Minggu, 31 Juli 2011

Pembantu Baruku part 31 (re-post)

"Ri..o.." gumam ify pelan, dan perlahan kedua kelopak matanya pun terbuka.

Ify mengerjap-ngerjap kecil, membiasakan matanya dengan cahaya yang menyeruak.

"Akhirnya elo bangun juga fy.." kata gabriel bernafas lega. Ify menoleh ke arah gabriel. Kenapa tadi dirinya merasa bahwa rio lah yang duduk ditempat iyel sekarang?? Menjaganya, mengelus puncak kepalanya, dan mengecup keningnya lembut. Bahkan sampai sekarang, dirinya masih bisa merasakan kehangatan itu.

"Fy." panggil gabriel pelan, membuyarkan smua lamunan ify.

"Elo kenapa sih?? Masih pusing ya??" lanjut gabriel lagi. Ify menggeleng kecil

"Yel, tadi rio disini ya??" tanya ify
dengan suara serak. Iyel mendengus kesal, lalu dilemparkannya handuk kecil yang akan digunakannya untuk kompresanify.

"Kenapa elo masih mikirin tu anak sih fy??! Buang perasaan loe! Orang kaya dia tu nggak pantes buat elo harepin! Dia nggak sebaik itu sampai mau jenguk elo kemari fy." kata gabriel. Terdengar jelas bahwa dia masih kesal dan kecewa pada sahabatnya itu.

Ify mengusap mukanya, dan perlahan tetes air mata itu jatuh kembali. Rasa sesak langsung menyeruak di dadanya.

"Kenapa sesakit ini tuhan??" batin ify perih.

Kenapa begitu sulit baginya melepas
rasa ini?? Ingin sekali dirinya membuang rasa ini jauh-jauh, melupakan semuanya. Tapi kenapa semakin kuat tekadnya untuk melupakan semuanya, semakin erat juga rasa itu mengikat batinnya, semakin erat ingatan itu melekat di pikirannya, semakin besar rasa rindunya, pengharapannya. Semakin besar cintanya untuk rio. Gabriel menatap ify perih,

"Kenapa elo tega nyakitin ify yo?? Dia terlalu rapuh untuk rasain sakit itu.."

"Udah fy.. Lupain emuanya. Elo bisafy.. Elo kuat untuk itu" bisik gabriel, lalu direngkuhnya ify kedalam pelukannya. Membiarkan sepupunya itu mencurahkan semua perasaannnya. Membiarkan ify meluapkan semua sakit itu.

****

Beberapa kilometer dari rumah ify sesosok lain juga tengah merasakan sakit. Satu sakit yang sama seperti yang dirasakan ify, dan satu lagi sakit yang membuat seluruh raganya lemah tak berdaya.

"Aaaaargh...sa...kiit.." erangnya kesakitan. Rahangnya mengeras menahan sakit itu, sakit yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Membuatnya seakanakan lumpuh. Dan sakit itu berakhir di hatinya.

"Ini fy.. INi alasan gue. Kenapa gue melepas elo. Karna gue nggak mau elo liat gue dalam keadaan kaya gini. Karna gue nggak ingin elo ikut ngerasain sakit yang gue rasain. Biar gue yang menderita fy, cukup gue yang rasain semua sakit ini. Gue nggak mau elo jatuh ke jurang yang sama seperti gue."

****

Hari-hari berlalu. Dan sama sekali ttak ada kemajuan. Sama sekali nggak ada kelurusan antara rio dan ify, rio dan iyel, rio dan semuanya.

Kejujuran yang dijanjikan rio pun seolah tak pernah ada. Seolah itu semua hanyalah ucapan lalu yang tak harus ditepati. Rio yang selalu menunda waktu malah memperburuk keadaan, menimbulkan kekecewaan antara mereka semua. Menipiskan kepercayaan teman-temannya yang muak dengan keadaan ini.

"Yo.." panggil alvin.

Rio menoleh, lalu tersenyum simpul.

"Vin, gue..." ucap rio terpotong. Merasa frustasi.

Rio menarik nafas panjang, lalu mengusap mukanya. Semua makin terasa berat. Alvin menatap rio iba, ikut merasakan sesak yang dirasakan sahabatnya itu.

"Udah yo.. Jangan peduliin iyel barusan. Yang harus elo lakuin sekarang hanya fokus ke acara kita. Buang semua masalah loe. Sekarang ini cukup fokus ke acara pelantikan ini. Tugas terakhir elo sebagai ketua." kata alvin sambil menepuk pundak rio. Memberikan semangat.

