong," kata Rio sambil mengacak-acak rambut Shilla. "Thanks, ya, kamu udah dateng ke sini."
Shilla mengangguk di sela-sela tangisnya. Shilla benar-benar menyesal mengapa dulu dia meninggalkan Rio. Shilla sampai sekarang masih tak mengerti, kenapa Tuhan memilih Rio untuk menerima penyakit ini, penyakit yang telah merenggut semua kebahagiaannya.
"Yo...," kata Shilla sambil menatap Rio. "Jangan cari dia lagi."
Rio menatap Shilla sebentar, lalu mengalihkan pandangannya. "Nggak bisa, Shil. Aku harus cari dia sampe ketemu. Setelah itu, aku nggak peduli lagi sama apa yang bakal terjadi sama aku."
"Rio, kamu harus peduli! Kamu masih punya ibumu, kamu masih punya aku! Jangan cari Gabriel lagi, Yoo, aku mohon!" seru Shilla sambil menarik tangan Rio.
"Shil, sampai sekarang, dia yang membuat aku tetap hidup. Kebencianku terhadap dia juga yang udah membuat aku bertahan, tetap hidup untuk menemukan dia. Nggak ada siapa pun yang bisa menghentikan aku," ujar Rio tegas. "Karena dia, aku kena penyakit sialan ini. Kamu ngerti, kan, gimana perasaanku?"
Shilla menatap Rio yang tampak emosi.
"Yo, janji sama aku, jangan ngelakuin hal-hal bodoh. Janji, Yo," desak Shilla cemas.
"Shill, kalo soal yang satu ini, aku nggak bisa menjanjikan apa pun," balas Rio keras kepala. "Thanks karena udah mikirin aku."
Shilla terisak lagi, memikirkan Rio yang sudah berada jauh di luar jangkauannya. Alvin memang sudah memperingatkannya, tetapi dia tak menyangka kalau Rio akan menjadi seperti ini. Benar-benar bukan Rio yang dulu pernah dikenalnya.
"Shilla," kata Rio kemudian. "Jangan pernah mikirin aku lagi. Kamu juga harus nerusin hidup kamu. Kamu udah punya cowok, kan?"
Shilla melirik Rio marah membuat Rio nyengir.
"Yah, masa, sih, kamu jomblo terus selama lima tahun," kata Rio lagi.
"Tau nggak, Rio. Hatiku sakit banget, lho, denger kamu ngomong begitu," jawab Shilla membuat cengiran Rio lenyap. "Denger kamu bisa nanya-nanya yang begitu sama aku seolah kamu udah bener-bener ngelupain aku, hatiku sakit banget."
Rio terdiam sesaat. "Sori," kata Rio membuat Shilla menatapnya.
"Rio," kata Shilla. "Kamu suka... cewek itu, ya?"
Rio segera menoleh pada Shilla yang tampak serius. Tahu siapa cewek yang dimaksud, Rio segera mengalihkan pandangannya. Sepertinya percuma saja jika dia berusaha berbohong. Rio mengangguk, pandangannya menerawang langit yang sudah mulai petang. Shilla menghela napas.
"Udah aku kira," kata Shilla. "Apa dia... udah tau, ng... penyakit kamu?"
Rio mengangguk lagi. "Dia udah tau dan dia bisa terima," jawab Rio membuat Shilla mengangguk-angguk.
"Aku kagum sama dia," ujar Shilla, matanya jauh menerawang. "Aku dulu... bodoh, ya?"
"Shilla," tegur Rio membuat Shilla tersenyum.
"Rio, aku bener-bener minta maaf," kata Shilla lagi. "Aku tau ini mungkin udah sangat terlambat, tapi kapan pun kamu ngebutuhin aku, aku nggak akan lari lagi."
"Thanks." Rio tersenyum pada Shilla.
Mereka kemudian menghabiskan petang itu dalam diam.
***
Ify melangkahkan kakinya ke atas tangga, berharap setengah mati kalau Rio tidak ada. Mata Ify sudah bengkak karena terlalu banyak menangis di kost Shilla tadi, dan Rio adalah makhluk terakhir yang ingin dilihatnya.
Baru ketika Ify muncul di tangga, Rio baru kembali dari kamar mandi dengan handuk tersampir di lehernya. Ify menatap Rio marah, dan berjalan menuju kamarnya. Rio menatap Ify yang tampak enggan menatapnya balik.
"Jadi, yang tadi itu yang namanya Gabriel, ya?" sindir Ify, tak tahan untuk tidak bertanya. Rio tampak tak berekspresi. Dia bersandar di dinding sambil menatap Ify malas.
"Namanya Ashilla Zahrantiara." Jawaban Rio membuat Ify melotot. Ify refleks mengambil sepatu dan melempar Rio dengan sepatu itu. Rio bahkan tidak mengelak. Air mata Ify sekarang sudah jatuh lagi.
"Kamu kejam! Aku bahkan nggak mau tau siapa namanya!" sahut Ify emosi. Rio hanya menatapnya.
Rio mengambil sepatu yang tadi dilempar Ify, dan meletakkannya kembali ke rak sepatu. Dia menghela napas, berusaha menatap ke arah lain selain Ify yang sedang menatapnya marah.
"Kenapa, sih, kamu bohong terus?" tanya Ify lagi, hampir menjerit. "Kenapa kamu harus sekejam ini sama aku? Kenapa, Rio?"
"Sori," kata Rio membuat Ify menatapnya tajam. "Gue nggak bermaksud nyakitin..."
"Nggak bermaksud?" ulang Ify tak percaya. "Nggak bermaksud kamu bilang? Kamu pakai segala cara buat ngejauhin aku dari kamu!"
Rio terdiam, sementara Ify sudah memukul-mukulinya sambil terisak.
"Kenapa kamu harus bilang kalau kamu gay? Kenapa kamu seneng banget nyakitin aku?" seru Ify lagi. "Kalo kamu emang segitu nggak sukanya sama aku, kenapa nggak bilang terus terang?"
"Gue nggak suka sama lo!" sahut Rio membuat Ify terdiam dan berhenti memukulinya. Rio menatapnya serius. "Lo mau gue bilang itu, kan? Gue bilang sekarang, gue nggak suka sama lo. Gue udah kasih peringatan dari awal, kan? Tapi, lo tetep mau tau urusan gue. Gue nggak tau lagi gimana caranya supaya lo menjauh dari gue, dan terus terang aja, gue nggak tega ngomong langsung kalo gue nggak suka sama cewek yang selalu ingin ikut campur urusan orang lain kayak lo!"
Rio tersengal setelah mengatakan semua itu pada Ify. Ify menatap Rio tanpa berkedip, membuat air matanya mengalir makin deras.
"Rio," ujar Ify kemudian. "Kamu bisa lebih kejam lagi dari ini?"
Rio terdiam menatap Ify yang sudah gemetar.
"Maaf, Ify. Tapi, Shilla adalah satu-satunya cewek buat gue. Dari dulu sampai sekarang, cuma dia yang ada di hati gue. Nggak akan ada yang bisa menggantikan dia," kata Rio membuat Ify tersenyum miris.
"Rio... Kenapa kamu nggak sekalian bunuh aku?" kata Ify getir, membuat Rio terdiam. "Kenapa, Mario... Kenapa kamu harus datang ke sini? Kenapa? Kenapa aku bisa kenal sama kamu?"
Ify berderap menuju kamarnya, bergerak masuk dan membanting pintunya. Rio hanya bisa menatapnya tanpa mampu berbuat banyak. Misi berhasil. Sekarang yang harus Rio lakukan adalah pergi secepatnya dari kost ini.
Langganan:
Postingan (Atom)