Minggu, 31 Juli 2011

Memang Cuma Gue yang Bisa (sekuelCuma Gue yang Bisa) SPECIALPART (re-post)

Special Part: Je t’aime Mademoiselle Alyssa

Sudah satu tahun berlalu sejak Rio… bisa dibilang melamar Ify disaat hari ulang tahun Ify ke 17, tapi karena mereka masih sekolah jadi gak mungkin nikah kan? (yaiyalah -.- masa mau langsung nikah). Mungkin statusnya sekarang tunangan. Saat ini hubungan mereka sedang dilanda bencana alam eh salah, dilanda masalah.

Bandara Soekarno-Hatta

“NOOO!! KAK RIOOO! DON’T LEAVE ME ALONE!!” teriak Ify sambil nangis kejer. Rio hanya geleng-geleng kepala.

“Ify! Gue mau menuntut ilmuu!!” seru Rio. Ify tetap menarik-narik lengan baju Rio, saking gak mau Rio pergi.

Berita baru, kebetulan Rio mendapat beasiswa di sebuah Universitas ternama
di Perancis yaitu Universitè Aix-Marseille. Tentu saja Ify shock mendengarnya, sudah menjalin hubungan hampir dua tahun, tiba-tiba Rio harus pergi meninggalkan Ify dan mau gak mau harus Long Distance.

“Ify, pesawatnya mau dateng! Ntar gue ketinggalan pesawat!” seru Rio.

“Biarin, supaya lo gak pergi ke Perancis ntar kalo ada yang godain elo gimana, terus lo kesemsem sama cewek bule gimana?” tanya Ify. Rio menepuk jidatnya.

“Jangan lebay akh! Lo percaya dong sama gue, gue gak bakal kesemsem sama cewek bule, tenang aja,” ujar Rio sambil menghapus air mata Ify.

“Tapi muka lo gak bisa dipercaya…” gumam Ify.

“Aduuuh, adanya juga muka lo yang gak bisa dipercaya, hati gue cuma buat lo, Ipii,” kata Rio sambil memberikan saputangannya pada Ify.

“SROOT!!” Rio melotot.

“Iih, jorok!! Saputangan kesukaan gue!” seru Rio.

“Tuh gue balikin, thanks saputangannya!” kata Ify.

“Ogah! Ada ingus lo tuh! Jijay! Lo simpen aja, balikin kalo gue udah balik ke Indonesia!” kata Rio.

“Kapan?”

“2 tahun lagi!”

“WHAAAT!!! MATI AKUU!!” Seru Ify.

“Udah yak, gue berangkat!” pamit Rio. Rio pergi meninggalkan Ify, tapi kemudian berbalik lagi dan langsung mengecup dahi Ify.

“Tetep tunggu gue, ya! Janji!” Rio menunjukkan kelingkingnya, Ify menautkan kelingkingnya dengan kelingking Rio.

“Janji!”

***

Sudah beberapa bulan Rio dan Ify menjalani hubungan jarak jauh atau yang disebut Long Distance, tapi Rio tak pernah absen untuk mennghubungi Ify, meskipun sekarang Rio tak berada disampingnya, tapi Ify merasa bahwa jarak diantara mereka masih dekat kayak jarak dari Depok ke Pasar Minggu *PLAK*.

Beberapa bulan berikutnya, Rio semakin jarang menghubungi Ify bahkan tidak sama sekali, padahal Ify selalu menunggu dan matanya tak pernah luput dari handphonenya. Ify mencoba mengirim SMS ke Rio, tapi tak pernah dibales. Itu membuat Ify semakin kesal, akhirnya ia tak mau menghubungi atau SMS Rio lagi.

Malam ini Ify mencoba menelepon Rio, tapi tak diangkat, Ify mencobanya lagi tapi tetap saja tak ada jawaban.

“Iih, kok Kak Rio gak diangkat??” keluh Ify. Ify pun mengirim pesan singkat.

To: Kak Rio

Kak, kok gak diangkat??

Ify menunggu sampai satu jam, tak tak ada balasan. Ifypun membanting handhonennya dengan kesal. Ia merasa Rio sudah melupakannya dan asik dengan dunianya sendiri.

“Ternyata gue gak kuat long distance…” gumam Ify.

***

Kantin

“Lo beneran lost contact sama Kak Rio?” Tanya Shilla. Ify mengangguk.

“Sedih banget ya gue, bener kan dia tergoda sama cewek bule, jarang-jarang kan ada cowok asia item manis kayak dia, disini aja pada klepek-klepek apa lagi di Perancis, cewek bule lebih tertarik sama cowok asia!” simpul Ify.

“Lo beda banget 180 derajat sama Sivia, liat tuh dari tadi telpon-telponan mulu!” kata Shilla sambil menunjuk Sivia yang sedang asyik berkomunikasi dengan Alvin lewat telepon.

“Yeuuh, bandingin gue ama Sivia! Kak Alvin cuma kuliah di UI ! deket! Lah gue kan Indonesia-Perancis! Emang kayak Depok-Jakarta cuma naek kereta express bayar 10ribu?” seru Ify.

“Widih, biasa ngomongnya! Percaya sikiit dong sama Kak Rio!” Keluh Shilla.

“Iya, iya…tapi gimana mau percaya coba? Sekarang telpon gak diangkat, sms gak dibales, kayak gitu terus ampe dua tahun? Mati aja deh!” gumam Ify.

“Hush! Mulut tuh di jaga! Sapa tau Kak Rio lagi banyak tugas!” seru Shilla.

“Eh, ngomongin apaan nih kayaknya seru!” kata Sivia yang baru saja selesai
telepon-teleponan dengan Alvin.

“Ify envy sama lo, bisa telpon-telponan sama Kak Alvin, dia udah kayak dibuang,” sindir Shilla.

“Sedih banget gue dibuaang!” Ify jadi nangis.

“Fy, jangan nangiiis!” kata Sivia.

“Menyedihkan banget ya gue, ditinggal calon suami ke Perancis , ntar dia nyari calon istri laen lagi!”pikir Ify.

“Pikiran lo kejauhan, cakeep!!” Shilla menoyor kepala Ify. Ify manyun.

“Eh, ngomong-ngomong sejak Kak Rio, Kak Alvin, Kak Iel, Kak Cakka, sama Kak Agni lulus, sekolah jadi sepi, deh,” gumam Sivia.

“Apalagi si empat kunyuk itu, empat pemandangan indah ilang semua,” keluh Shilla.

“Kita jadi bertiga kayak tiga serangkai,” kata Ify.

RRRR…RRR…

Handphone Ify bergetar, ada pesan singkat masuk ke handphonennya.

From: Kak Rio

Ify, sori kemaren gue gak angkat, gue lagi ngumpul bareng temen-temen gue, kenapa, Fy?

Ify mulai naik darah, kesal begitu melihat balasan dari Rio. Rio gak sadar kalau Ify kangen sama Rio. Ify mengetik balasan dengan sangat kasar.

To: Kak Rio

Tanya aja ama TEMBOK!! Depan lo tembok kan? Gak peka banget sih lo!!

Ify langsung membanting handphonenya ke meja. Membuat Sivia dan Shilla terkejut.

“Wiih, baek-baek lo! Kenapa?” Tanya Sivia.

“Auk ah! Bete gue sama Kak Rio!!” Ify meninggalkan Shilla dan Sivia dan kembali ke kelas duluan.

***

Dirumah

“APAA!! KE PERANCIIS!!” Seru Bu Risna yang shock mendengar permintaan Ify.

“Perancis? Perapatan Ciamis?” Tanya Deva.

“Ngeek! Perancis beneran dodol!! France! I want to go to France! When holiday come!!” pinta Ify.

“Aduuh! Ify kalo kamu ke Perancis, kamu bakal nginep dimanaa? Sendirian lagi…Mama khawatir sama kamuu!” keluh Bu Risna.

“Aku mau ketemu Kak Rio, Ma! Pliis, aku gak kenapa-kenapa deeh, kan ada Tante Uci disanaa!”

“Gimana ya?”

“Ayolaah…demi kebaikan anakmu ini, Ma! Daripada mantu Mama ilang digaet sama cewek bule!” rayu Ify.

“Haah, yaudah deh, Mama telepon Tante Uci dulu,” kata Bu Risna.

“Asiiik!!! Thank you Mamaa!!!” Ify langsung memeluk Mamanya.

“Ma, Deva boleh ikuut gaak??” Tanya Deva.

“Kamu ikut aja deh, jagain Kakak kamu, daripada malu-maluin disana, kakak kamu kan brutal!” kata Bu Risna.

“Horeee!!” Deva kegirangan.

“Yaa…Mamaa!” keluh Ify.

“Ify, Deva buat jagain kamu, bahaya anak gadis jalan-jalan sendirian di sebuah Negara asing yang gak dikenal, gak kebayang kalo kamu ilang di Perancis!”

“Bukannya malah seneng, Ma?” Celetuk Deva.

“Seneng juga, sih, Ify kan malu-maluin,” gumam Bu Risna.

“Mamaaa!!” seru Ify.

***

Liburan pun tiba, kebetulan Ify dan Deva mendapatkan hasil yang memuaskan, setidaknya liburan mereka terutama Ify yang pergi untuk mengejar Rio (??) tidak dicancel. Malam ini mereka packing karena besok akan pergi ke Perancis selama seminggu.

“Kak Ify!! Ntar gue minta sabun lo ya!”

“Iya,”

“Parfum juga ya!”

“Iya,”

“Odol juga!”

“…”

“Shampo juga!”

“Itumah semua gue yang bawa, ganteng!!” seru Ify.

Setelah selesai, Ify pun bersiap-siap untuk tidur. Ify menjatuhkan badannya diatas tempat tidur dan melihat Handphonenya. Dia memandang wallpaper handphonenya. Foto dirinya bersama Rio. Ify terus memandangnya dengan tersenyum. Ify sengaja tidak memberi tahu Rio bahwa Ify akan pergi ke Perancis untuk menemuinya.

“Tunggu gue, Kak. Gue mau ngasih kejutan ke lo,” gumam Ify. Ify menaruh handphonenya di meja kecil dan tidur.

***

Bandara Soekarno-Hatta

“Kak Ify, paspornya bawa kan?” Tanya Deva.

“Sip,”

“Tiket?”

“Pasti!”

“Mama, Papa kita berangkat dulu ya!” pamit Deva. Deva dan Ify mencium tangan kedua orangnya.

“Hati-hati ya, Tante Uci bakal jemput kamu di bandara,” kata Bu Risna.

“Jangan bikin malu kalian!” nasehat Pak Rendra (bener kan?)

“Sip, Pa. Paling yang bikin malu Kak Ify doang!” celetuk Deva.

Ify melotot kearah Deva. Deva hanya nyegir.

“Ma, Pa Ify sama Deva berangkat!” Deva dan Ify pun pergi menuju pesawatnya.

***

Universitè Aix-Marseille

“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, atau…” Rio mencoba menelepon Ify, tapi tidak aktif.

“Tumben gak aktif,” gumam Rio.

“What’s wrong Rio?” Tanya seorang temannya yang berasal dari Jerman.

“Eum, nothing,” jawab Rio.

“Hey, be quite! Miss. Christine will come to the class!”

“Sorry,” Rio meminta maaf, Rio menaruh handphonenya di saku celana.

“Kenapa, Yo?” Tanya Zahra yang baru datang dan duduk di samping Rio. (Pake nama Zahra lagi ah, soalnya hampir semua anak Icil udah dimasukkin, jadi maklum kalo ada yang muncul lagi tapi ceritanya lain orang :p).

“Eng, gak papa kok, Ra, cuma pacar gue gak ngangkat telpon tumben-tumbenan aja,” kata Rio.

Kebetulan disana ada beberapa orang Indonesia juga yang kuliah di Universitas tersebut, sekitar 20 lebih, termasuk Rio. Zahra adalah mahasiswi dari Indonesia yang kebetulan satu kelas dengannya. Selain Zahra ada juga Goldi yang berasal dari Indonesia juga.

“Ntar hubungi aja lagi, tuh Miss Christine dateng,” kata Zahra sambil nunjuk kearah depan kelas.

“Yaudah deh,”

“Good morning!” sapa Miss Chirstine.

“Good Morning, Miss!”

***

Bandara Charles de Gaulle, Paris

“Wiih, keren banget, Kak!” kata Deva takjub.

“Jangan kayak orang norak deh! Ayo cari Tante Uci!” ajak Ify.

Mereka celingak celinguk mencari Tante Uci, kemudian mata mereka tertuju pada sebuah papan nama yang tertulis “Ify dan Deva”. Ify dan Deva menghampiri seorang wanita paruh baya berusia 25 tahun tersebut.

“Tante Uciii!!” Ify memeluk Tante Uci.

“Ify kamu jadi cantik banget! Deva juga jadi ganteng!” kata Tante Uci.

“Ahaha, makasih Tante!” kata Deva.

“Kita makan dulu yuk, kalian pasti laper!” ajak Tante Uci

Tante Uci membawa mereka berdua ke sebuah restoran yang cukup terkenal.

“Ify, Deva sekolah kalian gimana?” Tanya Tante Uci.

“Ya, gitu lah, Tante, biasa aja,” ujar Ify.

“Kalian udah punya pacar belom?” Tanya Tante Uci.

“Lha, Kak Ify kan kesini bukan buat liburan, tapi mau ngejar calon suaminya!” kata Deva. Tante Uci yang lagi minum langsung keselek.

“Calon suami? Beneran, Fy?” Tanya Tante Uci.

“Baru tunangan sih, Tante, dia pacar aku, hehe…” kata Ify nyengir.

“Ooh dia kuliah?”

“Iya, di Universitè Aix-Marseille,” kata Ify.

“Wah itu sih deket dari rumah Tante, tinggal naik bis aja, kok,”

“Waaah, asiik,” Ify kesenengan, karena sebentar lagi ia bakal ketemu Rio.

“Yaudah, kita ke rumah yuk, kalian pasti capek, kamu nyari pacar kamu besok aja, sekarang istirahat dulu,” kata Tante Uci.

***

Keesokan harinya,

“Kak Ify!! Banguun! Udah siaang!” teriak Deva.

“Apaan sih, Dev! Gue masih ngantuk!” Ify menarik selimutnya lagi.

“Kak, liat tuh! Udah siang banget! Mentang-mentang perbedaan waktu!” keluh Deva.

“Iya, iya…” dengan terpaksa Ify bangun dan langsung mandi.

Setelah mandi, Ify turun kebawah, dan disambut oleh, Tante Uci, Oom Richard, suami Tante Uci yang berdarah Perancis tapi kebetulan bisa juga berbahasa Indonesia karena belajar dengan Tante Uci, dan anaknya Ourel. Deva pun sudah duduk manis disana.

“Pagi, Fy,” sapa Tante Uci.

“Pagi,” balas Ify.

“Hari ini jadi?” tanya Tante Uci. Ify mengangguk.

“Memangnya mau kemana?” Tanya Oom Richard.

“Mau ketemu pacar aku, Oom.” Jawab Ify.

“Ooh, awas ya kesasar, jalan disini hampir semua sama,” ujar Oom Richard yang masih kaku dalam berbahasa Indonesia.

“Siip! Dev, mau ikut gak?” Tanya Ify.

“Ogah ah, ntar kalo lo ketemu Kak Rio gue malah jadi kambing congek, mending gue jalan-jalan sama Ourel!” tolak Deva.

“Iya, Kak, sama Ourel aja, nanti Ourel ajakin ke tempat yang asyik!” kata Ourel antusias.

“Ourel kok seneng banget siih?” Goda Ify. Ourel jadi salting. Tante Uci dan Oom Richard hanya mesem-mesem saja.

“Ourel suka yaa sama Kak Devaa??” goda Ify.

“Apaan sih lo, Kak!” keluh Deva.

“Dikit, ,Kak Ify…hehee…” kata Ourel malu-malu.

“Asiik, dah Deva punya penggemar kecil yang cantik, Keke mau digimanain??” tanya Ify.

“Berisik lo, ah!!”

Semuanya tertawa disana. Ify berpikir bahwa suasana mereka bakal hambar karena selama ini Ify dan Deva tak pernah bertemu Oom Richard ataupun
Ourel, tapi ternyata suasananya enak, dan saling terbuka.

“Oom, Tante Ify pergi dulu ya!” pamit Ify. Ify mencium tangan Tante Uci dan Oom Richard.

“Hati-hati ya, Fy! Kamu naik bis aja ntar berhenti di depan Universitasnya langsung!” kata Tante Uci.

“Oke, Tantee!!”

***

Universitè Aix-Marseille (Café)

Rio sedang menyesap kopi hangatnya sambil membaca materi yang akan ia pelajari di kelas setengah jam lagi. Tiba-tiba,

“Woi!!”

Rio yang sedang meminumnya langsung keselek.

“UHUK!UHUK!”

“Aaah, sori, Yo!” sesal Zahra.

“Ng..nggak papa kok, Ra.” Kata Rio.

“Rajin banget lo, Yo. Gue aja males!” keluh Zahra.

“Lu mah emang dari dulu males! Daripada kalo ntar ditanya lo kicep!”

“Yee…tinggal bilang “I’m sorry Mister, I don’t know,” iya kan?”

“Haha, cetek banget pikiran lo!” seru Rio. Mereka berdua bercanda di café, sambil menunggu kelas mereka.

***

Akhirnya, sampailah Ify di Universitè Aix-Marseille. Jujur Ify merasa sangat takjub begitu melihat universitas yang tergolong favorit di Perancis itu. Rio adalah salah satu orang Indonesia yang beruntung mendapatkan beasiswa dari universitas itu.

“Kak Rio mana ya?” Ify celingak-celinguk mencari kesekeliling gedung Universitas itu. Tapi Rio tak kunjung ditemukan.

Sudah 15 menit, Ify mencari Rio. Tetap saja Rio tak ada. Ify mulai putus asa mencari Rio sambil mengelilingi kawasan Universitas itu. Ify ingin menghubungi Rio, tapi dia baru sadar bahwa nomor handphonennya nomor handphone kawasan Indonesia. Begitu melihat sebuah café, Ify memilih pergi kesana daripada terlihat seperti anak hilang.

Saat Ify mau masuk ke dalam café, orang yang dicarinya selama ini ada disana, tapi yang membuat Ify kecewa, ia bersama gadis lain, gadis manis yang sepertinya orang Indonesia juga. Rio terlihat sangat senang bersamanya. Ify pun pergi meninggalkan tempat tersebut.

***

“Ra, udah napa jangan ngelawak mulu! Gue sakit perut tau!” kata Rio.

“Hahaa…”

Saat itu pandangan Rio tertuju kepada seorang gadis yang berdiri di ambang pintu café, mata Rio terbelalak. Ia mengucek-ucek mata, ternyata gadis itu sudah hilang.

“Tuh kan, paling gue lagi kepikiran Ify,” gumam Rio.

“Kenapa, Yo?” Tanya Zahra.

“Gak papa kok, Ra, kekelas aja yuk!” ajak Rio.

***

“Huee…gue dimana??” gumam Ify sambil melihat kesekeliling tempat. Yak, Ify NYASAR.

“Aduuh, gimana dong?” keluh Ify. Ify terus berjalan sambil melihat papan jalan.

BRUUK!

“Aduuh!”

“Sorry!”

Ify mengeluh bahunya yang baru saja tertabrak oleh seseorang. Ify melihat wajah orang tersebut. Sepertinya ia juga orang Indonesia.

“Are you Indonesian??” Tanya orang tersebut.

“Y…Yes!” kata Ify. Ify sedikit ngerti karena ada kata “Indonesian”.

“Gue juga orang Indonesia! Nama gue Riko! Lo siapa?” Orang bernama Riko itu mengulurkan tangannya.

“Gue Ify,”

“Lo kenapa? Kayaknya kebingungan,”

“Gue kesasar…” gumam Ify.

“Oh, haha…lo pasti lagi liburan ya?” Ify mengangguk.

“Lo nginep di hotel mana?” Tanya Riko.

“Gue nginep di rumah Tante gue, Tante Uci,” jawab Ify.

“Tante Uci? Dia itu kan guru musik gue di sekolah musik, gue tau kok rumahnya,” kata Riko.

“Beneran?”

“Iya, ayo gue anter,” ajak Riko.

“Ah, jangan sekarang deh, gue pengen keliling Paris, lo mau temenin gue?” Tanya Ify.

“With a pleasure, mademoiselle,” kata Riko. Muka Ify memerah, ia tersanjung mendengarnya.

Riko membawa Ify ke beberapa tempat wisata terkenal di Perancis, mulai dari Museum Louvre untuk melihat lukisan Leonardo Da Vinci sampai Menara Eiffel.

“Waah, keren banget ya, baru kali ini gue ke Menara Eiffel,” kata Ify takjub.

“Kalo gue sih udah beberapa kali kesini,” jawab Riko.

Tiba-tiba Ify menjadi murung dan menghela napas, Riko melihat wajah Ify.

“Lo kenapa, Fy?” Tanya Riko.

“Seandainya Kak Rio ada di samping gue sekarang,” gumam Ify.

“Rio? Siapa?”

“Dia pacar gue, Ko. Jujur selain liburan gue kesini buat ketemu sama dia, soalnya gue kangen banget, tapi ternyata pas gue tadi ke kampusnya, dia lagi sama cewek lain,” keluh Ify.

“Lo kenapa gak nyamperin dia?” Tanya Riko.

“Gue gak enak ganggu mereka berdua, Kak Rio terlihat seneng banget,” gumam Ify.

“Sekarang gak usah dipikirin, yang penting have fun aja selama di Perancis,” kata Riko sambil tersenyum. Ify membalas senyumannya.

“Bener juga kata lo, Ko.”

“Udah sore nih, yuk gue anterin pulang,”

***

Tiga hari kemudian,

Rio sedang terburu-buru menuju ke kampusnya akibat kesiangan, karena apartemennya tak jauh dari kampus, Rio ke kampus memilih untuk berjalan, karena sudah terlambat Rio harus berlari.

BUUKK! (Perasaan daritadi ceritanya nubruk orang mulu)

“Aduh!”

“Ah, maaf!” kata Rio. Rio melotot.

“Deva!!”

“Kak Rioo!!”

Ternyata yang ditabrak Rio adalah Deva yang sedang berjalan-jalan sendiri.

“Lo liburan disini?” Deva mengangguk.

“Berarti ada Ify?”

“Lah, tiga hari yang lalu kan Kak Ify ke kampus lo, Kak! Lo gak ketemu?” Tanya Deva.

“Berarti yang gue liat kemaren, bener Ify dong?” gumam Rio.

“Yaiyalah!”

“Gini aja deh, gue minta alamat lo sekarang nginep, ntar sore gue kesana, sekarang gue ada kelas!” Deva memberikan alamat rumah Tante Uci ke Rio.

“Thanks, Dev!!!” Rio langsung berlari meninggalkan Deva.

***

TING TONG!

Bel rumah Tante Uci berbunyi. Saat ini dirumah hanya ada Ify dan Tante Uci.

“Ify, bisa minta tolong buka pintu?” Tanya Tante Uci.

“Iya, Tante!”

Ify membuka pintu dan mendapati sesosok yang dikenalnya. Rio.

“Fy, tiga hari kemaren lo ke kampus gue ya?” Tanya Rio langsung. Saking kesalnya Ify ingin menutup pintunya lagi, tapi ditahan Rio.

“Fy! Jangan ditutup!!” seru Rio.

“Ngapain sih lo kesini?? Urusin aja calon Miss Mario lo yang baru itu!!”

“Ha? Calon Miss Mario yang baru? Maksud lo apaan sih?”

“Itu cewek yang kemaren ketawa-ketiwi sama lo! Udaah, sekalian aja lo nikah disini!” Rio langsung ketawa terbahak-bahak. Ify mengangkat alis.

“Apa lo ketawa? Emang lucu?” Tanya Ify nyolot sambil membuka pintu sedikit untuk Rio.

“Lo kebanyakan nonton sinetron sama drama Korea ya?” Tanya Rio balik.

“Apaan sih lo?”

“Sini gue jelasin!” Rio menarik tangan Ify supaya keluar dari rumah dan duduk di depan pintu.

“Zahra itu bukan cewek baru gue, ato Miss Mario yang baru ato apapun deh anggapan lo, dia itu sepupu gue, Miss Mario itu cuma buat lo doang, Ify!” kata Rio sambil mencubit hidung Ify.

“Aduuh! Sepupu lo? Beneran?” Tanya Ify.

“Iya, makanya jangan nonton drama yang isinya artis Korea yang ganteng! Didepan lo ini juga gak kalah ganteng sama artis Korea!” kata Rio. Ify langsung menimpuk Rio dengan sendal.

“Iih, lagian sih deket banget! Makanya gue mikir dia cewek lo yang baru!” seru Ify sambil menyembunyikan mukanya yang merah saking malu pada diri sendiri.

“Yee..otak lo aja yang cetek, kebetulan Zahra juga dapet beasiswa disana, jadi gue punya temen di Perancis,” tutur Rio.

“ Hueee…kalo gitu ngapain gue nangis tiga hari dua malem, buat meratapi nasib gue..” keluh Ify.

“Lebay lu! Makanya jangan negative thinking dulu sama gue!” seru Rio.

“Iya, gue minta maaf!”

“Huuu…eh lo ganti baju gih, gue mau ngajak lo ke suatu tempat,” kata Rio.

“Kemana?”

“Neraka!”

“Ahelah, neraka mulu, surga kek!” seru Ify.

“Bacot banget sih lo! Cepetan!”

Rio menunggu Ify diruang tamu, sambil berbincang-bincang dengan Tante Uci. Kemudian Ify turun dari lantai atas dengan memakai gaun satin putih miliknya dan bando warna putih yang menghiasi kepalanya.

“Tante, Rio pinjem Ify dulu ya,” kata Rio.

“Hati-hati ya,”

***

Rio membawa Ify ke Restoran Jules Verne yang berada di tingkat dua Menara Eiffel.

“Kak Rio, tempatnya keren banget,” kata Ify.

“Keren kan?”

Ify dan Rio menyantap hidangan yang telah mereka pesan. Sambil menyantap makanannya, mereka saling berbincang tentang kehidupan mereka masing-masing. Kehidupan Ify di Indonesia, ataupun kehidupan Rio di Perancis. Setelah itu Rio membawa Ify ke tingkat atas Menara Eiffel sambil melihat pemandangan Kota Paris di malam hari. Disana, Rio terus menggenggam tangan Ify dengan lembut.

“Kak Rio gue pengen nanya sesuatu ke elo,” kata Ify.

“Apa?”

“Boleh gak nanti kalo gue udah lulus, gue kuliah disini bareng lo? Gue kan pengen deket-deket sama lo, hehee…” kata Ify.

“Ngeeek, udah kayak anak bebek lo, ngitilin gue,” celetuk Rio.

“Kak Rio maah, gue serius!” keluh Ify.

“Boleh, gue malah seneng kalo lo mau kuliah disini juga,” kata Rio sambil membelai rambut Ify.

“Asiik!”

“Ify, gue mau ngomong sesuatu sama lo,” ujar Rio.

“Apaan? Lo cinta gue ya??” Tanya Ify cengengesan.

“Apaan? Nggak kok!”

“Terus?”

“Je t’aime, Mademoiselle Alyssa,” tutur Rio. Ify mengangkat alis.

“Artinya apaan tuh?” tanya Ify.

“Je t’aime, Ich Liebe Dich, Ik Hou Van Jou, Te Amo, Sarang Haeyo, Wo Ai Ni, Aishitteru…” Rio mengucapkan dengan sangat cepat, membuat Ify pusing. Ify pun membekap mulut Rio.

“ Itu artinya apaan??” keluh Ify.

“Gue tau lo pasti gak ngerti,” kata Rio. Rio membisikkan sesuatu di telinga Ify.

“Gue harap lo lebih ngerti, Aku tresno karo kowe,” bisik Rio. Mata Ify melotot. Rio yakin kalo pake bahasa Jawa Ify pasti lebih ngerti. Muka Ify langsung memerah. Rio langsung ketawa ngakak.

“Ngerti kaan? Orang Indonesia susah kalo dikasih ungkapan pake bahasa asing! Makanya gue siapin pake bahasa Jawa!” seru Rio sambil tertawa. Ify langsung memeluk Rio, Rio tersenyum dan membalas pelukan Ify.

“One more, Je t’aime, Mademoiselle Alyssa,”

“Je t’aime, Monsieur Mario,”

***

Memang Cuma Gue yang Bisa (sekuelCuma Gue yang Bisa) Part 7 (LASTPART) (re-post)

Part 7: The Last Girl


Setelah melewati beberapa hari untuk pemulihan, ternyata cedera Rio masih terbilang cukup parah, dan belum sembuh total. Sehingga dokter melarang Rio untuk bermain.

"Dok, kaki saya udah baikan malah sekarang kalo jalan udah gak sakit lagi!” seru Rio.

"Meskipun kamu bilang sudah tidak sakit, tapi kaki kamu belum pulih total, Rio. Kalo kamu paksakan, kemungkinan besar cedera kamu kambuh,” ujar Dokter.

"Dok, tim butuh saya!! Besok itu final!” emosi Rio memuncak.

"Kak, jangan emosi!” kata Ify.

"Tapi, Fy…” ujar Rio.

"Baiklah kalau kamu memaksa, kamu boleh main, tapi cuma 30 menit,” kata Dokter.

"Gak bisa lebih?” Tanya Rio.

"Ih, masih bagus di kasih! Nawar lagi lo!” keluh Ify.

"Lebih baik nggak, resiko kambuhnya bakal lebih besar,” kata Dokter.

"Yaudahlah, kami pulang, Dok.” Pamit Rio.

"Hati-hati kalian berdua,”

***

Mobil Rio berhenti tepat di depan rumah Ify.

“Fy, udah sampe,” kata Rio. Ify masih terus memandang Rio.

“Kenapa lo?”

“Lo yakin mau main besok?” Tanya Ify.

“Gue yakin, semua butuh gue, gue gak mau ngecewain mereka semua,” ujar Rio.

“Hmm…gue kerumah ya,” Ify keluar dari mobil Rio dan masuk ke dalam rumah.

Begitu Ify sudah masuk kedalam rumahnya, Rio mengeluarkan handphonenya dan menelepon seseorang.

“Semuanya beres?? Oke…lo urusin semuanya, thanks sob!” Rio memutuskan pembicaraannya dan langsung pergi meninggalkan rumah Ify.

***

Saat jam duabelas malam, banyak sms yang mulai masuk ke handphone Ify untuk mengucapkan selamat ulang tahun untuk gadis yang sudah genap berumur 17 tahun itu. Dengan sangat terpaksa Ify membuka sms tengah malem itu.

From: Sivia

Happy birthday cantiik! Traktir kayaknya asik niih hehee

From: Shilla

Selamat hari lahir, Ipii! Tambah cakep, pinter, baek, soleh, tambah dosa sekalian, hahaa, kidding :p

From: Agni

Selamat berkurang umur ya, Fy!
Hehee…

From: Kak Alvin

Asiik kan ultah, met ultah yo!

From: Kak Iel

Happy birthday, Fy! Tambah pinter, tambah cantik, tapi jangan melebihi cewek gue yak, haha

From: Cakka

Met ultah, cewek gila! Hahahaa…

Ify hanya senyam-senyum saja melihat sms yang berasal dari teman-teman terdekatnya itu, tiba-tiba rasa kantuknya hilang begitu mendapat sms ucapan ulang tahun untuknya. Tapi Ify sedikit agak kecewa, Rio tidak menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Bahkan tidak ada sms dari Rio. Ify hanya menghela napas.

‘Paling Kak Rio molor,’ batin Ify.

Ify kembali tidur. Paginya ia mendengar samar-samar nyanyian selamat ulang tahun.

“Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday, happy birthday, happy birthday to you…” anggota keluarganya semua menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuknya.

Ify yang baru bangun, langsung disuguhi sebuah kue tart berukuran sedang dengan lilin berbentuk angka satu dan tujuh. Ify tersenyum.

“Kak tiup dong!” suruh Deva.

“Ayo, Fy tiup!” kata Bu Risna.

“Tapi jangan pake kuah ya!” celetuk Papanya Ify (nah loh, gue yang bikin cerita gue yang lupa nama bapaknya -.-).

“Apaan sih, Pa!” seru Ify.

Ify meniup lilinnya, diiringi dengan tepuk tangan.

“Nih hadiah buat anak Mama yang paling bawel!” kata Bu Risna sambil memberikan sebuah kotak berukuran kecil untuk Ify. Ify membuka kotak tersebut, senyumannya merekah dan memeluk mama dan papanya.

“Makasih, Pa, makasih Ma! Liontinnya bagus banget! Ify suka!” seru Ify.

“Sama-sama sayang!”

Ify langsung memakai liontin berbentuk hati tersebut di lehernya.

“Dev, hadiah dari lo mana??” Tanya Ify.

“Nih! Yang milih Keke!” Deva memberikan sebuah kotak kecil ke Ify. Senyumnya kembali mengembang.

“Makasiiih!! Gue doain tambah ganteng lo!!” Deva memberikan sebuah jam tangan biru bergambar doraemon yang sangat manis untuk Ify.

“Amin!!”

“Ify, kamu gak siap-siap??” Tanya Bu Risna.

“Ha?”

“Kan sekarang final! Kamu gak dukung Rio??” Tanya Bu Risna.

“Ya ampuun!!” Ify langsung loncat dari tempat tidurnya dan masuk kekamar mandi.

“Kayaknya kita juga harus siap-siap, Ma, Pa!” kata Deva.

“Bener juga, ayo!” ajak Bu Risna.

***

Ify sampai di arena pertandingan, tapi Rio belum kelihatan.

“Asiiik, ultaah!!” teriak Sivia.

“Apaan sih, Vi?” Tanya Ify.

“Pokoknya ntar abis pulang turnamen lo gak boleh pulang!” ancam Shilla.

“Lah? Gue kan mau jalan sama Kak Rio, Kak Rio mau ngerayain ultah guee!!” seru Ify.

“Gak boleh, pokoknya lo harus ikut kita,” kata Agni.

“Ih, apaan sih,” keluh Ify.

Kemudian Rio dan teman satu timnya sudah bersiap-siap di tengah lapangan. Pertandingan pun dimulai, lawan mereka adalah perwakilan dari Provinsi Bali, juara tahun lalu. Butuh ekstra tenaga untuk mengalahkan mereka.

“Yo!” Alvin mengoper bola pada Rio. Rio maju melesat ke daerah lawan dan memasukkan bola ke ring. Mereka mendapat poin. Tapi bisa disusul oleh lawan dengan mudah.

Babak pertama selesai dengan kedudukan 25-26 untuk keunggulan perwakilan Bali tersebut. Saat istirahat, Rio merasa cederanya kambuh lagi. Tapi Rio tetap menyembunyikan rasa sakitnya itu dari semua orang. Alvin yang memandang dari kejauhan tahu bahwa Rio menyembunyikan sesuatu. Alvin menghampiri Rio.

“Yo, kaki lo sakit lagi?” Tanya Alvin.

“Ah, ng…nggak kok, gue gak papa,” sanggah Rio.

“Lo gak bisa boong, Yo. Mata lo gak bisa boong!”

“Gue gak papa!” kata Rio. Alvin langsung memencet kaki Rio yang sakit.

“ADUUUH!!” Teriak Rio otomatis membuat satu tim dan pelatihnya melihat Rio.

“Tenang aja, gue gak papa!”

“Alvin, sakiit!” bisik Rio.

“Tuh kan bener, kaki lo belum sembuh total! Lo jangan maen!” larang Alvin.

“Vin, gue tetep mau maen, jangan larang gue, semua butuh gue,”

“Tapi kalo kayak gini, yang ada lo ngerepotin!” keluh Alvin.

“Gue gak bakal ngerepotin! Percaya sama gue!” kata Rio. Alvin hanya menghela napas.

“Gue gak pernah bisa ngelarang lo,” keluh Alvin.

“Ayo! Pertandingan mau dimulai lagi!!” suruh Gabriel.

Saat pertandingan berjalan, rasa sakit di kakinya mulai muncul, tapi Rio tetap memaksakan diri dan terus ikut pertandingan. Rasa sakitnya mulai semakin parah, rasanya sudah mulai menjalar ke seluruh tubuh, sehingga Rio tidak bisa berkonsentrasi, rasa sakitnya tetap dia tahan.

“Lah? Rio kenapa tuh? Kok jadi lambat gitu?” Tanya Cakka.

“Eh, iya! Kenapa ya?” Tanya Sivia.

“Ya, ampun! Gue lupa! Dia cuma boleh maen 30 menit sekarang udah lebih! Gue mau kebawah!” Ify langsung turun kebawah dan pergi kepinggir lapangan.

“Kak Rio!! Jangan maen lagii!!” teriak Ify.

Rio menoleh, dan tidak menghiraukan perkataan Ify.

“Aduuh, meni beleguk tuh orang!” keluh Ify.

“Kak Rio, lo cuma boleh maen 30 meniit!!” seru Ify.

“Beneran, Fy?” Tanya Pelatih.

“Bapak gak tau? Kak Rio gak ngasih tau Bapak?” Tanya Ify.

“Nggak,”

“Iiih, dasar!”

Rio tetap bermain meskipun rasa sakitnya sudah tak bisa tertahan, tiba-tiba…

BRUUUK!!

Rio jatuh dan mengeluh kesakitan.

“Patton! Ganti Rio!” suruh Pelatih.

“Jangan, Pak! Dikit lagi pertandingan selesai! Saya gak mau diganti!” seru Rio.
“Pak…”

“Apa boleh buat, Fy. Dia kaptennya,” kata Pelatih. Ify semakin khawatir.

“Fy, lo gak usah khawatir sama gue! Gue gak papa!” kata Rio. Ify menghela napas panjang.

“Ayo, Kak Rio!!! Lo pasti bisa!!” seru Ify.

Semua orang yang ada di arena, terutama pendukung CB, menyerukan nama Rio terus menerus. Rio pun berdiri, berkat dukungan dukungan semua orang terutama Ify, rasa sakitnya
seakan hilang.

“Rio, tinggal 30 detik lagi!! Lempar!!” seru Gabriel.

Rio menerima operan dari Gabriel dan melempar dari jarak jauh, semua mata tertuju pada bola yang melayang di atas menuju ring.

“Pliis masuuk!” seru Ify.

“Ayolaah!” batin Rio.

Bola tersebut masuk bersamaan dengan peluit tanda berakhirnya pertandingan, CB memenangkan final kejuaran basket tingkat provinsi dengan skor 62-65. Semua bersorak-sorai meramaikan suasana di arena pertandingan. Semua orang turun untuk mengucapkan selamat kepada CB.

“Selamat, Bro!” ucap Cakka.

“Thanks, Cak!” kata Rio.

“Wiih, selamat ya!” kata Sivia.

“Thanks,”

“Kak Rio lo gak papa kan??” Tanya Ify panik.

“Gak papa,”

“Huaaa…gue mau nangis kalo lo kenapa-kenapa gimanaa??” Tanya Ify.

“Iih, lebay lo!” seru Rio.

“Ntar jadi kan, Kak?” Tanya Ify.

“Ng…ka, kayaknya gak jadi deh, gue ada urusan, sori banget,” kata Rio.

“Ta…tapi kan lo udah janji,” kata Ify.

“Maaf banget, gue balik duluan ya!” kata Rio. Rio langsung meninggalkan Ify.

“Kok lo lupa ultah gue, sih,” gumam Ify.

“Fy, mending lo ikut sama kita aja! Nanti kita hang out!” kata Shilla.

“Yaudah deh,” kata Ify.

***

Mobil Rio berhenti di sebuah café yang terletak di pinggir pantai Ancol (anggep aja ada). Rio masuk kedalam café tersebut, semua pelayan sibuk dengan tugas mereka masing-masing.

“Eh, Nak Rio,” kata seorang wanita paruh baya.

“Tante, udah siap semua?” Tanya Rio.

“Siap!”

Rio berkeliling melihat dekorasi yang menghiasi café tersebut, semua sesuai dengan konsepnya.

“Pasti Ify bakal kaget,” kata Rio.

***

Ify terus menerus memanyunkan bibirnya, melihat teman-temannya yang berpasangan. Sivia sama Alvin, Shilla sama Gabriel, Agni sama Cakka. Ify terus menerus melengos.

“Ify, jangan manyun teruus doong, kita kan mau ngerayain kemenangan CB!” seru Sivia.

“Gue berasa kayak kambing congek berbau obat nyamuk yang lagi jualan kacang tapi gak laku!” keluh Ify.

“Yaah, jangan gitu dong, lo gak bau obat nyamuk kok, lo bau obat merah!” celetuk Cakka. Kemudian Cakka ditoyor Agni.

“Sakiit, Agnii!” ringis Cakka.

“Kayaknya udah waktunya deh,” kata Gabriel.

“Fy, ayo ikut!” kata Shilla sambil menarik tangan Ify.

“Ha? Mau kemana?” Tanya Ify.

“Ikut ajaa…ayo!” ajak Sivia.

Mereka semua pergi ke salon, yang cewek di dandanin, yang cowok sibuk mengganti bajunya dengan baju yang lebih rapi.

Setelah selesai di dandani, para cewek mengganti bajunya dengan dress yang sudah mereka bawa.

“Fy, pake ini!” kata Shilla.

Sebuah dress warna biru tosca ia kasih
ke Ify. Ify mengganti bajunya dengan dress tersebut, dan alhasil Ify terlihat lebih cantik.

“Udah siap kan?” tanya Alvin. Semua mengangguk. Ify hanya mengangkat alis.

“Emang mau kemana?” Tanya Ify.

Tiba-tiba matanya ditutup oleh Agni dengan slayer.

“Ehh!! Kok mata gue ditutuup!! Buka doong!!” seru Ify.

Mereka semua membawa Ify ke mobil Cakka dan pergi ke suatu tempat.

***

“Pliis dong buka mata gue!” seru Ify.

Shilla, Sivia, dan Agni terus membawa Ify masuk kedalam café. Kemudian mereka berhenti di tengah-tengah.

“Gue buka ya!” Shilla membuka tutup mata Ify. Ify mengerjap-ngerjapkan matanya dan melihat orang-orang terdekatnya berada di hadapannya. Mama dan Papanya, Deva, Ray, Keke, Acha, Debo, Shilla, Sivia, Agni, Alvin, Gabriel, Cakka dan beberapa teman
yang lain.

“Happy birthday Ify…happy birthday Ify…happy birthday happy birthday, happy birthday Ify,” semua bernyanyi untuk Ify.

“Fy, buat permohonan sebelum tiup lilin!” kata Sivia.

Ify memejamkan matanya dan memohon sebuah permohonan.

‘Mudah-mudahan Kak Rio ada di sini,’ batin Ify. Ify langsung meniup lilinnya. Semua para undangan bertepuk tangan.

“Sekarang acara bebas ya, silahkan untuk menikmati makanan yang sudah di sediakan,” ujar Bu Risna.

“Ma, Mama sama Papa yang buat pestanya?” tanya Ify.

“Bukan kita kok,” kata Bu Risna. Ify pun pergi ke tempat teman-temannya.

“Shil, lo sama yang laen buat pesta ini?” Tanya Ify.

“Haha, nggak lah, kita aja diundang,” kata Shilla.

“Terus siapa yang buat??” Tanya Ify.

Kemudian lampu café langsung mati.

“Eh, mati lampu ya?” Tanya Alvin.

“Belom bayar listrik kali!” kata Gabriel.

Tiba-tiba sebuah lampu spotlight menyala dan menyinari seorang laki-laki yang ada di tengah panggung, seorang laki-laki memakai kemeja warna hitam dengan jas putih yang lengannya digulung (emang jas bisa digulung ya?). Ify melotot.

“Kak Rio?” gumam Ify.

“Lagu ini saya persembahkan untuk seseorang yang berulang tahun hari ini,” kata Rio.

Dentingan piano seorang pianis mengiringi Rio bernyanyi,

Sedalam yang pernah kurasa
Hasratku hanyalah untukmu
Terukir manis dalam renunganku
Jiwamu jiwaku menyatu

Biarkanlah kurasakan
Hangatnya sentuhan kasihmu
Bawa daku penuhiku
Berilah diriku kasih putih dihatiku

Kucurahkan isi jiwaku
Hanya padamu
Dalam air itu
Kaubawa selamanya diriku

Biarkanlah kurasakan
Hangatnya sentuhan kasihmu
Bawa daku penuhiku
Berilah diriku kasih putih dihatiku

Semua orang bertepuk tangan begitu mendengar nyanyian merdu Rio. Ify pun takjub mendengar suara Rio. Rio turun dari panggung dan menarik tangan Ify untuk maju keatas panggung

menatap indahnya senyuman diwajahmu membuat ku terdiam dan terpaku
mengerti akan hadirnya cinta terindah
saat kau peluk mesra tubuhku
banyak kata yang tak mampu kuungkapkan
kepada dirimu

reff:
aku ingin engkau slalu
hadir dan temani aku
disetiap langkah
yang meyakiniku
kau tercipta untukku
sepanjang hidupku

aku ingin engkau slalu
hadir dan temani aku
disetiap langkah
yang meyakiniku
kau tercipta untukku

meski waktu akan mampu
memanggil seluruh ragaku
ku ingin kau tau
kuslalu milikmu
yang mencintaimu
sepanjang hidupku

aku ingin engkau slalu
hadir dan temani aku
disetiap langkah
yang meyakiniku
kau tercipta untukku

meski waktu akan mampu
memanggil seluruh ragaku
ku ingin kau tau
kuslalu milikmu
yang mencintaimu

Rasanya Ify mau nangis begitu mendengar alunan bait lagu yang dinyanyikan Rio hanya untuknya. (jadi inget pas Rio nyanyi lagu Tercipta Untukku hehee :p)

“Kak Rio, lo boong ya sama gue! Katanya lo ada urusan!” seru Ify sambil memukul-mukul Rio.

“Aduuh sakiit!” seru Rio.

“Woi! Berantem lagi di atas panggung! Emang ring tinju!” seru Cakka.

“Berisik lu, Cak!” seru Rio.

“Sori deh, Fy. Gue kan pengen ngerjain lo,” Rio terkekeh, Ify manyun.

Kemudian Rio mengeluarkan sebuah kotak kecil yang telah dibungkus rapih dengan kertas kado bergambar doraemon dengan pita biru yang menghiasinya.

“Buat lo,” kata Rio.

“Kok lo gak ngucapin selamat sama gue?” Tanya Ify.

“Semuanya udah ngucapin selamat belom sama lo?” Tanya Rio balik.

“Udah, emang kayak lo!” keluh Ify.

“Berarti sekarang gue ngucapinnya, happy birthday, Fy!” ucap Rio.

“Kenapa lo baru ngucapin sekarang, gue lebih suka kalo lo ngucapin yang pertama kali,” kata Ify.

“Menurut gue, yang ngucapin terakhir itu bakal selalu diinget, kalo pertama kali pasti bakal lupa sama ucapan gue, dan prinsip gue, gue gak mau jadi yang
pertama, gue maunya jadi yang terakhir,” tutur Rio sambil membuka kotak tersebut. Sebuah cincin emas putih tersimpan didalamnya. Rio menarik tangan Ify dan menyematkan cincin tersebut di jari Ify.

“Alyssa Saufika Umari, would you be the last girl in my life?” tanya Rio. Muka Ify memerah. Itu tandanya Rio melamarnya di depan semua orang.

“Mamaaa…mama ngerestuin gak?” Tanya Ify.

“Pasti!”

“Papa?”

“Absolutely yes!”

“Deva?”

“Gue restuin! Soalnya cuma Kak Rio yang mau sama lo!” Ify manyun kearah Deva.

“Terima! Terima! Terima!” semua tamu menyerukan kata terima.

“Yes, I would be the last girl in your life,” jawab Ify.

Semua tamu bertepuk tangan, dan bersorak sorai.

“Asiiik!!!”

“Prikitiiw!!”

“Suit suit!!”

Muka mereka berdua memerah.

“Aduuh, gue gak nyangka lo bakal ngelamar gue, Kak! Jadilah gue sebagai Nyonya Mario, hehee..” celetuk Ify.

“Iya, Nyonya Marioo…” kata Rio.

“KYAAAA!!! Jadi maluu!!” seru Ify kegirangan sampai-sampai tak sengaja menginjak kaki Rio yang cedera.

“Aduuuh!!! Ify gilaa!! Kaki guee!!!” teriak Rio.

“Huwaaa!!! Maaf!!!”

***

“Pliis dong buka mata gue!” seru Ify.

Shilla, Sivia, dan Agni terus membawa Ify masuk kedalam café. Kemudian mereka berhenti di tengah-tengah.

“Gue buka ya!” Shilla membuka tutup mata Ify. Ify mengerjap-ngerjapkan matanya dan melihat orang-orang terdekatnya berada di hadapannya. Mama dan Papanya, Deva, Ray, Keke, Acha, Debo, Shilla, Sivia, Agni, Alvin, Gabriel, Cakka dan beberapa teman
yang lain.

“Happy birthday Ify…happy birthday Ify…happy birthday happy birthday, happy birthday Ify,” semua bernyanyi untuk Ify.

“Fy, buat permohonan sebelum tiup lilin!” kata Sivia.

Ify memejamkan matanya dan memohon sebuah permohonan.

‘Mudah-mudahan Kak Rio ada di sini,’ batin Ify. Ify langsung meniup lilinnya. Semua para undangan bertepuk tangan.

“Sekarang acara bebas ya, silahkan untuk menikmati makanan yang sudah di sediakan,” ujar Bu Risna.

“Ma, Mama sama Papa yang buat pestanya?” tanya Ify.

“Bukan kita kok,” kata Bu Risna. Ify pun pergi ke tempat teman-temannya.

“Shil, lo sama yang laen buat pesta ini?” Tanya Ify.

“Haha, nggak lah, kita aja diundang,” kata Shilla.

“Terus siapa yang buat??” Tanya Ify.

Kemudian lampu café langsung mati.

“Eh, mati lampu ya?” Tanya Alvin.

“Belom bayar listrik kali!” kata Gabriel.

Tiba-tiba sebuah lampu spotlight menyala dan menyinari seorang laki-laki yang ada di tengah panggung, seorang laki-laki memakai kemeja warna hitam dengan jas putih yang lengannya digulung (emang jas bisa digulung ya?). Ify melotot.

“Kak Rio?” gumam Ify.

“Lagu ini saya persembahkan untuk seseorang yang berulang tahun hari ini,” kata Rio.

Dentingan piano seorang pianis mengiringi Rio bernyanyi,

Sedalam yang pernah kurasa
Hasratku hanyalah untukmu
Terukir manis dalam renunganku
Jiwamu jiwaku menyatu

Biarkanlah kurasakan
Hangatnya sentuhan kasihmu
Bawa daku penuhiku
Berilah diriku kasih putih dihatiku

Kucurahkan isi jiwaku
Hanya padamu
Dalam air itu
Kaubawa selamanya diriku

Biarkanlah kurasakan
Hangatnya sentuhan kasihmu
Bawa daku penuhiku
Berilah diriku kasih putih dihatiku

Semua orang bertepuk tangan begitu mendengar nyanyian merdu Rio. Ify pun takjub mendengar suara Rio. Rio turun dari panggung dan menarik tangan Ify untuk maju keatas panggung

menatap indahnya senyuman diwajahmu membuat ku terdiam dan terpaku
mengerti akan hadirnya cinta terindah
saat kau peluk mesra tubuhku
banyak kata yang tak mampu kuungkapkan
kepada dirimu

reff:
aku ingin engkau slalu
hadir dan temani aku
disetiap langkah
yang meyakiniku
kau tercipta untukku
sepanjang hidupku

aku ingin engkau slalu
hadir dan temani aku
disetiap langkah
yang meyakiniku
kau tercipta untukku

meski waktu akan mampu
memanggil seluruh ragaku
ku ingin kau tau
kuslalu milikmu
yang mencintaimu
sepanjang hidupku

aku ingin engkau slalu
hadir dan temani aku
disetiap langkah
yang meyakiniku
kau tercipta untukku

meski waktu akan mampu
memanggil seluruh ragaku
ku ingin kau tau
kuslalu milikmu
yang mencintaimu

Rasanya Ify mau nangis begitu mendengar alunan bait lagu yang dinyanyikan Rio hanya untuknya. (jadi inget pas Rio nyanyi lagu Tercipta Untukku hehee :p)

“Kak Rio, lo boong ya sama gue! Katanya lo ada urusan!” seru Ify sambil memukul-mukul Rio.

“Aduuh sakiit!” seru Rio.

“Woi! Berantem lagi di atas panggung! Emang ring tinju!” seru Cakka.

“Berisik lu, Cak!” seru Rio.

“Sori deh, Fy. Gue kan pengen ngerjain lo,” Rio terkekeh, Ify manyun.

Kemudian Rio mengeluarkan sebuah kotak kecil yang telah dibungkus rapih dengan kertas kado bergambar doraemon dengan pita biru yang menghiasinya.

“Buat lo,” kata Rio.

“Kok lo gak ngucapin selamat sama gue?” Tanya Ify.

“Semuanya udah ngucapin selamat belom sama lo?” Tanya Rio balik.

“Udah, emang kayak lo!” keluh Ify.

“Berarti sekarang gue ngucapinnya, happy birthday, Fy!” ucap Rio.

“Kenapa lo baru ngucapin sekarang, gue lebih suka kalo lo ngucapin yang pertama kali,” kata Ify.

“Menurut gue, yang ngucapin terakhir itu bakal selalu diinget, kalo pertama kali pasti bakal lupa sama ucapan gue, dan prinsip gue, gue gak mau jadi yang
pertama, gue maunya jadi yang terakhir,” tutur Rio sambil membuka kotak tersebut. Sebuah cincin emas putih tersimpan didalamnya. Rio menarik tangan Ify dan menyematkan cincin tersebut di jari Ify.

“Alyssa Saufika Umari, would you be the last girl in my life?” tanya Rio. Muka Ify memerah. Itu tandanya Rio melamarnya di depan semua orang.

“Mamaaa…mama ngerestuin gak?” Tanya Ify.

“Pasti!”

“Papa?”

“Absolutely yes!”

“Deva?”

“Gue restuin! Soalnya cuma Kak Rio yang mau sama lo!” Ify manyun kearah Deva.

“Terima! Terima! Terima!” semua tamu menyerukan kata terima.

“Yes, I would be the last girl in your life,” jawab Ify.

Semua tamu bertepuk tangan, dan bersorak sorai.

“Asiiik!!!”

“Prikitiiw!!”

“Suit suit!!”

Muka mereka berdua memerah.

“Aduuh, gue gak nyangka lo bakal ngelamar gue, Kak! Jadilah gue sebagai Nyonya Mario, hehee..” celetuk Ify.

“Iya, Nyonya Marioo…” kata Rio.

“KYAAAA!!! Jadi maluu!!” seru Ify kegirangan sampai-sampai tak sengaja menginjak kaki Rio yang cedera.

“Aduuuh!!! Ify gilaa!! Kaki guee!!!” teriak Rio.

“Huwaaa!!! Maaf!!!”

***

Memang Cuma Gue yang Bisa (sekuel Cuma Gue yang Bisa) part 6 (re-post)

Part 6: Ify Istimewa

Ify terbangun dari tidurnya, ia langsung melihat jam wekernya. Jam 8. Ify melotot.

“Jam delapaan?? Mampus gue!!” Ify langsung beranjak dari tempat tidurnya dan mandi.

Setelah mandi ia memilih baju yang cocok untuk pergi ke Kejuaraan Basket tingkat Provinsi yang diikuti oleh sekolahnya.

“Woi!! Cepetan! Gue tinggalin nih, gue mau jemput Keke sekalian!” teriak Deva dari lantai bawah.

“Iya, bentaaar!!” seru Ify.

Akhirnya pilihan terakhir tertuju pada dress berwarna hijau, rambutnya dihiasi dengan jepitan berbentuk pita warna hijau muda. Ify langsung melesat kebawah dan masuk kedalam mobil.

***

“Pagi, Kak!” sapa Keke yang baru masuk ke mobilnya Deva.

“Pagi, Ke,” balas Ify.

Ify merasa seperti obat nyamuk, karena Deva dan Keke terus-terusan mengobrol di dalam mobil, sedangkan dia hanya diam saja.

Sesampainya di arena pertandingan, mereka di sambut oleh Sivia, Shilla, Agni, Cakka, Ray, dan Acha.

“Wiih, pasangan baru dataang!” goda Cakka.

“Berisik lo, Kak!” keluh Deva. Muka Keke memerah.

“Nih, si kunyuk juga jadian!” kata Cakka.

“Hah? Beneran lo?” Tanya Deva. Ray hanya nyengir.

“Hehee…beneran!” kata Ray. Acha juga ikut-ikutan nyengir.

“Udah yuk, masuk!” ajak Shilla.

***

Rio dan anggota tim yang lain sedang bersiap-siap untuk upacara pembukaan turnamen.

“Aduuh, gue sakit perut lagi!” keluh Gabriel.

“He? Sono kekamar mandi!” suruh Alvin. Rio hanya geleng-geleng kepala.

“Vin, kira-kira Ify dateng gak ya?” gumam Rio sambil memainkan bola basketnya.

“Pasti dateng, Yo. Gue yakin,” kata Alvin.

“Dia kayaknya masih benci sama gue,” keluh Rio.

“Kalo dia benci kenapa dia bisa sampe tau kalo lo gak bawa air minum, terus di taro di atas tas lo? Gak mungkin kalo dia benci lo, tapi tetep perhatian sama lo, Ify masih sayang sama lo!” kata Alvin.

“Haha…mudah-mudahan aja,” kata Rio.

“Aduuh, udah! Ayo keluar!!” ajak Gabriel.

“Tangan lo udah di cuci?” Tanya Alvin.

“Udah lah! Pake kembang tujuh rupa malah!” seru Gabriel.

“Lebay lu akh! Ayo, ke lapangan!” ajak Alvin.

***

“Semua tim udah masuk, CB mana yaa?” Tanya Sivia celingak-celinguk sambil membawa kamera Alvin untuk mengambil foto mereka.

“Itu dia!” kata Shilla.

“Sambutlah, perwakilan dari propinsi DKI Jakarta, SMA Citra Bangsa!” Sebagian besar penonton bersorak dan bertepuk tangan saat Tim CB memasuki lapangan. Terutama anak-anak Citra Bangsa.

“Via, foto!!” suruh Agni.

“Iya, bentaar!!”

Ify terus memandang Rio yang berjalan di depan barisan memimpin anggota timnya sambil memegang bendera dengan lambang SMA Citra Bangsa. Rio terlihat keren saat itu. Tiba-tiba Ify melihat Rio melirik kearahnya sebentar dan mengalihkan pandangannya lagi. Muka Ify langsung memerah.

“Fy, lo kenapa?” Tanya Shilla.

“Ng…nggak papa,” kata Ify gelagapan.

Setelah upacara pembukaan selesai, langsung masuk ke pertandingan pertama. CB berada di pertandingan kedua.

Alvin, Rio, dan Gabriel pergi ke tribun penonton untuk duduk bersama teman-temannya. Ify mendongak kesamping, Rio sudah duduk di sampingnya. Ify menunduk malu, tidak berani menatap Rio.

“Temen-temen kayaknya kita harus pindah tempat deh, ada yang ngomong empat mata kayaknya,” gumam Sivia.

Mereka pun pindah tempat ke tempat yang cukup jauh dari tempatnya semula. Di tempat itu hanya ada Ify dan Rio. Ify terus menunduk, dan Rio cuma garuk-garuk kepala.

“Fy, makasih lo udah bela-belain dateng kesini buat dukung gue, meskipun gue tau lo masih benci sama gue dan lo gak mau ngomong sama gue, jujur gue kangen ngeliat lo jadi biang rusuh yang selalu ngejar-ngejar gue, ngerayu gue,dan teriak-teriakan dukung gue sama anggota fans club lo yang lain, hahaa…gue kangen Ify yang dulu,” tutur Rio. Ingin sekali Ify mengeluarkan kata-kata tapi tak bisa.

“O,iya, ulangtahun lo kan pas final ini, lo liat CB bakal masuk final dan menang, setelah itu gue bakal ngerayain ulang tahun lo, gue janji,” kata Rio.

“Udah waktunya gue tanding, dukung gue ya,” Rio beranjak dari duduknya, tapi tiba-tiba bajunya ditarik Ify. Rio menoleh ke Ify, Ify menunduk.

“Me…menang ya, gu..gue terus dukung lo, Kak…” gumam Ify dengan suara kecil. Rio tersenyum senang.

“Pasti menang, lo percaya sama gue,” Rio mengelus kepala Ify dan langsung berlari ke bawah untuk bersiap-siap. Ify memegang kepalanya yang tadi di elus oleh tangan Rio dan tersenyum.

‘Akhirnya bisa juga gue ngeluarin kata-kata dari mulut gue,’ batin Ify.

***

Selama pertandingan, CB mempertunjukkan aksi kehebatannya. Terutama kapten tim CB, Rio. Semua pendukung terus bersorak-sorai mendukung tim favoritnya.

“Kak Ify?” Panggil Keke. Ify menoleh.

“Kenapa, Ke?” Tanya Ify.

“Aku mau ngomong sama Kak Ify boleh? Tapi diluar aja,” kata Keke. Ify mengangguk. Ify pun mengikuti Keke keluar arena.

***

Mereka duduk di bawah pohon besar.

“Kamu mau ngomong apa, Ke?” Tanya Ify.

“Kak Ify, maafin aku ya…” gumam Keke. Ify mengangkat alis.

“Maaf buat apa?”

“Gara-gara aku, Kak Rio sama Kak Ify jadi berantem, aku terlalu egois, gara-gara suka sama Kak Rio aku jadi lebih mementingkan kesenangan aku sendiri tanpa mikirin Kak Ify yang jelas-jelas pacarnya Kak Rio,” Keke pun menangis di depan Ify. Ify tersenyum dan kemudian menghapus air mata Keke.

“Aku gak marah kok sama kamu, aku juga ngerasa egois saat itu, padahal aku tau kamu kalo kamu sakit dan butuh banget Kak Rio, aku malah kayak anak kecil kehilangan mainannya, jangan nangis ya, ntar aku malah dituduh yang nggak-nggak sama Deva,” kata Ify sambil tertawa kecil.

“Makasih ya, Kak!” Keke memeluk Ify, muka Ify pun memerah.

“Sama-sama, oiya kamu kan udah jadi pacar adek aku yang sok kegantengan itu, usahain jangan bikin dia sakit hati ya, dia sayang banget sama kamu,” kata Ify.

“Tenang aja, Kakak Iparku, hehee…” celetuk Keke.

“Ceilah aku dipanggil Kakak Ipar, ketularan Deva sama Ray ya habis temenan ama anak curut dua itu, hahaa!” seru Ify.

“Haha, masuk yuk, Kak!” ajak Keke. Ify mengangguk.

Pertandingan masih berlangsung, Keke dan Ify duduk berdua, melihat terus jalannya pertandingan.

***

“Sial, Iel, Alvin sama yang lain di jaga ketat!” keluh Rio. Akhirnya Rio maju sendiri untuk menyerang, tapi tiba-tiba…

BRUUUK!!!

Rio jatuh tersungkur, di tubruk oleh
pemain lawan.

“Rio!!”

Semua pemain dan wasit menghampiri Rio yang terus meringis kesakitan sambil memegang kakinya. Semua penonton pun berdiri karena ingin melihat keadaan Rio.

“Kak Rio!” seru Ify.

“Yo, lo gak papa?” Tanya Alvin.

“Ka…kaki gue sakit, Vin..” ringis Rio sambil memegang kaki kanannya.

Ify yang melihat kebawah sampai berdiri dari duduknya, dan langsung turun kebawah, Ify menunggu di bangku pemain. Disusul oleh anak-anak yang lain.

“Rio kamu gak papa?” Tanya Pelatih.

“Kayaknya kaki saya cedera, Pak!” seru Rio sambil menahan sakitnya.

“Alvin, Gabriel! Tolong bantu Rio!” suruh Pelatih.

Mereka berdua membantu Rio berjalan menuju bangku pemain, Ify dan teman-teman yang lain ikut membantu Rio. Sementara itu, pemain yang menubruk Rio, dikenakan pelanggaran oleh Wasit.

“Patton! Kamu gantiin Rio! Alvin, sekarang kamu yang pimpin!” suruh Pelatih.

“Baik!!”

Saat ini Rio sedang di periksa kakinya, Rio terus menerus mengerang kesakitan. Ify yang duduk di sampingnya tak tega melihatnya.

“Rio, kamu dibawa keruang kesehatan ya,” kata Pelatih. Rio mengangguk.

“Saya boleh temenin Kak Rio, Pak?” Tawar Ify.

“Baiklah,”

Ify dan yang lain membawa Rio keruang kesehatan yang tak jauh dari arena pertandingan.

Saat Rio sudah masuk ke dalam ruang kesehatan, yang lain menunggu diluar, muka Ify terlihat cemas.

“Fy, lo temenin Kak Rio gih, di dalem, kasian…” suruh Sivia.

“Ha? Nggak ah, gue gak tega…”

“Ayolah, Fy…temenin Rio, kalo lo gak masuk lo lebih tega! Sungguh teganya dirimuu…” suruh Cakka.

“Ng…yaudah deh,” Ify pun masuk kedalam ruang kesehatan. Mengintip dari balik tirai, saat Rio sedang di obati oleh seorang dokter.

“ARRGGGGHHH!!!” Teriak Rio sambil menahan sakitnya. Ify langsung menutup tirainya lagi.

“Oh, Ya Allah!! Gue gak beranii!!” gumam Ify dengan suara kacil saking ketakutan.

Dari luar, anak-anak yang lain mengisyaratkan agar Ify nemenin Rio, tapi Ify mengisyaratkan kalo dia takut gak berani. Kemudian anak-anak yang lain mengisyaratkan lagi mendingan mata Ify ditutup supaya gak ngeliat Rio kesakitan . Ify mencoba menutup matanya dan membuka tirai, terus berjalan dengan mata tertutup. Rio dan
dokternya melihat Ify dengan heran.

DUUUGG!!

Ify nabrak tiang. Ify memegang jidatnya yang merah. Ify melihat Rio dan dokternya tertawa lepas, melihat tingkah laku Ify yang kurang normal (??).

“Sepertinya saya harus keluar dulu nih,” Dokter itu meninggalkan Rio dan Ify berdua. Rio masih tertawa melihat jidat Ify yang merah. Muka Ify memerah.

‘Bego!! Masih aja kayak orang gila lo, Fy!!’ batin Ify. Ify berdiri jauh dari tempat tidur yang ditempati Rio. Rio mengisyaratkan dengan tangannya agar Ify mendekat. Ify pun mendekat ke Rio. Tiba-tiba Rio memegang jidat Ify yang merah.

“ADUUUH!!!” Teriak Ify. Ify langsung memukul Rio.

“Aduuh, sakit! Kaki gue kan lagi cedera!” seru Rio.

“Megang tuh yang lembutan dikit napa! Lo udah kayak mau mencet tombol bel rumah aja! Diteken!” keluh Ify. Rio tersenyum.

“Akhirnya lo balik lagi jadi Ify yang dulu, Ify yang tingkah lakunya kayak orang gila, haha…”

“HUWAAAA!!!” Tangisan Ify meledak, Rio langsung panik setengah mampus. Bingung mau ngapain.

“Dih, kok lo nangis sih gue bilang orang gila??” tanya Rio.

“HUWAAA!!” Tangisan Ify makin menjadi-jadi.

“Aduuh, Ify!! Kenapa sih lo nangis??”

“Maafin guee…gue egois banget yaa, gak cocok jadi cewek lo,” gumam Ify.

“Ify…Ify…kalo lo gak cocok ngapain gue minta lo jadi pacar gue?” tanya Rio.

“Gue terlalu mikirin diri sendiri, Kak gak mikirin perasaan lo,” gumam Ify.

“Udah akh!! Jangan nangis, jelek tau! Kalo lo nangis terus, gue gak bakal maafin lo,” jawab Rio.

“HAH?? Jangaaan!!”

“Makanya jangan nangis! Gue maafin deh,” keluh Rio.

“Bener lo maafin gue?”

“Iya, jeleek!!” kata Rio sambil mencubit hidung Ify.

“Aduuh sakiit!” ringis Ify sampai tangannya memukul kaki Rio yang cedera.

“Aduuuh!!!” teriak Rio.

“Huwaaa!! Maaf!!!”

***

Ify membantu Rio berjalan menuju arena pertandingan, begitu sampai di arena, malah digodain, disiul-siulin.

“SUITWIIT..” Seru Sivia.

“AWAWAW…” Seru Shilla.

“Suitsuit!” siul Agni.

“SSSSSHH…SSSHH…” Cakka nyoba siul gak bisa.

“Kok kamu bisa sih, Ag! Aku gak bisa…” keluh Cakka.

“Lo gak berbakat!” seru Agni.

“Yaudah deh, gue ganti, PRIKITIIEEWW!!!” Teriak Cakka.

“Yee…paan sih lo semua!” seru Rio.

“Asiik kan yang udah baikaan, langsung patah hati lagi tuh anggota RISE,” goda Shilla sambil nunjuk ke kubu RISE yang lagi gigit maju missal.

“Apaan siih, bilang aja sirik!” kata Ify.

“Skor udah berapa, Cak?” Tanya Rio.

“Beda tipis, Yo. 56-54 buat CB,” ujar Cakka.

Pertandingan pun selesai, dimenangkan oleh CB dengan nilai 62-60. Skor yang cukup tipis.

“Yo, kaki lo gimana?” Tanya Gabriel.

“Parah, Yel.” Keluh Rio.

“Kenapa?”

“Parah banget cedera gue, gue gak bakal maen sampe final,” keluh Rio.

“Gawat juga, ya.” Gumam Alvin.

“Yo, kamu serahin saja sama teman kamu, lebih baik kamu istirahat dulu dirumah,” suruh Pelatih.

“Tapi, Pak…”

“Kamu gak usah latihan dulu, lebih baik pulihin dulu cedera kamu, supaya bisa tampil di final, kita pasti masuk final,” kata Pelatih.

“Baiklah…”

***

Hari berikutnya, mereka tidak ada pertandingan, Rio pun disuruh beristirahat di rumah.

“Raaay!! Ambilin remote!!” suruh Rio. Ray melengos.

“Kak, remote ada di meja di depan elo, ngapain nyuruh gue??”

“Gue gak bisa gerak! Kan lo tau gue lagi cedera!” kata Rio.

“Bilang aja lo ngambil kesempatan!!” keluh Ray. Rio hanya nyengir. Kemudian Ify dateng membawa sesuatu yang dibungkus dengan plastik besar.

“Hei, Kak!” sapa Ify. Rio langsung nyamber plastik besar yang dibawa Ify.

“Iiih, apaan sih!! Ntar duluu!” seru Ify.

“Nih buat gue ya?”

“Iya, nih Chitato buat lo,” kata Ify.

“Akhirnyaaa…persediaan Chitato gue nambah!” kata Rio. Saat Rio mau memakan Chitatonya, Ify memasang wajah cemberut.

“Kenapa lo?” Tanya Rio.

“Kok lo lebih merhatiin Chitatonya daripada gue?? Gue kan pacar lo, malah calon istri lo, Kak…” gumam Ify sambil berakting.

“Masih aja ngungkit calon istri, hari ini pacar gue itu Chitato, Chitato udah jadi bagian dari idup gue,” kata Rio. Ify manyun dan kemudian mendorong muka Rio dengan tangannya.

“Sekalian nih makan tangan guee!!” seru Ify sambil membalikkan badan membelakangi Rio.

“Tuuh, kan ngambek lagi,” kata Rio. Ify melengos.

“Fy, lo kalo melengos kayak banteng mau nyeruduk orang tau, gak?” keluh Rio.

Tiba-tiba dari belakang Rio nyumpelin (bahasa paan nih?) Chitato ke mulut Ify. Mulut Ify jadi belepotan sama remahan Chitato. Rio ketawa ngakak.

“Kak Rio jahaaaat!!!” Teriak Ify sambil mengacak-acak rambut dan muka Rio (??).

“Aduh! Aduh! Sakiit!!” ringis Rio.

“Aduuh, jangan mesra di depan publik doong,” keluh Cakka yang baru datang bersama yang lain, ngejenguk Rio.

“Sirik aja lo ah, Cak! Lo kagak pernah mesra-mesraan ya ama Agni?” Tanya Gabriel.

“Sekalinya gue mau mesra, langsung masuk rumah sakit gue,” keluh Cakka.

“Derita, Cak!” celetuk Alvin.

“Widiih, ada Chitato banyaak! Minta doong!” kata Sivia sambil mengambil beberapa bungkus Chitato.

“Eh, maruk banget sih lo, Vi! Nih jatah gue! Jatah lo minta ke Alvin!” seru Rio. Sivia manyun.

“Kak Rio mah kesempatan manfaatin cederanya buat dapet perhatian dari Ify,” celetuk Shilla. Rio langsung melempar bantal kursi kearah Shilla.

“Baek-baek, Kak!” seru Shilla.

“Yo, numpang maen PS yak!” kata Gabriel.

“Yah, terserah lo deh,” ujar Rio.

Saat mereka sedang asik bermain di ruang tengah, Ify menuntun Rio ke teras rumah karena Rio mau ngobrol berdua dengan Ify.

“Kenapa, Kak?” Tanya Ify.

“Lo mau hadiah apa nih, gue bingung,” keluh Rio.

“Daridulu gue bilang, gue gak mau apapun dari lo, gue gak mau hadiah berupa materi, gue maunya berupa janji, janji kalo lo bakal terus bareng gue,” kata Ify.

“Sampe satu lobang kubur??” celetuk Rio.

“Ih, masih aja inget!” seru Ify. Rio tertawa.

“Lo juga harus janji sama gue,” ujar Rio.

“Janji apaan?”

“Janji lo terus jadi Ify yang gue mau, Ify yang gak bisa diem, biang rusuh, ngerayu gue mulu, ngegodain gue mulu, dan kege-eran mulu,” kata Rio.

“Lo? Lo seneng sama gue yang kayak gitu??” Tanya Ify. Rio mengangguk.

“Kok bisa?”

“ Lo gak jaim kayak cewek lain, lo itu cewek paling nekat yang pernah gue kenal, selama ini gue selalu nolak cewek yang nembak gue soalnya gue gak ngerasa nyaman sama mereka, dan baru kali ini gue bisa merasa nyaman dideket cewek selain Mama. Semua itu yang membuat lo istimewa, Fy,” tutur Rio.

“HUWAAA!!” Ify nangis lagi.

“Ya, ampuun! Lo nangis lagi?? Kenapa??” keluh Rio.

“Tangisan bahagia, Kak! Gue tersentuh bangeet!!” seru Ify sambil menghapus air matanya. Rio tersenyum.

“Gue sayaaang banget sama lo!!” Ify langsung memeluk Rio, muka Rio memerah.

“Fy, lepasin!” suruh Rio.

“Gue gak mauu!!”

“Fy, diliatiin sama anak-anak kecil di depan rumah!” kata Rio sambil menunjuk kearah pagar yang dipenuhi sama anak-anak kecil.

“Iihh, ada yang pelukaaan!!!” teriak salah satu orang anak. Muka mereka berdua merah.

“Heh!! Gangguu aja!! Pergi lo semuaa!!” teriak Ify. Mereka langsung pada pergi.

“Asiik kita dapet foto sensasional!” seru Sivia dari balik pintu rumah sambil memegang kamera Alvin.

“Aaah!! Lo moto ya, Vi??” Tanya Rio. Sivia nyengir.

“Asiiik, yang dipeluuk,” goda Gabriel.

“Iih, gue juga mau dipeluk, Agni peluk dong!” suruh Cakka.

“Nooo!!! Gue bogem lo!!” seru Agni.

“Eh, Ehm, pasangan sedeng!” celetuk Shilla.

“Yeuuh, ngomong asal bae lo, Shil!” seru Rio.

“Yang penting di peluk, Yo!” kata Alvin.

“Aaah, lo semua apaan siih!! Gangguu ajaa!! Apuus fotonyaaa!!” seru Ify.

“Gak mauu!! Mau gue kirimin ke majalah sekolaah!!” kata Sivia.

“Siviaaa!!!”

***

Memang Cuma Gue yang Bisa (sekuel Cuma Gue yang Bisa) part 5 (re-post)

Part 5: Saatnya Untuk Menemukan Cinta yang Baru


Sudah 2 hari ini Ify masih belum ngomong sama Rio. Mereka tak pernah bertatap mata. Di kantin pun Ify selalu memilih meja yang jauh dari Rio.

“Yo, anak-anak satu sekolahan pada bingung sama lo berdua lo tuh masih pacaran ato nggak, kapan lo berdua ngomong!” keluh Alvin. Rio menggeleng.

“Gue udah janji sama Ify, gue bakal terus nunggu dia sampe dia siap ngomong ke gue, gue gak mau maksa dia,” ujar Rio. Alvin, Gabriel, dan Cakka saling pandang.

“Lo hebat, Yo!” puji Cakka. Rio mengangkat alis.

“Maksud lo?”

“Baru kali ini kita liat sisi lain lo yang gak pernah lo tunjukkin ke kita, dulu lo emang makhluk paling jaim, jutek ke anak-anak cewek, termasuk Ify, tapi pas lo mulai deket dan nerima Ify masuk ke kehidupan lo, lo berubah drastis, lo lebih mengeluarkan sisi baik dan sisi kedewasaan lo, dan sekarang kita gak nyangka lo bisa sampe kayak gini, lo udah jadi cowok yang hebat, Yo!” tutur Gabriel.

“Apaan sih lo pada, kayak gue gini dibilang cowok hebat, dari Hongkong?” keluh Rio.

“Kita ngomong jujur, Yo. Lo harus terima kasih sama Ify, Ify yang udah bikin lo jadi kayak gini,” ucap Gabriel.

“Kayaknya gue gak nyesel punya sahabat kayak kalian,” kata Rio.

“Aduuh, Yo gue jadi gak enak niih!” kata Cakka malu-malu.

“Najis banget tampang lo, Cak!” seru Alvin.

***

Sepulang sekolah,

“Dev, ntar sore gue kerumah lo, ya!” kata Ray.

“Yok, maen PS kitaa!” seru Deva. Deva melihat ke arah gerbang sekolah. Keke sedang menunggu supirnya di depan gerbang. (udah pulang dari rumah sakit ceritanya :p).

“Ehm, mau deketin Keke kaan??” celetuk Ray.

“Yaiyalah, lo kira gue mau deketin siapa? Pak satpam? Iih ogah! Gue duluaan!!” Deva meninggalkan Ray. Ray pergi ke tempat parkir sendirian.

“Ke, sopir lo belum dateng?” Tanya Deva. Keke menggeleng.

“Kayaknya macet, Dev.” Ujar Keke.

“Gimana kalo sekarang lo gue anterin pulang, lo telpon sopir lo supaya gak usah jemput,” usul Keke.

“Kamu beneran mau nganterin aku?” Tanya Keke. Deva mengangguk.

“Yaa…sekalian gue mau ngajak lo kesuatu tempat,” kata Deva. Keke langsung menelepon supirnya.

“Pak Chiko, gak usah jemput Keke ya, Keke pulang bareng temen,” kata Keke.

“Yuk, ke parkiran!” ajak Deva.

***

Jam pelajaran telah usai, terdapat peraturan bahwa setiap pulang sekolah siswa atau siswi yang tercantum di daftar piket harus melaksanakan tugas piket, tapi karena factor kemalasan, akhirnya yang mengerjakan tugas piket hanya Ify sendiri, mulai dari menghapus papan tulis sampai menyapu.

Saat Ify sedang menyapu, ia mengintip keluar melihat para anggota tim basket sudah memulai latihannya dipimpin oleh Rio. Ify terus memandang Rio yang sedang memberikan arahan untuk teman satu timnya. Ify senang melihat sosok Rio yang bermain basket, karena bagi Ify, Rio yang sedang bermain basket terlihat sangat keren. Ify terus-terusan tersenyum melihat Rio. Ify melihat Rio sedang gelagapan karena tidak bawa minum, Rio harus menahan hausnya. Begitu melihatnya Ify langsung menaruh sapunya di pojok kelas dan langsung pergi keluar.

***

“Ah, sial! Gue lupa bawa minum!” decak Rio sambil merogoh isi tasnya.

“Nih, mau gak?” Tawar Alvin.

“Gak usah deh, gue juga belom haus banget, latihan yuk!” ajak Rio. Mereka kembali meneruskan latihannya.

***

Ify mengumpet di balik pohon sambil memegang sebuah botol air mineral. Begitu anak-anak basket sedang berkonsentrasi latihan, Ify mengendap-endap ke tempat tas mereka, dan menaruh sebotol air mineral itu di atas tas Rio, dan kemudian Ify langsung pulang meninggalkan lapangan sekolah.

***

“Akhirnya selesai jugaa…” keluh Rio sambil mengusap keringatnya.

“Besok kita harus berjuang mati-matian, kita harus bisa jadi tim terbaik!” kata Gabriel.

“Gue setuju pendapat lo!” dukung Alvin.

Mereka semua melepaskan kelelahan mereka dengan bercanda dan mengobrol. Saat Rio mengambil tasnya, tiba-tiba…

DUUG!

Sebuah botol air mineral jatuh di depan kaki Rio. Rio mengambil botol tersebut.

“Nih punya siapa??” tanya Rio.

“Gak tau! Punya lo kali,”

“Kan gue gak bawa minum,” keluh Rio.

Rio melihat sebuah pesan yang tertempel di botol tersebut dan membacanya.

SEMANGAT! Gue selalu dukung lo!

Rio langsung tersenyum begitu membaca 5 kata tersebut. Dia tahu siapa yang memberikan botol ini padanya. Semua langsung menatap Rio dengan heran.

“Kenapa lo? Kesambet?” Tanya Alvin.

“Ahahaa…nggak,” ujar Rio.

***

“Nih helmnya,” Deva memberikan sebuah helm biru ke Keke, Keke memakainya dan langsung naik ke motor Deva. Deva menstarter motornya dan langsung meninggalkan sekolah.

Diperjalanan …

“Ke, lo gak pegangan?” Tanya Deva.

“Nggak, Dev,” kata Keke.

Deva menarik tangan kanan Keke dan menaruhnya di depan perut Deva. Muka Keke memerah, dan jantungnya berdegup kencang. Baru kali ini ia nyaman bersama cowok lain selain Papa dan Rio. Selama di perjalanan, Deva dan Keke sama-sama tak saling bicara satu sama lain.

Motor Deva berhenti di sebuah danau, yang lumayan jauh dari kota. Keke membuka helmnya dan turun dari motor Deva. Keke terkejut bukan main karena masih ada sebuah danau dengan pemandangan terindah di sekitar kota besar.

“Gue tau lo pasti kaget kan?” Tanya Deva.

“Yaiyalah, aku kaget, di kota masih aja ada danau yang bersih terus pemandangannya indah banget, kok kamu bisa tau, Dev?” Tanya Keke. Deva hanya tertawa kecil.

“Gue seneng banget namanya jalan-jalan sendiri, terus gue gak sengaja nemuin danau ini, danau ini jadi tempatpersembunyian gue kalo ketauan dapet nilai jelek, hehee…” tutur Deva. Deva menarik tangan Keke.

“Ke, ayo duduk di bawah pohon yang itu! Adem lho! Nyaman lagi!” ajak Deva.

Jantung Keke berdegup kencang begitu melihat senyuman Deva. Keke menerima ajakan Deva untuk duduk di bawah sebuah pohon besar yang berada di pinggir danau. Memang benar yang dikatakan Deva, sangat nyaman, angin berhembus tidak begitu kencang, matahari tidak begitu menyengat. Deva berbaring di atas rerumputan disamping Keke.

“Lo gak ikut tiduran, Ke?” tanya Deva. Keke ikut mencobanya. Ia berbaring di sebelah Deva.

“Iya, Dev, disini nyaman banget, kapan-kapan kamu ajak aku kesini lagi ya,” ujar Keke sambil tersenyum.

“Tentu aja, gue bakal ngajak lo kesini lagi,” jawab Deva sambil membalas senyuman Keke.

“Dev…” panggil Keke.

“Hm?”

“Tau gak, sejak kamu ngomong sama aku pas di rumah sakit, sekarang sedikit demi aku bisa ngelupain Kak Rio, Kak Rio bener-bener ilang di pikiran aku, Dev.” tutur Keke.

“Oya? Yaa baguslah, setidaknya kalo ngeliat Kak Rio sama Kak Ify lo gak bakal jealous lagi kan??” Celetuk Deva.

“Apaan sih, Dev??” keluh Keke sambil mendorong bahu Deva. Deva hanya tertawa.

“Hahaa…lo yang apaan,” Deva kemudian bangun dan melihat sebuah perahu dayung beserta dayungnya di pinggir
danau.

“Ke, bangun! Naik perahu itu yuk!” ajak Deva.

“Ah, gak ah! Aku takut!” tolak Keke.

“Gak papa, Ke, ayo!” Deva lagi-lagi menarik tangan Keke.

“Tuh kan, maksa lagi!” keluh Keke.

“Kapan lagi cobaa??” ujar Deva. Keke menerima ajakan Deva.

Deva dan Keke duduk di atas perahu itu, dan Deva mulai mendayung ke tengah danau.

“Gak takut kan?” Tanya Deva.

“Tadi sedikit agak takut, tapi…sekarang udah nggak kok,” jawab Keke.

Mereka terus-terusan bercanda di tengah danau, tiba-tiba langit menjadi mendung dan gerimis pun turun.

“Dev, hujaan!! Ayo ke pinggir!” suruh Keke.

Deva mencoba mendayung dengan cepat, tapi karena saking paniknya perahu itu jadi goyang dan tidak seimbang.

“Deva, Deva! Ini kenapa!” seru Keke gelagapan.

“Eh! Gawat!” seru Deva. Karena terlalu panik, perahu jadi gak seimbang dan Deva tercebur kedalam danau.

BYUUUR!!

“Devaaa!!” teriak Keke. Keke terus-terusan melihat ke bawah mencari-cari Deva.

“Devaa!!Kamu dimanaa!! Devaa!!” Keke semakin panik, Deva tak muncul-muncul.

“Devaa, kamu dimanaa?”gumam Keke. Keke pun langsung nyebur ke danau mencari-cari Deva.

BYUUUR!!

“Devaa!!” teriak Keke.

“Hahahaa…ternyata lo bisa berenang juga,” Keke menoleh kearah suara. Deva berada di belakangnya.

“HUWAAAA!!!” Tangisan Keke meledak. Deva cengok.

“Lah? Kok lo nangis, Ke??” tanya Deva heran.

“Jahaat banget siih!! Aku tuh udah takut setengah mati, kalo kamu kenapa-kenapa!! Kamu malah boongin aku!!” gerutu Keke sambil menangis. Deva tertawa.

“Aku kan cuma bercanda, Ke..hehee…” kata Deva.

“Tapi bercanda gak gitu-gitu juga kalii!!” seru Keke.

“Yaah, maaf deh, kita duduk di gardu itu aja buat neduh, ntar lo sakit,” kata Deva. Deva membawa Keke ke sebuah gardu untuk berteduh. Deva memberikan jaket birunya dan memakaikannya
pada Keke.

“Thanks, Dev,” kata Keke.

“Sama-sama,”

Mereka menunggu hujan di gardu itu sampai reda, tapi karena hujan terlalu deras, mereka menunggu sangat lama.

“Dev, kamu tau gak Kak Rio itu cinta pertama aku,” gumam Keke. Deva terbelalak.

“Beneran?” Tanya Deva. Keke mengangguk.

“Kata orang sih, cinta pertama susah. dilupain, aku juga dulu mikir kalo aku bakal susah ngelupain Kak Rio, tapi ternyata nggak, aku bisa sedikit demi sedikit ngelupain Kak Rio,” kata Keke sambil tersenyum.

“Ooh gitu,” ujar Deva sambil tersenyum kecut.

“Dan sekarang saatnya gue mencari cinta yang baru, tapi kayaknya gue udah nemuin cinta yang baru itu,deh, ” gumam Keke.

“Hah? Cepet banget!! Siapa?” Tanya Deva penasaran.

“Dia yang udah nyadarin aku kalo cinta gak harus memiliki.” Jawab Keke. Deva matung, dia diem, gak ngomong. Keke melihatnya dengan heran. Keke mengibas-ngibaskan tangannya kedepan muka Deva.

“Dev? Deva?” Panggil Keke. Deva langsung sadar.

“Hah?”

“Kok matung gitu siih??” keluh Keke.

“I..itu…gue?” Tanya Deva. Keke mengangguk.

“Lo nembak gue ya? Polos banget sih lo, Ke!” seru Deva.

“Kalo aku nunggu kamu ngomong, aku malah jamuran! Ahaa..mending aku duluan yang ngomong, kamu masih suka sama aku kaan?” tanya Keke polos. Muka Deva memerah.

“Jangan ditanya, gue masih suka sama lo, Ke,” gumam Deva. Keke tersenyum dan kemudian mengecup pipi Deva. Muka Deva langsung panas dan pingsan.

GEDEBUG!

“Deva? Yaah, pingsaan…” gumam Keke sambil tertawa kecil.

***

“Sore, Kak!!” sapa Ray.

“Sore, Ray!”

“Deva mana?” Tanya Ray.

“Deva belom pulang, emang gak sama lo?” tanya Ify.

“Hah? Nggak,”

“Yaudah lo tunggu aja disini, siapa tau bentar lagi pulang,” Ify meneruskan membaca majalahnya. Sedangkan Ray bermain hape.

Tiba-tiba seseorang mengetuk dari luar, Ify membuka pintu dan mendapati Deva dengan muka cengengesan dan baju basah kuyup gara-gara hujan.

“Dih, muka lo jelek banget, Dev!” seru Ray.

“Hari ini gue maafin lo, Ray, karena gue lagi seneng!” kata Deva sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.

“Emang ada apaan, Dev?” Tanya Ify sambil menyesap susu coklat hangat.

“Gue udah jadian sama Keke!” seru Deva. Ify langsung tersedak, Ray mangap, Deva cengengesan.

“Hah? Yang bener lo??” Tanya Ify.

“Dih, beneran! Gue gak boong, dia yang nembak gue!!” kata Deva.

“Dunia hancuur!!!”seru Ray.

“Maksud lo apaan, gondroong?” tanya Deva.

“Kok Keke mau sama lo? Bukannya dia suka sama Kak Rio?” Tanya Ray.

“Dia udah nyerah, dan sekarang dia milih gue!” kata Deva.

‘Berarti Keke udah gak suka lagi sama Kak Rio?’ batin Ify.

“Kak, sekarang lo aman, Keke udah nyerah, makanya lo harus baikkan secepatnya! Gue dukung lo, Kak!” kata Deva.

“Gue juga!”

“Thanks ya,” kata Ify.

“Kita keatas yaa,” kata Deva. Deva dan Ray pergi ke kamar Deva.

***

Ify terus memandang BBnya, ia ingin sekali menelepon Rio, tapi Ify tak punya keberanian, untuk memandang mata Rio saja susah apalagi bicara. Tiba-tiba BBnya berbunyi dan membuat Ify kaget.

RIO Calling…

Ify mencoba untuk menerima telepon Rio, ingin sekali bicara dengan Rio, tapi lidahnya kelu, tak bisa mengucapkan kata-kata.

“Halo? Ify?”

Ify masih tak bisa berbicara, kata-kata yang ingin ia ucapkan tidak bisa keluar dari mulutnya dengan mudah.

“Thanks ya buat air minumnya tadi, oiya besok gue turnamen, gue harap lo dateng, dan kalo misalnya gue masuk final gue mau ngomong sama lo, selamat tidur, Fy. Gue sayang sama lo,”

Pembicaraan terputus. Ify menghela napas. Ia bersyukur masih bisa mendengar suara Rio.

“Gue bakal dateng ke pertandingan lo,” gumam Ify sambil tersenyum

***

Rio memutus pembicaraannya. Rio tersenyum, akhirnya telpon darinya tak di reject oleh Ify. Rio terus memandang langit malam dari balkon kamarnya sambil memainkan gitar kesayangannya.

Menatap indahnya senyuman di
wajahmu
Membuatku terdiam dan terpaku
Mengerti akan hadirnya cinta terindah
Saat kau peluk mesra tubuhku

Banyak kata
yang tak mampu kuungkapkan
kepada dirimu

Aku ingin engkau s'lalu
hadir dan temani aku
di setiap langkah
yang meyakiniku
kau tercipta untukku
sepanjang hidupku

Aku ingin engkau s'lalu
hadir dan temani aku
di setiap langkah
yang meyakiniku
kau tercipta untukku

Meski waktu akan mampu
memanggil s'luruh ragaku
ku ingin kau tahu
kau s'lalu milikku
yang mencintaimu
sepanjang hidupku

aku ingin engkau s'lalu
hadir dan temani aku
di setiap langkah
yang meyakiniku
kau tercipta untukku
ohhhh...
Ooohhhhhh..

***

Memang Cuma Gue yang Bisa (sekuel Cuma Gue yang Bisa) part 4 (re-post)

Part 4: Cinta gak Harus Memiliki


In the heat of the fight
I walked away,
Ignoring words that you were saying,
Tryna make me stay.
I said, "This time I've had enough."
And you've called a hundred times,
But I'm not pickin' up.
'Cause I'm so mad, I might tell you that
it's over.
But if you look a little closer

I said, "Leave," but all I really want is
you
To stand outside my window, throwing
pebbles, screaming, "I'm in love with
you."
Wait there in the pourin' rain,
Come back for more.
And don't you leave,
'cause I know all I need
is on the other side of the door.

Me and my stupid pride
I'm sittin' here, alone.
I'm going through the photographs,
Staring at the phone.
I keep going back over
Things we both said
And I remember the slammin' door,
And all the things that I misread.
So babe if you know everything
Tell me why you couldn't see
That when I left I wanted you to
Chase after me? Yeah

I said, "Leave," but all I really want is
you
To stand outside my window, throwing
pebbles, screaming, "I'm in love with
you."
Wait there in the pourin' rain,
Come back for more.
And don't you leave,
'cause I know all I need
is on the other side of the door.

And I scream out the window,
"I can't even look at you, I don't need
you,"
But I do, I do, I do.
I say, "There's nothing you can say
To make this right again, I mean it,
I mean it”
What I mean is

I said, "Leave," but baby all I want is
you
To stand outside my window, throwing
pebbles, screaming, "I'm in love with
you."
Wait there in the pourin' rain,
Come back for more.
And don't you leave,
'cause I know all I need
is on the other side of the door.

With your face, and your beautiful eyes
And the conversation
With the little white lies.
And the faded picture
Of a beautiful night
You carried me from your car
up the stairs
And I broke down cryin'
Was she worth this mess?
After everything and that little black
dress
After everything I must confess,
I need you
(The Other Side of The Door-Taylor Swift)

Ify terus mendengarnya berulang-ulang kali, karena lagu tersebut mencerminkan perasaan yang dialaminya saat ini (menurut penulis). Ify terus-terusan me-repeat lagu tersebut.

“Kak Ify!” panggil Deva yang langsung masuk kekamarnya.

“Kak, lo jangan muter lagu itu terus dong, kasian Taylor-nya nyanyi terus, capek,” celetuk Deva. Ify hanya tertawa.

“Ahaha, lo mau nyoba ngibur gue ya?” Tanya Ify. Deva hanya menggaruk-garuk kepala.

“Lo tenang aja, sekarang gue gak papa kok, gue udah baikkan,” ujar Ify meyakinkan adiknya yang sangat khawatir terhadapnya.

“Bener, ya, awas lo nangis lagi! Kak Rio daritadi nyoba telpon terus ke telpon rumah, soalnya hape lo di matiin, lo beneran gak mau ngomong dikit aja sama dia?” Tanya Deva. Ify menggeleng.

“Gue bukannya gak mau, Dev. Tapi gue masih belom siap aja, gue masih sakit,” kata Ify. Kemudian ia menghela napas.

“Gue rasa ini ulang tahun ke 17 gue yang paling buruk, Dev…” gumam Ify.

“Jangan ngomong kayak gitu, Kak! Gue yakin lo sama Kak Rio bakal baikkan lagi,” kata Deva. Ify tersenyum.

“Thanks, Dev atas doa lo,” kata Ify.

“Gue keluar dulu ya,” kata Deva. Ify mengangguk.

Deva keluar dari kamar Ify, dan pergi kekamarnya. Deva langsung mengambil jaketnya dan kunci mobil yang diletakka di samping Televisi, dan pergi ke suatu tempat.

***

Rumah Sakit

Keke terus menggonta-ganti channel Televisi. Ia merasa sangat bosan, orang tuanya lebih memilih pekerjaan mereka dibanding kesehatan anaknya. Keke sendirian di sana.

“Kak Rio kok gak dateng?” gumam Keke.

TOK…TOK…TOK…

Terdengar suara ketukan pintu dari luar, wajah Keke langsung berseri-seri.

“Masuuk!” seru Keke. Orang tersebut masuk.

“Kak Rio, udah ditungguin darita…” kalimat Keke terhenti. Bukan Rio yang ada di hadapannya. Deva yang ada di depannya.

“Ke, gue mau ngomong sama lo,” kata Deva. Keke melengos, dan membenamkan dirinya di dalam selimut.

“Mau ngomong apa lagi? Aku gak boleh suka sama Kak Rio?” Tanya Keke.

Deva duduk di samping tempat tidur Keke.

“Gue pengen ngomongnya ditaman aja, ayo.” Ajak Deva.

***

Deva dan Keke duduk di bangku taman yang kosong, saat itu langit sedang mendung, sehingga matahari tak begitu menyengat. Deva belum memulai topic pembicaraannya karena melihat Keke yang terus-terusan melengos.

“Ke, gue tau lo benci sama gue kan?” Tanya Deva. Keke tak menjawab.

“Sebenernya lo tau gak sih kenapa gue waktu itu istilahnya ‘ngelarang’ lo buat suka sama Kak Rio?” Tanya Deva.

“Aku tahu, kamu gak mau kan Kak Ify yang notabene kakak kamu itu sakit hati? Kamu gak mau aku jadi saingannya Kak Ify kan??” Kata Keke.

“Lo salah, Ke! Gue ngelakuin ini semua semata-mata cuma buat lo!” kata Deva. Keke menatap Deva dengan heran.

“Maksud kamu apaan?” Tanya Keke.

“Gue sumpah demi apapun, gue ngelakuin ini semua semata-mata cuma buat lo, gue cuma mau ngejagain perasaan lo, gue gak mau ngeliat lo sakit hati, soalnya gue tau sekeras apapun usaha lo menarik perhatian Kak Rio, Kak Rio gak bakal berpaling ke elo, dia tetep milih Kak Ify,” ujar Deva sambil menatap Keke lekat-lekat.

“Jadi, selama ini lo ngelakuin ini semua buat gue?” Tanya Keke. Deva mengangguk.

“Tapi perasaan aku ke Kak Rio udah terlalu gede, Dev. Mungkin udah gak bisa dibilang‘SUKA’ tapi ‘CINTA’,” gumam Keke sambil menahan tangisannya. Deva tersenyum dan mengacak-acak rambut ikal gadis itu.

“Cinta gak harus memiliki Ke, cinta sejati
itu rela melakukan apa saja supaya orang yang lo cinta itu menemukan kebahagiaannya sendiri, gak harus
bahagia bersama lo, gue yakin kalo lo ngeliat Kak Rio bahagia lo juga pasti merasa bahagia,” ucap Deva. Tangisan Keke sudah terbendung lagi, Deva memeluk Keke.

“Thanks, Dev…”

“Sama-sama,”

***

Keesokannya…

Saatnya Rio beserta anggota timnya berkonsentrasi untuk latihan karena kejuaraan basket antar provinsi akan berlangsung sekitar seminggu lagi. Untuk mencapai final mereka harus mengalahkan beberapa tim terkuat yang telah mewakili provinsi mereka sendiri. SMA Citra Bangsa terpilih untuk mewakili Provinsi DKI Jakarta karena telah mengalahkan beberapa tim basket unggulan lainnya termasuk Tunas Pusaka. Dan final tersebut akan dilaksanakan bertepatan dengan hari ulang tahun Ify yang ke-17.

Rio terus menengok kearah pinggir lapangan. Ia rindu sosok Ify yang terus-menerus mendukungnya di pinggir lapangan dengan anggota RISE yang lain. Sosok gadis itu tak terlihat diantara kerumunan RISE.

“Yo, lo mikirin Ify ya?” Tanya Gabriel sambil mengoper bola kearah Rio.

“Gue bener-bener gak ada kontak sama Ify, Yel. Hubungan gue sama Ify udah diujung tanduk nih, tinggal jatoh doang kebawah,” kata Rio. Alvin dan Gabriel hanya saling tatap.

Rio menghela napas dan duduk di tengah lapangan.

“Apa jangan-jangan hubungan gue cuma sampe disini doang ya?” gumam Rio. Alvin dan Gabriel duduk di samping Rio.

“Ngomong seenaknya aja lo, Yo! Lo berdua harus ketemu saling ngasih penjelasan satu sama lain, gue yakin kalo lo bisa jelasin semuanya ke Ify, Ify bakal ngerti.” Kata Gabriel.

“Tapi kayaknya Ify udah benci banget sama gue, mau nangis gue jadinya,” gumam Rio. (buset Rio mau nangis??).

“Ih, gak gentle banget sih lo! Gini doang nangis!” ujar Alvin.

“Seenak jidat lo ngomong! Gini doang, lo gak ngerasain sih!” keluh Rio.

“Gini ya, gue bilangin sebagai orang bijak dan sahabat lo yang paling ganteng, Ify bukannya benci sama lo, tapi dia cuma butuh waktu sendiri buat mikir mateng-mateng,” kata Alvin.

“Guenya yang kematengan nunggu!” keluh Rio. Gabriel menepok-nepok punggung Rio.

“Bener yang dibilang Alvin, lo tunggu aja waktu yang tepat, ntar ada waktunya lo berdua ngomong satu sama
lain, sekarang latihan ayo! Dikit lagi kejuaraan!” ajak Gabriel. Alvin dan Gabriel bangun dari duduknya. Kemudian Alvin mengulurkan tangannya ke Rio.

“Ayo, Yo! Berikan yang terbaik buat CB!” Seru Alvin. Rio tersenyum dan menyambut uluran tangan Alvin.

“WOI!! Para kodok!!” seru Cakka yang baru datang bersama Agni, Shilla dan Sivia. Rio, Alvin, dan Gabriel menoleh kearah pinggir lapangan.

“Eh, pesek! Sialan lo manggil kita kodok!” keluh Alvin.

“Lo bertiga emang kodok, ngeluarin aer mulu!” celetuk Cakka.

“Nih minumannya! Sekalian buat anggota yang lain!” kata Sivia sambil memberikan seplastik besar berisi minuman isotonik ke Alvin.

“Eh, Yel, Vin thanks ya pinjeman lo berdua ke gue,” kata Cakka.

“Maksud lo paan?” Tanya Gabriel.

“Lo berdua minjemin cewek-cewek lo, gue berasa jadi Charlie nih di Charlie’s Angel, dikelilingin cewek cakep, hahaa…” kata Cakka.

“Ngarep banget lo!” keluh Alvin.

“Ooh gitu yaa, dipinjemin cewek orang lain, lupa sama cewek sendiri..” sindir Agni sambil menjewer Cakka.

“Aduh, aduh, Neng Agni, jangan jewer kuping Bang Cakka dong! Bang Cakka kan cuma bercanda!” mohon Cakka.

“Biarin aja, supaya makin ganteng!!” seru Agni.

Mereka semua tertawa. Rio melihat teman-temannya berpasangan. Cakka-Agni, Alvin-Sivia, Gabriel-Shilla, mengumbar kemesraan. Rio makin meringkuk di pojok lapangan yang tak jauh dari mereka.

“Sial, gue dikacangin, serasa dunia milik berdua aja mereka…menyedihkan banget guee…” gumam Rio.

Mereka yang melihat Rio sendirian, mulai berbisik-bisik,

“Aduuh, kasian banget Rio terasingkan,” celetuk Cakka.

“Emangnya belom baikan sama Ify?” Tanya Shilla.

“Yaah, sendirian deh,” keluh Gabriel.

“Gak ada yang nemenin,” kata Alvin.

“Malang banget Kak Rio,” gumam Sivia.

“Sedih banget idupnya,” keluh Agni.

Rio yang berada di kejauhan…

“Dasar orang-orang gak berperasaan, ngomongin gue dari belakang, gue makan juga lo semua!” gerutu Rio.

“O, iya gue lupa, gue mau jenguk Keke dulu, kemaren kan gue gak dateng,” gumam Rio yang langsung pergi untuk berganti baju.

***

Rumah Sakit

Keke sedang mengupdate blognya, untuk menghilangkan rasa penatnya yang selalu ditinggal orang tuanya. Tiba-tiba terdengar suara ketokan pintu.

“Masuk!” seru Keke.

Keke terkejut begitu melihat seseorang yang paling ditunggunya datang sambil membawa parcel buah untuknya. Keke hanya tersenyum kecut.

“Kak Rio,” sapa Keke. Rio tersenyum dan duduk di bangku yang berada di samping tempat tidur Keke. Keke menutup laptopnya.

“Udah baikan?” Tanya Rio. Keke mengangguk.

“Besok juga boleh pulang kok,” gumam Keke. Kemudian mereka terdiam sesaat.

‘Gue harus ngomong sama Keke,’ pikir Rio.

‘Aku harus ngomong sama Kak Rio,’ pikir Keke.

“Kak..”

“Ke..”

Mereka ngomong secara bersamaan, kemudian berhenti lagi.

“Kakak aja duluan,” kata Keke.

“Nggak. Lo duluan aja,” suruh Rio. Keke menarik napas panjang.

“Aku suka sama Kakak,” tutur Keke. Rio terbelalak.

“Lo suka sama gue?” Tanya Rio. Keke mengangguk.

“Maaf, Ke…gue…”

“STOP!!” Keke menghentikan omongan Rio. Rio mengangkat alis. Keke hanya tersenyum.

“Aku emang suka Kak Rio, tapi sekarang aku sadar,” gumam Keke.

“Aku gak bakal bisa bikin Kak Rio milih aku, soalnya hati Kak Rio cuma buat Kak Ify, jadi aku mutusin buat mundur,” ujar Keke. Rio terdiam dan terus menatap gadis manis itu.

“Ada seseorang yang bilang bahwa cinta gak harus memiliki, cinta sejati itu rela melakukan apa saja supaya orang yang dicinta itu menemukan kebahagiaannya sendiri, jika orang dicintai itu bahagia, orang yang mencintai itu juga akan bahagia,” tutur Keke. Rio tersenyum.

“Sekarang lo udah dewasa, Ke!” kata Rio sambil tertawa.

“Yaiyalah, udah kelas 1 SMA! Kak Rio mau ngomong apa?” Tanya Keke. Rio menggeleng.

“Gak jadi, udah lupa, maklum ingatan gue jangka pendek, hahaa..” kata Rio. Tiba-tiba seseorang datang dengan penampilan yang cukup rapih.

“Deva,” panggil Keke. Rio melihat senyuman Keke merekah begitu Deva datang.

“Eh ada lo, Kak.” Kata Deva.

“Hei, Dev…” sapa Rio balik. Deva berdiri di sisi lain tempat tidur.

“Nih, gue bawain CD Boys Like Girls!” kata Deva sambil memberikan sebuah CD ke Keke.

“Asiik! Thanks, Dev!”

“Kalem, kalem sukanya Boys Like Girls lo, Keke…Keke..” Ujar Deva sambil tertawa.

Rio menatap mereka berdua sambil berpikir, dan kemudian mulai tersenyum.

“Kenapa lo, Kak cengengesan kayak gitu, lama-lama lo jadi kayak Kak Ify deh,” keluh Deva.

“Ahaha…nggak kok,” kata Rio sambil menenteng tasnya. Rio mendekat ke telinga Keke.

“Gue tahu siapa udah bikin lo dewasa…” bisik Rio. Muka Keke memerah. Rio hanya tersenyum.

“Gue balik!” pamit Rio.

“Kak Rio!!” Panggil Keke. Rio menoleh.

“Bahagiain Kak Ify ya!” kata Keke.

“Gak usah lo bilangin juga gue bakal ngelakuin itu!” Rio pun meninggalkan Keke dan Deva di kamar rawat Keke.

***

Rio mematikan mesin motornya dan membuka helm full-face yang dipakainya. Rio berhenti didepan rumah Ify. Ia memencet tombol rumah Ify.

“Eh, Den Rio, mau ketemu Non Ify ya?” Tanya satpam dirumah Ify.

“Iya, Pak. Ifynya ada?”

“Lagi di kamar, masuk kedalam aja Den, ada Bu Risna kok di dalam,”

“Makasih, Pak.”

Rio masuk kedalam rumah Ify dan kemudian disambut oleh Bu Risna.

“Eh, Rio mau ketemu Ify ya?” Tanya Bu Risna.

“Iya, tante. Ify dikamar ya?” Tanya Rio.

“Iya, Yo. Daritadi gak keluar kamar, tidur kali,” keluh Bu Risna.

“Boleh Rio keatas?”

“Oh, boleh kok, silahkan.”

Rio naik ke lantai atas dan berdiri di depan kamar Ify. Rio terus mengetuk-ngetuk pintu kamar Ify. Tapi tak digubris.

“Fy, gue tau lo masih marah sama gue, gue gak maksa lo buat ngomong sama gue, tapi gue harap lo mau ngomong lagi sama gue, gue pulang dulu,” kata Rio.

Begitu turun dari lantai atas, Rio ditanya oleh Bu Risna.

“Udah ketemu Ify?” Tanya Bu Risna.

“Kayaknya Ify lagi tidur, Tante,” kata Rio.

“Kayaknya akhir-akhir ini kamu jarang kerumah, Yo. Kamu gak ada masalah kan sama Ify?” Tanya Bu Risna.

“A..eng..enggak kok, kita gak ada masalah apa-apa, Rio balik ya Tante,” kata Rio ngeles.

“Hati-hati ya!”

Rio memang sengaja menyembunyikan masalah mereka berdua dari orangtua Ify, karena itu adalah masalah mereka. Sebelum Rio menjalankan motornya, Rio mengeluarkan handphone dan mulai mengetik sebuah pesan singkat.

***

“Fy, gue tau lo masih marah sama gue, gue gak maksa lo buat ngomong sama gue, tapi gue harap lo mau ngomong lagi sama gue, gue pulang dulu,”

Ify tidak mau membuka pintu kamarnya, ia masih belum siap bertemu dengan Rio. Hatinya masih sakit. Begitu tidak ada tanda-tandanya lagi, Ify membuka pintu kamarnya perlahan. Rio sudah turun kebawah. Ify menutup pintu kamarnya lagi dan berbaring di kasurnya sambil memandang foto mereka berdua.

“Gue harap lo masih mau nunggu gue untuk ngomong sama lo, Kak…” gumam Ify. Kemudian BB Ify berbunyi. Sebuah pesan singkat masuk. Ify membuka pesan tersebut.

From: Rio

Gue bakal terus nunggu lo sampe lo mau ngomong sama gue.
Gue sayang sama lo

Rio

Ify tak bisa menahan air matanya begitu membaca pesan singkat dari Rio. Ify membenamkan wajahnya di telapak tangannya. Tangisannya tak bisa terbendung lagi. Ify sadar bahwa ia gak bisa membenci Rio. Ify kangen sama Rio. Ify rindu saat dirinya mulai ngoceh gak jelas sampai membuat Rio risih, Ify
rindu pergi berdua dengan Rio. Ify rindu dengan senyuman Rio. Ify rindu dengan semuanya yang ada di Rio.

***