"Kenapa nggak satu pun mereka yang mau mengerti gue vin.." lirih rio, tanpa memperdulikan ucapan alvin barusan.

Alvin menghela nafas panjang.

"Elo harus maklum yo. Mereka cuma kecewa sama elo yang selalu ulur waktu. Elo selalu bilang besok, lusa, tapi apa?? Elo nggak tepatin sama sekali kan?? Mereka cuma nggak tahan sama keadan elo. Prihatin akan hubungan elo dan ify. Muak dengan suasana yang elo berdua ciptakan.
Perasaan mereka cuma nggak lebih dari rasa khawatir kepada temannya."
jelas alvin.

"Tpi gue juga butuh waktu vin.." lirih rio lagi.

"Udah. Kita semua udah kasih elo waktu. Yo..gue ngerti perasaan elo. Gue au elo cuma nggak ngin ify masuk dalam masalah loe. Tapi.." jelas alvin
terpotong. Merasa bingung. Alvin lalu menarik nafas panjang,

"Oke, sekarang buang semuanya. Cukup fokus untuk acara ini. Sekarang tugas elo cuma bikin acara pelantikan ini lancar. Dan elo jangan sampai banyak pikiran. Elo ingat kata dokter kan?? Beban batin bisa memperburuk keadaan elo." ucap alvin sambil tersenyum memberi semangat pada sahabatnya itu.

Rio membalas senyum alvin malas. Lalu bangkit dari duduknya. Dan melangkah menuju ruang osis, melaksanakn tugasnya. Rio menatap teman-temannya itu satu persatu lalu menarik nafas panjang.

"Oke guys. Ini acara terakhir kita. Tugas terakhir kita sebagai pengurus osis selama setahun ini. Saya harap semuanya dapat bekerja sama dengan baik. Lupain semua masalah kita, fokuskan pikiran kita smua untuk mensukseskan acara ini."

****

Setelah acara pendaftaran, seleksi, dan LDK. Sekarang akhirnya pelantikan bagi calon pengurus osis baru yang akan menggantikan rio dkk dilaksanakan.

Acara berlangsung lancar seperti yang direncanakan. Sampai pada akhirnya rio akan menyampaikan pesannya sebagai ketua osis lama.

"Yo..giliran lo tuh.." kata cakka sambil menyikut rio pelan yang duduk disebelahnya.

"Yo..udah giliran elo. Kok diem aja sih??" kata via ikut mengingatkan sambil mendorong rio dari belakang. Yang dipanggil masih tetap diam. Sama sekali nggak menunjukkan tanda-tanda kalau dia akan maju ke depan. Masih sibuk mengurut-urut kepalanya yang terasa berat.

"Yo??" panggil cakka lagi, dan sedikit bingung dengan tingkah rio. Rio masih tetap diam, sama sekali nggak bereaksi. Kepalanya makin terasa berat.

"Cak...ambilin..obat..gue.." rintih rio sambil menunjuk tasnya. Bergegas cakka segera meraih tas rio dan mulai mencari-cari obat yang dimaksud.

"Yang mana yo??" tanyanya bingung karna yang dicari nggak ada. Rio nggak menjawab, tenaga seperti terkuras habis. Rasa sakit itu terus menjalar keseluruh tubuhnya. Rio bermaksud untuk berdiri, mencari sendiri obatnya. Tapi kakinya kembali nggak bisa digerakkan, akibatnya rio tersungkur kebawah.

"Yo.." panggil cakka dan ikut
berjongkok disamping rio. Cakka menepuk-nepuk pipi rio yang mulai kehilangan kesadarannya. Alvin, ify, gabriel, yang berada di depan melihat heran kearah teman-temannya yang mengerumuni tempat rio.

"Apaan sih??" tanya gabriel heran. Ify menggeleng kecil, perasaannya sedikit nggak enak.

"Vin..yang duduk disana rio kan??" tanya ify pelan.

Alvin menoleh ke arah ify, tanpa pikir panjang alvin lagsung berlari ketempat kerumunan teman-temannya. Sambil berdoa dalam hati, semoga bukan rio. Ify yang juga merasakan sesuatu yang nggak beres, ikut berlari dibelakang alvin.

Para tamu, guru-guru, dan siswa-siswa lain yang melihat kegaduhan itu ikut bingung. Alvin dan ify mematung begitu sampai dikerumunan itu. Melihat sesosok yang tengah dipangku via dengan darah segar yang mengalir deras dari hidungnya.

Ify langsung bejongkok di sebelah via dan berganti memangku kepala rio, nggak memperdulikan bajunya yang langsung kotor terkena darah rio. Tanpa sadar air matanya mengalir deras. Alvin berjongkok disebelah cakka yang tampak kebingungan,

"Kenapa bisa kaya gini sih cak??" tanya alvin dengan nada cemas.

Cakka menggeleng, nggak tau harus menjawab apa. Karna dia sendiri juga kebingungan.

"Yo.... bangun.. Elo kenapa bisa kaya gini??" lirih ify sambil menepuk-nepuk pipi rio.

Alvin mengeluarkan handphonenya dan mulai sibuk memencet-mencet keypad handphonenya.

"Bawa ke mobil gue!" perintah alvin. Dan bersama cakka dan beberapa siswa lainnya menggotong rio ke mobilnya.

"Elo semua tetep disini, kendaliin acaranya. Biar gue yang bawa rio kerumah sakit." perintah alvin lagi. Semua yang disana mengangguk dan mulai beranjak, kecuali ify dan cakka.

"Gue ikut." kata cakka dan ify kompak. Alvin menggeleng kecil,

"Nggak usah. Biar gue yang bawa rio ke rumah sakit." kata alvin tegas. Tapi tanpa memperdulikan larangan alvin, cakka dan ify langsung masuk ke mobil.

Ify duduk di jok belakang menemani rio dan cakka di bagian kemudi.

"Udah masuk vin. Biar gue yang nyetir. Elo kabarin tante dewi sama om candra aja." kata cakka, dan langsung
menghidupkan mesin mobil alvin. Dengan pasrah alvin mengikuti kata-kata cakka.

"Sorry yo..gue ngggak bisa cegah mereka sekarang." batin alvin.

"Kenapa sih??" tanya iyel yang masih bingung di depan. Tapi nggak satu pun yang memperdulikannya. Semuanya sibuk menangani keributan barusan. Dengan sedikit kesal iyel turun kebawah dan melihat via segera dihampiriya via.

"Vi..Loh?? Kok loe bisa bedarah gini sih?? Elo kenapa nangis via??" tanya gabriel kaget, dan lalu menghapus air mata via dengan ujung jempolnya.

"Rio yel.." kata via terpotong lalu kembali menangis.

Dirinya masih syok dengan keadaan rio barusan. Hangat dari darah rio tadi masih teringat jelas dipikirannya.

****

Sampai di rumah sakit, rio langsung dibawa ke ruang ICU, ditangani langsung oleh dokter chiko.

"Alvin..gimana rio??" tanya bu dewi langsung begitu sampai dirumah sakit. Alvin menggeleng kecil,

"Alvin nggak tau tan.. Rio masih di dalam, baru kali ini rio separah ini.." jawab alvin lesu. Tangis bu dewi langsung pecah. Pak candra mengelus punggung istrinya itu, memberikan kekuatan.

"Vin, rio kenapa sih??" tanya cakka yang masih kebingungan.

"Gue nggak bisa kasih tau elo sekarang cak." jawab alvin lesu.

"Vin..pliss kasih tau gue." paksa ify. Alvin kembali menggeleng

"Gue nggak punya hak buat kasih tau elo fy.." jawab alvin. Ify menghela nafas putus asa, lalu diliriknya orang tua rio yang tampak begitu terpukul. Ingin sekali dirinya bertanya pada orang tua rio, tapi entah dari mana, ada bisikan padanya untuk tidak bertanya. Lalu tiba-tiba handphonenya bergetar.

From: Nova

Fy, elo dimana??

Balik ke sekolah sekarang. Kita butuh bantuan elo, alvin, cakka. Sekolah ribut gara-gara yg barusan. Rio baik-baik aja kan??

Ify menghela nafas membaca sms dari nova itu.

"Dari siapa fy??" tanya cakka, alvin ikut menoleh ke arah ify. Ify memberikan handphonenya ke cakka dan alvin.

"Kita disuruh balik ke sekolah." jawab ify lesu.

"Nak ify, alvin, cakka, kalau kalian masih ada keperluan di sekolah nggak papa kok. Biar om sama tante yang jagain rio dsini." kta pak candra yang mendengar ucapan ify berusan.

Dengan perasaan berat, ify, cakka, dan alvin, mengangguk, lalu berdiri.

"Ntar kabari kita ya om.." kata ify. Pak candra tampak sedikit ragu, lalu ditatapnya alvin.

"Kami pamit dulu om..tan." pamit alvin.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar