Selasa, 26 Juni 2012

Will You Marry Me? - Part 1

Suasana SMA 114 sudah sangat sepi sore itu. Maklum, haru Sabtu, hari nge-date sedunia.

Anehnya, selain Pak Bon penjaga sekolah, masih aja ada yang betah tinggal sampai sesore itu.

Alyssa Saufika Umari namanya. Gadis mungil berambut sebahu dengan dagu yang lancip serta hidung yang mancung itu tampak asyik di depan komputer sekretariat OSIS. Dia sedang menyelesaikan proposal bakti sosial yang menjadi tanggung jawabnya sebagai sekretariat OSIS.

Sebenarnya sih, tuh tugas nggak harus selesai hari ini. Masih banyak waktu untuk mengerjakannya. Tapi Ify –panggilan kecil gadis itu- yang memegang teguh prinsip “Jangan Tunda Apa yang Bisa Kamu Lakukan Hari Ini”, kekeuh menyelesaikan tugasnya hari itu juga.

Namun selain itu ternyata ada alasan lain yang membuatnya berusaha bertahan di sekolah sampai sesore itu.

Ify ingin memberi waktu untuk Alvin dan Pricilla, dua sohib kentalnya yang udah jadian untuk berduaan saja di malam nge-date ini. Ify tahu dirilah. Karena dia jomblo, bukan berarti waktu pacaran sohibnya harus terganggu untuk nemenin dia, kan?

So, dengan alasan menyelesaikan tugas OSIS-nya, Ify berhasil menggiring kedua sohibnya untuk pulang duluan tanpa dirinya.

“Selesai juga akhirnya.” Ify meregangkan kedua tangannya. “Capek juga ngedon di sini sesorean.” Dibuangnya napas panjang penuh kelegaan, lalu diliriknya jam dinding di atas komputer.

“Hah?! Setengah enam!” teriaknya kaget. Dengan gerak cepat Ify mematikan komputer dan meninggalkan ruang OSIS setelah menguncinya lebih dulu.

Ify berjalan menyusuri koridor sekolah. Bang Amir dan Pak Bon yang biasanya selalu di situ, entah pergi ke mana. Sepi. Ify jadi bergidik sendiri. Apalagi saat terngiang cerita Oik siang tadi.

“Lo tau nggak, cerita sepasang kekasih yang meninggal bunuh diri di ruang laboratorium sekolah kita?” Oik si ratu gosip mulai mengobral story. “Katanya nih, Fy, mereka suka menampakkan diri menjelang magrib.”

Sebenarnya Ify paling nggak percaya cerita-cerita hantu begituan. Tapi suasana sore ini sangat mendukung terjadinya hal-hal mistik. Ify jadi kepikiran cerita Oik.

Ia berjalan setengah berlari. Bahkan saat melewati ruang laboratorium, Ify lari betulan. Dalam hati ia berharap bisa segera mencapai pintu gerbang.

Di pintu gerbang Ify merasa lega luar biasa. “Woi! Coba aja kejar gue kalo bisa!” teriaknya congkak ke arah halaman sekolah yang kosong. Entah kepada siapa teriakan itu ditujukan. Tapi yang pasti, dengan senyum penuh kemenangan Ify berbalik dan bersiap pulang kerumah yang jaraknnya nggak jauh dari sekolah.

Ya, Ify memang tinggal di kompleks perumahan yang jaraknya Cuma lima belas menit dari sekolah. Dan ia baru aja akan melangkahkan kakinya, ketika...

“Ify.”

Siapa itu? Pikir Ify. Jantungnya berdebar tak beraturan. Jangan-jangan tuh setan bener-bener ngikutin gue. Wah, bisa nggak pulang selamanya nih gue... ify berdiri terpaku. Ia tak berani menengok ke araha sal suara.

“Ify.”

Ah, suara itu lagi. Apa mungkin itu Alvin, ya? Dia pasti nggak tega lihat gue sendirian, terus ngajak Prissy –panggilan akrab dari Pricilla- jemput gue ke sini. Ya, ya... kenapa mesti takut kalo begitu? Perlahan Ify menengok.

Tak ada Alvin ataupun Prissy. Satu-satunya manusia yang berdiri bersandar di gerbang sekolah adalah seorang cowok asing yang tengah asyik merokok. Dan nggak mungkin banget tuh cowok yang manggil Ify. Seumur-umur Ify belum pernah melihat cowok itu.

Aduuh... nggak ada siapa-siapa, lagi. Masa sih hantu-hantu itu benar-benar ada? Kalo emang ada, terus kenapa mesti gue yang diganggu? Sebodo ah. Gue kan nggak berbuat jahat sama mereka. Jadi, sekali lagi ada yang manggil gue, gue tantangin aja sekalian. Dikiranya takut, apa?

Dari rasa takut yang sangat, Ify kini jadi marah karena merasa dipermainkan.

“Ify.”

Suara itu lagi...

Kali ini habis sudah kesabaran Ify. Dengan garang ia menoleh ke belakang. Bukan ke halaman sekolah, kali ini ia menantang langit sore yang mulai gelap. “Heh! Keluar lo kalo berani!” ucapnya lantang.

“Hi... hi... hi...”

“Eh, malah ketawa! Ayo keluar! Kalo lo pikir gue takut, lo salah besar. Keluar lo!”

“Ha... ha... ha... gue juga udah keluar kok dari tadi, lagi. Itu kalo lo menganggap gue penampakan. Ha... ha... ha...”

Selma tertegun. Pandangannya beralih ke cowok asing yang kini memandang dan tersenyum kearahnya.

“Lo...”

“Ya, gue...”

“Siapa lo?”

“Rio.”

Rio? Siapa Rio? Memangnya gue pernah punya temen Rio? Perasaan nggak ada tuh. Jadi, siapa nih cowok? Kok kenal gue?

Bermacam pertanyaan singgah dikepala Ify. Tapi tak satu pun keluar dari mulutnya. Yang ada malah nasihat Mbok Sum yang tahu-tahi terngiang di telinganya.

“Zaman sekarang ini Mbak Ify kudu ati-ati. Apalagi Mbak Ify kan ayu.” Mbok Sum, pembantu kesayangan keluarga Ify bernasihat ria seperti biasa.

“Apa hubungannya zaman ama cantik, Mbok?” tanya Ify. Ia bingung dengan perkataan Mbok Sum yang sudah seperti neneknya sendiri itu.

“Lho ya hubungannya erat sekali toh, Cah Ayu. Zaman sekarang ini banyak orang pada nekat. Penculikan, pemerkosaan, pembunuhan sudah jadi hal biasa. Dan biasanya korbannya cewek ABG ayu kayak Mbak Ify gini. Makanya Mbak Ify mesti ati-ati. Jangan mudah percaya sama orang yang baru dikenal. Apalagi yang keren dan kelihatan kaya. Biasanya, mbak, itu Cuma kedok.”

Wuaaa... jangan-jangan orang kayak begini nih yang dimaksud Mbok Sum. Aduh... gimana dong?

Sementara Ify sibuk dengan pemikirannya, cowok yang mengaku bernama Rio itu menghampirinya. Lima langkah lagi Rio akan dengan mudah menggapai Ify. Ayolah, Fy, berpikirlah! Perintah Ify pada dirinya.

Tiga langkah...

Dasar bodoh! Mikir!

Dua langkah...

LARI...!!!

Dan perintah itulah yang menyelamatkan Ify. Setidaknya, untuk sementara. Karena toh sepertinya Rio bukan tipe yang bakal melepas mangsanya begitu saja.

“Hei... jangan lari!” Tuh, kan? “Ify, berhenti...!” teriak Rio. “Sialan, kecil-kecil cepat juga larinya,” gumam Rio sambil terus mengejar. “Ify, berhenti!” panggilnya lagi.

“Lo yang berhenti! Ortu gue tuh miskin. Gue ini Cuma anak yatim. Lo nggak bakal dapat apa-apa!”

Gila, ngapain juge gue sahutin? Dasar bodoh. Udah, lari aja, Fy...

“Gue nggak peduli walaupun lo Cuma gelandangan! Gue nggak butuh harta lo!”

Nah lho, dia nggak minta tebusan. Berarti dia pemerkosa dong? Atau pembunuh...! wuaa... Mbok Sum..., tolong...!

Selma mempercepat larinya. Dia terus membayangkan home sweet home-nya yang berada tepat di balik taman perumahan itu. Rencananya sesampai di rumah dia akan minta tolong kakaknya yang jago karate untuk men-ciat-ciat orang yang kemungkinan besar pemerkosa sekaligus pembunuh itu. Atau, kalau sang kakak belum pulang kuliah, dia bisa ngumpet di belakang Mbok Sum yang pasti dengan senang hati akan mempersenjatai dirinya dengan sapu dan kemoceng, melindungi nona mudanya dari cowok yang kini mengejarnya.

Sayangnya, itu semua Cuma angan-angan. Gadis berdagu lancip dan hidung mancung ini terlalu lelah dan lapar. Pandangannya jadi samar dan tanpa sengaja kakinya tersandung batu.

“Aduh...,” Ify jatuh tersungkur tepat di taman kompleks perumahan. Dia cepat-cepat berdiri, tapi dadanya sesak. Perlahan dia berbalik, lantas duduk dengan lutut setengah ditekuk. Darah mengucur deras dari lututnya.

“Tuh, kan. Jatuh deh. Lo sih, pake lari-lari segala. Nyusahin orang aja.” Ify tersentak. Rio sudah berdiri di dekatnya. Ketakutan mulai merayapi hati dan pikiran Ify.

Ya Tuhan..., tolonglah hamba. Kalaupun hamba harus mati hari ini jangan biarkan hamba mati dalam keadaan ternoda.

Rio semakin mendekat. Dia berjongkok di samping Ify. Diperhatikannya gadis mungil yang sedang memejamkan mata di depannya itu.

Tuhan..., tolonglah hamba. Ify terus berdoa sebisanya.

Sekonyong-konyong Ify merasa tubuhnya diangkat. Hah..., kok tubuh gue tiba-tiba melayang? Masa sih gue udah mati? Secepat ini? Kok nggak kerasa apa-apa? Tapi... bau harum apa ini? Wangi banget! Bau taman surgakah?

Perlahan Ify membuka mata. Dia tidak segera menyadari apa yang terjadi. Tapi begitu sadar dirinya tengah berada dalam gendongan orang yang sama sekali nggak dia kenal, Ify langsung menjerit dan memberontak.

“Apa-apaan sih lo?! Lepasin! Gue masih kecil. Lepasin!” Ify terus menjerit dan meronta dalam bopongan Rio.

“Heh! Bisa diam, nggak? Lo emang kecil, tapi kalo lo bergerak terus, gue bisa ikut jatuh, tahu!”

Ify tak menggubris kata-kata cowok itu, dia malah memukul-mukul Rio dengan kedua tangan mungilnya. “Turunin gue! Turunin!”

Sial. Rio sama bandelnya dengan Ify. Dia tetap membopong cewek mungil itu tanpa menggubris teriakannya.

“Nah, di sini kan enak.” Rio menurunkan Ify di kursi taman, di bawah lampu hias yang mulai menyala di sekeliling taman.

Ify benar-benar pasrah sekarang. Dia nggak mungkin lari dengan lutut terluka. Gadis itu terus saja diam tanpa berhenti memikirkan masa depannya yang kini terancam.

“Kok diam? Udah capek marah, ya?” Cowok yang mengaku bernama Rio itu mulai ngajak ngobrol.

“Lo... lo nggak bakal me... merkosa a... anak kecil, kan?” tanya Ify terbata sambil menelan ludah. Rio memangdangnya. Ia heran mendengar ucapan cewek itu. Tapi sesaat kemudian...

“Ha... ha... ha...”

Ify mengerutkan dahi. “Kok ketawa?!” tanyanya bingung. Tapi entah kenapa tawa Rio membuat rasa takut Ify perlahan memudar. Masa sih pemerkosa menertawakan dirinya sendiri? Nggak mungkin, kan?! Pikiran itu membuat Ify sedikit tenang.


TO BE CONTINUE.........

baca!

holaaa cemans cemans..mau ngasih tau sesuatu niiihh . 
gue buat blog ini cuma mau ngerepost cerita-cerita yang menurut gue keren . catet! cuma REPOST!
gue minta maaf buat para author yang ngebuat cerita cerita ini, soalnya gue repost ngga make izin, sorry yaakkk :)

oh iya berhubung gue suka begete sama couple RIFY, CAGNI, ALVIA, SHIEL . so,cerita yang gue repost cuma cerita cerita mereka doang ya mwah!
kalo lo pada mau nyuruh gue ngerepost cerbung/cerpen dengan couple diatas ono, comment aja ya.

satu lagi, jangan nanya gue siapa yaaa, soalnya gue ngga bakalan ngasih tau! takut gue diamuk para author-author hihihi

-D.A.E.C-

RIFY STORY WRITING #Anniv1stRFM

mungkin banyak orang mengatakan bahwa hidup dengan bergelimang harta itu sangatlah enak, tapi bagiku tidak seperti itu. Hidupku hanya monoton, seperti orang yang hanya hidup sendirian di dalam tempat yang besar. Lalu apa salah aku, ketika aku melakukan hal apapun semauku, sesuka hatiku? Toh aku ga dipedulikan ini kan?

Setiap pagi kedua orang tuaku udah ga ada di rumah, tinggal lah aku bersama ke5 pembantu dan supirku yg ada. Aku pun dibangunkan sama pembantu, tak pernah sekalipun salama aku SMP hingga SMA dibangunkan sama mama atau papa. Huh hidupku ini layaknya air yang tak mengalir, tak mengalami perubahan menjadi banyak atau berkurang, bahkan udah berubah warna kali menjadi hijau dan bau akibat tidak pernah mengalir.

"den, bangun den udah jam set7. Den rio harus bersekolah kan?", ucap pembantuku
"iyaaaaaaaa ahhh bntar lagi kenapa sih",ucapku
"yaudah jangan lama2 yah den", ucap bibi lagi
"hemmmm"

Ahh rasanya ingin sekaki dalam keadaan seperti ini aku diajak madol sama siapa gitu, rasanya kakiku malas sekali melangkah masuk ke dalam lingkungan sekolah, tapi sayang aku ga punya temen, apalagi sahabat, alasannya sih karena kebanyakan temen2 zaman sekarang itu cuma berteman karena DUIT, jadi lebih baik aku ga punya temen sekalian. Biarin mereka berkata apa, mau aku dibilang kuper lah, atau apa lah bukan urusanku.

"mariooooo, kamu telat lagi!! Ikut ibu ke ruangan"

Itu tuh guru yang selalu memanggilku keruangannya setiap pagi. Demen banget kali yah ketemu aku-__-

Aku sampai di ruangannya, aku duduk di depan mejanya itu, dan aku malas untuk mendengarkan segala ceramahnya pagi ini, mending aku memasang headset di kupingku..

"mario, kenapa kamu telat lagi?", tanya guru itu
"hah? Ibu ngomong apa?", tanyaku balik
"kenapa kamu telat lagi mario!! Makany kalo ada orang berbicara dengarkan dengan baik! Jangan memasang headset seperti itu. Kamu ini benar2 kelewatan yah, sebgai hukumannya kamu diskors selama satu minggu dan berikan surat ini ke orangtuamu!", ucapnya

huhh entah udah berapa banyak surat2 dari sekolah untuk ortuku di kamar kalo dikumpulkan, tapi sudah lah lebih baik aku pulang saja..

*****
Ini kamarku. Di dalamnya seperti layaknya sebuah kamar, ada tv,  komputer, tempat tidur, dll. Eh tapi ada barang kesayanganku. Ini doang barang kesayanganku di rumah ini, yaitu gitar. Cuma benda ini yg dapat mewarnai hari2ku, tempat curhatku juga sih..

Sekarang udah pukul 23:35 itu tandanya hari sudah sangat larut, tapu aku belum tidur, aku masih menunggu ortuku pulang kerja, sebenernya males juga sih nungguinnya, berasa penting bgt gitu, padahal mereka aja ga menringin aku. Huhh tapi karena mataku juga belum mau untuk merem, jadi sekalian saja aku kasih surat yg tadi pagi itu. Aku ga akan kaget lagi dengan apa komentar yang akan dilontarkan ortuku..

Ahh mereka sudah pulang, tanpa babibu aku segera menyodorkan surat itu. Dan kalian tau bagaimana raut wajah mereka? Kelihatan agak geram dan tak berniat untuk mengucapkan sepatah katapun. Sdahlah lebih baik aku ke kamar dan tidur.

*****
Pagi ini ortuku sudah selesai mendatangi sekolahku. Dan mereka ga melontarkan kata2 apapun kecuali menyuruhku membawa pakaian dan segala keperluanku. Sementara mereka sudah menunggu di mobil. Aku mengikuti sajalah, karena males untuk berdebat dengan mereka. Aku membawa pakaian dan tak lupa gitarku ini..

*****
Di perjalanan aku tak berucap satu patah katapun.
1jam berlalu, kami tiba di suatu tempat, bangunannya sepertinya sudah lama didirikan, dan ada plangnya bertuliskan "panti asuhan cinta sesama". Tunggu, apa? Panti asuhan? Apa aku......

"ayo turun yo", ucap mamaku

aku mengikuti setiap langkah ortuku. Lalu kami bertemu dengan seorang wanuta paruh baya dan cukup banyak anak2 kecil dan ada juga seorang cewek yg sepertinya seumuran denganku, tapi kondisi mereka kebanyakkan memakai kursi roda.

"rio, jadi kamu selama skorsing kamu tinggal di sini, hingga satu bulan yg akan datang!", ucap papaku
"apa?? Satu bulan? Gila apa yah? Lalu aku tidak tinggal di rumah gitu?", ucapku
"iya, jangan protes, itu itung2 hukuman buat kamu biar kamu ga ngulangin lagi bikin masalah di sekolah!", ucap papaku
"bu, kami titip anak kami ini yah bu", ucap papaku lagi ke wanita paruh baya di panti itu
"baik pak, bu, pihak panti akan melakukan tugas kami sesuai dengan perintah bapak dan ibu mau", ucap wanita itu

Ahh kenapa mesti di tempat ini sih? Arggghhj

*****
Malam ini di panti ini para penghuninya sedang makan malam bersama, pengennya sih aku ga ikutan, tapi kata wanita paruh baya itu yg di panggil penghuni panti di sini 'bunda' bilang kalo aku g ikut makan malam, aku ga akan dapat jatah makan malam, yasudah aku ikut aja-__-

Setelah selesai makan aku ke kamarku di panti ini, gak langsung tidur sih, tapi main gitar dulu. Eh tapi ada satu sudut di panti ini yg kelihatannya asik untuk bersantai2. Aku langsung ke sana. Aku petik gitarku, menyanyikan sebuah lagu yang sangat aku suka, lagunya om once itu loh, kalian pasti tau. Judulnya dealova. Tapi belum selesai aku menyanyikannya, gitarku sudah diambil sama bunda panti

"bun, siniin gitar aku!", ucapku
"bunda gak akan ngasih gitar kamu, kalo kamu ga mau belajar di panti ini", ucap bunda
"tapi bun gitar itu....", ucapku
"ga ad tapi2an, kamu di sini, ya berarti kamu harus menuruti setiap peraturan di panti ini. Kalo nilai kamu pas ujian nanti pas kamu udah ga diskorsing ga berubah dari nilai2 yg sebelumnya, gitar ini ga akan dikembalikan lagi ke kamu!", ucap bunda

ahh sial di saat seperti ini aku harus pisah dengan gitarku itu.

"tuhan!! Kenapa sih ngasih sesuatu yg ga enak mulu ke gw?", ucapku

tapi tau ga kalian, setelah aku berucap begitu ada tangan yang menepuk pundakku.

"kenapa kamu ngomong gitu?", tanya perempuan itu
"kesel", ucapku singkat
"kamu kesel sama tuhan? Itu namanya ga tau diri", ucapnya
"arrrgggh mau apasih lo dtg ke sini, bikin gw tambah pusing aja tau ga", ucapku sambil mengacak2 rambutku
"maaf, tapi suara kamu bagus loh, kenapa ga jadi penyanyi, sebentar lagi kan akan dimulai tuh audisi pencarian bakat di salah satu stasiun tv, kamu ga mau ikutan apa?", ucapnya
"pengen, tapi lo g liat apa? Gimana gw bisa latihan buat ikut audisi itu, orang gitar gw aja diambil", ucapku kesel
"hehe, yaudah deh aku duluan yah", pamitnya

*****
sinar matahari udah masuk melalui jendela kamarku di panti ini, males sih buat bangun, karena ga ada yg spesial di panti ini, mood aku juga belum pulih akibat kejadian semalam. Gitaaaaarrr i need youuuu....

Eh tunggu, itu kan yang di pojok kamar ini kayak gitarku deh, siapa yang naruh di sini, entahlah yang pasti aku sangatlah senang karena gitarku udah kembali.

Setelah mandi, ku turuni anak tangga rumah panti ini, kakiku melangkah ke arah meja makan yang di bangku2nya udah di duduki oleh semua penghuni panti lainnya.

Setelah makan, bunda panti memberi tau bahwa gitar itu diberikan kembali kepadaku karena ify. Tunggu, ify itu siapa? Bunda memberi tau lagi bahwa ify itu adalah gadis yang semalam menghampiriku di taman panti.

"oh, dia.. Kok baik banget", batinku

tapi bunda ga gitu aja ngasih itu gitar, tapi ada syaratnya, yaitu aku harus belajar sama ify, karena kata bunda, ify itu pintar. Yasudahlah, gpp yang penting gitarku kembali, hehe

*****
4hari aku berada di panti ini, aku pun sudah mulai diajarkan sama ify berbgai mata pelajaran. Dan sekarang aku sama ify sedang istirahat dulu belajarnya, maklumlah mataku selalu saja sepet kalo membaca buku lama-lama

"fy, udahan dulu yah, mata gw sepet", ucapku
"huuu payah nih, tapi yaudah deh. Tapi dilanjutin lagi yah",ucap ify
"iya iya.. Eh fy makasih lagi yah karen kamu udah bikin gitarku kembali lagi", ucapku
"iya yo, lagi pula kamu kenapa sih jadi orang ga mensyukuri apa yg udah kamu punya, harta punya, mau minta apa aja juga dikasih kan, eh disuruh belajar yg bener aja malesnya minta ampun", ucapnya
"iya gw emang punya semuanya, komplit! Cuma gw kekurangan kasih sayang dari ortu gw", ucapku
"kalo gitu aku mau kok ngasih kasih sayang buat kamu sebagai sahabat", ucapnya
"bner?", tanyaku
"menurut kamu?", tanyany balik
"hehe makasih yah fy, yaudah yuk lanjut belajarnya",ucapku

baru kali ini aku bercerita masalah pribadiku kepada orang lain, ify bikin aku nyaman sih..

*****
Selama di panti aku belajar untum mengikuti audisi ajang pencarian bakat di tv itu, aku pngen jadi penyanyi, karena bagiku penyanyi itu hidupnya enak, tiap hari ia bisa aja meluapkan perasaannya dengan sebuah lagu..
Tak lupa, ify juga selalu mensupportku.

Hari yang telah ditunggu tiba, dan aku dinyatakan lolos dan menjadi slah satu finalisnya.
Tak hanya itu, hasil ujianku yang hari itu juga diumumkan membuat kedua orang tuaku dan bunda panti bangga, aku mendapatkan score A semua, dan tak lupa ify juga bangga loh sama aku..

*****
Hampir satu tahun berlalu, aku sudah dinibatkan sebagai juara satu di ajang itu, dan aku sudah terkenal di seluruh indonesia, aku pun sudah punya single baru loh. Job manggungku sudah lumayanlah, tapi ada sedikit masalah, yaitu banyaj yang berpendapat bahwa 'kenapa aku bersahabat dengan ify, wanita kursi roda', maklumlah setiap aku manggung dan jika ify mempunyai waktu pasti ia menemaniku. Dan pers juga tau bahwa ify adalah sahabatku. Ify yang tau hal ini sempat berkata seperti ini ke aku "yo, kamu kan sekarang udah jadi artis, aku rela kok kalo persahabatan kita harus berhenti sampe di sini, lagi pula aku kan cacat", namun aku menjelaskan ke dia,  bahwa persahabtan sejati tidak lah mengenal perbedaan, karena perbedaan itu ada bukan untuk dipermasalahkan, tapi untuk dilengkapi. Bagiku persahabatanku dan ify itu layaknya harmoni, yang jika aku dan ify terus bersama akan berarti seperti halnya harmoni yang terdiri atas berbagai nada yang selalu bersama
 akan terdengar sangat indah, dan berarti bagi setiap pendengarnya. Itu lah knapa aku menyebut persahabatan aku dan ify sebgai harmoni persahabatan

Kesempurnaan Anugerah sang Melody Malam

Sebuah harmoni malam yang kini disajikan semesta malam ini sungguh tidak begitu menggambarkan keadaan pemuda yang tengah duduk di balkon kamarnya. Paduan tebaran bintang dan manis teduhnya suara binatang malam, seakan tidak mengusik dirinya untuk mengubah suasana hatinya yang kini tengah dilanda kebosanan. Mario –pemuda itu- terus memainkan gitarnya secara asal. Pemuda tadi –Mario- yang menjadi pujaan kaum hawa disekolahnya hanya dapat terus menggerutu kesal karena 2 hari malam terakhir sebelum kembali beraktivitas kesekolah setelah liburan kenaikan kelas harus dilewati dirumah, tidak seperti malam-malam sebelum ini.


---------------------------------------
From : Alvin ‘Koko’
---------------------------------------

I’m Sorry bro,
malem ini kayaknya gue
ga ikut track, Bokap ngajak
dinner. Sorry Yo.
---------------------------------------

Begitulah kira-kira penggalan sms dari sahabat sekolah dan teman balap liarnya. Sebenernya mungkin bisa saja Rio –Sapaan pemuda tadi- tetap berangkat sendiri dan mengikuti balap liar sesuai hobinya. Tapi tanpa sahabat? Tentunya ada yang ganjal kan?

Jika nada cinta mulai mengalun..
Ketika kau mendapatkannya..
Dia menyentuh kalbumu..

Suatu instrument klasik memecah pikirannya kini. Lacrimosa milik Wolfgang Amadeus Mozart memenuhi indera pendengarannya kini memaksanya untuk mengikuti sebuah alunan yang ber- Requiem In D Minor. Rio menikmatinya dengan mata terpejam. Sejenak dia tersadar. Darimana melody ini berasal. Rio mengecek kamarnya, dia berpikir mungkin radionya yang berputar. Tapi akal sehatnya membantah, lagu ini begitu dekat. Sangat dekat. Rio mengedarkan pandangan kearah luar. Secercah sinar dari kamar dihadapan balkon miliknya kini menyita perhatian.
‘Bukannya rumah itu kosong?’ Bathin Rio. ‘Sejak kapan ada penghuninya? Eh, bentar itu ada cewek maen piano. Apa dia yang maenin lagu tadi ya?’ Banyak pertanyaan sudah bergelayut dibathin Rio.
Rio semakin menajamkan indera penglihatannya. Mencoba menatap sang gadis manis berpiyama biru yang duduk arah menyamping –dari pandangannya- didepan sebuah grand piano putih

Gadis tadi menyadari sebuah tatapan asing yang menatapnya. Kini sang gadis balik menatap kearah Rio yang tengah memandanginya. Berjalan kearah pintu balkon yang tadi bukanya, sang gadis langsung menutupnya. Rio terhentak ‘Manis sih tapi aneh banget. Belum pernah cowok ganteng kali ya’ Bathin Rio percaya diri.

^^^

Melihat tawa mu
Mendengar senandungmu
Terlihat jelas dimatamu
Warna-warna indahmu

Malam berikutnya Rio memutuskan menghilangkan kejenuhan dengan berjalan-jalan disekitar komplek rumahnya. Harmoni malam, masih tetap sama seperti kemarin dengan tebaran berbagai banyak rasi bintang membuat cerahnya sang malam ditambah dengan paduan sebuah klasikal binatang malam disekitarnya

Keasyikan Rio terhenti –mungkin bertambah- dengan pemandangan didepannya kini. Sang gadis malam itu tengah tersenyum manis dan tertawa lepas bersamaa.. Hey bukankah itu Sivia teman sekolahnya? Mengapa bisa? Entahlah, besok kan sudah masuk sekolah. Mungkin Rio bisa menanyakannya. Kini, Rio lebih memilih untuk diam sambil menikmati gurat senyum yang disuguhkan gadis itu meski bukan kepadanya.

^^^

Rio menghempaskan tubuhnya ke ranjang tidur kamarnya. Sebuah senyum tidak juga terlepas dari bibirnya. Entah apa yang membuatnya terus tersenyum. Pikirannya kembali melayang kepada sang gadis sebelumnya akhirnya sebuah melody memotong lamunannya.

Masih dengan tokoh legendaris musik klasik yang sama Mozart –sapaannya- namun dengan lagu berbeda. Lagu yang lebih menenangkan dibanding sebelumnya Romance the Piano Concert #2 kini seakan memenuhi euphoria kamar Rio. Lagu yang menenangkan tapi malah membuat sebuah kegusaran dalam hati Rio, seperti ingin membaca pikiran sang gadis. Rio berusaha untuk melelapkan matanya untuk kembali kesekolah besok.

^^^

Dalam setiap perjalanan..
Selalu saja ada rintangan yang sama..
Yang membedakan..
Adalah saat kau memilih..
Untuk menyerah atau bertahan..

Rio menendang kaleng dihadapannya. Kesal. Kesibukkannya sebagai sang ketua Osis SMA Melodi Bangsa membuatnya lupa untuk menanyakan perihal gadis piano itu. Malam ini Rio memutuskan untuk pergi lagi ketaman tempat kemarin dirinya melihat Sivia bersama sang gadis.

Pucuk dicinta ulampun tiba ! Seperti telah direncanakan. Gadis itu ada dibangku taman dan kali ini tidak bersama Sivia. Dengan modal keberanian yang minim dan Keingintahuan yang luar biasa memuncak Rio memutuskan menghampiri gadis itu.

“Hey” Sapa Rio sambil menepuk pundak gadis itu.
Sang gadis menoleh sebentar, dengan muka tanpa ekspresi –walau tidak mengurangi kecantikkan wajahnya- Lalu kembali membuang pandangannya kearah langit.

Rio melengos. Ada apa sebenarnya dengan gadis ini? Rio memeriksa penampilannya, mungkin ada yang aneh dengannya sekarang sehingga gadis itu hanya menoleh padanya sebentar.
“Boleh duduk?” Tanya Rio kembali berbasa basi.
Tak ada jawaban dari gadis itu, hanya saja sang gadis menggeser duduknya seakan mempersilahkan.
Tanpa berpikir panjang Rio langsung duduk disamping gadis itu.
“Gue Rio, Mario Stevano” Ucap Rio memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.
Tak ada jawaban tak ada singgungan membalas uluran tangannya, memaksa Rio menarik tangannya.
“Gue suka permainan piano loe” Ucap Rio, berharap bisa membuka percakapan.
Gadis itu menoleh, dan memasang senyum tipis, sangat tipis seakan mengatakan -terima-kasih-
“Sama-sama” Ucap Rio seakan mengerti senyuman gadis itu.
Gadis itu menoleh, mengernyit bingung mengapa Rio mengerti maksudnya.
Rio tersenyum “Dari tadi muka loe datar gitu, tapi pas gue puji loe langsung senyum, Ya walau tipis. Jadi gue simpulin loe bilang terima kasih”
Gadis itu tersenyum lagi walau tipis. Lalu mengarahkan pandangannya ke langit utara dan mengangkat tangannya seperti menunjuk. Rio mengikuti arah tangan gadis itu.
“Rasi bintang phoenix?” Tanya Rio.
Gadis itu mengangguk.
“Terus?”
Tidak menjawab sang gadis hanya menatap langit dengan pandangan semakin berbinar.
“Rasi yang menenangkan dan menghangatkan bukan?” Tanya Rio seperti kembali membaca pikiran gadis itu.
Gadis itu mengangguk dan tersenyum lagi. Kali ini senyumnya lebih berbinar dari sebelumnya.
Rio ikut tersenyum. Walau gadis ini tidak mengungkapkan dengan sebuah kata, namun tatapan dan bening matanya mampu membuat Rio mengerti.
“Loe suka bintang ?” Tanya Rio.
Gadis itu mengangguk tanpa menoleh pada Rio. Lalu menunjuk kearah langit utara lagi.
“Phoenix?” Tanya Rio.
Gadis itu menggeleng dan menoleh pada Rio. Membentuk tangannya menjadi segitiga, lalu menunjuk kearah langit utara lagi.
“Summer Triangle?” Tebak Rio.
Gadis itu tersenyum sumringah.
“Rasi favorite loe, bukan?” Tebak Rio.
Gadis itu kembali mengangguk dan tersenyum. Rio membalas senyumannya.
Jujur dari tadi Rio agak bingung dengan gadis ini. Sejak awal pertemuan Rio sama sekali belum mendengar celotehan gadis disampingnya. Tapi Rio berpikir mungkin karena baru awal mereka kenal. Tapi penasaran dan pertanyaan masih bergelayut tentang gadis disampingnya.

^^^

Menatap langkahmu
Meratapi kisah hidupmu
Terlihat jelas bahwa hatimu
Anugerah terindah yang pernah kumiliki

“Sivia” Panggil Rio sambil menelusuri koridor sekolahnya.
Merasa terpanggil Sivia menoleh. “Kenapa Yo?” Tanya Sivia.
“Enggg.. Emm..” Rio jadi bingung memulai dari mana.
“Ribet deh loe, mulai darimana aja deh” Ucap Sivia tak sabar dan mengerti Rio.
“Gini loe, waktu itu malem sebelum kita masuk sekolah loe kan ngobrol ditaman sama cewek itu siapa?” Tanya Rio pada akhirnya.
Sivia memutar bola matanya. Suprised.
“Kenapa?” Tanya Sivia.
“Gue penasaran” Ucap Rio cepat.
Sivia memandang Rio dari atas kebawah. Rio agak risih dipandang Sivia seperti itu.
“Ga usah liai=tin gue kayak gitu deh” Celetuk Rio.
“Gue rasa itu ga penting buat orang se-Perfect loe” Ucap Sivia tanpa mempedulikan ucapan Rio sebelumnya.
“Hey, Vi. Please. Ini bukan masalah ke-Perfect-an atau kesempurnaan. Gue penasaran sama dia” Ucap Rio.
“Just Penasaran? Kenapa?” Tanya Sivia.
“Lebih sih, hmm, kemarin gue juga ketemu dia ditaman dan gue ngobrol banyak ama dia” Ucap Rio.
Sivia membelalakan matanya. “Loe ngobrol sama dia? Yakin” Tanya Sivia aneh
“Ga juga sih, Abis gue ngobrol banyak tapi dia Cuma nanggepin sama anggukan, gelengan, dan senyum” Ucap Rio mengingat-ingat.
“Dia juga senyum?” Tanya Sivia lagi, nadanya kini lebih antusias dianding sebelumnya.
“Iyah, kenapa sih. Kayaknya langka banget” Ucap Rio ga sabar.
“Oh, gapapa” Ucap Sivia. Nadanya dibuat datar seperti sebelumnya.
“Vi, dia siapa sih? Kenapa dia ga ngomong sama sekali sama gue?” Tanya Rio.
“Dia sepupu gue. Ify, Alyssa Saufika. Dia ga akan pernah ngomong sama loe. Dan lebih baik loe mundur sebelum jauh loe mengenal dia” Ucap Sivia datar tanpa menatap Rio.
“Come on Vi. Kenapa dia gitu. Lagian loe Cuma sepupu dia kenapa loe nyuruh gue mundur?” Tanya Rio tak terima.
“Dan loe siapa Ify? Loe juga ga begitu berhak masuk space dia” Ucap Sivia tak mau kalah.
Rio terdiam. “Gue emang bukan siapa-siapa dia. Tapi gue suka senyumnya suka caranya memandang dan pengetahuannya tentang bintang serta permainan Melody malamnya” Ucap Rio sambil membuang pandangan

^^^

Rio menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Frustasi dengan pembicaraannya tadi siang dengan Sivia. Akhirnya Rio memutuskan untuk menyalakan dan mendengarkan Radio. Berharap mendapat pencerahan dari sang Penyiar Sharing Time malam ini.

“101,2 RFR.FM. Selamat malam para pendengar diseluruh penjuru, malam ini kembali lagi bersama saya Fika Aditya diacara Sharing Time. Okey, sesuai dengan tema kita kali ini yaitu arti sebuah kesempurnaan. Hmm, ada gak ya pendengar kita yang sedang galau dengan Apa Sih arti kesempurnaan itu? Oke, bisa langsung join aja di line telepon RFR.FM di. 021 624 1012 Atau diline sms 0 8924 06 1012”

Setelah mendengar tawaran dari sang penyiar, dengar gerakan cepat Rio menyambar BB Bold miliknya dan menekan angka-angka yang telah disebutkan penyiar tadi.

“Oke, guys. Sepertinya kita sudah mendapatkan penelfon yang akan berbagi pengalaman. Oke, perkenalkan diri dulu. Siapa, dimana?” Tanya sang Penyiar.
“Rio di Jakarta”
“Oke, Rio mau cerita apa nih?”
“Gue mau cerita. Salahkah kalo gue Cuma jatuh cinta karena pandangan? Karena gue mengalaminya, dimana gue mengagumi bahkan mungin mencintai dia karena Fisik, dan bakat yang luar biasa. Tapi gue juga suka sama sifatnya”
“Hemm, itu udah cukup dong buat ngebuktiin atau ngeyakinin loe emang benern jatuh cinta sama dia”
“Tapi, gue baru tahu. Dibalik wajah manis. Ada sebuah kekurangan fisik dari dia yang bener-bener membuat gue bingung. Antara memilih untuk tetap bertahan mencintai dia. Atau mundur karena semuanya belum jauh”

“Sepertinya loe beneran galau ya malem ini. Hahaha. Oke, gini Rio. Cinta bukan berguna untuk menyempurnakan sebuah kesempurnaan. Tapi cinta lebih memilih melengkapi suatu kekurangan dengan kelebihan yang ada. Cinta bukan hanya terwujud dari perasaan kita terhadap lawab jenis. Loe pernah denger seorang Beethoven yang memiliki kekurangan terhadap indera pendengarannya? tapi dia mampu, dia bisa untuk bertahan tetap berkarya dalam segala kekurangannya walau pada saat itu banyak yang mencemoohnya. Loe bisa bayangkan? Dia legenda klasik dunia dibalik kekurangannya. Dia tidak memikirkan bagaimana sebuah kekurangan fisik menghalanginya. Yang dia tahu. Dia harus membuka hatinya dan melakukan semua apa yang ingin dilakukan ambisinya dengan hatinya. So, loe ga harus menuntut kesempurnaan dalam kisah loe. Cukup bangun semuanya apa adanya seperti Beethoven yang mencintai musiknya” Akhir sang penyiar panjang lebar.

Rio terdiam. Tak ada hasrat untuk membalas ucapan sang penyiar. Tangannya lebih tergerak untuk mematikan sambungan telepon dan mematikan radio. Kaki Rio lebih memilih melangkah kearah balkon dan memandangi kamar yang ada dihadapannya. Setelah puas, Rio memaksa tubuhnya untuk duduk bersandar ditempat tidurnya sambil memejamkan matanya. Mengingat kilas kejadian percakapan dengan Sivia.

FLASH BACK ON

..............................
“Gue emang bukan siapa-siapa dia. Tapi gue suka senyumnya suka caranya memandang dan pengetahuannya tentang bintang serta permainan Melody malamnya” Ucap Rio sambil membuang pandangan.
“Loe jatuh cinta sama dia?” Tanya Sivia telak.
Rio terdiam, jujur dia bingung apa yang harus dijawabnya, Entah dorongan dari mana yang membuatnya mengangguk pelan.
“Dia bisu” Ucap Sivia.
JDERRR
Rio sontak menoleh menatap Sivia. Matanya memelas berharap apa yang dikatakan Sivia hanya bercanda.
“Gue ga bercanda. Makanya dia ga jawab semua ucapan loe” Ucap Sivia lagi. “Gue udah bilang, tolong mundur sebelum jauh” Ucap Sivia sebelum akhirnya meninggalkan Rio yang terdiam.

FLASH BACK OFF

Belum lagi ucapan Alvin tadi sore via telepon yang membuatnya semakin bingung.

“Serius Yo loe jatuh cinta sama cewe bisu?” Tanya Alvin.
“Gue ga tau” Jawab Rio seadanya.
“Come on Yo, masih banyak cewek cantik diluar. Loe liat Shilla yang ngejar-ngejar loe. Dia model, pinter juga. Cocoklah untuk loe yang perfect” Ucap Alvin.
“Gue ga tau Vin” Ucap Rio lagi.
“Ayolah Yo, apa kata orang lain Yo, orang sekeren loe punya pacar bisu nantinya?”
“Persetan Vin. Lagi pula gue bingung. Jangan ganggu gue dulu” Ucap Rio malas yang langung mematikan sambungan telepon.

“Dua orang udah ngusulin gue buat ngejauh dari loe? Gue bingung” Gumam Rio sambil memandang balkon Ify dari balik tirai jendelanya.
Rio memutuskan untuk mengistirahatkan matanya. Mencoba terlelap diiringi Melody malam milik sang pianis diseberang balkon kamarnya.

Tahukah Rio jika diseberang kamarnya ada gadis yang terisak hebat sambil memainkan alunan Melody malam Piano Violin sonata versi Mozart hanya karena mendengarkan sebuah radio ?

^^^

Ketika kau memutuskan untuk bertahan..
Perlu kau ketahui..
Disanalah titik awal kebahagiaan sebenarnya..
Meski banyak rintangan..
Hanyalah perlu kau anggap..
Itulah sebuah bagian kebahagiaan..

Setelah tadi sore lemparan kertas berisi surat ke balkon Ify disampaikan dan telah dipastikan diterima oleh sang pemilik kamar yang  berisi
--------------------------
Kita ketemuan ditaman lagi ya :)
Seperti malam itu jam 8 :)

Mario
--------------------------

Jadul sih keliatannya, tapi terpaksa dilakukan karena Rio sudah tahu jawaban dari pertanyaannya semalam. Setelah memantapkan hatinya untuk memilih tetap bertahan.


Rio sudah menduduki taman ini lebih dari setengah jam yang lalu. Salah dirinya juga sih, karena memilih menunggu satu jam lebih awal di taman itu. Rio sibuk sendiri menyetem gitar yang sudah dibawanya khusus untuk malam ini hingga ada sebuah tangan menepuk pundaknya.
“Eh elo Fy, duduk” Ucap Rio mempersilahkan.
Ify memandang Rio bingung.
“Gue tau nama loe dari Sivia, dia sepupu loe kan?” Tanya Rio yang mengerti kebingungan diwajah Ify.
Ify mengangguk dan langsung duduk disamping Rio. Balutan dress putih selutut dengan rambut dikesampingkan ditambah flatshoes senada dengan dress. Membuat penampilan Ify sedikit berkilau malam ini. Belum lagi warna dress nya sama seperti kemeja Rio yang ditekuk sampai siku.
Rio memandang Ify yang sibuk memandang langit.
“Apakah langit itu lebih menarik dibandingkan gue?” Tanya Rio.
Ify mengangguk mantap tanpa menoleh. Rio melengos. Membuang nafas secara kasar membuat Ify menoleh.
Ify tersenyum. Senyum manis yang lebih sumringah dari senyum-senyum dahulunya dan membuat Rio agak terperangah, terpesona.

Sifatmu nan s’lalu
Redakan ambisiku
Tepikan khilafku
Dari bunga yang layu

“Senyum loe gue suka” Ceplos Rio tak sadar.
Membuat kedua pipi Ify bersemu.
“Eh” Rio menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tak gatal. Bingung memikirkan kata yang pas.
Hening tak ada yang bicara..
“Mario” Panggil seseorang –Alvin-
Rio dan Ify kompak menoleh. Rio mengernyitkan dahinya, bingung. ‘Ngapain Alvin kesini?’ Bathinnya.
“Loe jadi serius sama cewe ini?” Tanya Alvin sarkatis.
“Loe apa sih Vin?” Tanya Rio balik. Tak mengerti.
“Come On Yo. Sadar ga sih ama yang loe lakuin? Dia mana pantes sama loe?” Ucap Alvin sambil menunjuk Ify. Ify menunduk.
“Maksud loe apa sih? Loe ga berhak ngomong gitu.” Bentak Rio.
“Ma-Ri-O ! Loe terlalu perfect untuk cewe bisu ini !” Kecam Alvin.
BUGGG
Bogem mentah milik Rio mendarat mulus dimuka Alvin. Ify menoleh.
“Loe kenapa sih? Loe tega ngehajar gue demi cewe ini? Cewe bisu ini. Sadar Yo, apa bandingan dia sama Shilla the most perfect girl disekolah kita yang ngejar loe?” Ucap Alvin tak mau kalah.
Rio sudah kembali bersiap memukul Alvin lagi tapi langsung dicegah oleh Ify. Pelukan Ify dari belakang menghentikan semuanya.
“Loe ga ada hak buat bandingin Ify sama Shilla. Karena Ify bukan Shilla, jadi tolong berhenti bandingin mereka” Ucap Rio dingin.
Tanpa mengucapkan suatu patah kata apapun Alvin meninggalkan Rio dan Ify.

Rio terdiam, pelukan Ify dan sandaran kepala Ify dipunggungnya meredakan emosinya. Rio mengatur nafasnya yang memburu setelah merasakan punggungnya basah. Ify menangis !

Setelah mengatur emosinya untuk kembali semula Rio melepaskan pelukan Ify dan memutar badannya kebelakang. Rio dan Ify kini berhadapan. Dengan kedua ibu jarinya Rio mulai menghapus air mata Ify.
“Gue udah bilang, gue suka senyum loe. Bukan air mata. Dan itu tulus dari hati gue” Ucap Rio yang lalu menuntun Ify ketempat duduk di taman tadi.

Saat kau disisiku
Kembali dunia ceria
Tegaskan bahwa kamu..
Anugerah terindah yang pernah kumiliki

Rio mempersiapkan gitarnya.. Sebuah intro familiar ditelinga siapapun yang mendengarnya mengalun sempurna.


aku mengenal dikau
tlah cukup lama separuh usiaku
namun begitu banyak
pelajaran yang aku terima


kau membuatku mengerti hidup ini
kita terlahir bagai selembar kertas putih
tinggal ku lukis dengan tinta pesan damai
dan terwujud harmoni


segala kebaikan
takkan terhapus oleh kepahitan
ku lapangkan resah jiwa
karna ku percaya kan berujung indah


kau membuatku mengerti hidup ini
kita terlahir bagai selembar kertas putih
tinggal ku lukis dengan tinta pesan damai
dan terwujud harmoni

harmoni, harmoni, harmoni

Rio masih terus memandangi wajah Ify sambil memainkan gitarnya, saat ingin menyanyikan lirik terakhir nafas Rio dibuat tercekat karena Ify menyanyikan bait itu lebih dulu. Ify bersuara.


kau membuatku mengerti hidup ini
kita terlahir bagai selembar kertas putih
tinggal ku lukis dengan tinta pesan damai
dan terwujud harmoni

Ify menyelesaikan bait terakhir dengan begitu sempurna seperti alunan suara gitar yang mengiringinya. Suaranya pun terbilang halus dan ternilai bagus di indera pendengaran Rio. Rio masih terperangah, tidak percaya apa yang didengarnya kali ini.

“Hey?” Panggil Ify sambil mengibas-ngibaskan tangannya didepan wajah Rio.
“Eh,, Ahh,, Ify?” Panggil Rio memastikan, takutnya didepannya hanya jelmaan Ify karena memakai dress putih -_-
“Yes,, My name’s Alyssa Saufika, with nick name Ify. And you Mario Stevano aren’t you?” Ucap Ify bersemangat.
“Tapi?” Rio masih belum bisa berkata banyak.
“Kenapa? Ify yang loe kenal seorang gadis bisu yang selalu memainkan piano dikamarnya bukan?” Tanya Ify.
Rio mengangguk. “Dan gue jatuh cinta sama dia karena itu” Ceplos Rio. “Eh” Ucapnya sambil menutup mulut.
Ify terdiam, tertunduk malu mendengarnya.
Rio mengenggam tangan Ify erat. Dan mengangkat wajah Ify dengan telunjuknya.
“Gue kenal loe emang ga selama lagu yang dinyanyiin tadi. Tapi cukup membuat gue belajar. Apa arti sebuah kesempurnaan, apa itu arti saling melengkapi dan mencintai yang sebenarnya. Gue juga ga peduli seorang Ify yang dibilang bisu ternyata yang bisa nakhlukin hati gue, Mario Stevano, Gue Cuma mau mencintai loe apa adanya seperti Beethoven yang mencintai musiknya. Dibalik semua kekurangan yang ada, dia mampu menutupi semuanya dengan karya cintanya. Dan gue harap nantinya kita akan saling melengkapi terlepas dari kekurangan loe atau gue. Gue suka senyum loe, tapi gue benci air mata loe. Dan gue harap tadi pertama dan terakhir kalinya gue liat air mata loe. Loe juga melody malam yang selalu menyempurnakan Harmoni semesta gue. Fy, would you be my girl and be a missing piece I need?” Ucap Rio.
Ify menunduk wajahnya memerah, lalu mengangguk pelan. Rio ikut terdiam melihat jawaban Ify. Ingin segera hatinya meloncat saking gembiranya, tapi ada yang mengganjal dihatinya dan membuatnya memilih untuk bertanya.
“Jadi?” Tanya Rio.
“Apa?” Tanya Ify balik.
“Kenapa kamu harus berpura-pura bisu?” Tanya Rio.
“Karena aku memang mencari kesempurnaan yang sebenarnya” Jawab Ify sambil memandang langit.
Rio terdiam, melihat pancaran mata Ify yang memandang langit membuatnya bungkam, seakan ada yang ingin diceritakan.
“Dulu aku pernah berpikir kalo akulah Rasi Vega, bagian summer triangle berlambangkan harpa milik Orfeus. Ketika Orfeus mati ga ada yang pernah bisa membuat harpa itu bermusik lagi. Aku berpikir untuk membuat kisahku sama seperti Vega. Tidak akan lagi bersuara setelah kehilangan orang yang sangat berarti. Walau Orfeus lebih memilih Eridik sebagai pendampingnya, tapi pada Vega lah Orfeus berkeluh kesah sehingga membuat potongan kisah sendiri dalam diri Vega. Dulu aku pernah kehilangan Kak Gabriel, kakak kelas sekaligus sahabat aku. Aku menyukainya tapi justru dia berdampingan dengan Kak Zahra yang juga kakak kelas aku. Sampai akhirnya kak Zahra meninggal dalam kecelakaan pesawat, membuat Kak Gabriel frustasi sendiri. Aku jadi tempat curhat dia. Aku sakit, tapi tetap mendengarnya hingga akhirnya Kak Gabriel juga meninggal karena kecelakaan saat Balap Liar. Dari saat itu aku memilih untuk menjadi diam, Tidak ingin bicara kecuali orang terdekat.” Tutup Ify mengakhiri kisahnya.
“Apa yang membuat kamu berubah pikiran?” Tanya Rio.
“Kamu yang buat aku berubah, ucapan kamu saat berantem dengan teman kamu tadi. Menegaskan diri aku memang seorang Ify, bukan seorang Vega. Ucapan itu nyadarin aku” Jawab Ify.
“Enggg, kamu masih suka Gabriel?” Tanya Rio pelan.
“Gabriel bakal punya tempat tersendiri di hati aku. Dan kamu, punya ruang tersendiri untuk itu” Jawab Ify lagi.
“Kenapa memilih aku?” Tanya Rio lagi.
“Jawabannya sama kayak kamu memilih aku, kita sama-sama mencari arti kesempurnaan yang sebenarnya, Dan aku temuin itu dalam diri kamu. Dari awal kita kenal, sifat kamu yang ramah bener-bener buat aku nyaman. Padahal kalo orang lain pasti langsung bilang aku sombong ga mau nanggepin mereka. Kalo yang udah tau aku bisu pasti pada ngeledek” Unek Ify. “Tapi kamu beda, itu yang buat aku pilih kamu” Jawab Ify pada akhirnya.
“Ternyata aku ga salah pilih orang” Ucap Rio sambil tergelak dan mengacak poni Ify. Ify tersenyum manis.
“CIEEEE” Ucap Alvin dan Sivia dari belakang.
“Alvin, Via.. Kok disini?” Tanya Rio.
“Nih semenjak Ify cerita mau ketemu loe malem ini, gue nguntit” Jawab Sivia santai.
“Dan langsung ngehubungin gue buat nguji cinta loe ama Ify serius atau ga. Sialnya malah kena bogem loe” Ucap Alvin.
Rio cengo langsung aja ketawa ngakak “Aduh koko. Sumpah gue ga tau. Gue pikir loe beneran jadi gue kesel” Ucap Rio.
“Yee, gue juga diceritain Via kali tentang Ify makanya mau gue hina tentang kebisuannya ga bakal kena timpuk sepatu dari dia” Ucap Alvin santai
“Untung Yayang gue tercinta ini bawa P3K” Ucap Alvin lagi sambil merangkul Sivia.
“Kamu jadian sama dia Vi?” Tanya Ify.
Sivia nyengir.
“PEJEEE” Koor Rio.
“Loe juga” Ucap Alvin.
Semua tertawa. Rio merangkul Ify hangat. “Love youu” bisik Rio hangat.
Ify melepas rangkulan Rio dan membentuk tangannya menjadi “Love” menunjuk Rio “You” dan reflek mencium pipi kanan Rio “Too” bisiknya.
“Ciee” Koor Alvin dan Sivia.
Akhirnya kesempurnaan sebuah sebuah harmoni semesta semakin lengkap dengan adanya sang melody malam. Karena disaat yang bersamaan mereka saling mengisi dan membuat para penikmat malam terbuai akan sensasi manisnya..

The END

Nafas Kehidupan seorang Mozart

Seperti sebuah persahabatan..
Yang terbentuk karena keharmonisan untuk saling melengkapi..
Begitulah sebuah musik tercipta..
Saat ada nada-nada harmonis yang membentuknya..

Pernah mendengar tentang musisi klasik legendaris hebat yang sampai karyanya tak pernah mati dimakan zaman? Ludwig Van Beethoven a.k.a Beethoven dan Wolfgang Amadeus Mozart atau Mozart dua nama orang musisi klasik beda generasi yang selalu saja familiar untuk siapapun yang mendengarnya. Yah, Beethoven dan Mozart dilahirkan dalam generasi berbeda, hingga melahirkan jenis musik yang berbeda yang menyamakan keduanya adalah mereka sangat hebat dalam penciptaan suatu karya klasik baik pada zamannya maupun zaman mendatang. Mozartlah inspirasi Beethoven saat berkarya hingga menghasilkan banyak karya yang luar biasa.

Lalu pernahkah kau membayangkan jika Beethoven dan Mozart ada di generasi yang sama dan kaulah yang menjadi piano kebanggaan mereka? Jika tidak sepertinya kalian wajib mendengar kisahku. Kisah tentang persahabatan seorang Mozart, Piano dan Beethoven.

Pedih mengingat kisah kebanggaanku itu. Tapi itulah nyatanya. Kenanganku bersama mereka.

Alun sebuah simphony
Kata hati disadari
Merasuk sukma kalbuku
Dalam hati hati ada satu

“Rioo” Panggilku terhadap laki-laki yang tengah menikmati perjalanan dikoridor sekolahku.
“Hey my piano” Jawab Rio tersenyum sumringah.
“Ma-Ri-o jangan panggil aku kayak gitu ah, Ga enak didenger Alvin” Bantahku
Rio terkekeh “Kenyataannya piano yang didepanku saat ini memang milik seorang Mozart kan? Sedangkan Beethoven sedang mencari piano lainnya” Goda Rio.
“Rio apaan sih. Tapi tetep aja. Ayo langsung ke Ruang musik” Rajukku terhadap laki-laki ini.
Rio mengangguk lalu menggandeng tanganku dan melangkah ke Ruang musik berbarengan.

Entah apa yang membuatku menamai Rio, Mozart saat pertama kali bersahabat dengannya. Padahal tingkahnya jauh dari Sifat asli Mozart. Mungkin sifatnya yang begitu tenang saat bermain piano dan berpikir saat ada masalah membuatnya lebih mirip Mozart ketimbang Beethoven yangh ekspresif.

^^^

Manis lembut bisikkan mu
Merdu lirih suaramu
Bagai pelita hidupku

Alunan Piano terbaik milik Beethoven saat di duetkan dengan Grieg, Gershwim dan Bach menyambut indah langkahku bersama Rio saat memasuki Ruang musik itu.
“Seperti biasa, dia begitu semangat latihan” Ucap Rio
“Jangan lupa, kamulah yang membuatnya begitu. Kamu yang menyarankannya. Makanya aku bilang kisah kalian seperti Mozart dan Beethoven, dimana kamulah sumber inspirasi Alvin dalam semangat bermusik” Ujarku.
“Bukan begitu Fy” Sanggahnya padaku “Kisah yang sebenarnya karena kemauan Beethoven sangat tinggi dalam berkarya, bukan karena Mozart yang menjadi inspirasinya Sama seperti Alvin dan aku.. Dan...” Ucapan Rio menggantung.
“Apa?” Tanya ku tak sabar.
“Dalam kisah sebenarnya sang Mozart juga tidak merebut piano Beethoven” Ucap Rio sambil tertawa kecil.
Aku memukul lengan Rio pelan. “Tapi kita persahabatan Mozart, Piano dan Beethoven masa depan. Aku sebagai piano diantara kalian dan memilih mozart sebagai pianisku alias kamu sebagai pendamping aku. Sedangkan Alvin seorang Beethoven yang akan mencari piano lainnya” Jelasku
Rio mengacak poniku sambil tersenyum. Sepertinya puas akan penjelasan ku.
“Eheem” sebuah deheman yang berasal dari Alvin membuyarkan keasyikan kami berdua.
“Hey, Beethoven. How are you now?” Sapa Rio pada sahabatnya –Alvin-
“Ga begitu baik, masih jealous ama loe berdua. Mentang-mentang Mozart lebih dulu mengenal Piano daripada Beethoven. Beethoven sepertinya harus mencari piano lain” Ucap Alvin.
Rio terkekeh. “Ga begitulah Vin. Kita udah berjanji kan biar Piano ini sendiri yang memilih pianisnya?” Tanya Rio sambil merangkul Ify –Aku-
Gantian Alvin yang terkekeh. “Fine, santai aja lagi.” Ucap Alvin datar.
“Gimana tentang kepergian besok?” Tanya Ify.
“Jadi dong. Loe gimana Vin?” Tanya Rio
“Tapi serius kan di Villa loe nanti ada grand piano outdoor?” Tanya Alvin.
“Yes. I’m serious. Loe puas nantinya bermain dan menghibur para pekerja kebun teh” Ucap Rio.
Alvin tersenyum sumringah.
“Okey, besok kita berangkat jam 7 pagi biar ga macet. Sekarang latihan.” Ucap Rio pada kami berdua sambil melangkahkan kakinya kesebuah grand piano.
Aku duduk disebelah. Kami sudah terbiasa berduet dalam bermain piano. Sedangkan Alvin sendiri. Kebetulah sekolah kami memiliki 2 grand piano. Hingga terlantunlah sebuah nada klasik saat Beethoven, Mozart, Chopin dan Schubert berduet dalam grande valse brillante. Kami bermain secara sempurna melebihi biasanya seakan itulah konser akhir yang sebenarnyaa..

Yah, mereka lah kedua sahabat ku Mozart dan Beethoven masa depan. Rio dan Alvin, dan salah seorang diantara mereka Rio –sang Mozart- Telah menjadi Pianis hatiku. Akulah piano diantara mereka. Saat mereka bertanya, mengapa aku memilih menjadi piano bukan seorang Martha Argerich yang bisa memainkan nada secara luar biasa. Dengan mantap kujawab “Karena hidup Mozart dan Beethoven tak akan lengkap tanpa sebuah Piano. Dan aku berharap jadi piano yang bisa melengkapi dan terus menemani kehidupan Mozart dan Beethoven sampai ajal yang menjemput”

^^^

Berkilauan bintang malam
Semilir angin pun sejuk
Seakan hidup mendatang
Dapat kutempuh denganmu

Pagi ini aku siap berangkat menuju kawasan Puncak Jawa Barat. Tujuan kami adalah Villa milik keluarga Rio dikawasan Cisarua.
“Sial, kenapa gue jadi supir gini?” Gerutu Alvin.
Yah, Alvin lah yang memegang kemudi saat ini.
“Yaudah Fy, kamu didepan temani Alvin” Ucap Rio pelan. Entah, aku merasa ganjil terhadapnya. Dari tadi pagi sifatnya lebih diam.
“Hah, ga usah Yo” Tolak Alvin.
“Buat teman ngobrol, Gue lagi ga enak badan” Jawab Rio sekenanya.
“Tapi..” Alvin ingin membantah lagi.
“Kalian bersahabat, dua orang yang ga mungkin nyakitin gue. Dan gue percaya” Ucap Rio tegas.
Alvin hanya mengangkat bahu. Aku akhirnya keluar lagi dari mobil dan pindah duduk didepan bersama Alvin.
Alunan lagu baby einstein milik mozart diputar mengiri perjalanan kami. Jujur disitu aku agak was-was entah karena apa. Belum lagi sikap Rio yang mendadak lebih diam.
“Gimana Yo? Badannya enakan” Tanyaku khawatir sambil menoleh kebelakang melihat Rio agak menggeliat bangun dari tidurnya.
“Kepalaku aja agak pusing” Ucap Rio sekenanya.
“Villa loe masih jauh ga dari sini? Biar loe bisa cepet istirahat” Tanya Alvin.
“Biar gue cepet istirahat atau biar loe langsung konser diperkebunan teh?” Ledek Rio.
Alvin nyengir “dua-duanya lah.” Jawab Alvin.
“Asal jangan mentang-mentang loe beethoven nanti loe maenin lagu Fur Elise lagi karena kasih loe sama Ify tak sampai” Ucap Rio sarkartis.
JLEB
Ucapan Rio barusan benar-benar menusuk Alvin, Alvin tau persis lagu itu. Tau juga tentang sejarah dari lagu itu. Tentang Kasih tak sampai seorang Beethoven terhadap seorang wanita yang lebih memilih pria lain hingga akhirnya membuat Beethoven menutup hatinya dan tidak menikah sampai ajal menjemputnya. Sebuah lagu dengan awal yang melenakan pada kunci A Minor yang merupakan bentuk sedih dari tangga nada C Mayor. Kecemburuan yang sejak kemarin ditahan kembali menguar. Hingga tak sadar Alvin menambahkan kecepatan mobilnya.
Aku dan Rio jujur tidak menyadari tingkah Alvin saat itu. Aku pikir karena jalanan kosong. Wajar Alvin menambah kecepatan bukan?
“Kan ga lucu Fur Elise jadi Fur Alyssa –Nama asli Ify-“ Ucap Rio lagi.
“Rio udah, kamu istirahat lagi deh” Ucapku karena merasa tak enak dengan keadaan ini.
Alvin menjadi diam. Aku lihat tangannya mengcengkram setir kuat. Kecepatan mobil ditambahnya lagi. Aku dan Rio terhentak.
“Vin, jangan gila. Kita bisa celaka” Ucap Rio.
Alvin tak mengucapkan sepatah katapun.
“Vin, rem please” Ucapku panik.
Mobil terus melaju cepat. Dan sepertinya Alvin mulai kehilangan keseimbangan saat menyetir. Kulihat Rio membuka paksa mobil belakang. Mobil mulai oleng, yang kuingat saat itu hanya ada sebuah tangan yang merengkuhku dan menghempaskan tubuhku saat itu kejalanan dan gelap..

^^^

Berpadunya dua insan
Simphony dan keindahan
Melahirkan perdamaian
Melahirkan perdamaian

Kami bertiga memang selamat dari kecelakaan tragis itu. Tapi hubungan kami bertiga tidak. Alvin marah pada Rio karena menurutnya kecelakaan itu adalah Rio penyebabnya. Alvin juga menyalahkan dirinya sendiri karena membuat kakiku patah. Sedangkan Rio? Jauh lebih pendiam dari sebelumnya. Hubunganku dengan Rio menjadi tidak baik. Rencana Indah untuk berlibur habis sudah. Dan memang benar, latihan musik sebelum keberangkatan memang duet terakhir antara kami bertiga. Akibat dari kecelakaan itu membuat Alvin Buta, karena saat itu dia tidak bisa melompat keluar dari mobil. Dan ikut terjatuh kejurang bersama mobil milik Rio. Masih selamat saja  untung mungkin saat itu. Matanya kemasukan serpihan kaca hingga membuatnya kehilangan penglihatan. Sedangkan aku? Kaki kananku patah karena saat ada tangan yang merengkuhku yaitu milik Rio kakiku agak tersangkut dijok mobil dan membuatnya tertekan hebat. Sedangkan Rio sendiri? Dia hanya luka ringan. Mungkin itulah yang membuat Alvin marah padanya. Aku tidak menyalahkan Rio, toh karena dia juga aku selamat. Tapi mungkin aku merasa kesal mengapa aku yang diselamatkan? Mengapa bukan Alvin yang jelas-jelas adalah sahabat kecilnya. Rio seperti menjauh, malu kah dia bersanding dengan gadis cacat seperti ku sekarang?

Syair dan Melody
Kau bagai aroma penghapus pilu
Gelora dihati
Bak mentari kau sejukkan hatiku

Ahh, terlalu banyak pikiran yang bergelayut dipikiranku saat ini. Kini aku berada diruang musik duduk didepan sebuah grand piano sambil memejamkan mata dan mengingat segala kenangan saat Piano, Mozart dan Beethoven berteman baik. Lamunannku buyar setelah mendengar intro lagu yang begitu familiar ditelingaku ditambah suara yang sudah begitu akrab ditelingaku.

Bening matamu pancarkan kesedihan
Tak pernah terlihat selama ini
Senyum pedihmu lukiskan airmatamu
Perihnya hatimu menyentuh bathinku

Sungguh mati aku tidak bisa meninggalkan dia
Walaupun kau dekap aku
Ampun aku bila kini yang terkuat hanya pedih
Yang mungkin menghantui
Hidupmu Hidupku

Detak jantungmu (detak jantungmu)
Tegaskan perih hatimu (perih hatimu)
Hidupmu.. Hidupmu Hidupku...

Sungguh mati aku tidak bisa meninggalkan dia
Walaupun kau dekap aku
Ampun aku bila kini yang terkuat hanya pedih
Yang mungkin menghantui
Hidupmu Hidupku

Sungguh mati aku tidak bisa meninggalkan dia

Oohh,, Aku takut.. bila kini..
Yang terkuat hanya perih..
Yang mungkin menghantui..
Hidupmu Hidupku
Hidupmu Hidupku
Hidupmu Hidupku

Lagu berakhir. Pemuda itu –Rio- yang memainkan dan menyanyikan lagu itu begitu sempurna. Aku terperangah, kekesalanku padanya luntur begitu saja. Rio bangkit dari grand pianonya, aku menubruk tubuhnya. Sepertinya dia tidak siap sehingga sedikit terjerembab kebelakang. Dia menahan. Aku memeluknya erat menumpakan semua emosiku disana. Hey, kenapa dia tidak membalas? Apa dia sudah bertemu dengan yang lain? Apa seorang Mozart telah menemukan Piano baru? Aku melepas pelukanku dan menatapnya protes.
“Kenapa... Kenapa..” Nafasku agak sedikit tersenggal karena menangis. Bukannya menjawab Rio malah langsung mendekatkan wajahnya dengan wajahku. Aku yang tidak dapat berkata hanya bisa memejamka mata. Hingga sapuan lembut dan hangat menerpa bibirku. Bibir Rio tertaut sudah, aku masih terdiam dan membalasnya hingga akhirnya Rio menjauhkan wajahnya dari wajahku.
“Maaf, tapi aku Cuma mau kamu tahu, aku masih mencintai kamu masih sama seperti kemarin dan sekarang dan mungkin esok pagi” Ucap Rio.
Aku tertunduk. Airmataku leleh lagi.
“Kamu tahu? Bahkan kemarin aku lebih memilih untuk mati dan tidak diselamatkan kamu kalo tau kamu menjauh dari aku” Ucapku.
Rio mengangkat wajahku. “Hey, jangan bodoh. Aku ga akan pernah biarin itu. Maaf udah buat kamu kayak gini” Ucap Rio sambil menunjuk tongkatku “Dan Alvin yang seperti itu. Itu semua salah aku” Ucapnya lagi.
“Kenapa kamu lebih memilih menyelamatkan aku waktu itu. Alvin sahabat kecil kamu” Tanya ku.
Rio memegang kedua bahuku.
“Kamu mau tau jawabannya?” Tanya Rio.
Aku mengangguk pelan.
“Karena seperti lagu tadi. Kamulah hidup aku. Dan Alvin, dialah nafas aku” Ucap Rio tersirat.
Aku menggeleng menyatakan tak mengerti ucapannya.
“Aku lebih memilih tersiksa sendiri karena nafas aku tersenggal dibanding kehilangan seluruh hidup aku. Karena itu akan mempersingkat waktu aku untuk bersama sahabat ku Beethoven dan Favoriteku Piano.” Ucap Rio sambil tersenyum getir.
Aku terdiam, tak bisa berkata apapun. Sedalam inikah rasa yang Rio miliki untukku. Rasa yang mungkin tak akan tergali saat ditelusuri.
“Alvin tak lagi main piano saat ini” Entah mengapa ucapan itu yang meluncur dari bibirku.
Rio tersenyum manis “Biarlah, dia menenangkan diri. Bersatu dengan hatinya. Dan menjadi Beethoven yang penuh semangat dibalik kekurangannya” Ucap Rio.
Aku tersenyum lega mendengar ucapan Rio kali ini. Sungguh aku tak salah memilihnya dalam kehidupanku.

^^^

Burung-burungpun bernyanyi bunga tersenyum
Melihat kau hibur hatiku
Hatiku mekar kembali terhibur simphony
Pasti hidupku kan bahagia

Sudah 2 minggu sejak pertemuanku dengan sang Mozart a.k.a Rio. Sejak itu pula Rio seperti ditelan bumi. Tidak masuk sekolah ataupun menghubungiku. Satu hal yang membuatku lega adalah ketika tidak adanya kabar yang mengabarkan kematian sang Mozart itu. Ah, jangan sampai deh. Dan sudah seminggu Alvin mulai masuk sekolah seperti biasa. Walau dalam keadaan Buta. Alvin tetap menjalani aktivitas sekolah dengan bantuan huruf Braille. Yang membuatku lebih senang Alvin mulai kembali menyentuh piano. Mulai bermain walau kekurangan pada indera penglihatannya, begitu aku tanya apa yang membuatnya ingin menyentuh piano lagi, dia hanya berkata..
“Ada seseorang yang mengirim surat padaku yang berisi
---------------------
Love is like playing piano
First, you learn to play it by rules
Then, you forget the rules
Close your eyes
And start playing from your heart

M.M
---------------------

“Surat itu membuat gue semangat lagi. Dan ingin menjadi Beethoven yang sebenarnya. Dibalik segala kekurangan yang gue miliki sekarang gue memilih untuk tetap berkarya bukan hanya hanya mata tapi dari hati” Jawab Alvin.

^^^

Tiga minggu sudah Rio menghilang tidak ada kabar. Alvin juga sudah tiga hari tidak masuk. Aku dengar dia mendapatkan donor mata, tapi aku masih belum sempat menjenguknya karena kegiatan sekolah yang ekstra padat. Aku mengedarkan pandanganku kekoridor luas. Aku melihat Alvin berjalan tanpa bantuan tongkatnya, dan dia menunduk. Hey ada apa?

Alvin berjalan menghampiriku dan lalu menarikku.
“Hey, Vin. Mau kemana? Kamu udah bisa melihat?” Tanya ku.
Tak ada jawaban. Alvin  tetap menarikku dan sepertinya dia sudah bisa melihat karena jalannya begitu lancar. Lalu kenapa dia menarikku seperti ini. Aku hanya bisa pasrah mengikuti. Tujuan akhirnya adalah diruang musik. Alvin menyuruhku duduk tepat didepan grand piano dan Alvin sendiri menyalakan TV dan DVD yang ada diruang musik, memasukkan sebuah DVD kedalamnya dan lalu menarik kursi lalu duduk disebelahku.

Sebuah intro dari Band Familiar dinegeri Indonesia ini mengawalai depan Video.
“Video apa sih Vin?” Tanyaku tak mengerti.
“Liat dulu aja Fy” Jawabnya tanpa menoleh. Aku menurut dan memilih untuk diam saat menonton Video itu.

Takkan selamanya tanganku mendekapmu
Takkan selamanya ragaku menjagamu
Seperti alunan detak jantungku
Tlah tertahan melawan waktu


Suara Rio. Yap benar aku yakin suara Rio itulah yang menjadi backsound video ini. Tapi ada apa?
Lalu muncullah video Rio yang memangku gitarnya dan bicara..
“Hay my piano udah berapa lama ya kita ga ketemu. Maaf ya aku ga kasih kabar. Mungkin saat ini kita udah ga bisa ketemu lagi. Tapi perlu kamu tahu aku masih tetap mecintai kamu sampai esok pagi seterusnya. Aku ga kasih kabar karena saat seminggu pertama aku dalam keadaan kritis aku ga masuk aku dalam keadaan kritis. Video inipun aku buat saat sesudah insiden kecelakaan itu terjadi. Maaf ya udah buat kaki kamu patah karena ulah aku. Dan untuk Alvin, Beethoven in My life Maaf udah buat loe kehilangan indera penglihatan loe.”

Dan semua keindahan yang memudar
Atau  cinta yang telah hilang

“Aku mengidap Kanker Otak stadium akhir. Itulah yang membuat aku mengatakan kalau kamu hidup aku Fy waktu itu. Aku mau punya hidup dan waktu lebih banyak untuk terus bersama Kamu dan Alvin. Pengen ngehabisin waktu lebih banyak dengan kalian. Menjadi Mozart, Piano, Beethoven masa depan dengan menggelar konser dibanyak negara seperti impian kita bersama. Keren yah ngebayanginnya? Tapi sayang waktu aku Cuma sebentar.”

Tak ada yang abadi
Tak ada yang abadi
Tak ada yang abadi
Tak ada yang abadi

“Sangat menyesal, kebersamaan kita terakhir malah diwarnai ketegangan satu sama lain karena ulah gue. Tapi sekarang semua udah kembali. Yah Cuma loe berdua tanpa gue. Tapi disini gue udah bebas sangat lepas tanpa penyakit laknat itu lagi. Maaf ya kalo gue banyak salah ama kalian? Untuk kamu Fy mama dan papa aku udah nyiapin tempat terapi yang cocok untuk kamu. Aku yang cari loh waktu itu, panas-panasan sampai aku item gini” Ucap Rio tergelak. “Kamu terapi ya my piano? Biar ada yang nemenin Beethoven konser nanti.

Ohh,,, Biarkan aku bernafas sejenak sebelum semuanya hilang
“Vin, gue akui dengan alasan hidup yang ga lama lagi. Gue biarin ego sang mozart berkuasa mengalahkan seorang Beethoven yang ekpresiv untuk memiliki Piano yaitu Alyssa Saufika, Gue minta maaf untuk hal ini. Gue menghalangi cinta loe sama dia. Yah walau gue tau secara gue lebih keren dari loe pasti Ify milih gue. Dan bener kan kenyataannya?” Rio terkekeh

Aku melihat Alvin yang sudah meneteskan airmata karena menonton Video ini. Sedangkan aku? Sudah terisak hebat. Masih belum percaya tentang kepergian sang Mozart dan tawa keperihan yang jelas ada diwajah kekasihnya itu.

Takkan selamanya tanganku mendekapmu
Takkan selamanya raga ini menjagamu
Jiwa yang lama telah pergi
Bersiaplah para pengganti

“Hey kok pada ga rusuh sih kayak biasanya?” Tanya Rio pada video itu seakan mengajak bercakap.
“Dia bodoh atau apa sih? Suasana kayk gini juga” Gerutu Alvin.
Aku hanya menanggapi dengan senyum. Sang Mozart terlalu tegar untuk ini.
“Ahh, ga seru nih. Gue bercanda sendiri. Jangan bilang loe lagi nangis Vin makanya ga rusuh?” Tanya Rio lagi.
“Mozart kayaknya ga sesinting dia deh” Ucap Alvin
Aku sedikit tersenyum melihat tingkah Alvin.
“Kamu kok juga diem Fy? Kamu nangis ya? Nanti siapa dong yang hapusin air mata kamu? Kan aku udah ga ada” Ucap Rio.
Aku kembali menjatuhan bening air mata itu. Tersadar, lalu menghapusnya secara kasar.
“Jangan nangis lagi ya my piano. Aku rasa kamu perlu pianis baru. Kamu bisa lihat orang disebelah kamu. Aku yakin dia bisa jaga kamu” Ucap Rio.
Ify menggeleng cepat, tidak. Tidak secepat itu melupakan Rio.
“Dan elo Vin. Gue lagi mangku gitar nih. Jangan sampai loe nangis karena video ini. Bisa gue lempar nih gitar ke elo. Seenaknya aja loe nangis. Gue ngasih mata gue ke elo bukan buat memproduksi air mata tapi buat ngingetin Ify kalo gue juga selalu disampingnya” Ucap Rio
“APA?” Ucap Alvin Syok.
“Mata itu milik Rio?” Tanya Ify sambil memandang mata Alvin.
Alvin menggelengkan kepalanya mengisyarakan tidak tahu. Lalu menutup kedua wajahnya dengan telapak tangannya. Frustasi.

Tak ada yang abadi
Tak ada yang abadi
Tak ada yang abadi
Tak ada yang abadi

“Udah ah, gue cape. Dari tadi ngobrol ga ditanggepin gara-gara pada sibuk nangis.. heuu ga asyik” Ucap Rio, wajahnya mengekspresikan seperti anak kecil yang kehilangan mainan.
Ify tersenyum pedih menatap wajah itu. Ingin rasanya memeluk tubuh tinggi itu lagi. Tapi ada daya untuk sekarang.
“Oke guys. Cuma itu yang bisa gue lakukan buat kalian. Untuk Ify. Aku akan masih tetap mencintai kamu dari sini, dan selalu disemping kamu. Untuk Alvin. Tetap jadi sahabat gue, dan tolong jaga Ify semampu loe. Gue sayang kalian berdua” Ucap Rio menutup pembicaraannya.
Tak lama video itu berganti dengan layar hitam dengan tulisan putih mengatakan :

Love is like playing piano
First, you learn to play it by rules
Then, you forget the rules
Close your eyes
And start playing from your heart

M.M
(Mario.Mozart)

Alvin tercengang. Airmata yang tadi ditahannya memaksa untuk memproduksi air mata lebih banyak lagi.. Ify langsung menghadapkan dirinya pada grand piano putih dihadapannya tadi dan mulai memainkan tuts-tutsnya.

Notice me
Take my hand
Why are we
Strangers when
Our love is strong
Why Carry On without me

Everytime I try to fly
I fall without my wings
I feel so small
I guess I need you baby
And everytime I see
You in my dreams
I see your face,
It’s haunting me
I guess I need you baby

I make believe
That you are here
It’s the only way
I see clear
What have I done
You seem to move on easy

Everytime I try to fly
I fall without my wings
I feel so small
I guess I need you baby
And everytime I see
You in my dreams
I see your face,
It’s haunting me
I guess I need you baby

I may have made it rain
Please forgive me
My weakness caused you pain
And this song is my sorry

At night I pray
That soon your face
Will fade away

Everytime I try to fly
I fall without my wings
I feel so small
I guess I need you baby
And everytime I see
You in my dreams
I see your face,
It’s haunting me
I guess I need you baby

“Mario, you’re my favorite pianis”

Seorang Mozart yang dikatakan orang lebih membosankan dibanding Beethoven  justru dapat mengaplikasikan emosi jiwanya kedalam melodi-melodi klasik dengan jiwa ketenangan meski kadang terlalu datar. Yah walau kespontanitasannya dan keromantisannya tidak sebanding dengan  Beethoven yang mengaplikasikan melodinya dengan emosi yang meledak-ledak tapi meletupkan semangat. Tapi pasti sang mozart memiliki cara tersendiri untuk menyampaikan cintanyaa ..

^^^

Aku mematikan Video itu setelah sekian kalianya kutonton sambil mengingat memory manis tentang sang Mozart. Dua tahun sudah berlalu. Dan aku masih tetap sendiri. Tidak memilih untuk ove on dengan mencari pengganti, biarlah. Biarlah kenangan itu tetap berputar. Mengurungku dalam kesendirian. “Caused you’re my favorite pianis, MARIO”

The End

Cinta Matahari (Sekuel of Dibalik kisah)

Seandainya kita..
Dicipta menjadi satu..
Pasti suatu saat..
Kita akan bertemu..
---

Kini aku kembali memandangnya. Hanya memandang untuk kesekian kalinya yang mungkin sudah menjadi kebutuhanku setiap harinya. Seperti bernafas, mungkin inilah diriku. Dirinya sebagai udara yang mampu menyejukkan dikala himpitan. Namun juga sebuah kesesakkan dalam menahan kerinduan.

Senyumku makin mengembang dikala dirinya berjalan riang bersama teman-temannya. Mengibaskan rambut indahnya dan menghempaskan poni didahinya. Mata beningnya mampu memancarkan kehangatan diantara canda tawa dihadapan para sahabatnya.

---
Seandainya kita dicipta..
Untuk tidak menjadi satu..
Walau dekat selalu..
Kau takkan pernah menjadi kepunyaanku..
---

Tunggu, ada yang mengusik pemandanganku kini. Ada sesosok laki-laki yang mengamit lengannya. Tak dapat kupungkiri, ada tatapan berbeda dari laki-laki itu. Bukan tatapan hangat dari sebuah pertemanan. Tapii... Ahh, kutepis semua rasa yang mengusikku saat ini. Hingga tanpa sadar, kuturunkan kaca mobilku dan menatap lekat-lekat sosok laki-laki yang kini bersama.. ehemm.. gadisku. Mencoba menangkap setiap kata yang terlontar dari bibir manis sang gadis dan sosok laki-laki dihadapannya.

Bodoh ! Terlalu jauh tempatnya dan tempatku. Disini, ditempat ini, sepertinya terjadi persempitan udara. Karena entah mengapa kesesakkan mulai merajai dadaku kali ini.

---
Mencintai..
Bukan bagaimana kita melihat..
Tapi..
Bagaimana kita merasakan...
---

Inikah yang disebut para remaja dengan CEMBURU? Apa? Cemburu? Apa berarti aku masih menyukainya seperti dulu? Mencintainya seperti saat itu? Inikah yang dirasakan gadis itu disaat aku bersama gadis lain? Jujur, sampai saat ini aku masih ragu dengan hatiku. Ragu dengan perasaanku terhadapnya. Aku selalu meyakinkan diriku jika dirinya hanyalah batas kekagumanku. Tapi, taukah kau? Hati kecil tak akan bisa berbohong. Aku mencintainya. Mencintai Alyssa Saufika.

---
Dalam setiap perjalanan..
Selalu saja ada rintangan yang sama..
Yang membedakan..
Adalah saat kau memilih..
Untuk menyerah atau bertahan..
---

Saat ini, kembali kuyakinkan diriku jika dialah yang terakhir. Memantapkan diriku jika dialah yang terbaik. Yah aku harus yakin. Aku mengangguk angguk sendiri meyakinkan janji dalam hatiku..
“Rio..” Tiba-tiba ada yang menyapaku.
“Dea?” Ucapku tertahan. Kaget karena sosok dihadapanku ini ialah cinta pertamaku waktu itu. Ingat semua sudah berlalu..
“Gue ga nyangka deh ini elo. Loe makin cakep” Puji Dea.
Aku hanya tersenyum tipis menanggapinya, sambil berusaha mencuri-curi pandang kearah gadisku. Oh tidak! Gadis itu memilih pulang bersama sosok laki-laki yang tak kukenal. Damn! Aku terlambat.
“Liat apa Yo?” Tanya Dea sambil mengikuti arah pandangku.
Aku menggeleng cepat.
“Ah, lebih baik loe anter gue pulang yuk? Males gue panas-panasan” Pinta Dea manja.
Inilah kelemahanku, paling tidak bisa untuk menolak permintaan. Akhirnya dengan pasrah kulirik jok disebelahku mengisyaratkan Dea agar masuk dan duduk kedalam Trush hitamku.

***

---
Cinta sejati adalah..
Ketika dia menyakiti..
Kau masih peduli..
Dan ketika dia tidak peduli..
Kau masih menunggunya dengan setia..
---

Untuk kesekian kalinya aku melihat sosok dibalik baja hitam itu. Sosok yang awalnya kupikir menungguku. Tapi perkiraanku salah, dia menunggu sosok lain. Sosok gadis pertama dalam hidupnya. Sosok cinta pertamanya. Tentu saja bukan diriku.

---
Kadang tanpa kau sadari..
Orang yang kau sayang..
Adalah orang yang..
Paling sering menyakitimu..
---

Bodoh! Itulah kata yang tepat untukku saat ini. Masih mengharapkan dirinya. Mengharapkan sosoknya kembali hadir kehidupku. Mengharapkan hati seorang Mario Stevano untuk seorang Alyssa Saufika. Oh, keinginan yang bisa dibilang impossible ! Mengharapkannya saja aku butuh kekuatan untuk bertahan melawan ribuan hantaman ketika ada sosok gadis lain didekatnya. Untuk memilikinyam mungkin aku membutuhkan bantuan kaki orang lain untuk masih bisa berdiri ditempat.

---
Kuakui sosokmu semakin jauh..
Tapi tak bisa kupungkiri..
Rasa itu semakin dekat..
---

Inilah aku. Sosok gadis sederhana yang memiliki rasa yang luar biasa. Sosokmu begitu jauh, tapi mengapa selalu ada dorongan ketika aku memilih mundur? Kau terlalu tinggi, tapi mengapa selalu ada yang memaksaku bertahan disaat aku terhempas jatuh?

***

---
Jangan pernah berjanji..
Untuk sebuah kesetiaan..
Tapi berjanjilah..
Untuk sebuah perasaan..
---

Senyum itu hilang, berpendar dari wajah manisnya. Hey ! kemana senyum itu berhempas? Mengapa aku tidak dapat kembali melihatnya untuk hari ini? Dan, Hey ! Apa-apaan ini? Bahkan dirinya langsung memilih pulang bersama laki-laki yang kemarin mengantarnya.

Himpitan kesesakkan kembali memenuhi rongga paru-paruku. Kembali kuyakinkan diriku dirinyalah cintaku. Dirinya mampu bertahan saat itu. Mengapa aku tidak? Aku pasti bisa. Bisa setia untuknya. Menjaga perasaan ini untuknya.

***

---
Mencintai itu..
Bukan bagaimana kita melupakan..
Tapi bagaimana kita memaafkan..
---

Tak kupungkiri sekarang aku tak lebih dari seorang remaja galau yang bingung dengan perasaan yang kualami. Perasaan sesak itu kembali kualami setelah lama kulalui dalam mempertahankannya.

Tapi inilah aku. Kebodohanku nyatanya mampu meredam semua amarah yang menghimpit dadaku. Dan tak penah menutupi kenyataan. Maaf ini selalu ada untuknya.

---
Terkadang cinta butuh keegoisan..
Namun bukan sebuah kebutaan..
---

Egois. Salahkah rasa itu? Sebuah rasa yang besar untuk memilikimu. Menginginkan hatimu. Aku ingin egois jika untuk memilikimu karena aku begitu menginginkan hatimu.

Egois. Mungkin rasa inilah yang membuatku bertahan selama ini. Bertahan untuk mencoba kembali menjadi pemegang kunci hatimu. Aku ingin. Sangat Menginginkannya.

---
Kebahagiaan tetap dapat ditemukan..
Bahkan disaat tergelap..
Asal kita tidak lupa..
Menyalakan cahaya..
---

Aku meminta diturunkan Oleh Gabriel teman sekelasku dipinggir pantai ini untuk menenangkan diriku. Kurang dari satu jam aku melalui dua peristiwa yang mampu menyesakkan diriku. Pertama melihat tatapan tajam seorang pemuda yang telah lama menjadi penghuni hatiku serta pernyataan cinta dari seorang Gabriel, yang tentu saja langsung kujawab mantap. Aku menolaknya.

Sebenarnya tak akan pernah ada alasan yang tepat untuk menolak seorang Gabriel. Dia tampan, kaya, ramah, dan low profile, Hanya satu alasan ku menolak. Mario Stevano.

Kulangkahkan kakiku dengan ringan kearah pinggiran dermaga. Lalu merentangkan tangan dipinggiran dermaga. Mencoba menghirup oksigen mengisi bagian paru-paruku yang terasa sesak.

***

---
Mencintai seseorang itu mudah..
Bagian paling sulitnya..
Hanya ketika ia yang kamu cinta..
Tidak tercipta untukmu..
---

Aku memandang sang surya yang hendak kembali keperaduannya dipinggir dermaga. Indah. Satu-satunya kata yang terlintas dibenakku. Begitu terlihat damai walau lelah selalu menyinari alam dari fajar hingga petang.

Seperti dirinya yang berdiri tidak jauh dariku. Sang gadis Alyssa Saufika. Begitu namanya kurapal. Ya, aku mengikutinya ke dermaga ini. Dirinya begitu indah walau selalu menyinari diriku. Namun aku tidak berharap dia seperti sang mentari yang sulit kugapai dan kumiliki. Hanya mampu kupandang dengan batas seluruh kekagumanku.

Apakah dirinya untukku? Apakah hatinya masih milikku. Ya ! Aku harap seluruh pertanyaan itu dijawab dengan kata “Ya”. Aku berharap gadis itu tercipta untukku. Hanya diriku seorang. Alyssa hanya untuk Mario.

***

---
Cinta tidak akan menghilang..
Sekuat apapun kita memaksanya..
Cinta akan tetap disekeliling kita..
---

Rasa ini begitu sesak, memelukku erat, sangat erat. Bahkan keindahan sunset dihadapanku kini tidak mengurangi kesesakkan ini. Aku semakin benci rasa ini. Rasa yang membuat pernafasanku selalu tersenggal. Rasa yang mampu menghujam seluruh tubuhku.

Bagaimana membuat semuanya hilang. Sulitkah? Menghapus sebuah nama dengan tiga kumpulan huruf yang membentuknya dalam benakku. RIO. Ah nama itu. Mengingatnya saja sudah membuatku sesak. Membuangnya? Mungkin akan membuatku mati konyol karena tidak terbiasa hidup tanpa sensasi rasa yang selalu meletup jika mengingat namanya.

“Aku mau kamu hilanggggggggg..........” Teriakku tanpa memperhatikan keadaan disekitar, karena ketika aku datang dermaga ini benar-benar sepi. Pikirku sebelum ada sesosok tubuh yang menubruk punggung kecilku. Dengan tangan yang melingkar kepinggang dan leherku. Hembusan nafas yang benar-benar seperti menghirup seluruh sensasi dalam diriku. Wangi musk dari laki-laki yang kini memelukku menguar memenuhi indera penciumanku. Kupejamkan kedua mataku mencoba menikmati rasa nyaman dan keamanan  luar biasa dalam hati ini.

---
Sayang adalah perasaan tulus seseorang..
Tanpa paksaan, Tanpa syarat..
Yang ada hanya pengorbanan..
---

AUTHOR POV :D

Entah sudah berapa lama Rio dan Ify bertahan dalam posisi seperti itu. Mungkin mereka akan lebih memilih waktu berhenti saat itu, agar tetap bersama.
Ify melepas lebih dahulu pelukan dari Rio, lalu berbalik menghadap kearah Rio. Senyuman manis milik Rio lah yang kini didapatinya.
            “Ri..”
            Terlambat Rio memotong panggilan Ify terhadapnya dengan telunjuk miliknya dibibir Ify. Dilanjutkan dengan membelai lembut pipi Ify. Sambil terus memandang wajah manis ukiran sang Maha Pencipta dihadapannya. Tidak jauh dengan Ify. Ify pun menelusuri lekuk tegas pahatan sang Penguasa alam dihadapannya. Rio kembali menarik Ify. Kembali mendekap sang gadis untuk kedua kalinya.
            “You are my dream, when I’m not sleep. And Your Heart are my best friend everywhere I’ll be there. Love You” bisik Rio lirih.
Ify menarik dirinya. Kaget dengan bisikkan Rio.
            “You not trust me?” Tanya Rio.
            Ify menggeleng polos.
Rio melengos. Ada ide jahil dibenaknya untuk membuktikan cintanya. Rio kembali menaruh tangannya dipinggang Ify, menarik Ify kedalam dekapannya. Menghapuskan seluruh jarak diantara mereka berdua. Mengunci tatapan Ify kepadanya. Serta mendekatkan wajahnya ke wajah manis Ify.
            “Aku percaya” Ucap Ify cepat, sambil menarik dirinya kembali dari pelukan Rio. Ify melihat Rio yang melengos. Huh, tidak taukah Rio, bila kini jantung Ify bekerja lebih ekstra saat didekat Rio? Dan darah Ify seperti jauh lebih cepat mengalir dibanding biasanya. Tiba-tiba suatu pikiran melintas dibenak Ify.
            “Udah sama siapa aja kamu ngelakuin itu?” Tanya Ify, entah mengapa pertanyaan itu malah meluncur dari mulutnya.
Rio mengangkat sebelah alisnya bingung, sejenak berpikir lalu tersenyum manis dan kembali menghadap kearah Ify “Just with you.” Ucap Rio santai.
“Hah? Kapan?” Protes Ify, karena merasa memang belum pernah melakukannya (re : kissing) dengan Rio.
Rio memainkan alisnya nampak seperti berpikir. Dengan gerakan cepat Rio langsung menarik tangan Ify. Menarik tubuh Ify kedekapannya serta mengecup cepat bibir manis Ify dengan bibirnya. “Barusan” Jawab Rio santai menjawab pertanyaan Ify barusan lengkap dengan senyuman mautnya tanpa dosa.
“Rioooo” Ucap Ify sambil memukul pelan bahu Rio dengan tangannya.
“Hehe, ampun Fy” Ucap Rio sambil melindungi tubuhnya dari serangan Ify. Dan berusaha menangkap tangan Ify.
“Rese banget sih kamu” Ucap Ify sambil terus mengerahkan agresinya.
“Yaudah deh, maaf-maaf. Tapi bener kok baru sama kamu” Ucap Rio setelah berhasil menahan agresi Ify.
“Ihh, bohong banget. Gak percaya” Ucap Ify ngambek sambil memanyunkan bibirnya dan melipat kedua tangan didadanya.
“Dih, bibirnya mau lagi tuh” Goda Rio sambil menarik turunkan alisnya.
“Ga!” Ucap Ify galak lalu membuang pandangannya ke arah laut.
Rio terkekeh “Terus jawabannya apa?” Tanya Rio.
“Jawaban apa?” Tanya Ify sinis.
“Sinis banget sih kamu” Ucap Rio.
“Lah, kamu yang ga jelas” Ucap Ify Jutek.
“Jutek banget sih, heran aku bisa suka bahkan cinta sama kamu” Ucap Rio frustasi.
“Siapa suruh? Lagian emang kamu nanya?” Tanya Ify melunak.
Rio menatap Ify dalam. Lalu menarik tangan Ify dan diletakkan didada bidangnya.
“Aku mungkin bukan cowo romantis yang kamu kenal, aku mungkin belum ngasih sesuatu yang terbaik untuk kamu, dan Aku juga bukan orang yang selalu didekat kamu seperti cowo yang tadi nganter kamu..” Ucap Rio terhenti yang membuat Ify tersentak.
“Tapi aku disini, berdiri sebagai seorang Mario. Dihadapan seorang Alyssa Saufika dan disaksikan seluruh alam yang ada. Detak jantung aku yang sekarang kamu rasain detakkannya, perlu kamu tau ini semua terjadi saat kamu disamping aku, saat aku menatap kamu. Kamu emang bukan yang pertama tapi aku yakin kamulah yang terakhir.” Ucap Rio sambil menatap tajam manik mata Ify dengan tatapannya. Ify menunduk, bening ketulusan dari manik mata dihadapannya membuatnya tidak sanggup berkata-kata.
Rio mengangkat wajah Ify dengan telunjuknya, membuat Ify mau tidak mau kembali menatap mata Rio.
 “Alyssa Saufika, Would you be My Last Girl? Be a part and of my life?” Ucap Rio.
Ify melepas tangannya yang digenggam Rio dengan cepat. Rio menatap Ify yang telah membuang muka dengan perasaan was-was.
“Aku...” Gumam Ify pelan terdengar lirih dalam bicaranya namun masih tertangkap dari pendengaran Rio.
“Tell me why do you love me?” Tanya Ify.
“Nothing, aku ga mau mencintai kamu dengan sebuah alasan dan sebagainya. Aku ga mau berhenti mencintai kamu hanya karna ada salah satu alasan yang hilang” Jawab Rio tegas.
Ify menatap Rio, mencari ketulusan didalam mata tajam itu. Ify menemukannya.
“Love doesn’t a reason, but relationship needs more than a reason” Argumen Ify.
“Coz I love you and I just wanna together with you on two times, Now and Forever. The Last, I need you be a part of my life and my friend for my heart” Jawab Rio mantap.
Ify tersenyum puas dengan jawaban laki-laki dihadapannya sebelum akhirnya menubruk tubuh Rio dan mendekapnya erat.
“I just a little girl with a broke smile. So don’t try so hard to say good bye.  And I hope you will be there for me in the end” Bisik Ify dalam dekapan Rio.
“I promise, I will love you forever and you will be the last my girl in my life. Love you Alyssa” Ucap Rio mempererat dekapannya.
“Me too”

***

Matahari terbenam mampu menjadi saksi cinta..
Meskipun cintaku tak ingin seperti sang surya yang dapat tenggelam..
Tapi cintaku tak kan pernah padam..
Seperti Sinar matahari yang kembali pada esok harinya..

-Mario-

***

Love is like playing piano..
First, you learn to play it by rules..
Then, you forget the rules..
And start playing..
From your heart..

-Alyssa-

***

Buatlah dirimu berharga dihadapan satu cinta..
Tanpa ada cinta lain yang mengganggunya..
Seperti aku kepadanya..

- Mario & Alyssa –

Dibalik Kisah (Short Story)

Jika hidup..
Masih dapat dijalani secara pasti..
Kuyakin disitulah kau berpegang padanya..
---

Mentari dari ufuk timur dengan rona merahnya sepertinya masih belum mau berhenti menyinari sang bumi. Pesona gradasi warna langit menjelang pagi dan rona kemerahan yang ditimbulkannya seperti memberikan semangat tersendiri untuk menjalanlankan hidup ini. Seperti pagi yang biasanya disaat aku kembali terbangun disetiap paginya untuk bersiap menghadapi tantangan hari ini dan berikutnya serta menutup kisah tantangan dihari sebelumnya.

“Dek, sarapan dulu sebelum berangkat..” Pesan Ayahku yang selalu kudengar setiap paginya.

“Nanti aja Yah disekolah, adek buru-buru, Maaf Yah” Jawaban yang selalu aku berikan ketika Ayah menyuruhku sarapan. Ayah hanya menggelengkan kepala yang kusambut dengan menyambar tas dan punggung tangannya untuk kucium.

“Aku berangkat. Assalamualaikkum” Pamitku dari depan rumah.

Yah, tidak perlu repot membawa kendaraan untuk sampai disekolahku yang hanya berjarak 50 m dari rumah. Tak perlu juga berhias sebuah mobil mewah untuk sebuah sekolahku yang cukup sederhana namun menyimpan keluarbiasaan dalam prestasinya. SMK Fairilies Jakarta.
Aku adalah seorang murid SMK. Bukan SMA dikebanyakkan cerita indah lainnya. Bukan seorang murid yang turun dari sebuah Livina berhiaskan rambut keriting gantung sebagai mahkota. Aku adalah aku. Seorang gadis biasa yang hidup dikalangan sederhana. Dan berusaha menjadi biasa sebagaimana mestinya. Aku seorang anak ketiga dari 3 bersaudara ups! Ralat ketiga dari 4 saudara. Mengapa bisa?

---
Hidup memang sebuah cerita...
Cerita yang bisa kutentukan alurnya...
Namun bukan Akhirnya...
---

5 Tahun setelah kepergian ibuku dikarenakan kanker, ayahku memilih mengakhiri masa dudanya dengan menikah dengan wanita lain yang sudah memilik 2 orang anak laki-laki. Tentunya ini semua atas persetujuanku dan kakakku. Lalu bukankah dua orang itu merupakan saudara tiri? Bagaimana aku bisa menjadi 4 bersaudara?

4 tahun setelah pernikahan dengan istri keduanya. Ayah membuatku  memperoleh seorang adik perempuan. Yang mana kelahirannya membuat posisiku sebagai anak perempuan satu-satunya tergeser secara terhormat. Belum lagi karena ibu tiriku memperoleh anak perempuan pertamanya (adikku), tekanan dari pihak keluarga ibu yang tidak suka denganku dan ayah semakin bertambah karena kepergian dari dunia mbah tiriku yang menerima kami.
Oke, kisahku dalam keluarga memang begitu sadis, seperti cerita sinetron. Tapi ini bukanlah sinetron yang masih bisa dibuat happy end. Bahkan aku tak tahu kapan ini semua berakhir. Aku memang meiliki 2 kakak kandung. Tapi kakak pertamaku lebih memikirkan dirinya sendiri ketimbang aku dan ayah. Sedangkan kakakku yang kedua sudah menghadap kepada Yang Maha Kuasa karena penyakit paru-parunya.

Yah mungkin hanya itu sebagian kisah dari latar belakang keluargaku mengapa aku tumbuh menjadi gadis yang mungkin bisa dibilang independent. Ingin berdiri sendiri diatas usahaku. Tidak ingin merepotkan orang lain walau itu hanya sebatas meminjam pulpen. Aku terus berusaha meyakinkan diriku aku TEGAR dan KUAT!!

---
Bukan untuk terlihat hebatlah tujuanku...
Hanya ingin memperlihatkan..
Akulah aku...
Seorang yang berusaha tegar dan kuat...
---

Disekolah, aku hanya dikenal sebagai sosok yang ceria dan gemar bercanda dan ehmm, bukan bermaksud sombong. Aku juga dikenal sebagai murid berprestasi. Siapa sih yang tidak mengenal aku, seorang ALYSSA SAUFIKA yang kerap disapa IFY. Seorang Juara pertama LKS (Lomba Keterampilan Siswa) kompetensi Akuntansi dan menjabat sebagai ketua Jurusan disemester keduanya disekolah itu. Aku bukanlah seorang anggota Osis yang gemar pamer jabatan tapi tidak mampu mengubah keadaan sekolahku yang terkesan kaku. Aku adalah seorang siswa biasa yang selalu menampakkan wajah cuekku tanpa memikirkan beban tentang keluargaku sendiri. Bahkan demi tidak inginnya melihat orang lain repot karenaku, saat SMP aku rela belajar Beladiri Karate untuk melindungi diriku sendiri.

Disaat remaja seusiaku menikmati indahnya masa remaja mereka tanpa beban seperti yang ada dipundakku. Sibuk dengan segala dandanan dan kebiasaan bersolek ria dikelas, maklum siswi SMK. Bahkan saat aku piketpun sampah terbanyak adalah rambut-rambut rontok dari sisiran ‘halus’ mereka sepanjang hari. Dan disaat mereka bermanja-manja dipeluk seorang kekasih mereka atau bahkan penyakit labil yang sering menimpa remaja seusia kamu yaitu galau karena cinta. Akupun masih tetap cuek, tidak begitu peduli maupun tertarik untuk ikut-ikutan mereka.

Hey ! jangan mendugaku tidak normal dahulu ! Aku tetap gadis normal dibalik sikap cuekku. Bahkan jika ingin bermain masalah hati. Aku teramat pandai menyimpan dan menata semua sendiri. Tidak butuh seorang sahabat untuk diajak bertangis-tangis ria saat aku berduka. Cukup aku, dan hatiku yang mengetahuinya. Baiklah, akan kuceritakan kisahcintaku. Kisah yang mungkin kalian pikir setelah membacanya adalah sebuah kasus Cinta Monyet. Tapi kalian salah ! Entah ada alasan apa, aku memilih tetap mempertahankannya.

Kisah berawal ketika kelas 5 SD. Ketika aku mulai merasakan sesuatu yang berbeda mungkin disalah satu bagian dalam diriku. Hati. Mampu membuat tersenyum geli ketika mengingat tentangnya, mampu membuat terbang tingii mengenang senyumnya. Wajahnya, senyumnya, tutur katanya, sifat coolnya, benar-benar terpatri secara detail didalam hati ini. Terlalu berlebihan mungkin untuk seorang anak disekolah dasar. Tapi itulah cinta. Takkan pernah mengenal usia, jika sang amore telah mengembangkan sayapnya untuk membidik panah cinta.

Hingga semua berakhir, berakhir tanpa ucapan cukup sampai disini, berakhir tanpa adanya kata-kata putus diantara kedua pihak. Aku dan dirinya. Memilih berkomitmen menjalankan hidup masing-masing, berkonsentrasi pada space pribadi. Komitmen yang entah saat ini masih diingatnya atau tidak. Komitmen yang mampu membuatku terbang dan terjatuh disaat bersamaan. Komitmen yang menyimpan sejuta asa dan kekosongan dan Komitmen mampu mengisi kekosongan hati.

---
Ketika semua berjalan...
Seperti yang tidak kuharapkan...
Aku memilih...
Setiaa...
---

Sekolah Menengah Pertama, dimana sang dewi amore semakin gencar membidikkan panah-panah cinta. Disinilah aku kembali bertemu dengannya. Tapi aku merasa perubahannya. Perubahannya terhadapku. Sikapnya dulu yang bersahabat, kini bak ditelan bumi. Selidik kuketahui. Dirinya kini resmi menjalin hubungan yang dikenal dengan berpacaran dengan teman sekelasku Ashilla Zahrantiara. Shilla panggilannya, gadis manis bertubuh ideal bak model yang bisa disebut kelas perfecto untuk para kaum adam. Dibandingkan aku? Tidak! Aku adalah aku, dan Shilla adalah Shilla tak akan pernah ada persamaan. Karena kami berbeda ! Dan aku istimewa, karena bisa mengistimewakan diriku.

---
Senyummu hilang...
Namun kau tetap bertahan...
Menambah keyakinanku...
Untuk bertahan terhadapmu...
---

Kisahnya terus berjalan dengan temanku Ashilla. Namun hubungan memang selalu dibumbui dengan asam garam yang juga disebar para amore selain panah cinta. Kadang hubunganmu merenggang, kadang pamer kemesraan. Dan semua bertahan hingga habisnya masa-masa putih birumu. Dan berakhir pula hubunganmu dengan Shilla dengan terlontarnya kata PUTUS dari mulutmu.
---
Percayalah...
Saat terlepasnya sebuah panah dalam hatimu...
Sesungguhnya sudah tercipta ribuan panah...
Yang siap berubah menjadi kunci hatimu...
---

Kita berpisah. Saat putih abu-abu menyambut kita. Kau dengan SMA Rofvera mu dan aku dengan SMK Fairilies ku. Aku mengingatnya, mengingat dengan jelas komitmen itu, yang entah tanpa sadar membuatku mati rasa dan masih bisa menerimamu.

###

---
Cinta adalah keindahan...
Tapi tak semua keindahan...
Memiliki arti cinta...
---

Aku berani bertaruh atas nyawaku, akulah lelaki terbodoh yang pernah menyianyiakan cinta dihatiku sendiri. Aku hanya mampu melihat keindahan semu yang tidak kudapat dari dirinya. Tapi dengan dirinya juga membuatku sadar, dirinyalah cintaku, yang memiliki keindahan dari ketidaksempurnaannya. Yang memiliki keluarbiasaan dibalik kesederhanaannya.

---
Ketulusan adalah...
Saat kau mengabdi pada satu hati...
Dan setia pada satu nama...
---

Itulah yang kudapat darinya untukku. Disaat ada orang lain yang menawarkan cinta untuknya, dia menolak. Bukannya aku terlalu percaya diri. Dirinya pasti mengingatnya, mengingat semua komitmenku padanya. Tapi apa yang kuperbuat? Dengan bodoh aku memusuhinya demi ambisiku agar dapat berjalan sempurna. Aku memilih seorang wanita yang salah. Aku pikir semua wanita memang butuh limpahan cinta dan curahan kasih sayang dan perhatian yang luarbiasa. Namun aku salah, mengartikannya. Memberikan perhatian yang luarbiasa membuatnya bergantung. Limpahan cinta dan curahan kasih sayang berlebihan membuat mereka manja. Inilah yang tidak kutemukan dari dirinya. Dari diri seorang Alyssa Saufika. Wanita yang luarbiasa dimata dan hatiku. Bukan hanya dimata yang hanya keindahan semu sementara. Aku mengetahui tentang dirinya karena dirinyalah sahabatku sebelum menjadi pemegang kunci hatiku.

---
Banyak cara yang ditunjukkan untuk mencinta...
Terkadang cara tersebut sukar dimengerti...
Seperti caramu...
Dan inilah caraku...
---

Pemikiran bodoh saat aku menuduhmu tidak lagi peduli padaku karena senyummu selalu menyambutku saat aku berangkulan dengan gadis lain. Dan Tindakkan terbodohku saat itu adalah memusuhimu! Tapi dengan manisnya kau tetap tersenyum dan beramah-tamah dengan gadisku saat itu. Perlu kau tahu sekarang, tindakanmu saat itu berhasil menambah tabungan rasa bersalahku sampai saat ini.

Kini, aku hanya dapat memandangmu dari balik gerbang hijau Fairilies. Memandangmu saat kau pulang sekolah sambil tertawa ceria bersama teman baikmu. Memandangmu dibalik trush hitam milikku. Memastikan dirimu baik-baik saja hingga kedalam rumahmu. Ya, mungkin inilah caraku, cara seorang Mario Stevano menjaga Alyssa Saufika.

###