Selasa, 26 Juni 2012

Will You Marry Me? - Part 8

Prissy sudah kehabisan kesabaran, dikibaskannya tangan Alvin dan Ify yang mencengkramnya erat-erat.

“Pris... sabar, Pris...!” seru Ify. Dia berusaha memegangi terus tangan Prissy, begitu juga Alvin. Tapi usaha mereka sia-sia.

“Nggak usah cemas, gue nggak bakal ngotorin tangan gue buat mukul cewek bermulut besar ini!” ucap Prissy berusaha tetap tenang.

“Apa lo bilang?!” Ashilla terpancing, dia semakin emosi.

“Nona Besar... akui aja deh, lo bukan cewek pilihan Rio. Cewek inilah yang dipilih Rio sebagai calon istrinya.” Prissy menarik Ify ke depannya.

Ashilla memerhatikan Ify dari atas ke bawah, bawah ke atas, berulang-ulang. Lalu ditengoknya gerombolan cewek dibelakangnya. Dan tawa mereka pun menggelegar.

“Ha, ha, ha, masih jauh lebih cantik pembantu gue!” celetuk salah seorang teman Ashilla.

“Pendek begitu mau jadi istrinya Rio?! Kasihan Rio dong, harus nyiapin kursi kalo au nyium. Ha, ha, ha...” sambung yang lain.

“Coba lihat dandanannya, kampungan abis. Memangnya dia kira Rio bakal pede ngenalin dia ke teman dan keluarga?”

“Heran. Banyak banget ya gadis pemimpi sekarang ini. Orang miskin mau jadi putri raja. Yang bener aja?! Ini bukan zaman Cinderella. Ha, ha, ha...” suara-suara itu terus sahut-menyahut di telinga Ify. Kepalanya sampai panas dan siap meledak saking marahnya. Tapi Ify tetap mengatupkan mulut. Walau keningnya berkedut-kedut, meski tangannya terkepal erat.

“Nah, Upik Abu, lo denger sendiri, kan, pendapat mereka? Jadi, apa lagi yang lo tunggu? Pergi dari sini dan jangan pernah berharap mendapatkan Rio. Karena itu sia-sia, tikus...” Ashilla tampak puas mendengar cercaan teman-temannya barusan. Dia jadi nggak perlu repot-repot menyampaikan ejekannya.

“Fy, ngomong dong. Jangan diem aja,” desak Prissy dari belakang.

“Apa lo? Masih mau mengajukan orang lain bakal jadi istri Rio, heh? Atau lo sendiri yang bakal maju? Silakan aja, toh lo punya nyali, nggak kayak temen lo yang pengecut ini!” sambil berkata begitu, Ashilla menatap Ify setengah hati, lalu mencibir.

“Sohib gue bukannya nggak punya nyali, dia Cuma... Cuma...”

Suara tawa bala kurawa Ashilla kembali menggema menanggapi pernyataan Prissy yang menggantung, gagal meminta dukungan Ify.

“Biarin aja anjing menggonggong, Pris. Gue nggak peduli. Gue tahu, mereka ketawa untuk menutupi kekalahan mereka. Kalau sekarang gue tanggapi, sama artinya gue jadi bagian dari mereka. Toh gue nggak butuh pengakuan mereka tentang hubungan gue dan Rio. Bagi gue, pengakuan Rio atas gue udah lebih dari cukup. Kalaupun gue marah, nggak ada gunanya, dan itu seperti mengumumkan gue kalah dari mereka.” Ify bicara sangat tenang. Dia nggak mau terbawa emosi, walau sesungguhnya dia sangat marah atas semua yang terjadi. Dia berusaha tetap tenang.

Sebaliknya Ashilla semakin marah mendengar ucapan Ify. Wajahnya kian memerah, campuran antara marah dan malu. “Beraninya lo ngomong kayak begitu di daerah kekuasaan gue!”

Dengan penuh nafsu cewek itu menghampiri Ify. Dia mengangkat tangan ingin menamparnya, namun tiba-tiba sebuah suara yang sudah sangat dikenalnya memanggil namanya.

“Hentikan, Shilla!” Rio datang bersama Gabriel, yang sama terkejutnya dengan Ify. Keduanya sama sekali tidak menyangka akan bertemu di sana.

“Kakak...?” Ify tertegun.

“Gue... gue Cuma memastikan apa kalian jadi ke sini apa nggak?!” jawab Gabriel singkat. Tapi pandangannya bukan kepada Ify ataupun Rio, melainkan gerombolan gadis pembela Ashilla.

“Oow... Lihat, Siv, ternyata cowok gatel yang ngejar-ngejar lo itu kakaknya si tikus. Rupanya keluarga tikus sedang bermimpi memperbaiki keturunan!” ejek Ashilla. Pandangannya berpindah-pindah dari Gabriel, lalu ke temannya yang paling pendiam yang saat itu berdiri tertunduk di belakangnya.

“Rio, bilang sama mereka tentang hubungan lo sama Ify. Masa mereka nggak percaya kalian udah jadian?” Prissy yang lebih dulu mendekati Rio.

“Tenang, Pris, lebih baik kalian pulang,” jawab Rio tak memuaskan. “Vin, lo bawa mobil, kan?” Alvin mengangguk. “Tolong antar Ify dan Prissy pulang, ya.”

Lagi-lagi Alvin mengangguk.

“Fy, lo pulang sama Alvin, ya, besok gue ke rumah lo.”

Ify tidak menjawab. Dia hanya memandang Rio sekilas sebelum akhirnya melangkah meninggalkan semuanya. Air mata mengalir di pipi tanpa meminta persetujuannya. Hatinya sakit menerima perlakuan Rio.

Lo nggak malu ngakuin gue sebagai istri lo di depan teman-teman lo meski dandanan gue amburadul. Lo bahkan mengusir cewek cantik di bioskop itu demi menjaga kesetiaan lo ke gue. Tapi kenapa giliran dengan Ashilla, lo bahkan nggak menatap gue? Kenapa? Apakah rahasia yang disimpan Zahra itu adalah, lo ternyata pacaran sama Ashilla di sekolah ini? Kenapa lo siksa gue dengan perasaan ini, Yo? Semua pasti ada penjelasannya, kan, Yo?

Dengan perasaan seperti itu Ify menutup mulutnya rapat-rapat. Dia berhenti bicara dengan siapa pun. Gadis itu hanya diam. Prissy-lah yang merasa paling terpukul melihat diamnya Ify.

“Fy, maafin gue, gue nggak bermaksud...”

“Sudahlah, Pris... bukan salah lo. Gue yakin, semua ini pasti ada penjelasannya. Gue akan tunggu Rio, dia berutang penjelasan atas semua ini,” potong Ify pelan. Dia nggak mau Prissy lebih kecewa lagi. Dan dia juga akan pegang janji Rio untuk menjelaskan semua ini nanti. “Yang penting, kalian jangan lupa ngucapin selamat ultah ke gue lusa. Meskipun nggak dirayakan, gue tetep pengen tersenyum di hari ultah gue.”

Prissy dan Alvin berpandang-pandangan. “Tentu, Fy. Dan gue bakal labrak Rio di mana pun dia berada kalau sampai nggak datang lusa. Liat aja, dia belum tahu dengan siapa sebenarnya dia berurusan!” Ify ketawa samar melihat tingkah Prissy.

Terima kasih, kawan-kawan. Paling nggak, gue punya kalian.



@@@@@




Ify masih saja berwajah muram. Seharusnya tadi pagi Rio menjemputnya di sekolah. Tapi sampai Ify akhirnya terlambat pulang pun, Rio belum kelihatan batang hidungnya. Dia bahkan tidak menelepon Ify seperti biasa kalau mereka seharian nggak ketemu.

Tadinya Alvin dan Prissy bersikeras mengajak Ify pulang bareng. Tapi Ify menolak halus. “Sorry, Kawan, hari ini gue bener-bener lagi pengen sendiri,” jawabnya tersenyum pahit.

Alvin dan Prissy berpandang-pandangan, kemudian mengangkat bahu bersamaan. “Fy, lo jangan terlalu sedih. Pokoknya kalo sampai besok Rio nggak kasih kabar, gue nggak peduli lo larang juga, gue tetep mau labrak dia.” Prissy menyingsingkan lengan bajunya geram. Alih-alih seram, dia malah bikin Ify tersenyum geli. Prissy mengeluarkan sebatang cokelat dari tasnya. “Nih, kata nyokap gue, cokelat bisa merangsang perasaan bahagia. Lo boleh abisin sendiri deh.”

“Makasih, Pris.” Dan mereka meninggalkan Ify yang melenggang pulang seorang diri.

Namun Ify bahkan baru ingat kalo punya cokelat setelah dia menemukan dirinya ternyata sendirian dirumah. Hanya ada Mbok Sum yang sedang asyik dengan pekerjaan rumahnya. Ify baru menemukan cokelat itu waktu dia iseng membuka tas sekolahnya. Dia tersenyum sambil menimang cokelat pemberian Prissy itu.

“Lihat, Ayah, bukankah Ify tidak pernah kesepian? Mereka selalu ada buat Ify. Kapan pun, di mana pun. Hingga akhirnya Ify bisa melepas kepergian Ayah untuk kebahagiaan Ayah. Semua itu karena mereka juga,” kata Ify lembut pada bingkai foto yang memuat wajah gagah ayahnya yang mengenakan seragam kebesaran pilot. “Tapi... Ify rindu Ayah...” Diraihnya foto ayahnya dan didekapnya erat-erat. “Ify tahu bunda nggak punya banyak uang untuk merayakan ultah Ify. Tapi paling nggak, Ify ingin semuanya berkumpul hari ini. Juga Rio...” Ify melepas pelukannya, lalu kembali berkata jenaka kepada foto ayahnya, seakan-akan Ayah ada di sana, mendengarkan putrinya berkeluh-kesah. “Dia itu memang nyebelin, kan, Yah? Janji sendiri mau ngasih penjelasan, nggak tahunya hilang entah ke mana. Mana nggak nelepon, lagi. Masa Ify yang mesti nelepon? Gengsi dong!” katanya bersemangat. “Tapi dia baik, Ayah.” Nada suaranya melemah. “Dia bikin Ify nyaman kalo deket sama dia. Ify nggak mau kehilangan dia. Ayah, tolong minta sama Tuhan supaya Rio jangan pernah ninggalin Ify. Terlebih besok, waktu Ify ulang tahun.” Ify menarik napas panjang. “Hhh... Ify bahkan nggak yakin dia tahu ultha Ify.” Ify kembali putus asa. “Sudahlah, Yah, mending Ify di sini sama Ayah ngabisin cokelat. Mumpung Kak Iyel nggak ada, jadi Ify bisa abisin sendiri.” Dia baru akan mencomot sepotong cokelat saat Mbok Su muncul di pintu kamarnya.

“Mbak, Mbak Ify. Tuh Mas Rio-nya sudah datang. Mbak Ify jangan cemberut terus dong,” kata Mbok Sum senang. Ia berharap dapat memandang senyum juragan mudanya lagi setelah lenyap bersama hari-hari Ify tanpa Rio.

“Suruh pulang aja deh, Mbok. Ify lagi males. Bilang aja Ify nggak ada,” jawab Ify seraya memasukkan cokelat ke mulutnya.

“Lho, kok nggak mau nemuin sih? Kan Mas Rio udah jauh-jauh ke sini? Apalagi udah dua hari Mbak Ify nggak ketemu Mas Rio, memangnya nggak kangen?” Mbok Sum mendekati Ify yang meringkuk di tempat tidurnya.

“Bunda ke mana sih, Mbok?” Ify malah balik bertanya.

“Bunda lagi arisan, Mbak.”

“Kak Iyel?”

“Mas Iyel belum pulang kuliah.”

“Kalo gitu Mbok Sum aja yang nemenin Rio. Ify lagi males.”

“Lho, kok malah Mbok sih, Mbak?”

“Udah, pokoknya bilang aja yang Ify bilang.” Sambil berkata begitu, Ify membalikkan tubuh.

Pembantu setengah baya itu menghela napas panjang. Tanpa suara ia meninggalkan kamar Ify.

“Rasain, emang enak dikerjain?” gumam Ify seorang diri. Tapi pada foto ayahnya dia menambahkan, “Ify kok deg-degan ya, Yah? Aduh... mesti ngomong apa nih kalo dia ke sini?” Rasa marah yang kemarin mendera hatinya perlahan terkikis oleh kerinduan yang amat sangat.

Ify masih sibuk dengan pikirannya saat Rio berdiri di ambang pintu kamarnya.

“Males apa marah nih?” tanyanya singkat.

Ify menatap cowok yang sangat dirindukannya itu. “Nggak sopan banget sih, masuk kamar cewek seenaknya!” ucapnya sewot.

“O ya? Lebih nggak sopan lagi nggak mau nemuin tamu yang jauh-jauh datang hanya karena alasan males.” Rio mendekati kekasihnya yang sedang merajuk. Dia seperti sedang menyembunyikan sesuatu di belakang tangannya.

Ify melirik cowok yang sekarang berjongkok di sampingnya dan memandangnya lembut.

“Awas ya, jangan kurang ajar. Atau gue teriak sekarang?!” ancamnya sembari menyiapkan bantal sebagai tameng perlindungan.

“Tuan Putri cantik yang galak, saya kemari mau meminta maaf. Maukah Tuan Putri memaafkan saya?” Rio berlagak seperti pangeran yang melamar putri raja. Dia menyerahkan sekuntum mawar putih kepada Ify.

Ify tak bisa bohong, hatinya berbunga-bunga seindah bunga yang dipersembahkan Rio. Diterimanya mawar putih kesukaannya itu. Tapi rupanya dia tetap jaga gengsi dengan bersikukuh pada sikap galaknya. “Jangan lo pikir gue udah maafin lo, ya. Enak aja!” katanya manyun.

“Gue udah tahu kok lo bakal begini. Makanya gue sengaja siapin surprise buat lo,” Rio berkata tenang.

“Surprise? Buat gue?” Ify mulai tertarik. Jangan-jangan Rio tahu ultah gue, batinnya penasaran.

“Udah dulu marahnya, jelek tahu manyun begitu. Ganti baju, dandan yang cantik, baru gue kasih tahu kejutannya.”

“Serius?”

“He-eh.”

“Nggak bercanda, kan?”

“Nggak. Udah, cepetan ganti baju. Gue tunggu dibawah, oke?” Ify hanya mengangguk. Dia nggak tahu apa yang dimaksud kejutan oleh Rio. Karena itulah dia bergegas mengikuti perintah Rio, supaya bisa segera tahu surprise yang disiapkan kekasihnya itu. Semoga saja bukan kenyataan bahwa Rio ternyata memang pacar Ashilla, batin Ify harap-harap cemas.

Lima belas menit kemudian Ify sudah siap dengan jeans dan kaos fancy kesayangannya. Rambutnya juga sudah disisir rapi. Dia bahkan sudah pamit pada foto ayahnya sebelum akhirnya menemui Rio di ruang tengah.

“Nah, gitu kan cantik,” ucap Rio seraya bangkit dari duduknya. “Yuk berangkat!” Dia melihat jam tangan besar di tangan kanannya. “Kami keluar dulu, Mbok. Tadi Rio udah izin Bunda kok.”

“Iya, hati-hati, ya, Mas, macannya lagi ngamuk,” bisik Mbok Sum sambil melirik Ify.

“Apaan sih?” tanya Ify sewot.

“Nggak, nggak pa-pa,” balas Rio. “Tenang, Mbok, udah ada pawangnya,” bisiknya lagi kepada Mbok Sum yang mengantar mereka sampai pintu depan.

Pembantu paruh baya itu hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala mengantar kepergian majikan mudanya.




BERSAMBUNG.............................

Will You Marry Me? - Part 7

“Vin, Alvin!” suara lembut itu berasal dari belakang mereka.

Alvin, Prissy, dan Ify menengok ke asal suara. Seorang gadis manis melambai ke arah mereka. “ “Sebelah sini! Sini!” panggilnya seraya tersenyum senang.

Ah, selamet gue... bisa bayangin nggak sih, Prissy ngamuk di sini? Bisa mati malu gue. Alvin mengelus dadanya, lalu dengan langkah pasti dihampirinya gadis yang tak lain adalah Zahra itu. Ify dan Prissy mengekor di belakangnya.

“Gue tadinya masih kepikiran, Alvin siapa ya yang nyari gue ke sini. Eh... nggak tahunya Alvin elo. Lo tambah tinggi, ya.” Cewek berperawakan tinggi langsing dengan kacamata minus itu tidak kelihatan seperti gadis sombong lainnya yang berkeliaran di sekitar situ.

“Gue udah deg-degan nih, Zah. Gue kira lo udah berubah kayak mereka.” Alvin memberi kode dengan matanya ke arah pengunjung kantin SMA Teitan. Zahra tertawa pelan. “Lagian lo cepet banget ngenalin gue, gue aja ketakutan setengah mati bakal nggak ngenalin lo. Nggak tahunya...” Alvin memerhatikan Zahra sesaat. “Lo nggak banyak berubah, ya.”

“Nggaklah. Gue masih punya akal sehat kok. Gue juga nyadar, gue beda dengan mereka. Cuma sayang aja kalo beasiswa disia-siain. Dan seragam kalian itu nyolok banget, lain dari yang di sini. Makanya, gue langsung bisa nebak itu elo!” ucap Zahra dibarengi senyum ramahnya. “Oh iya, lo belum ngenalin temen-temen lo...”

“Ah, gue sampai lupa. Ini Ify...” Ditunjuknya Ify yang tersenyum ayu.

Zahra mengulurkan tangannya pada Ify sembari menyebut nama. “Dan ini Prissy, cewek gue.” Kembali Zahra mengulurkan tangan dan menyebut namanya.

“Oke, terus ada apa nih, sampai rame-rame ke sini? Pasti penting banget deh,” sambung Zahra setelah memesankan minum untuk para tamunya. Mereka duduk di tenda payung tempat Zahra menunggu kedatangan mereka.

“Ya mungkin buat lo nggak penting. Tapi buat temen gue ini,” Alvin melirik Ify, “sangat penting”

Sesaat Zahra memandang Ify, tapi kemudian tersenyum.

“Hmm..., oke, gue dengerin,” katanya singkat.

“Temen gue nih lagi deket sama seseorang yang misterius. Satu-satunya informasi tentang orang ini adalah dia sekolah di SMA Teitan kelas tiga. Terus gue ingat lo, dan mau tanya tentang orang ini. Yah, siapa tahu aja lo kenal dia.”

“Hmm... siapa namanya?” ucap Zahra sambil menyeruput es jeruknya.

“Rio.”

“Uhuk, uhuk!” Zahra tiba-tiba tersedak minumnya sendiri. Tapi sesaat kemudian dia menyeruput es jeruknya sekali lagi. “Uhuk..., sorry. Uhuk...” dan akhirnya batuknya berhenti juga.

“Zah, lo nggak pa-pa, kan?” tanya Ify khawatir. Zahra tersenyum dan menggeleng.

“Nggak pa-pa kok. Cuma surprise aja denger nama orang yang lagi deket ama elo itu, Fy,” jawab Zahra kemudian. Sisa batuknya sudah hilang.

“Memangnya kenapa, Zah?” Ify mengerutkan kening, seperti kebiasaan Prissy kalo lagi penasaran.

“Karena cowok yang lo maksud itu public figure di sekolah ini.”

“Hah? Maksudnya?” Jantung Ify berdebar cepat. Dia bersiap-siap mendengar jawaban apa pun yang bakal terlontar dari bibir Zahra.

“Dia itu ketuanya ketua murid di sekolah ini. Dia disegani semua siswa di sini karena wibawanya. Guru-guru juga sayang sama dia karena kepandaiannya, cewek-cewek mengaguminya karena ketampanannya. Bahkan petugas di sini menghormatinya karena keramahannya.”

Demi Tuhan yang menciptakan dunia dan seisinya, Ify sampai nggak bisa ngomong apa-apa mendengar penjelasan Zahra.

“Padahal dulu dia sama sekali tidak menyenangkan. Sifatnya kasar dan suka menindas yang lemah. Lebih mirip dengan preman daripada pelajar. Tapi, suatu ketika dia melakukan kesalahan fatal sehingga dia tinggal kelas. Sejak itulah dia berubah. Bahkan orang-orang yang dulu membencinya kini mendirikan fans club untuknya. Dan kebanyakan para fans berat itu malah menyalahkan orangtua... Rio...” Zahra memelankan suaranya saat menyebut nama Rio.

“Menurut mereka, Rio terjerumus karena kurang kasih sayang.” Cewek berambut gelombang yang dikuncir kuda ini menghela napas panjang. Dia tersenyum sebelum kembali bercerita, “Bagaimanapun dia sekarang berubah. Dan semua berbalik memujanya. Dia dianugerahi jabatan sebagai ketua inti. Gue sendiri heran, kekuatan apa sih yang mampu mengubahnya sampai seperti ini? Menjadi pribadi yang bertolak belakang dengan pribadinya semula. Apa pun bentuk kekuatan itu, pasti sangat kuat dan indah.” Zahra kembali tersenyum.

Ify memandang Zahra tanpa sanggup berkata-kata. Dia menelan ludah. “Lo yakin nggak salah orang, Zah?” tanyanya ragu.

Zahra menggeleng pelan. “Hanya ada satu Rio di sekolah ini. Dan gue yakin banget Rio yang gue ceritakan inilah yang lo maksud.”

“Kok lo bisa seyakin itu?” Ify kembali mengerutkan dahi.

Zahra tersenyum. Sesaat ditatapnya Ify lekat-lekat. “Rio pernah bilang ke gue, ada seorang bidadari yang telah mengubahnya, bidadari mungil yang akan disayanginya seumur hidup. Dan beruntung sekali gue, karena hari ini gue bertemu bidadari yang diceritakan Rio.”

“Maksud lo Ify?” tanya Prissy yang sedari tadi terdiam. Zahra menjawabnya dengan anggukan kepala.

“Jadi, lo ini sebenarnya sohibnya Rio, ya?” tanya Alvin.

“Bukan,” sahut Zahra singkat. Dia kemudian menjelaskan, “Buat mereka, gue ini Cuma orang yang numpang lewat.” Mata Zahra beredar ke sekeliling kantin sekolah. “Apalagi gue pernah bermasalah dengan Ashilla, cewek sombong sok berkuasa di sekolah. Yah, itu lain cerita.” Zahra kembali ke inti cerita. “Sedangkan Rio itu milik mereka yang berharga, terutama bagi para senior kelas tiga. Gue Cuma seseorang yang penasaran dengan perubahan Rio. Dan lo tau banget kan, Vin, gue paling nggak bisa tersiksa sama rasa penasaran.”

Alvin mengangguk. Seingatnya, Zahra memang cewek yang nggak pernah puas dengan jawaban. Dan dia bisa sangat pemberani dalam memuaskan rasa ingin tahunya itu. Mengingatkannya pada Prissy.

“Itulah, akhirnya gue nekat tanya Rio. Tadinya gue kira dia bakal marah dan ngusir gue, nggak taunya, dia malah cerita tentang bidadarinya. Beruntung banget gue.” Zahra tersenyum.

Bukan hanya perasaan bangga yang memenuhi hati Ify demi mendengar semua itu, tapi perasaan minder juga tiba-tiba menyiksanya dengan sangat.

Gue? Bidadarinya? Kenapa? Padahal dia nggak kenal gue. Atau gue yang nggak kenal dia..... Tapi mana mungkin gue sih?! Berbagai pertanyaan berputar di kepala Ify.

“Fy, lo beruntung bisa jadi bidadari Rio. Tapi inget, lo mesti ati-ati sama yang namanya Ashilla. Dia sudah seperti penguasa Rio aja. Apalagi dia... dia... Ah, nggak usahlah gue kasih tahu. Biar Rio sendiri nanti yang menjelaskan ke elo.”

“Apa sih, Zah? Gue jadi penasaran nih...” Prissy merengek meminta penjelasan. Tapi sepertinya Zahra kekeuh dengan pendiriannya. Dia bangkit dari duduknya.

“Maaf ya, gue nggak berhak bicara apa pun tentang hal itu. Yang jelas, ati-ati. Jangan sampai kayak gue, hanya karena gue negur dia gara-gara menindas adik kelas, dia langsung ngomong macam-macam tentang gue, jadi... lo bisa lihat sendiri, kan, gue terkucil di sini. Makanya gue seneng banget dengan kunjungan kalian.” Zahra melihat jam tangannya. “Aduh, kayaknya gue nggak bisa lama-lama nih. Gue ada ekstra wajib,” katanya seraya bangkit berdiri. “Kalian bisa nunggu Rio di sini kalo mau. Tapi sorry, gue nggak bisa nemenin.”

Ify, Prissy, dan Alvin ikut berdiri.

“Nggak deh, kita pulang aja. Risih, tau, dipelototin temen-temen borju lo!” jawab Prissy cepat.

“Ha... ha... bisa aja lo!” Zahra ketawa lepas.

“Thanks banget infonya, ya, Zah,” kata Ify.

“Sorry udah ganggu waktu break lo,” sambung Alvin.

Zahra tersenyum. “Nggak usah sungkan, gue seneng kok. Kapan-kapan main ke sini lagi, ya.” Diulurkannya tangannya ke Alvin dan dua teman barunya. “Sorry gue bener-bener harus pergi sekarang. Hati-hati ya pulangnya.” Zahra tersenyum sekali lagi.

“Kita pulang yuk,” ajak Ify tak lama kemudian.

“Iya nih, gue jadi kasihan ama Zahra. Apa enaknya sekolah bagus tapi hati merana?” Prissy mengedarkan pandangan ke gerombolan siswa di kantin itu.

“Zahra sih orangnya tegar, jadi bukan masalah besar baginya kalaupun dikucilkan seluruh sekolah. Udah, ayo pergi,” kata Alvin. Namun baru saja mereka akan melangkah, sebuah suara tak mengenakkan terdengar.

“Hei, tikus-tikus got!”

Ify, Alvin, dan Prissy mengurungkan langkah dan menengok ke asal suara.

“Iya! Kalian bertiga!” seorang gadis tinggi langsing berkulit putih bersih dan berambut panjang yang dibiarkan tergerai di bahu melangkah mendekati mereka diikuti segerombolah cewek cantik.

“Sial, siapa lo? Ngomong pake aturan dong!”

Dasar Prissy, dia langsung emosi begitu tahu merekalah yang dimaksud dengan tikus got.

“Wah, wah... ternyata ada satu yang bisa mencicit,” ucap cewek itu dengan suara tinggi yang jahat.

“Habisi aja, Ashilla!” ujar salah seorang teman cewek angkuh yang ternyata bernama Ashilla.

“Hm... jelas banget bakal gue habisi. Tapi sebelum itu rasanya kita perlu melaporkan tukang kebun kita ke Kepala Sekolah. Dia kebobolan dengan masuknya tikus-tikus ini ke sekolah kita.” Ashilla melipat tangannya di dada. Tawa melengking para pengikutnya menyakitkan telinga.

“O... jadi lo yang namanya Ashilla?!” ucap Prissy manggut-manggut sambil memerhatikan cewek angkuh itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. “Lumayan,” lanjutnya. Pipi Ashilla yang putih kontan memerah. “Tapi untuk ukuran Rio, lo nggak ada apa-apanya dibanding Ify. Setidaknya, Ify lebih beradab.”

Demi mendengar nama Rio disebut, kemarahan Ashilla maki meluap. Matanya yang indah membelalak menakutkan. “Jadi lo ke sini sama kelompok kumel lo itu, dan berkomplot dengan si sok pintar Zahra, untuk mencari tahu soal Rio? Dasar tikus-tikus nggak tahu diuntung.” Dihampirinya Prissy yang berdiri tegak tanpa rasa takut sedikit pun. Prissy sama sekali nggak memedulikan desakan Alvin dan Ify untuk segera pergi dari tempat itu. “Tadinya gue Cuma kepingin ngerjain temennya si sok pinter yang sama kumuhnya dengan dia. Nggak tahunya gue malah dapet mangsa yang tepat.” tambah Ashilla. Dia berdiri tepat di depan Prissy yang dua senti lebih pendek darinya.

“Memangnya kenapa? Lo takut ya? Terlambat, lo udah kecolongan sejak lama, Nona Besar.” Prissy jelas nggak mau kalah dengan gadis paling menyebalkan yang pernah ditemuinya itu.

“Heh, lo ngaca dulu dong sebelum masuk sini. Untuk satpam sini aja tampang kayak kalian nggak layak, ee... masih nekat mau mencuri keju terbaik kami yang bermerek Rio, lagi. asal lo tahu ya, Rio itu punya gue! Nggak ada yang boleh ngambil dia dari gue! Apalagi tikus kotor kayak lo. Ngerti?!”

Prissy sudah kehabisan kesabaran, di....................






BERSAMBUNG.........

Will You Marry Me? - Part 6

“Tunggu-tunggu, gue tahu.” Pernyataan Alvin membuat dua cewek di depannya mengalihkan pandangan kepadanya. “Kalo nggak salah nih, SMA Teitan tuh sekolah swasta internasional. Bahkan mulai kelas dua, bahasa pengantarnya bahasa Inggris.”

“Serius lo, Vin?” Ify dan Prissy berkata serempak.

“More than serious,” jawab Alvin sok ke-Inggris-inggrisan. Padahal pelajaran bahasa Inggris-nya nggak ada yang dapat enam, hampir selalu lima.

“Jangan sok deh, Vin. Ntar ternyata itu Cuma khayalan lo aja, lagi,” komentar Prissy.

“E... dengerin dulu!” Cowok berpotongan rambut bros itu mencoba tetap tenang. “Gue tuh ngomong gini karena ada teman SMP gue yang juga sekolah di sana.”

Ify dan Prissy bertukar pandang, tapi keduanya sepakat untuk mendengarkan penjelasan Alvin.

“Namanya Zahra. Dia murid teladan di SMP gue dulu. Terus, pas penjaringan beasiswa, dia lolos dan berhak masuk SMA Teitan,” Alvin mulai cerita. “Waktu itu gue sempat penasaran, kayak gimana sih yang namanya SMA Teitan. Gue juga baru denger. Dari situ gue akhirnya tanya-tanya ke Zahra, dan dia jelasin dengan gamblang.”

“SMA Teitan tuh bertaraf internasional. Mulai kelas dua, bahasa pengantarnya bahasa Inggris. SMA ini impian gue sejak lama. Soalnya kalo gue bisa mempertahankan beasiswa gue sampai kelas tiga, gue punya peluang dapat beasiswa ke luar negeri. Begitu lulus gue langsung bisa kerja di tempat yang udah ditunjuk sekolah.”

“Sehebat itu? Pastinya sekolahnya bonafide abis, ya?” tanya Alvin waktu itu.

“Gue pernah ke sana sekali, pas ujian beasiswa. Dan gue nggak pernah bayangin ada sekolah sebesar itu di kota kita. Fasilitasnya lebih dari komplet. Kelasnya luas dan ber-AC, dengan layar proyektor sebagai pengganti papan tulis. Perpustakaan dengan sistem komputer, dan berjuta buku berderet rapi di rak-rak yang besar dan panjang. Ada loker-loker pribadi untuk siswa, sampai kolam renang dan lapangan tenis juga ada. Pokoknya superlengkap deh.” (kayak sekolah Zahra yg asli ya? Di Binus wkwk)

“Yang bener, Vin? Kok gue bisa sampai nggak tau ada sekolah sebonafide itu dikota ini?!” Ify tampak nggak percaya.

“Itu saking bonafidenya tuh sekolah. Dan juga karena penghuninya tertutup terhadap dunia luar,” terang Alvin.

“Maksudnya?” Prissy lagi-lagi mengerutkan dahi.

“Mayoritas yang sekolah di sana kaum borjuis, makanya Cuma masyarakat kelas atas yang tau tentang sekolah itu.”

“Wah, itu berarti Rio borjuis dong?”Prissy berkata sambil menyenggol lengan Ify jail. Sementara yang disenggol Cuma balas memandang tanpa ekspresi.

“Belum tentu juga sih. Soalnya setahu gue, Zahra tuh bukan dari keluarga borju. Ayahnya aja satpam swalayan. Cuma... otaknya encer,” Alvin kembali menjelaskan. Dia merasa istimewa hari itu, soalnya semua keterangan berasal dari dirinya.

“Kalo begitu bisa disimpulkan, manusia yang sekolah di SMA Teitan ada dua golongan, kaum borjuis dan kaum intelektual, alias, manusia supercerdas.” Kesimpulan Prissy mendapat acungan jempol dari kekasihnya itu. (berharap Alvin sm Prissy kaya gini *eh)

“Seratus untuk my dear,” katanya sambil mengerling kekasihnya. “Dan percayalah, manusia supercerdas kayak Zahra, misalnya, harus terus mempertahankan prestasinya. Soalnya, tanpa beasiswa, bahkan kita sekalipun nggak bakal sanggup membayar uang sekolahnya,” tambah Alvin.

“Wah, terus gimana caranya kita nyelidikin Rio? Masa sih kita mesti ke sekolahnya yang kata lo tertutup itu? Atau, kita tanya temen lo aja? Siapa tadi namanya? Zahra?”

“Iya Cinta, Zahra namanya. Sayangnya... gue udah kehilangan jejak dia.” Mendengar itu semangat Prissy dan Ify langsung surut.

“Sama juga boong dong!” gumam Ify.

“Eh, tunggu, tunggu. Kenapa kita nggak ke sana aja?” kata Prissy tiba-tiba.

“Ke sana? Ke mana?” tanya Alvin linglung.

“Ya ke SMA Teitan lah. Ke mana lagi? Pasar?!” Wajah Prissy kembali bersemangat.

“Ha... lo gila ya?” Alvin teriak spontan.

“Emangnya kenapa? Kita kan bisa tanya sama siapa kek kalo kita lagi cari Zahra.”

“Lo kira SMA Teitan itu kecil, sampai lo bisa tanya ke sembarang orang kalo lo lagi nyari Zahra? Emang Zahra selebriti sampai semua orang kenal? Belum lagi kalo si Zahra udah pulang, bisa jadi topeng monyet kita. Lagian, emang lo tau di mana SMA Teitan?” protes Alvin abis-abisan.

“Kirain lo tau di mana letaknya SMA Teitan!” Prissy kembali terdiam, berpikir.

“Teman-teman,” suara Ify tiba-tibe terdengar ragu. “Apa sebaiknya rencana ini kita urungkan aja? Perasaaan gue nggak enak nih. Lagian lusa kan ultah gue. Walaupun nggak ada perayaan spesial, gue nggak mau denger berita buruk di sweet seventeen gue. Gue udah puas kok dengan Rio yang sekarang,” tambahnya lirih.

“Ah, kenapa kita nggak tanya Kak Iyel aja?” Prissy menjentikkan kedua jarinya dan bangkit menuju kamar Gabriel tanpa memedulikan keluh-kesah Ify.

“Fy...” Alvin kelihatan bingung harus bagaimana, karena dia tahu kegalauan jelas tergambar di mata Ify.

Namun Ify hanya tersenyum sambil berkata lirih, “Nggak papa, Vin. Kita ikutin Prissy aja yuk.”

Tanpa dikomando lagi mereka pun beranjak mengikuti Prissy.

“Apaan sih lo, senyum-senyum sendiri? Lupa minum obat, ya?” suara Gabriel terdengar cukup jelas dari balik pintu tempat Ify dan Alvin berdiri.

“Yah... Kakak. Prissy kan senyum khusus buat Kakak, kok malah dikira lupa minum obat sih?” Prissy merayu Gabriel yang sedang sibuk dengan tugas kuliahnya.

“Heh... nggak usah basa-basi deh, bilang aja lo mau apa, gue lagi sibuk nih.”

“Kakak tau aja!” Prissy tersenyum senang. “Gini, Kak, sebenarnya yang mau tanya tuh Ify. Tapi dia malu, Kak.” Untung Prissy tidak melihat pelototan Ify di balim pintu, jadi dia bisa meneruskan sandiwaranya. “Ify mau ketemu Rio, Kak, ada hal penting yang mesti diomongin. Tapi HP-nya nggak aktif, padahal Rio udah bilang nggak bisa ke sini dua hari ini. kak Iyel punya nggak nomor telepon rumahnya?” pancing Prissy cerdik.

“Nggak, gue nggak tahu nomor telepon rumahnya,” jawab Gabriel masih sibuk.

“Yah... terus gimana dong? Padahal penting banget nih, Kak.” Prissy pura-pura kebingungan.

“Cari aja di sekolahnya,” sahut Gabriel singkat.

“Wah, bener juga ya, Kak.” Prissy melonjak senang seakan baru saja mendapat masukan yang brilian. Padahal semua sudah direncanakan. “Kakak memang jenius. Tapi... kita kan nggak tahu di mana SMA Teitan, Kak.” Prissy tertunduk lesu, walau diam-diam melirik, penasaran dengan reaksi Gabriel selanjutnya.

Gabriel memutar kursi belajarnya menghadap ke Prissy. “Kalo kampus gue, lo tahu nggak?”

“He-eh.” Prissy mengangguk penuh semangat. “Emang deket ya, sama kampus Kak Iyel?” Prissy balik bertanya.

“Yah... paling...” Gabriel mengira-ngira sebentar. “Seratus meteranlah dari kampus gue,” jelasnya.

“Trus gimana caranya nyari Rio, Kak? Masa mesti tanya sama semua orang? Kan nggak lucu.”

“Heh, di SMA lo aja ada pos satpamnya, apalagi di SMA Teitan. Di sana pos satpamnya dilengkapi komputer yang memuat data seluruh warganya. Jadi kalo ada tamu mereka tinggal mencari data orang yang dicari dan mengumumkan lewat interkom, di ruangan mana orang itu berada. Kalo nggak ada tanggapan, baru mereka mengumumkan ke ruang umum, seperti kantin, perpustakaan, taman sekolah, atau ruang ekstrakurikuler,” jelas Gabriel panjang-lebar.

“Darimana kita tahu orang yang kita cari ada di tempat apa nggak?” Prissy masih belum puas dengan info yang didengarnya.

“Jelas tahu dong!” Beruntung Gabriel sabar menghadapi teman adiknya yang cerewet ini. “Siapa aja yang merasa namanya dipanggil, wajib menjawab panggilan lewat interkom yang tersedia di seluruh ruangan di SMA Teitan. Dan mereka boleh menentukan mau bertemu di mana dengan tamu mereka. Nah, kalo dalam sepuluh menit nggak ada respons, berarti orang yang dicari nggak ada, atau bisa jadi nggak mau ketemu. Tapi kelas tiga kayaknya ada kelas sore, jadi Rio paling pulangnya maghrib.”

“Wah, Kak Iyel serbatahu, ya. Jangan-jangan Kak Iyel sering kencan sama Rio disekolahnya, lagi,” goda Prissy puas.

“Enak aja, gue masih normal, tau. Ngapain cari-cari Rio? Mending gue nyamperin Siv... eh... udah deh, sana, sana, gue masih banyak tugas nih!” potong Gabriel tersipu, cepat-cepat dia memutar kursinya ke posisi semula untuk menutupi wajahnya yang merah.

“Siv.. Siv siapa, Kak?” goda Prissy usil. Serta-merta Gabriel meliriknya supertajam, membuat Prissy mundur perlahan-lahan dari hadapan cowok sok cuek yang baik hati itu. “Makasih, Kak,” ucapnya seraya tersenyum terpaksa. Dan menambahi, “Besok kita sampein salam Kakak buat Siv deh...” godanya, begitu aman di balik pintu.

Gabriel hanya bisa teriak sebal dari tempatnya duduk. “Prissy... awas lo ya...”

“He... he... dapat!” ujar Prissy kepada dua manusia yang memandangnya terperangah, tak percaya dengan apa yang telah dilakukannya. “Apaan sih? Besok kita tinggal berangkat. Kalian dengar sendiri kan penjelasan Kak Iyel.”

“Tapi, Pris... Ify...” Alvin melirik sekilas sahabatnya yang diikuti tatapan penasaran Prissy.

Ify memandang kedua sahabatnya bergantian, lalu tersenyum. “Gue mau kedudukan gue dan Rio seimbang. Dia tau soal gue, gue juga harus tau siapa dia.”

“Artinya...”

“Kita berangkat!” kata Ify yakin.

“Yes!” Prissy bersorak kegirangan. “Itu baru sohib gue,” tambahnya seraya merangkul Ify. “Oke, selanjutnya kita susun rencana ke SMA Teitan.” Dasar Prissy, dia memang paling getol urusan beginian.



@@@@@



“TARAAAA...! Tibalah saat penyelidikan...!!!” teriak Prissy yang tampak begitu bersemangat siang itu. Sepanjang jam pelajaran dia udah nggak konsen, sampai-sampai dia ditegur beberapa guru karena cengengesan sendiri.

Prissy memang begitu, paling suka sama yang namanya teka-teki. Makanya jangan heran kalo Prissy-lah yang paling bersemangat dengan rencana penyelidikan hari ini.

Alvin Cuma geleng-geleng melihat tingkah pujaan hatinya, sementara seharian itu Ify tiba-tiba jadi gadis pendiam.

“Fy, kalo lo emang nggak yakin, mending lo nggak usah ikut aja. Biar gue sama Prissy aja yang maju. Lo terima beres aja. Gimana?” Alvin jadi khawatirmelihat kondisi teman mungilnya. Tapi dia juga nggak tega kalau rencana ini harus batal. Siapa coba yang tega melihat kekasih hati kecewa lantaran rencananya batal dilaksanakan?

“Makasih, Vin. Tapi gue lebih suka tau sendiri daripada denger dari orang lain. Jadi, maaf aja kalo gue harus ganggu acara kalian berdua.” Alvin tersenyum mendengarnya.

Semoga ini bisa jadi awal yang indah buat lo, Fy, batinnya.

Mereka berangkat dengan mobil bokap Alvin. Dan berkat petunjuk Gabriel, akhirnya mereka sampai juga di depan gedung megah dengan plakat besar bertuliskan SMA TEITAN INTERNASIOANAL.

“Gila, ini sekolah apa hotel?” ucap Prissy kagum.

“Lo nggak salah berhenti, kan, Vin?” akhirnya suara Ify terdengar juga setelah sekian lama hilang ditelan keraguannya sendiri.

“Kata Kak Iyel, jam segini harusnya mereka sudah pulang. Kecuali yang ikut kelas sore dan ekstrakulikuler,” kata Prissy.

“Jadi Rio belum pulang, ya?” tanya Ify setengah melamun.

Prissy angkat bahu. “Kenapa lo nggak tanya langsung aja ke dia? Kan elo pacarnya, bukan gue.”

“Sial!” Ify mencubit Prissy. Paling tidak, candaan Prissy membuatnya lebih santai.

“Hei, jadi nggak nih?” tanya Alvin. “Tuh, pos satpamnya di sana.”

“Oke, kita beraksi sekarang. Kita coba tanyakan apa temen lo yang namanya Zahra itu ada dan mau ketemuan ama kita apa nggak. Baru setelah itu kita korek keterangan dari dia,” Prissy memberi komando.

“Kenapa kita nggak tanya langsung aja ke Pak Satpam tentang Rio?” tanya Ify, masih belum yakin juga dengan keputusannya datang ke sekolah elite yang baginya terlihat menakutkan daripada kesan mewah yang ditampilkan bangunan itu.

“Bisa aja sih, tapi paling kita Cuma dikasih tahu di mana kelasnya dan akan dihubungkan sama dia. Mau ketahuan sebelum dapat info apa-apa?” timpal Prissy santai.

Ify dan Alvin menggeleng bersamaan.

“Ya udh, tunggu apa lagi? Ayo, masuk.” Tanpa menunggu Prissy berkata dua klai, mereka langsung bergerak.

Baru sampai di pos satpam, mereka sudah melongo nggak percaya. Ruangan itu tampak sangat besar dan luas. Ada beberapa satpam perempuan di depan komputer, dan satpam laki-laki di layanan tamu. Persis yang digambarkan Gabriel.

Alvin yang kejatuhan tugas bertanya tentang Zahra. Satpam di depan komputer langsung sibuk dengan data-datanya, sebelum akhirnya menjawab, “Nona Zahra Damariva, kelas II BAHASA B. Anda mau menemuinya di mana?”

“Kalo di sini bisa?” tanya Alvin.

“Tunggu sebentar.” Pak Satpam mengangkat pesawat telepon. Sesaat dia berbicara dengan seseorang. “Maaf, nama Anda?” tanyanya pada Alvin tanpa menutup telepon.

“Alvin, Alvin Jonathan Sindunata.”

Satpam itu kembali berkutat dengan teleponnya. Beberapa menit kemudian dia menutup gagang telepon dan kembali berjalan ke arah Alvin yang berdiri di depan posnya.

“Anda diminta ke kantin,” katanya. Kemudian ditunjukkannya arah menuju kantin.

“Terima kasih ya, Pak. Selamat siang.” Alvin segera mengajak Prissy dan Ify masuk ke pintu gerbang superbesar.

“Vin, temen lo itu nunggu dimana?” Ify berjalan menjejeri Alvin di sebelah kirinya.

“Kantin.”

“Lo yakin tau tempatnya?” Prissy yang juga menjejeri langkah Alvin di sebelah kanan, tampak menengok ke kanan-kiri. Koridor sekolah penuh loker. Dia bahkan menyempatkan diri melongok ke satu ruang kelas yang kosong dan terpukau beberapa saat. Kalau Alvin tidak berinisiatif menariknya, Prissy pasti tetap nyangkut di kelas itu.

“Gila, sama persis dengan yang digambarkan temen lo itu, Vin. Tapi dia lupa bilang kalo kursinya sistem individu. Kayak ruang kuliahan aja. Kerenan ini, malah. Kelasnya dingin ya.” Prissy tak henti-hentinya berdecak kagum.

Alvin dan Ify nggak bisa lagi menahan keingintahuan dan kekagumam Prissy. Terus terang, mereka pun sama kagumnya.

Makanya pas Prissy lagi-lagi melongok ke ruangan bertuliskan LIBRARY, baik Ify maupun Alvin ikut-ikutan takjub. “Temen lo pinter banget mendeskripsikan yang dilihatnya,” kata Prissy saat melihat perpustakaan dengan mata kepalanya sendiri.

“Hei, bukannya kantin di sebelah sana?” Ify menunjuk kerumunan anak yang mengenakan seragam sama seperti yang dipakai Rio. Alvin dan Prissy memandang arah yang ditunjuk Ify.

“Bukan, Fy, tapi di belakangnya. Yang lo tunjuk itu taman sekolah,” ujar Alvin. Tempat itu sangat luas dan dipenuhi pepohonan rindang dan teduh yang dilengkapi bangku-bangku panjang yang kelihatannya memang disediakan untuk beristirahat.

Tak jauh dari taman itu tampak gubuk-gubuk berpayung besar yang ternyata konter-konter yang menawarkan berbagai hidangan mulai dari makanan asli Indonesia sampai yang berasal dari negeri Paman Sam.

Iiihh, jadi berasa di mal deh, pikir Prissy.

Mereka baru tersadar telah menjadi pusat perhatian saat Alvin menyenggol tangan mereka. Tatapan meremehkan membuat mereka tertunduk.

“Ada alien kesasar nih!” celetuk seseorang.

“Jangan-jangan mereka lagi nyari sumbangan. Harus ada yang ngasih tau tuh, di sini sekolahan, bukan perusahaan,” sambung yang lain.

Tiga sahabat itu hanya bisa terdiam. Ify, yang paling kelihatan minder, berbisik pelan ke Alvin, “Vin, temen lo mana sih?”

“Iya, mana sih temen lo? Dan sebaiknya dia ramah ya, atau gue bakal ngamuk di sini!” tambah Prissy sambil ikutan berbisik.

Alvin tak berani menjawab. Dia sendiri ragu apakah Zahra yang sekarang sama dengan Zahra yang dulu dikenalnya. Bahkan seorang yang ramah pun bisa berubah total menjadi sombong dan nggak pedulian kalau berada di lingkungan kayak begini.

“Vin, Alvin!” suara itu berasal dari belakang mereka.





BERSAMBUNG..................

Will You Marry Me? - Part 5

Strategi kedua. Sabtu, jam 19.15


“Udah deh, Pris. Gue masih nggak enak nih sama peristiwa Selasa kemarin. Masa sih kita mau ngerjain dia lagi?” Ify terus aja protes saat Prissy mendandaninya dengan dandanan yang amat sangat urakan dan norak.

“Lo tenang aja deh, Fy, ini strategi kedua sekaligus ketiga dan terakhir. Kalo dia berhasil melewati strategi ini, berarti dia benar-benar cinta mati sama lo. Setelah itu, gue nggak ikut campur lagi.”

“Iya, tapi dengan dandanan kayak gini ke bioskop? Bareng temen-temen Rio pula. Yang bener aja dong, Pris.”

“Iya, Pris, kayaknya lo kali ini keterlaluan deh. Tanpa hal seperti ini pun gue yakin kok, Rio tuh serius sama Ify,” Alvin ikut berkomentar.

Prissy mengerutkan dahi. “Oh ya? Dari mana lo tahu? Tatapannya? Naif banget sih lo, Vin.”

“Bukan, tapi dari kata-katanya. Asal lo tahu, waktu kita di mal Selasa kemarin, Rio bilang ke gue...

“’Lo tahu nggak, Vin, gue akan lakukan apa pun untuk membuat bidadari gue tetap tersenyum. Berapa pun uang yang harus gue keluarkan, sebesar apa pun pengorbanan yang diminta untuk mewujudkannya akan gue lakukan...’

“Kalo lo jadi gue, apa lo nggak bakal percaya, Pris?”

Prissy sempat melongo mendengar penjelasan Alvin. Sebenarnya, tanpa Alvin menceritakan itu pun, Prissy sudah percaya Rio serius. “Gue tahu, tapi please, sekali ini aja... setelah itu akan gue serahkan sobat gue ke dia kalo emang terbukti dia cinta mati sama Ify.” Alvin tersenyum mendengarnya. Dia tahu banget, Prissy yang anak tunggal sangat menyayangi Ify seperti adiknya sendiri, dan dia nggak bakal menyerahkan adiknya ke sembarang orang.

Ify seperti berperang dengan hatinya sendiri. Sejak peristiwa di mal itu... Sejak Rio menyanjungnya dengan kata bidadari... Sejak itu perasaannya pada Rio mulai berubah. Ify mulai membuka hatinya dan membiarkan Rio membelai-belai hati itu dengan kasih sayangnya yang tak pernah pupus.

Terus Alvin mengatakan hal yang baik tentang Rio, lagi. Rasanya semua kebencian dan keraguan sirna begitu saja. Tapi ada satu yang masih mengganjal hati Ify, Apakah semua ini akan abadi selamanya? Apakah Rio bisa menerima dirinya bagaimanapun rupanya? Apakah Rio nggak malu memperkenalkannya kepada teman-temannya? Untuk itulah Ify harus rela didandani supernorak oleh Prissy.

Kalo lo lulus malam ini, Tuan Kurang Ajar, gue akan serahkan hati gue ke elo sepenuhnya.



@@@@@



19.20


Rio menjemput Ify di rumah Prissy.

“Eh... hai, Yo. Mau berangkat? Oke, gue panggilin pasangan lo ya. Ify...!” teriak Prissy.

Ify muncul. Rok mini yang dikenakannya membuatnya nggak nyaman. Ditambah tank top dan jaket jeans belel plus sisiran awut-awutan. Pokoknya dandanan Gotik yang seru punya. Rio memerhatikannya sejenak.

“Hmm... lo cocok juga dandan begini,” komentarnya.

Ify memandang Prissy dan Alvin bergantian.

“Ya udah. Yuk, berangkat. Pris, Vin, kali ini pakai mobil gue aja ya. Bukannya sok, Cuma kasihan Ify kalo pulangnya mesti kedinginan.” Prissy dan Alvin mengangguk bersamaan.

Mereka pun berangkat ke Twenty One. Di sana temen-temen Rio sudah menunggu. Mereka benar-benar surprise melihat dandanan Ify. Tapi toh tak satu pun yang berani berkomentar.

Herannya Rio dengan santai memperkenalkan Ify pada teman-temannya tanpa memedulikan pendapat mereka. “Ini calon istri gue, man,” katanya pada setiap temannya.

“Dia lulus ujian Strategi Dua,” bisik Prissy. “Tapi lihat, Strategi Tiga ada di sana.” Prissy menunjuk seorang gadis bertubuh indah dan seksi. “Dia temen gue. Habis ini Rio pasti beli snack dan cewek itu akan menggodanya. Dan lo bisa denger dari sini percakapan mereka,” Prissy masih berbisik. Ditunjukkannya HP-nya yang tersambung dengan HP cewek seksi itu.

“Hei, gue beli snack dulu ya,” pamit Rio pada teman-temannya. “Fy, lo pengen apa?” tawarnya pada Ify.

“Apa aja deh,” jawab Ify singkat. Dan Rio pun meninggalkannya di lobby bioskop.

“Oke, lo jangan liat ke arah Rio, ya. Bisa curiga dia,” kata Prissy memperingatkan. Ify hanya mengangguk. “Lebih amannya kita ke toilet aja yuk...” Lagi-lagi Ify hanya mengangguk. Mereka pun pergi ke toilet.

“Halo, cowok...” HP Prissy mulai bereaksi.

“Ya...”

“Mm... mau nonton film apa nih?”

“Kenapa memangnya?”

“Nggak, kok sendirian?”

“Lo salah. Gue sama pacar gue kok.”

“Mm..., cewek norak yang di sebelah kamu tadi ya? Kamu serius mau pacaran dengannya?”

“Sorry, lo udah keterlaluan. Seperti apa pun dandanannya, dia pacar gue. Perlu lo tahu, gue nggak hanya cinta fisiknya, tapi lebih karena hatinya. Gue bahkan sudah mencintainya sebelum gue ketemu dia. Lo nggak berhak ngomentarin dandanannya. Ngerti?!” Ada jeda sebentar. “Bagus.”

Adegan itu pun berakhir. Ify menangis sekarang. Menangis saking terharunya. Rio nggak perlu membuktikan apa-apa lagi padanya. Tak ada lagi yang mengganjal hatinya.

“Pris, dandanin gue kayak biasanya, ya? Lo bawain baju ganti buat gue, kan?”

Prissy tersenyum, lalu mengangguk.

Gue rela ngelepas lo buat orang seperti Rio, Fy. Semoga kebahagiaan selalu bersama lo, doa Prissy dalam hati.

Dan bisa dibayangkan dong, apa yang terjadi saat Ify keluar dari toilet dengan dandanan kebanggaannya: kaus dan jeans ⅞ ditambah make-up sangat minimalis yang justru menapilkan aura kecantikan Ify yang sesungguhnya. Pokoknya manis dan imut abis.

Sampai-sampai Rio bilang, “Lo tuh memang punya seribu wajah cantik yang gue kagumi, tapi wajah lo kali inilah yang paling gue kagumi.” Ify jadi malu karenanya. Pipinya memerah.

Ditambah lagi waktu Cakka –teman Rio- ikut berkomentar, “Pinter juga lo cari istri.” Aduh... serasa melayang deh pokoknya.

Akhirnya malam itu jadi malam terindah bagi Ify. Dia sampai lupa masih ada satu lagi misi yang harus dijalankan.

Tidak, tidak. Bukan strategi lagi, tapi penyelidikan SMU-nya Rio.

Sebenarnya Ify sudah malas dengan hal-hal begituan. Ia bahkan nggak peduli kalau Rio ternyata sekolah di SMA swasta paling jelek sekalipun. Tapi kata-kata Prissy ada benarnya juga. Ify harus mulai mengenal siapa calon suaminya.

Ketika Ify sudah hendak menyerahkan tugas penyelidikan itu kepada Prissy, malah dialah yang mengetahui rahasia sekolah Rio itu secara tidak sengaja. Semuanya berawal dari sebuah penggaris.....


@@@@@


Ify sedang mengerjakan PR Matematika-nya ketika sadar penggarisnya lenyap dari tas sekolahnya. Dan Ify tahu banget di mana dia bisa menemukan barang-barangnya yang tiba-tiba lenyap begitu.

“Kak Iyel...” Ify mendorong pintu kamar kakaknya tanpa permisi. “Kak Iyel yang ambil penggaris Ify, kan?” dia menuduh Gabriel yang tengah asyik menggunting-tempel kliping bangunan.

“Kalo iya, kenapa?” jawab Gabriel santai tanpa menghentikan aktivitas.

“Kakak nih ya, kalo salah tuh minta maaf, bukannya malah tanya kalo iya kenapa?” Ify menirukan gaya bicara Gabriel dengan memonyongkan bibir. “Ify tuh lagi pusing mikirin PR Matematika. Udah susah, ditambah nggak ada penggaris, lagi. Sebel.”

“Hei, cerewet! Kalo nggak bisa ngerjain PR, marahnya jangan sama gue dong. Gue juga lagi pusing nih ngerjain kliping. Cerewet lo.” Gabriel menoyor kepala Ify.

“Aduh, Kak Iyel, Ify bilangin Bunda ya, main-main kepala. Nggak sopan, tau.” Ify tambah marah oleh perlakuan Gabriel. Mereka memang nggak pernah akur.

“Sebodo! Dasar tukang ngadu. Nyadar dong, lo kan udah mau married, masa masih mau ngadu ke Bunda terus? Gue laporin Rio, tahu rasa lo.”

“Laporin aja kalo bisa. Dua hari ini kan Rio nggak bisa ke sini. Jadi, giliran dia ke sini, ceritanya udah basi. Weeek...”

“Ya gue ke sekolahnya dong. Nggak jauh kok dari kampus gue.”

Mendengar ini Ify kayak dapet durian runtuh. Sekolah Rio? Kak Iyel tahu di mana sekolah Rio?

“Emangnya di mana sekolah Rio?” tanya Ify penuh semangat.

“Ya di SMA Teitan lah. Memang di mana lagi? Lo mau ngetes gue ya? Lo kira gue nggak tahu, apa?”

Ify sudah tidak menggubris lagi reaksi kakaknya selanjutnya, apalagi waktu tiba-tiba Ify memeluknya. “Makasih ya, Kak. Kak Iyel baik deh.” Setelah berkata begitu Ify berlalu dari kamar Gabriel. Dia bahkan sudah lupa tujuan awalnya mengambil penggaris.

Gabriel sendiri terbengong-bengong melihat sikap adiknya itu. Jangan-jangan jin ifrit mampir ke sini nih. Terus ngerasukin si Ify. Hiiy... begitu pikirnya.


@@@@@


“SMA Teitan?” Prissy mengerutkan kening. Dia dan Alvin tengah berkumpul di kamar Ify waktu cewek itu mengabarkan penemuan berharganya. Rupanya teka-teki soal Rio sudah jadi misteri yang penuh tantangan bagi mereka.

Untung saja rumah Prissy satu kompleks dengan rumah Ify, jadi begitu telepon berdering minta berkumpul, Prissy bisa langsung muncul di depan pintu rumah Ify. Sedang Alvin, walaupun rumahnya agak jauh, tapi sorry aja ya, kalo harus melewatkan saat-saat bersama dengan kekasih dan sohibnya. Apalagi hari belum malam, baru jam 18.30. perjalanan dari rumahnya ke rumah Ify Cuma lima belas menit. So, kenapa nggak ikut nimbrung?

“Memangnya SMA Teitan itu ada?” tanya Prissy bingung.

“Itu dia, Pris, gue sendiri bingung. Ada SMA Piri, SMA De Britto, dan sebagainya, yang jelas bukan SMA Teitan. Denger juga baru kali ini. dari mulut Kak Iyel, lagi.” Ify garuk-garuk kepala.

“Tunggu-tunggu, gue tahu.” Pernyataan Alvin membuat dua cewek didepannya mengalihkan pandang kepadanya. “Kalo nggak salah nih, SMA Teitan tuh sekolah swasta......................




BERSAMBUNG..............................

Will You Marry Me? - Part 4

“Fy, ada satu jalan yang bisa nyelametin lo,” ucap Prissy tiba-tiba.

“Oh ya? Gimana?” Ify kembali bersemangat.

“Lo mesti tahu kelemahan Rio. Dan lo bisa bongkar kelemahan itu di depan Bunda. Dengan begitu, lo bisa lepas dari dia.”

Prissy memang jenius! Kalo soal menyelesaikan masalah, dia jagonya. Jadi, nggak salah dong Ify cerita semua ini ke dia.

“Hm... bener juga...” Ify mengangguk-angguk.

“Nah, sekarang tinggal nyelidikin siapa Rio sebenarnya. Lo punya informasi apa aja tentang dia?” tanya Prissy.

Mendengar pertanyaan itu, semangat Ify redup kembali. “Gue... gue Cuma tahu namanya Rio.”

“Lainnya?” Ify menggeleng tak berdaya.

“Yah... percuma deh.” Prissy mengembuskan napas. Kayaknya dia kecewa idenya sia-sia. Tapi tiba-tiba Prissy menjentikkan jari. “Fy, lo inget seragam yang dia pakai, nggak? Seinget gue, dia nggak pakai seragam sekolah negeri deh. Itu berarti dia sekolah di SMA swasta. Tapi gue lupa motif seragamnya. Lo inget nggak, Fy?”

“Hm...” Ify mencoba mengingat-ingat, wajahnya yang mungil jadi keliatan lucu. “Kalo nggak salah, celana panjang kotak-kotak campuran antara biru tua dan merah. Atasannya putih dengan dasi sewarna celana panjang, dilengkapi rompi warna senada.”

“Hah? Sesulit itu? Jangan-jangan sekolahan elite tuh!” Sambil berkata begitu, Prissy kembali memutar otak. Pandangannya tertuju ke cowoknya yang sejak tadi terdiam. “Vin, kok lo malah melamun sih? Ify kan minta tolong ke elo juga.”

“Justru itu! Rasanya gue pernah liat tampang Rio deh. Tapi di mana ya? Gue lupa.” Alvin menggaruk kepalanya yang nggak gatal. Kebiasaannya kalo mengingat-ingat sesuatu.

“Terserah deh. Lo coba aja inget-inget lagi, siapa tahu berguna. Terus, sementara nyari tahu siapa Rio, kita juga mesti menyusun strategi supaya Rio kapok deket-deket lo.”

“Oke juga tuh. Tapi gimana caranya?”

“gampang... serahkan aja sama gue. Lo tinggal menjalankan perintah.” Prissy tersenyum penuh teka-teki. Mendengar itu Ify kembali tersenyum.

“Tapi serius nih, lo mau ngelepas Rio? Kayaknya orangnya tajir lho, bo. Keren, lagi.” Gara-gara ucapannya itu, Prissy mendapat dua pasang tatapan tajam dari dua manusia di hadapannya. Dan seperti biasa, dia Cuma cengengesan.

“Anak-anak, jam olahraga sudah selesai. Apa kalian sudah kuat kembali ke kelas?” suara Pak UKS membuat tiga sahabat itu tersentak.

“Eh, iya, Pak. Terima kasih,” ucap ketiganya bersamaan. Mereka berdiri dan meninggalkan ruang UKS.

Sambil memandangi ketiga murid itu, Pak UKS geleng-geleng kepala. Entah jin apa yang bersarang di ruang UKS. Sampai-sampai yang sakit langsung sembuh begitu jam olahraga berakhir, begitu pikirnya.


@@@@@


“IFYYYY...!!!”

Itu suara Prissy. Dai nadanya, sepertinya Prissy baru saja menemukan sesuatu. Dan benar saja. Prissy telah menemukan strategi yang dinamakan Strategi Menggilas Rio.

“Nah, strategi pertama akan kita lancarkan hari ini. Yaitu... shopping!” Tadinya Ify nggak ngerti maksud Prissy, tapi begitu Prissy menjelaskan, Ify manggut-manggut.

“Siap ya... kita akan melancarkan strategi ini sepulang sekolah nanti.” Prissy tampak bersemangat. Melihat itu Ify makin mantap. Sementara Alvin asal he-eh saja.

Selasa. Jam pulang sekolah.

“Yo, temen-temen gue, Alvin dan Prissy, lo tahu, kan...” Ify memandang Prissy dan Alvin yang melambai dari kejauhan. Siang itu Rio menjemputnya.

“Ya, terus? Ada apa dengan dua sobat lo?”

“Hm... mereka minta ditraktir macem-macem sama lo. Sebagai ganti..., mmm..., lo sama gue jadian tanpa seizin mereka.” Ify tampak takut-takut mengatakan permintaannya.

“Begitu, ya?”

“Iya. Mereka maksa. Katanya kalo lo nggak mau, berarti lo Cuma main-main sama gue.”

“Hmm... kalo gitu tunggu apa lagi? Ayo berangkat, mereka boleh minta apa aja yang mereka mau,” jawab Rio santai.

Ify langsung memberi kode pada dua sohibnya agar mendekat. Karena memang sudah direncanakan, Alvin bawa mobil bokapnya. Jadi motor Rio dititip dulu di rumah Ify sebelum mereka ngacir ke mal.

“Yo, kita makan di McDonald, ya,” pinta Prissy blakblakan. Rio yang duduk di depan sama Alvin Cuma manggut-manggut.

“Apa aja deh, asal setelah itu kalian izinin gue jalan sama bidadari cantik teman kalian.”

Alvin melirik ke belakang. Prissy dan Ify berpandang-pandangan. “Dia Cuma sok, lihat aja, ntar kita kerjain!” bisik Prissy. Ify hanya bisa mengangguk. Dalam hati diam-diam Ify teraanjung mendengar perkataan Rio barusan. Tapi tentu saja perasaan itu tidak dia ungkapkan.

Mobil berhenti si sebuah mal. Tujuan pertama mereka: makan di McDonald. Prissy yang memesan. Dia benar-benar sudah gila. Mesennya kayak orang kesurupan, sampai-sampai semua kekenyangan.

“Habis ini kita ke dalam. Katanya Ify mau beli baju dan sebagainya. Ya kan, Fy?” Prissy menginjak kaki Ify.

“Eh, i... iya,” jawab Ify kaget.

“Up to you, ladies. Everything... Lo setuju, kan, Vin, kita manjain nona-nona ini?” kata Rio tak gentar, sambil melirik Alvin.

Alvin mengangguk. “Yoi banget, man,” jawabnya. Keduanya tertawa.

Prissy menginjak kaki Alvin dan menatapnya galak. Sebenarnya lo di pihak siapa sih? Batinnya kesal. Alvin Cuma senyam-senyum ditatap galak banget sama pacarnya. Itu sih udah biasa buat Alvin.

Mereka menuju konter pakaian. Prissy udah gila beneran. Dia borong baju banyak banget, sampai Ify kewalahan membawanya.

“Nah, ini pas banget buat lo, Fy. Satu buat lo, satu buat gue, kita kembaran, ya? Terus ini untuk acara ultah Acha, lusa. Terus ini pitanya..., kosmetiknya..., sepatunya..., underwearnya...,”

“Pris, lo gila, ya? Gimana kalo Rio nggak bawa uang? Kan kasihan,” bisik Ify. Prissy kelihatan nggak peduli. Sohibnya itu terus saja memilih dan memilah barang belanjaan.

“Tenang dong, Fy. Kan tujuannya memang mempermalukan dia! Biar dia kapok deketin lo. Begitu, kan?”

“Iya sih. Tapi, Pris...”

“Udah, nggak ada tapi-tapian. Eh, ini tasnya lucu nih. Lo satu, gue satu. Bagus, kan?”

Ify Cuma bisa geleng-geleng kepala. Akhirnya dia nurut aja apa kata Prissy. Toh ini semua demi kebebasannya.

Sementara itu Rio dan Alvin berjalan dibelakang mereka sambil nggak lepas mengawasi kekasih mereka yang lincah-lincah.

“Lo tahu nggak, Vin? Gue akan melakukan apa pun untuk membuat bidadari gue tetap tersenyum. Berapa pun uang yang harus gue keluarkan, sebesar apa pun pengorbanan yang diminta untuk mewujudkannya, akan gue lakukan!” kata Rio saat pandangannya tak sengaja bersiborok dengan Ify yang cepat-cepat membuang muka.

Alvin tertegun. “Kok lo bisa begitu yakin sama Ify sih? Lo sama sekalu belum kenal dia, kan?”

“Lo salah, Vin, gue kenal sama Ify, lebih dari dia mengenal dirinya sendiri.” Rio tak lepas-lepas menatap Ify yang masih aja ditarik ke sana kemari oleh Prissy.

Alvin mengawasi Rio dengan pandangan tak percaya. Benarkah sebesar itu cinta lo ke Ify, Yo? Atau lo hanya bersandiwara supaya gue menyampaikannya ke Ify? Ah... kalau aja gue ingat, di mana gue pernah lihat lo, batin Alvin.

“Hei, cowok... kita selesai!” seru Prissy. Setumpuk belanjaan sudah anter di kasir.

“Oke, Tuan Muda, sekarang giliran Anda untuk... membayar,” Prissy menekankan kata membayar dengan sangat jelas. Lalu ia meninggalkan Rio di kasir, sementara ia bergabung dengan Alvin dan Ify yang menunggu tak jauh dari situ.

“Pris, kayaknya kita keterlaluan deh. Gue minta maaf aja kali, ya? Kan kasihan kalo uangnya kurang.” Ify tampak sangat kawatir.

“Silahkan aja minta maaf kalo lo pengen rencana ini gagal!” Prissy mengeluarkan jurus galaknya. Belum sempat Ify membela diri, Alvin bergumam pada mereka.

“Guys, tenang, dia ke sini.”

Benar saja, Rio datang dengan plastik-plastik belanjaan di kedua tangannya. “Siapa yang bisa bantu gue?”

Alvin yang tadinya bengong langsung menghampiri dan membawakan separo.

“Nah, girls, kalian pasti udah lapar lagi, kan? Kali ini kita makan di Pizza Hut,” kata Rio.

“Hore...” sorak Prissy senang.

“Jangan!” sahut Ify cepat.

“Kenapa, Sayang? Gue tahu lo paling suka pizza.”

“Hah?!”

“Iya, kan?!”

“Ee..., iya sih. Tapi uang lo bisa habis.” Ify mengurungkan pertanyaan Dari mana lo tahu makanan kesukaan gue? ketika ingat Rio tahu segala hal tentang dirinya.

“Nggak usah mikir itu. Lagian ini sebagai rasa terima kasih gue ke Alvin dan Prissy yang udah jagain lo sebelum gue ketemu lo. Ini untuk mereka.”

Diam-diam Prissy, Alvin, juga Ify merasa sangat bersalah. Sebaik itukah Rio?

Strategi pertama dinyatakan gagal.....


@@@@@


Strategi kedua. Sabtu, jam 19.15



BERSAMBUNG.............

Will You Marry Me? - Part 3

“Lho, bukannya itu Ify?” Prissy menunjuk cewek yang baru turun dari Kawasaki Ninja hitam metalik.

“Hah?! Masa sih? Motor Kak Iyel kan warnanya merah, kok jadi hitam? Apa dituker baru ya?” Alvin yang berangkat bareng Prissy pagi itu ikut menyipitkan mata (padahal aslinya aja udah sipit-_-), menajamkan penglihatan.

Sementara kedua sohibnya merhatiin dari jauh dengan pandangan nggak yakin, Ify buru-buru turun dari boncengan cowok yang nggak lain dan nggak bukan adalah Rio.

Ia tidak mengucapkan salam perpisahan atau terima kasih pada sang pengantar. Ia malah bergegas lari menghampiri dua sohibnya yang masih bengong memandangnya jauh.

“Hi, guys...” sapa Ify seraya memaksakan senyum.

Alvin dan Prissy tak segera menjawab. Mereka masih melongo dan malah berpandang-pandangan. Belum secuil pun pertanyaan terucap dari mulut mereka, Rio yang melihat ketiga sahabat itu berkumpul, menghampiri mereka dengan motornya.

“Hai, kalian pasti Alvin dan Prissy, kan?” sapanya sok akrab. Diulurkannya tangannya tanpa turun dari motor. “Gue Rio. Cowoknya Ify.”

Mulut Alvin dan Prissy menganga mendengar ucapannya. Antara sadar dan nggak, mereka menyambut uluran tangan Rio.

“Udah dulu ya, gue bisa terlambat nih. Nanti kita ketemu lagi. Oke?” Pandangan Rio beralih dari dua sohib Ify ke arah cewek itu. “Berangkat dulu ya, Sayang. Ingat, jangan selingkuh.” Rio tersenyum. Dicubitnya hidung lancip Ify dengan sayang. Ify diam saja sambil memanyunkan mulut, kesal. Rio pun melaju dengan motornya.

“Fy, kayaknya ada yang mesti kita omongin deh,” kata Prissy tanpa lepas memandang kepergian Rio.

“Dan harus dibahas terperinci,” tambah Alvin yang juga masih memandang motor Rio.

Lalu tanpa dikomando keduanya memandang Ify dan berkata bersamaan, “SEKARANG!!”

Ify Cuma bisa pasrah. Dia tahu kedua sohibnya bakal bereaksi seperti itu. Dan dia sudah siap merespons reaksi mereka.

“Gue tahu. Kita bolos jam olahraga, gimana?” tawar Ify yang langsung disetujui kedua sohibnya.

@@@@@

“Hah?!” lagi-lagi mulut Alvin dan Prissy menganga lebar. Dan untuk kesekian kali Ify harus menempelkan telunjuknya ke mulut supaya mereka nggak berisik. Sayang usahanya sia-sia. Petugas UKS menghampiri mereka.

“Kalian sudah baikan?” tanyanya.

“Belum, Pak,” jawab Prissy cepat.

“Kok teriak-teriak?”

“Perut saya sakit lagi, Pak.”

“Kamu biasa minum obat apa? Biar Bapak ambilkan.”

“Terima kasih, Pak. Saya sudah bawa obat sendiri.”

“Lho?! Kalau begitu cepat diminum. Atau Bapak akan mengirim kalian kembali ke lapangan. Ngerti?!”

“Ya, Pak,” ketiganya menjawab serempak. Untungnya Pak UKS percaya bualan Prissy. Dia langsung ngeloyor pergi begitu melihat anggukan kepala ketiga murid itu.

Ada-ada aja! Hanya untuk mendengar cerita Ify, mereka rela nggak ikut jam olahraga. Yang ilang sakit perut jarena lagi datang bulanlah. Jatuh saat basketlah. Dan untungnya, luka Ify pas jatuh Sabtu kemarin masih membekas hingga tak sulit untuk minta izin nggak ikut olahraga.

Dan sekarang mereka asyik ber-story ria di ruang UKS.

“Lo lagi ngarang novel ya, Fy? Bagus. Bisa jadi best seller tuh cerita lo,” komentar Prissy.

“Jangan lupa traktir kita-kita kalo dapet royalti, ya,” Alvin ikut nyambung.

“Kalian kok nggak percaya sih sama gue? Gue serius. Kalo kalian kira gue bohong, terus siapa dong cowok yang nganter gue tadi? Dan ingat, dia langsung tahu nama kalian. Padahal gue belum pernah cerita apa pun soal kalian ke dia.” Ify tampak kesal karena dua sohibnya nggak percaya.

Alvin dan Prissy berpandang-pandangan. “Iya sih,” kata Alvin.

“Tapi cerita lo tuh fiksi banget, gitu loh. Coba aja lo cerita ke semua orang di sekolah kalau lo baru dilamar orang yang sama sekali nggak lo kenal dan tu cowok keren, lagi. lo bakal dicap pembohong besar deh!” tambah Prissy panjang-lebar.

Ify hanya bisa membenarkan kata-kata Prissy. Jangankan dua sohibnya atau orang-orang di sekolah, dia sendiri yang ngalamin belum bisa mempercayai apa yang terjadi.

“Udah, udah. Anggep aja kita sekarang percaya cerita lo, Fy. Masalahnya, apa lo terima gitu aja jadi istri cowok yang nggak jelas asal-usulnya begitu? Lo gila, ya?!” Alvin geleng-geleng kepala.

“Sori, Vin, tapi gue bukan istrisnya. Baru pacarnya. Itu pun terpaksa!” protes Ify cepat.

“Mau istri kek, pacar kek, terserah. Tapi kenapa lo mau?”

“Denger dulu dong! Lo masih ingat perjanjian gue sama Rio, kan? Itu lho, tentang bisa nggak dia naklukin Bunda. Nah, ternyata...”

@@@@@

Ify sudah sangat senang ketika akhirnya ia melihat pagar rumahnya terbuka lebar. Bersiaplah untuk pergi secara tidak terhormat, cowok lancang, batinnya penuh semangat.


“Bunda...” Ify memanggil Bunda yang duduk-duduk di teras depan rumahnya.

“Lho, Fy? Kamu kenapa sampai gendongan begitu?” tanya Bunda seraya menghampiri Ify dan Rio.

“Ini nih, Bunda, orang ini yang...”

“Ify, nggak baik menyebut pacar sendiri dengan sebutan orang ini. kasihan kan Nak Rio. Dia sudah nunggu kamu dari tadi, e... kamunya nggak pulang-pulang. Giliran dijemput, kamu malah marah-marah. Apa karena Nak Rio jemputnya jalan kaki terus kamu marah? Tuh, motornya ditinggal di sini kok.”

Ify melongo mendengar ucapan Bunda. Bukan Cuma nggak surprise atas kehadiran Rio, Bunda juga menyebut cowok itu dengan panggilan Nak Rio. Dan, dengan gambalang Bunda bilang nggak baik menyebut pacar sendirin”orang ini”. Bunda bahkan mengumumkan motor Rio ditinggal di rumah.

Sial! Jadi begitu? Sebelum jemput gue, dia udah mampir di rumah? Pantesan dia hafal banget rumah gue. Tapi, kenapa Bunda bisa menerima kehadiran Rio begitu aja, ya? Padahal biasanya Bunda paling anti lihat gue pacaran. Apalagi sama orang yang sama sekali nggak dikenal.

Berbagai pikiran bercampur aduk, membuat Ify terdiam seribu bahasa. Dia bahkan Cuma bisa menurut saat Rio menurunkannya di ruang tamu, dan meminta Mbok Sum membersihkan lagi lukanya. Ify juga sudah nggak kaget lagi saat Gabriel –kakak laki-lakinya- yang baru muncul dari dalam langsung ngobrol akrab dengan Rio, seolah-olah mereka udah lama berteman karib.

“Bunda kok nggak marah Ify pulang digendong cowok? Biasanya kan...?” tanya Ify ragu saat Bunda mengoleskan parem kocok ke pergelangan kakinya yang terkilir. Rio tampak asyik bercanda dengan Gabriel di ruang tamu.

Bunda tersenyum. “Untuk itu Bunda harus minta maaf sama kamu, Sayang.”

Ify mengerutkan kening. “Maksud Bunda?”

“Maksud Bunda, Bunda salah menilai putri Bunda. Bunda selalu menganggap kamu masih kecil. Ternyata... kamu sudah gadis, Ify. Dan gadis yang baik seperti kamu, pasti nggak bakal salah memilih kekasih. Dan kamu benar, Sayang. Kamu nggak salah milih pacar, Bunda suka kamu jadian sama Rio. Dia oke untukmu.” Sambil berkata demikian, Bunda mengacungkan kedua ibu jarinya. “Bunda juga yakin, ayahmu disurga juga akan setuju dengan pilihanmu. Rio itu gampang akrab dengan siapa aja. Seandainya Ayah masih hidup...” Bunda menerawang sesaat, namun kemudian memandang putrinya sambil tersenyum lembut.

Ya Tuhan... ada apa sih sebenarnya? Ify tertunduk lesu. Bawa-bawa Ayah segala, lagi. Nggak! Kalo Ayah di sini, dia pasti belain Ify. Iya kan, Yah? Tapi percuma, bagaimanapun Ayah nggak ada. Dan gue bener-bener terpojok sekarang.

“Tapi, Bunda, bagaimana mungkin...”

“Sudah. Mbak Ify ndak usah bingung begitu. Mbok akan beritahu satu rahasia, tapi Mbak Ify jangan marah sama Mas Rio, ya?” Mbok Sum ikut nimbrung dan duduk si sebelah Bunda. “Kita sebenarnya sudah tahu Mbak Ify jadian sama Mas Rio sejak setengah bulan lalu.”

“Haaah?! Setengah bulan? Tapi...” bukannya jadi jelas, Ify malah makin bingung.

“Iya, kami tahu Mbak Ify sengaja, apa itu namanya...”

“Backstreet, Mbok,” sambung Bunda.

“Iya, backstreet. Mbak Ify sengaja backstreet soalnya takut dimarahi Nyonya. Terus..., Mas Rio yang jantan itu datang ke sini, Mbak.”

“Jadi... Rio datang ke sini sejak setengah bulan lalu?”

“Iya, Mbak. Mas Rio minta izin sama Nyonya untuk jadi pacarnya Mbak Ify. Mas Rio waktu itu janji akan buktiin dia serius. Mulanya sih kita biasa aja, tapi lama-lama kita seneng banget dengan kunjungan Mas Rio. Apalagi Mas Rio nggak Cuma sekali-dua kali aja mesen katering ke kita. Mana pesanan Mas Rio selalu dalam partai besar, lagi. Kita sampai kelawahan lho, Mbak, tapi seneng.” Mbok Sum tersenyum bahagia. “Makanya, Mbak Ify ndak perlu sembunyi-sembunyi lagi pacarannya, Nyonya udah oke kok. Mbok juga oke.”

Ify melongo nggak percaya.

Rio curang. Dia ngelangkahin gue seenaknya. Dia bikin keluarga gue mengkhianati gue. Bagaimana bisa dia mencuri hati orang di rumah ini tanpa gue sadari?
“Nggak usah bingung, Fy. Rio memang sengaja merahasiakan semua ini dari kamu. Katanya sebagai hadiah untuk kamu. Makanya dia selalu ke sini pas kamu nggak ada. Jangan marah sama dia, ya. Tujuan Rio kan baik, ini untuk kalian juga, kan?” ucap Bunda mengelus kepala anak gadisnya.

Sebel nggak seeeeh?!!!

@@@@@

“Begitulah, akhirnya gue kalah taruhan. Dan gue nggak mungkin dong menjilat ludah gue sendiri. Kalian tahu, kan, gue bukan tipe cewek yang suka obral janji,” Ify mengakhiri penjelasannya. Kedua sohibnya lagi-lagi melongo.

“Gila! Bener-bener gila! Kayaknya lawan lo udah profesional nih, Fy. Dia udah ngerencanain semua ini jauh-jauh hari,” kata Alvin.

“Dan sialnya, dia tahu semua kelemahan lo. Jadi bisa dibilang lo kalah telak. Atau dalam tinju disebut KO,” tambah Prissy yang emang getol nonton olahraga fisik.

“Kok kalian malah nakut-nakutin gue sih? Bantuin bebasin gue dari dia dong. Please...” Ify hampir menangis mendengar pertanyaan dua sohibnya. Nggak satu pun ucapan mereka memberinya harapan untuk terlepas dari Rio.

Alvin dan Prissy berpandang-pandangan. Mereka mengangkat bahu bersamaan, lalu memandang Ify yang tampak putus asa.

“Fy, ada satu jalan yang bisa nyelametin lo,” ucap Prissy tiba-tiba.

“Oh ya? Gimana?” Ify kembali bersemangat.


BERSAMBUNGGGGGGGGG.............

Will You Marry Me? - Part 2

“Ha... ha... ha...”

Ify mengerutkan dahi. “Kok ketawa?!” tanyanya bingung. Tapi entah kenapa tawa Rio membuat rasa takut Ify perlahan memudar. Masa sih pemerkosa menertawakan dirinya sendiri? Nggak mungkin, kan?! Pikiran itu membuat Ify sedikit tenang.

“Ha... ha... ha... jadi lo kira gue pemerkosa, gitu? Picik juga pikiran lo tentang gue. Ha... ha... ha... pake lari segala. Jatuh, lagi. Ha... ha... ha...”

“Habis, apa dong namanya? Gue kan nggak kenal siapa lo. Tahu-tahu lo ada di belakang gue, manggil-manggil gue, senyum ke gue. Kalo lo jadi gue, emang apa yang ada di pikiran lo tentang cowok asing sok aksi gitu?!” protes Ify. Dia nggak terima diketawain cowok asing yang menjengkelkan.

Rio berusaha menghentikan tawanya, meski tidak cukup berhasil. “Oke, oke. Gue maklum. Tapi masa sih gue pemerkosa? Dapet pikiran konyol dari mana sih lo?”

“Dari Mbok Sum.” Tadinya Ify mengira, Rio akan bertanya, Siapa Mbok Sum? Nggak disangka cowok keren berperawakan tinggi itu malah ketawa lagi.

“Ha... ha... ha... Mbok Sum, bener juga. Mbok Sum memang selalu aneh-aneh pikirannya. Tapi lebih aneh lagi, lo percaya gitu aja omongannya Mbok Sum.”

Ify melongo tak percaya. “Lo... lo kenal Mbok Sum?”

Rio menghentikan tawanya. Ia nggak langsung menjawab. Kini matanya tertuju pada luka di kaki Ify. “Punya tisu?” tanyanya kemudian.

“Tapi... Mbok Sum?”

“Punya nggak?” suara Rio meninggi.

“Eh, pu... punya.” Ify tampak ketakutan.

“Ya udah sini, kasih gue.”

Ify merogoh tasnya dan menyerahkan tisu yang diminta Rio.

Cowok misterius itu berdiri, pergi ke air keran di sudut taman, dan kembali lagi dengan tisu basah di tangan.

“Tahan bentar, perih sedikit.” Dengan lembut Rio membersihkan luka Ify. Sebentar-sebentar Ify meringis, tapi ditahannya sakitnya. Nggak seru dong, kalo mesti ngeluh di depan cowok nyebelin dan sok ngatur yang sedang berjongkok membersihkan lukanya ini. Harga diri bisa jatuh bo!

Setelah lukanya bersih, Rio mengambil saputangan dari saku celananya. Ditiup-tiupnya luka Ify hingga kering, lalu diikatnya saputangan itu hingga luka Ify terlindung.

“Hei, tunggu dulu!” pekik Ify tiba-tiba.

“Kenapa? Sakit ya? Tahan bentar,” jawab Rio tanpa menghentikan aktivitasnya.

“Bukan begitu. Saputangan lo bisa kotor kena darah gue.”

Rio menghentikan kesibukkannya. Ditatapnya Ify tajam. “Lo kira gue Cuma punya satu saputangan, gitu?”

“Bu... bukan begitu. Tapi...”

“Kalaupun gue Cuma punya satu, gue masih bisa beli yang baru. Tapi kalo kaki lo yang sakit itu infeksi dan akhirnya diamputasi, lo nggak bakal bisa nemuin kaki yang sama di toko mana pun itu. Ngerti?”

“I... iya ngerti,” Ify menjawab gugup.

“Kalo ngerti, diem dan jangan banyak protes.” Rio kembali melanjutkan membebat lika Ify.

“I... iya,” Ify mengangguk cepat. Sial, siapa sih nih cowok? Kenal aja nggak, main ngatur orang seenaknya aja. Ify dongkol banget, meski sialnya, ia harus membenarkan semua ucapan Rio. Sebel!

“Nah, finish. Nanti sampe rumah, minta tolong Mbok Sum bersihin lukanya pake antiseptik.”

“Lo siapa sih?” tanya Ify. Tatapannya penuh selidik. Rio balas menatap, kemudian tersenyum.

“Gue Rio,” jawabnya singkat.

“Gue nggak nanya nama lo. Gue tanya, lo siapa?”

Rio tak langsung menyahut. Pandangannya menerawang.

“Gue nggak bisa nyebut diri gue pangeran tampan berkuda putih yang datang mempersembahkan mawar putih ke elo, kan?! Karena gue bukan pangeran. Gue juga nggak naik kuda putih. Ditambah lagi, gue nggak bawa mawar putih buat lo. Yang gue bawa hanya cinta. Cinta tulus gue buat lo. Itulah makanya gue Cuma bisa bilang... nama gue Rio.”

Sumpah, Ify terkejut mendengar ucapan Rio barusan. Bahkan Prissy dan Alvin yang sohib kentalnya aja nggak tahu tentang cinta dalam khayalannya. Tentang pangeran tampan, kuda, dan mawar putih. Pokoknya semuanya. Tapi cowok asing ini...

Ify bahkan baru melihatnya hari ini. Tapi cowok ini..., dia tahu segalanya. Gak mungkin ini hanya kebetulan, kan? Tidak ada kebetulan kayak begini. Dan nggak mungkin Rio punya indra keenam yang bisa baca pikiran orang. Karena toh saat ini Ify nggak lagi mikirin cinta khayalannya itu. Jadi, dari mana cowok ini bisa tahu segalanya?

Belum lagi Ify mengungkapkan rasa penasarannya, kejutan lain kembali menyusul.

Rio tiba-tiba menggenggam tangannya. Dibawanya jemari Ify ke bibir dan lantas dikecupnya mesra. Debar jantung Ify langsung berantakan. Sial, apa sih maunya cowok kurang ajar ini? geramnya. Tapi toh ia tidak melakukan apa-apa untuk menghentikan sikap kurang ajar cowok yang kini tengah menatapnya tersebut.

“Will you marry me?”

Dueer...!!!

Mulut Ify menganga, matanya membelalak tak percaya. Serta-merta ia menarik tangannya. Beberapa kejap kemudian, dicubitnya sendiri lengannya. Dan... “Aow...!” Ify menjerit. Sakit. Ya Tuhan..., ini bukan mimpi!

Dan cowok itu...

Rio mengamatinya lembut.

“Gue tahu, lo pasti bingung dengan semua ini, Fy,” katanya tenang.

“Ya terang aja gue bingung. Gue dilamar sama orang yang nggak gue kenal, yang wajahnya aja baru gue liat hari ini, dan bahkan yang gue kira penculik, pemerkosa, sekaligus pembunuh. Menurut lo, gue mesti gimana? Tersenyum lalu bilang, Ya, gue mau merit sama lo. Gitu?! Ini gila, tahu! Atau jangan-jangan lo orang sinting, lagi.” Ify mengamati wajah Rio penuh selidik.

“Nggak perlu panik kayak begitu, Fy. Yang jelas gue kenal siapa lo. Dan lo juga bakal kenal gue, sebaik gue kenal elo.”

“Oh ya? Caranya?” Ify tersenyum sinis.

“Izinkan gue masuk ke hati lo. Setelah itu, lo bakal mengenal gue, bahkan lebih dari mengenal diri gue sendiri.”

“Oh ya?! Lalu, dari mana gue bisa tahu kalo lo nggak lagi menipu gue?”

“Terserah, lo mau percaya gue apa nggak. Yang jelas, gue nggak bakal nyakitin orang yang udah nyelamatin nyawa gue.”

Tuh, kan, main teka-teki lagi. Gimana gue bisa tahu siapa lo kalo begini terus kejadiannya. Dasar sableng.

“Udah deh, gue pusing, laper, capek. Gue mau pulang. Ngademin pikiran. Bisa ikut-ikutan gila gue, kalo kelamaan sama lo.” Ify berusaha berdiri. Tapi sia-sia. Sepertinya pergelangan kaki kirinya terkilir saat jatuh tadi. Sial, lagi begini kaki malah nggak bisa diajak kompromi, lagi! batin Ify kesal.

“Udah, naik sini!” Rio berjongkok membelakangi Ify. Ify ngerti banget maksudnya. Rio mau menggendong dan mengantarnya pulang! Emang dikiranya dia siapa?

“Makasih! Gue bisa pulang sendiri kok,” jawab Ify keras kepala.

“Udah deh, nggak usah bawel. Emangnya lo mau terbang, apa?! Kaki terkilir begitu! Lagian rumah lo Cuma di belakang taman ini, kan?!”

Ify udah nggak sanggup terkejut lagi saat Rio menggambarkan letak rumahnya dengan sangat tepat.

“Ayo naik! Tunggu apa lagi?!” tawar Rio. Nada suaranya memerintah. Lagi-lagi Ify mengumpat dalam hati.

Memangnya dia kira dia siapa? Beraninya sama anak kecil. Coba aja kalo nantu ketemu Bunda, didamprat habis baru tau rasa lo!

Tapi melihat gelagat Rio yang sepertinya nggak mau ngalah dan langit sore yang mulai gelap serta kakinya yang memang sakit, Ify akhirnya menerima tawaran cowok misterius itu. Ia menyeret kakinya selangkah ke arah Rio, mendekatkan tubuhnya ke punggung cowok itu, dan merangkulkan kedua tangannya di leher cowok yang baru dikenalnya sore itu. Rio bangkit berdiri, lalu berjalan menuju rumah Ify.

“Hei, lo belum jawab lamaran gue.” Menggendong Ify ternyata bukan apa-apa bagi Rio. Buktinya, dia tetap aja nyerocos tanpa menghentikan langkah.

“Memangnya meritnya besok?” jawab Ify sekenanya.

“Ya, nggaklah. Gue mesti nyelesain sekolah gue. Lo juga mesti lulus dulu. Beru setelah itu kita merit. Tapi untuk sementara kita kan bisa pacaran dulu. Biar lebih saling mengenal. Gue juga pengennya lo nikah sama gue karena cinta. Bukan terpaksa. Dan itu perlu waktu. Yah, dua tahunanlah.”

“Kalo begitu gue nggak harus jawab sekarang, kan?! Lagian lo belum ketemu Bunda. Coba aja kalo lo bisa naklukin Bunda. Asal lo tahu aja, Bunda itu paling anti lihat anaknya pacaran. Jadi, sori ya kalo gue nggak bisa terima tawaran lo,” Ify berkata penuh kemenangan. Dia nggak bohong. Bunda memang AMAT SANGAT KERAS soal pacaran. Dan Bunda bakal langsung ngomong ketus sama Rio kalo beliau tahu tujuan Rio. Apalagi Rio nganter putrinya pulang dalam keadaan terluka.

Hei, kamu apakan putriku?! Pergi dari sini dan jangan pernah kembali!

Ify tersenyum sendiri membayangkan Bunda marah-marah didampingi Mbok Sum yang lengkap dengan senjata bersih-bersihnya.

“Kalo gue bisa ngadepin bunda lo, apa hadiahnya?” tanya Rio tiba-tiba.

E..., dia nantang nih! Oke, siapa takut? “Mm... apa ya?”

“Kalo hadiahnya lo jadi pacar gue?!”

Hm... belum tahu rasanya kalah, rupanya. “Oke. Tapi kalo Bunda tetap kekeuh ngusir lo, elo mesti pergi dari kehidupan gue, selamanya.”

“Deal. Berapa hari waktu gue?”

“Mm... tiga hari.”

“Oke!”

He... he... bersiaplah untuk pulang dengan wajah tertunduk, cowok sok! Dan gue bakal ngejalanin hidup gue dengan normal kembali. Hi... hi...

Di atas punggung Rio, Ify senyum-senyum sendirian.



TO BE CONTINUE.........