Minggu, 31 Juli 2011

Cuma Gue yang Bisa part 20 (re-post)

Part 20: Rio Cemburu


“Gimana? Deal?” Tanya Debo.

“Deal.” Mereka berjabat tangan.

Rio dan Debo membuka jaketnya, Rio mengambil bola basketnya dan membawanya ketengah lapangan. Ia berikan kepada Debo. Mereka sudah bersiap-siap di tengah lapangan. Debo memulai permainannya, Rio merasa sangat kesulitan untuk mengimbangi permainan Debo karena baru sembuh dari sakitnya. Akhirnya Debo mendapat poin pertama. Rio sudah mulai kelelahan. 2-0

“Lo kenapa, Yo? Permainan lo gak sebagus biasanya!” Seru Debo sambil mendribble bola. Rio menghapus keringatnya yang sudah bercucuran. Rio gak mau bilang tentang dirinya yang baru sembuh dari sakit, karena akan membuat Debo mengalah dan memperlambat permainannya. Rio langsung berlari mencoba mengambil bola Debo, dan kedudukannya pun menjadi 2-2. Persaingan semakin sengit, sampai akhirnya nilai mereka 8-8, hanya
dengan satu lemparan lagi, Rio ataupun Debo akan memenangkan duel mereka berdua. Karena Rio semakin kelelahan dan lemah, angka terakhir berhasil di rebut oleh Debo. Rio kalah.

“Lo kalah, Yo.” Kata Debo. Rio menghapus keringatnya dengan tangannya.

“Oke, gue bakal nyerahin Ify ke elo.” Kata Rio. Debo menggeleng.

“Nggak, gue tau kayaknya lo lagi sakit, jadi pertandingan kita gak sah. Kita lihat pas turnamen, lo harus bawa tim lo masuk final dan bertemu dengan tim sekolah gue, di sana kita bakal tanding habis-habisan,” ujar Debo sambil melempar bola basket kearah Rio.

“O,ya satu hal lagi yang perlu lo tahu, yang berhak memilih adalah Ify sendiri, kita gak berhak, sampai ketemu di final,” kata Debo dan langsung pergi meninggalkan Rio sendirian.

Rio duduk di bangku yang berada di
pinggir lapangan, ia langsung mengacak-acak rambutnya,

“Kok gue bego banget sih!” Keluh Rio.

***

“Turnamen mau dimulai tapi kok si Ify belom dateng ya?” Tanya Sivia.

“Iya, nih! Kemana tuh anak!” keluh Shilla.

“Dandan dulu kali yang rapi, supaya dilirik sama Rio, wakakak!” kata Agni.

“Kak Cakka, ngintilin Kak Agni mulu nih!” celetuk Sivia.

“Hehee..Agninya gak marah kok!” kata Cakka nyengir.

“Haaahh, capek gue ngadepin dia,” keluh Agni.

***

Rio terus-menerus melirik kearah tribun penonton, ia melihat kearah tempat duduk Sivia, Shilla, Agni, dan Cakka tidak ada Ify. Ia melihat kearah tempat pendukung Rio yang berasal dari RISE, juga tidak ada. Rio hanya menghela napas. Ify tak datang.

“Yo, semangat dong!” kata Alvin sambil merangkul bahu Rio.

“Muka lo jangan di tekuk gitu, kasian fans-fans lo, gue tau lo kecewa gara-gara Ify gak dateng, tapi lo itu kapten Yo, lo harus nyemangatin semuanya, gue yakin Ify dateng, cuma macet doang kali di jalan!” Hibur Gabriel.

“Iya, Yo. Ayo kita tunjukkan yang terbaik, kita bisa masuk final!” kata Alvin. Rio tersenyum.

“Ayo!”

Tim CB berkumpul untuk menyusun strategi, dengan Rio yang menjadi kaptennya. Saat Rio berjalan menuju ke tengah lapangan, tiba-tiba ada yang memanggilnya.

“Kak Riooo!!!” Panggil seorang cewek. Rio menoleh.

“Ify? Gue kira lo gak dateng!” kata Rio.

“Gue kesiangan, gue tau lo pasti ngarepin gue dateng, hehee…” kata Ify nyengir.

‘Ini dia Ify yang biasa, Ify yang gue suka…’ pikir Rio sambil tersenyum.

“Ini buat lo!” kata Ify sambil memberikan sesuatu kepada Rio.

“Jimat??” Tanya Rio heran, (nih bener-bener kayak komik -.-) Ify mengangguk.

“Musyrik lo!” Tuduh Rio.

“Yeee…gue kan cuma maen-maen doang! Siapa tau ampuh kaan? Kan gue mau ngikutin yang dikomik-komik, pas cowoknya mau tanding ceweknya ngasih jimat supaya menang, terakhirnya cowoknya menang kan?” kata Ify.

“Sejak kapan gue jadi cowok lu?” Tanya Rio melengos.

“Dikit lagi, Kak. Lagipula ortu lo sudah merestui, hehee…” ujar Ify malu-malu.

“Dapet dari mana? Mama Lauren? Ki Joko Bodo?” tanya Rio.

“Mama Lauren udah meninggal tau! Kalo gue ke Ki Joko Bodo, ntar gue malah gak boleh idup di darat, ntar bilang gue cocok idup di aer, gue bikin sendiri.” kata Ify. Rio hanya tertawa.

“Gue simpen baik-baik!” Rio langsung pergi ke tengah lapangan.

“Kak Rio semangaaat!!!” Teriak Ify. Rio mengacungkan jempolnya.

Ify pun pergi ke tribun penonton. Dan di liatin oleh teman-temannya, Ify merasa risih diliatin kayak gitu.

“Kenapa lo pada ngeliatin gue kayak gitu??” Tanya Ify.

“Asiiik, dah yang mulai mesra gitu sama Rio, hehehee..” goda Cakka. Muka Ify memerah.

“Dikit lagi ada yang bikin hajatan deeh,” kata Sivia.

“Udah ah, tuh pertandingannya mau dimulai!!” Ify ngeles.

Pertandingan pun dimulai, pertandingan pertama Citra Bangsa melawan SMA Pelita Jaya. CB bermain sangat bagus, terutama sang kapten, Rio tampil sangat memukau. Membuat semua orang terkagum-kagum. Akhirnya SMA Citra Bangsa menang telak 86-62.

Jadwal hari ini, SMA Citra Bangsa bermain 2 kali. Pertandingan berikutnya CB melawan Nusantara. Tapi pertandingan diselingi dulu dengan dua pertandingan. Mereka makan siang dulu di kantin dekat tempat pertandingan.

“Yo, lo udah sehatan nih ceritanya pas Ify dateng??” Celetuk Gabriel.

“Paan sih lo!” Keluh Rio.

“Tuh, kan kalo gue dateng lo jadi lebih semangat gitu, hehee..” kata Ify cengengesan. Rio mulai risih lagi.

“Berarti tinggal Agni Cakka sama Rio Ify, hahaa..” goda Gabriel.

“Betul! Sekalian aja kita jodohin sekarang!” kata Sivia.

“Eit, gak usah dijodohin, sama nyokapnya Kak Rio juga katanya gue mau dijodohin sama Kak Rio! Hahaa…” kata Ify tertawa ngakak. Semua terbelalak.

“Yang bener, Yo??” Tanya Alvin gak percaya.

“Itu bualannya nyokap gue doang, gara-gara ketemu Ify!” Seru Rio.

“Eh, buktinya nyokap lo masih setia nungguin gue supaya gue mau di jodohin sama lo!” kata Ify.

“Eh gue yang gak mauu!!” Seru Rio.

‘Gue gak mau sekarang, tapi ntar aja…hehee’ batin Rio.

“Ify!!!” Panggil seseorang dari kejauhan. Ify menoleh.

“Gue kesana dulu ya!” Ify meninggalkan mereka semua.

“Ify dicariin Debo?” Tanya Alvin.

“Ngapain lagi si Debo?” Tanya Cakka.

Rio yang udah mulai panas, ia meremas gelas yang dipegangnya dari tadi dengan sangat kencang. Begitu melihat Ify dan Debo tertawa-tawa, Rio semakin mengecangkan remasannya sampai-sampai…PRAAKK

Semua mata terbelalak, Rio pun sama, gelas yang di pegangnya retak saking kencengnya di remas sama Rio.

“Rioo, masya Allah! Tenaga lo! Gilaa!!” kata Cakka takjub.

“Tenaganya keluar saking cemburunya, hahaaa…” Alvin tertawa ngakak.

“Gue mau ke dalem dulu, keki gue disini!!” Rio langsung meninggalkan teman-temannya.

“Yah, pergi deh,” kata Gabriel.

“Namanya juga orang cemburu,” kata Shilla.

“Udah yuk masuk ke dalem!” Ajak Agni.

Mereka pun pergi ke dalam gedung, meninggalkan Ify dan Debo yang sedang diluar.

***

“Eh, ternyata lo semua disini?? Gue cari-cari tau gak!” kata Ify.

“Fy, lo tadi ngapain sama Kak Debo?” Tanya Sivia.

“Ng..nggak kok, cuma ngobrol doang..hehee…” kata Ify. Rio hanya diam saja. Ify menatap Rio dengan wajah penuh penasaran.

“Kak Rio? Kenapa?” Tanya Ify yang duduk di samping Rio.

“Nggak papa,” kata Rio ketus.

“Lo marah ya sama gue? Salah gue apaan? Tanya Ify.

“Tanya aja sama tembok!” Kata Rio sambil meninggalkan Ify.

“Kak Alvin, Kak Rio kenapa sih?” Tanya Ify.

“Ehm, ngambek!” celetuk Cakka.

“Ngambek? Ngambek sama siapa?”

“Sama tembok kali, udah ah biarin aja si Rio, mending kita tonton pertandingannya TP sama Kasih!” kata Gabriel.

“Oh, iya Kak Debo ya maen?” Tanya Ify. Gabriel mengangguk.

Rio pindah tempat duduk yang lumayan jauh dari Ify dan teman-temannya yang berada diatas, ia terus memandang Ify yang memasang wajah senang saat Debo bertanding. Malah memberi semangat. Rio yang sedang memegang handuk kecilnya langsung diremas-remas dan hampir dimakan sama Rio saking kesel dan cemburunya. Alvin yang melihat kearah atas, melihat Rio yang memasang wajah kesal,

“Kak Alvin, kenapa?” Tanya Sivia.

“Aura diatas udah kayak neraka, liat aja.” Suruh Alvin. Sivia nengok keatas.

“Eh, iya, serem amat!” kata Sivia.

“Rio terlalu jaga image, makanya ngerasain kan sekarang sakitnya, Rio…Rio…” keluh Alvin.

“Ifynya juga gak nyadar, daritadi diliatin terus sama Kak Rio, tapi dianya malah dukung Kak Debo,” kata Sivia.

“Dua orang gak peka,” kata Alvin. Sivia hanya menghela napas.

Pertandingan hampir dimulai, Debo melirik kearah tribun penonton dan melihat Ify yang terus-menerus memberi semangat untuk Debo. Debo tersenyum kearah Ify, kemudian pendangannya beralih kearah Rio yang sedang kesal melihat Ify mendukungnya.

“Makin seru aja,” gumam Debo.

“Hah? Lo ngomong apaan, De?” Tanya Abner.

“Nggak kok,” jawab Debo.

Pertandingan di mulai, TP bermain menyerang, Kasih terus-menerus diserang oleh pasukan Debo. Tak heran banyak TP banyak mencuri angka, dan Kasih semakin kewalahan, karena pertahanannya selalu ditembus oleh mereka.

“Gila, TP mainnya cepet banget!” kata Gabriel.

“Debo, udah kayak musang!” keluh Alvin.

“Keren sumpah, kerjasamanya bagus!” kata Shilla.

Pertandingan pun selesai, dengan kemenangan telak TP dengan skor 88-52. Debo langsung menghampiri Ify dan teman-temannya. Otomatis Rio yang berada diatas, langsung ngamuk-ngamuk sendiri, Rio sampai melempar handuknya dengan kencang. Tapi…

“Heh! Kamu ya yang ngelempar anduk ke saya ? Tanya Bapak-bapak dengan muka yang sangat amat garang, seperti mau memakan Rio. Muka Rio semakin pucat.

“Eng..ma..maaf, Pak, saya gak sengaja!” Rio memohon maaf, pada Bapak itu.

“Makan tuh anduknya!” Bapak itu langsung melempar handuk Rio kearah muka Rio.

“Sial kan tuh gue!!” Gumam Rio.

***

“Gimana permainan gue?” Tanya Debo.

“Keren banget, De! Gue salut sama lo!” Kata Alvin.

“Cepet banget, gue yakin tim lo bakal masuk final!” ujar Gabriel.

“Gue juga yakin tim lo juga masuk final,” kata Debo.

“Sampe ketemu di final, Bro!” kata Alvin sambil menepuk bahu Debo, dan bersiap-siap untuk pertandingan berikutnya.

“Yel, ayo!” Ajak Alvin. Alvin mencari-cari Rio diatas.

“Yo, ayo! Muka lo jangan ditekuk gitu! Fans lo berkurang lho!” kata Alvin. Rio berdiri dari tempat duduknya dan pergi kebawah menuju arena.

“Biarin aja, gue seneng kok!” jawab Rio jutek. Ify terus memandang Rio yang tiba-tiba saja berubah drastis, Debo melihat Ify yang memasang wajah kecewa. Debo hanya tersenyum dan mengacak-acak rambut Ify.

“Udahlah, Fy. Kali aja Rio suasana hatinya lagi gak enak,” kata Debo. Ify tersenyum masam.

Pertandingan Citra Bangsa dengan Nusantara pun dimulai, tapi entah kenapa Rio tak bisa berkonsentrasi dalam pertandingan, bola yang dioper
ke Rio, tak ada satupun yang bisa ia tangkap.

“Yo, lo kenapa sih? Konsen!!” suruh Alvin.

“Iya, gue konsen!!” jawab Rio marah-marah.

Tapi tetap saja Rio tak bisa konsen, pandangannya tertuju pada Ify yang sedang mengobrol dengan Debo. Ify tak memberinya semangat lagi. Membuat Rio semakin jengkel. Tiba-tiba…

BRUUUKK!!!

Rio tersungkur di tengah lapangan, ia didorong oleh pemain lawan. Tentu saja Alvin dkk mengajukan protes ke wasit karena tim lawan melakukan pelanggaran.

Ify terkejut melihat Rio yang didorong oleh tim lawan. Ify pun turun ke bawah melihat keadaan Rio yang kurang bersemangat.

“TIME!!!” Pelatih CB meminta waktu sebentar untuk berunding.

“Yo, lo gak papa?” Tanya Gabriel.

“Iya, gue gak papa.” Jawab Rio singkat.

“Rio, kamu kenapa? Permainanmu jelek sekali! Kamu gak mau tim kita masuk final??” Tanya pelatih.

“Maafin saya, Pak. Saya kurang konsen,” kata Rio.

“KONSENTRASII!!” Teriak Pelatih. (Rio kasiaan di marahin pelatih T.T)

“Kembali ke lapangan!” suruh Pelatih.

Gabriel menghampiri Rio dan menepuk bahunya.

“Yo, gue tau lo cemburu sama Debo yang daritadi deketin Ify terus, tapi tolong lupain aja masalah pribadi lo itu sebentar supaya lo konsen! Debo udah ngarepin kita masuk final, Yo!” Ujar Gabriel.

Rio hanya diam saja dan meninggalkan Gabriel. Gabriel hanya menghela napas. Rio melihat Ify sedang berdiri di pinggir lapangan dengan wajah penuh kekhawatiran. Tapi Rio hanya membuang muka, membuat Ify semakin sakit. Ify pun pergi meninggalkan gedung.

Pertandingan kembali dimulai, Rio bermain semakin cepat, dengan bantuan teman satu timnya, menembus pertahanan Nusantara. Pertandingan dimenangkan oleh, Citra Bangsa dengan skor yang tipis 76-72.

“Seluruh pertandingan hari ini selesai, dan perempat final akan dilakukan besok, dimulai pukul 08.00, terima kasih.”

Rio celingak-celinguk mencari sosok Ify, tapi tidak ia temukan, akhirnya ia bertanya kepada Sivia.

“Vi, Ify mana?” Tanya Rio. Sivia melengos.

“Udah pulang.” Jawab Sivia ketus dan pergi meninggalkan Rio. Shilla, Agni,
Cakka, dan Gabriel juga pergi meninggalkan Rio, kecuali Alvin. Rio mengacak-acak rambutnya karena kesal dengan dirinya sendiri, Alvin hanya memukul bahu Rio. Alvin menyuruh Rio duduk disampingnya.

“Kenapa sih gue gak bisa bersikap baik sama Ify?” Gumam Rio.

“Yang bisa jawab pertanyaan lo itu, cuma lo sendiri, bukan gue,” ujar Alvin.

“Gue gak pantes buat Ify, Vin. Dia udah sakit hati banget, gue yakin dia udah nyerah buat ngedapetin gue,” ujar Rio.

“Jujur ya, Yo. Lo itu terlalu ngejaga image lo, lo gak mau Ify tau soalnya perasaan lo ke dia, soalnya lo pikir harga diri lo bakal jatoh gitu aja, dulu orang-orang kenal lo sebagai Rio yang jutek, nyebelin, jarang yang namanya deket sama cewek, sensi banget kalo dideketin Ify, sekaramg malah kebalikannya, lo ngejar-ngejar Ify, seakan-akan lo itu bener-bener kena karma.” Jelas Alvin.

“Gue sampe segitunya? Gak nyadar gue…”

“Iya, lo gak nyadar, tapi semua orang sadar! Tau gak, lo sama Ify sama-sama saling kejar satu sama lain, tapi gak pernah ketemu, pasti ada penghalang yang bikin lo berdua itu gak ketemu, yaitu diri lo sendiri, Yo. Diri lo sendiri penghalangnya yang bikin lo sama Ify gak pernah ketemu.” Kata Alvin.

Rio terdiam mendengar penjelasan sahabat baiknya itu. Hanya Alvin yang mengerti seluk beluk kehidupan Rio. Alvin yang selalu memberi nasihat pada Rio.

"Lo terlalu menutup diri lo, gak pernah mau ngebuka sedikit aja buat Ify. Lo sayang kan sama Ify? Lo gak mau kan kehilangan dia? Mulai sekarang lo harus buka diri lo, kayak lagunya ARMADA, buka hatimuuu…bukalah sedikit untukku…” kata Alvin.

“Ahelah, ngelawak aja lo, Vin!! But, Thanks, lo emang sahabat gue banget,” kata Rio.

“Nasehat gue ada gunanya juga sekarang, hehee…” kata Alvin.

“Gue bakal nyatain perasaan gue kalo misalnya gue menang ngelawan Debo di final.” Kata Rio optimis.

“Kalo gak menang, Yo?”

“Jangan bilang gak menang!!! Harus menang!!!” Seru Rio.

“Oke! Kita bakal menang, Yo!!!”

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar