Minggu, 31 Juli 2011

I'm Yours part 13

Pagi tlah tiba…Pagi tlah tiba… horee! Hatiku gembira…

pagi ini Ify bangun dengan semangat ’45, hari ini Rio, Alvin, Dan Sivia akan unjuk gigi memperlihatkan kemampuan mereka. Wow, satu hal yang jelas belum tentu terjadi untuk kedua kalinya,

Ify melangkah ringan hendak keluar rumah, ayah – ibunya sudah berangkat dagang sejak tadi shubuh. Dan Ify pun terperanjat melihat sebuah mobil jaguar hitam terparkir di depan rumahnya, Ify melongo. Setaunya, mama Ira tidak punya mobil seperti itu. Lah, ini mobil siapa?

Tiba – tiba pintu mobil dibuka, Keluarlah dua orang bapak – bapak berbadan tegap dengan pakaian serba hitam. Yang satu berambut cepak, dan yang satunya asli botak.

“Dengan non Ify?” Tanya yang berkepala botak.

Ify mengangguk kecil, “Iya, bapak – bapak ini siapa ya?”

Dua orang bapak – bapak tadi membungkuk sedikit untuk memberi hormat,

“begini non Ify, Den Rio, majikan saya, memerintahkan kami berdua untuk menjemput non Ify dirumahnya..” Ify melongo, Rio? Ngapain juga?

Tiba – Tiba Ozy keluar dari rumah,

“Kenapa kak?”

“Ini zy…. Eh, kamu kok belom rapi?” Tanya Ify heran melihat adiknya yang belum berseragam sekolah.

“Aku masuk siang, kak…” Jawab ozy polos.

Ifymanggut – manggut, lantas kembali mengalihkan pandangan ke dua bapak – bapak tadi, “Pak, Yang bapak maksud itu Mario stevano aditya haling bukan?”

“Iya, betul non, itu tuan muda saya..” Jawab yang berambut cepak.

“Ayo non Ify, kita udah ditunggu sama den Rio.” Tambah Yang botak.

Ify melongo lagi, “Ditunggu dimana pak?”

“Di perlombaan nyanyi kan?” Sahut Yang botak lagi.

Ify manggut – manggut, “ Oh, iya. Tapi pak, kayaknya saya berangkat sendiri aja..”

“Jangan non Ify, nanti den Rio bisa marah. Kami berdua bisa dipecat.” Sahut yang berambut cepak.

Ify tertegun, hah? Masa sampe segitunya? “Tapi pak…”

“Kami berdua bukan orang jahat kok. Non Ify gak usah khawatir.. Ayo!” Seru yang botak.

Ify terdiam sejenak, lantas menganggukan kepalanya, “Ya udah, pak.”

“Zy, kakak jalan dulu ya.”Pamit Ify pada adiknya.

“Sama bapak – bapak ini KaK Ify?” Ify mengangguk mantap, “Iya, bapak – bapak ini orang suruhannya kak Rio. Jadi kamu tenang aja, ya..”

Ozy mengangguk mantap. Ify pun segera bergegas masuk ke dalam mobil mewah itu, Ify sempat bingung Karena dua orag bapak – bapak tadi ikut duduk dijok belakang bersama Ify. Oh, rupanya masih ada satu bapak – bapak lagi yang akan nyetir mobil. Tapi.. kenapa Rio sampe nyuruh tiga orang sekaligus kalo Cuma mau jemput Ify?Lagian, ngapain juga nih dua bapak – bapak duduknya dempet – dempet sama Ify? Ify mulai cemas, segala pikiran negative mulai berdatangan.

Mobil pun melaju, suasana didalam mobil sendiri hening, Ify melihat kearah depan, ia tidak mengenali siapa yang duduk dibangku kemudi, pasalnya wajahnya nyaris tertutup oleh kaca mata hitam besar yang digunakannya. Ify menghela nafas panjang,sementara dua orang bapak – bapak yang duduk disampingnya semakin merapat ke tubuh Ify. Ify takut, oh, ya tuhan…

Ify mendesah kecil, berusaha membuang pikiran jahat dikepalanya, tapi tiba – tiba Ify merasakan ada sesuatu yang membekap mulutnya, sebuah sapu tangan dengan obat
bius yang membuat Ify kini sesak, Ify panic, ia mencoba berteriak, dilihatnya kesamping, ternyata dua orang bapak – bapak tadilah yang kini membekap mulutnya, Ify terus meronta– ronta, dadanya semakin sesak, aroma dari obat bius itu begitu tajam tercium.Ify terus meronta, sampai akhirnya aroma obat bius itu membuatnya tak sadarkan diri…

@@@

Alvin mengetuk pintu rumah Ify, tak lama seseorang membukanya dari dalam,

“Eh, ozy..” Sapa Alvin.

Ozy tersenyum kecil, “Wah, Kak Alvin..”

Alvin tersenyum lebar, “Kak Ify mana, zy?”

Ozy terlihat bingung, lantas garuk – garuk kepala, “Lho? Tadi kan udah dijemput sama supir – supirnya Kak Rio..” Jawa Ozy polos.

Alvin tertegun, Rio? Ah, lagi – lagi ia kalah cepat. “Supirnya kak Rio?”

“Iya, ada tiga orang, katanya sih disuruh sama kak Rio buat jemput kak Ify..”

Alvin menghela nafas panjang, gak biasanya Rio kayak gini!

“oh, gitu. Ya udah, Kak Alvin pergi dulu ya, zy.”Ucap Alvin lantas menaiki motor sportnya, dan langsung tancap gas.

@@@

Rio turun dari motor sport-nya, pagi ini ia tampak begitu tampan dengan setelan putih. Kemeja putihnya dibalut sebuah jas dengan warna putih yang memikat, dipadu celana panjang dan sepatu kets kulit berwarna putih yang membuatnya benar – benar terlihat gagah.

Rio melangkah ringan, ia menghiraukan cewek– cewek yang kini hanya bisa melongo melihat penampilannya yang memang mempesona. Rio terus melangkah menuju aula sekolah, tempat dimana lomba nyanyi akan berlangsung. Hari ini tidak ada kegiatan belajar-mengajar, hanya lomba nyanyi.

“Widiih, keren banget lu, yo!” Seru Ray begitu Rio sampai didepan aula, Ray memang sedang menunggu kehadiran sahabat– sahabatnya.

Rio tersenyum kecil, tapi tidak menjawab apa– apa. Dari arah berlawanan muncul Alvin dengan setengah berlari,

“yo, Ify mana?” Tanya Alvin.

Rio mengangkat alis, “ify? Ya, dirumahnya kali. Kok nanya gue?” jawab Rio cuek.

“Lho? Bukannya dia sama lo?”

@@@@

Sivia baru saja turun dari Alphard-nya saat ponsel disakunya berbunyi nyaring, segera diraihnya benda itu, ada satu pesan masuk,

Sender : Iel

‘Via, Setelah penghalang itu lenyap, kamu pasti bisa dapetin bintang kamu. Aku percaya kamu bisa..”

Sivia tertegun, Apa? Apa maksudnya? Jangan – jangan… Ify? Ya tuhan… Buru – buru Sivia menghubungi Gabriel, tapi tak ada jawaban, Sivia menghela nafas panjang, lantas kembali mencoba menghubungi Gabriel, tapi hasilnya tetap nihil.

Tiba – Tiba Sivia ingat sesuatu, ia tahu apa yang harus dilakukannya, Rio. Ya Rio. Ia harus menemui cowok itu, secepatnya.

@@@

“Lho? Bukannya dia sama lo?”

Rio tertegun, “Nggak, gue berangkat sendiri dari rumah..”

“Yo, serius!” ucap Alvin dengan nada yang mulai naik.

“yeah, I am so serious.” Sahut Rio mentap.

Alvin terlihat kaget, “terus Ify kemana?”

“bentar deh, vin. Gue gak ngerti, maksud lo apa sih?” Tanya Rio.

“Iya, vin. Kok lo tau – tau nanyain Ify?” Tambah Ray.

Alvin menghela nafas panjang, “Jadi gini, tadi pagi gue mau jemput Ify kerumahnya, tapi ify nya udah gak ada, dan adeknya bilang, dia udah pergi sama tiga supirnya Rio.” Jelas Alvin.

Rio tercekat, what? Dia sama sekali gak nyuruh supirnya untuk jemput Ify.

“Gak, gue gak pernah nyuruh supir gue buat jemput Ify.”

“Iya, yo, gue juga gak percaya kalo itu elo yang nyuruh, tapi pertanyaannya, tiga orang itu siapa? Ify sekarang kemana?” Alvin panic.

Rio gak kalah paniknya, tapi tiba – tiba ia teringat sesuat, “Gabriel mana?”

Ray mengangkat bahu, sementara Alvin hanya bisa menggeleng.

Tiba – tiba dari arah yang berlawanan juga muncul Sivia dengan setengah berlari, sivia terengah – engah,

“Yo, Ify yo..” Ucap Sivia.

Rio tertegun, “Ify kenapa via? Dia dimana sekarang?” Tanya Rio panic.

“TAdi…Tadi Gabriel sms gue, dia bilang…” Sivai terlihat ragu.

“Iel bilang apa?” Tanya Alvin gak kalah paniknya.

Sivia menghela nafas panjang, “Dia bilang, setelah Ify lenyap, gue… gue… gue pasti bisa ngedapetin elo..”

Rio tertegun, hatinya tercekat, ya tuhan, Apa ini? Ify..

“Maksud lo?” Tanya Rio tidak mengerti. Sivia menunduk, “Gue… gue.. gue suka… sama elo, yo..”

Rio kembali tertegun, ia kaget bukan main,

“Udah lama gue nyimpen perasaan ini, sorry yo. Tapi gue gak peduli, sekarang keselamatan Ify yang paling penting. “Tambah Sivia.

Rio mendesah kesal, tapi tidak menjawab apa – apa.

“Iya yo, Sivia bener, sekarang yang paling penting kita harus nyelamatin Ify dulu. Iel itu nekat, dia bisa ngelakuin apapun..” TAmbah Ray.

Rio bergeming, menghela nafas panjang, Ify, Ify, Ify, kini hanya cewek itu yang ada dalam pikirannya.

“Oke, gue tau gue harus kemana.” Ujar Rio mantap, lantas segera berlari menuju parkiran untuk mengambil motor sportnya.

Sivia menunduk, Ray bingung sendiri, Sementara Alvin terlihat begitu panic, “gue juga harus pergi..” Jelas Alvin lantas bergegas pergi, tapi sebuah suara menghentikan langkahnya,

“Vin, tolong semua peserta kamu data lagi, ya..” Perintah Pak Oni yang tiba-tiba nongol dari dalem aula.

Alvin melengos, dia memang ditunjuk pak Oni sebagai salah satu panitia dari
perlombaan ini, Alvin sempat ragu, tapi kemudian melangkahkan kakinya masuk kedalam aula,“Shit!” Ucap Alvin pelan.

@@@

Ify membuka matanya, ia baru saja sadar dari pingsannya, Ify menghela nafas panjang, lantas mulai berusaha mengenali sekelilinya, ya tuhan, dimana ia sekarang?Ify mengedarkan pandangan, ia sedang berada disebuah ruangan yang tidak terlalu besar dengan suasana ruangan yang cukup berantakan, banyak bekas cat air dilantai, dan mata Ify menangkap sosok seseorang yang sedang duduk di depan sebuah kanvas yang berdiri tegak.

Ify tidak bisa mengenali sosok itu, pasalnya sosok itu menghadap kanvas dan membelakangi Ify.

Ify baru sadar kalau tubuhnya diikat disebuah kursi tua dengan lilitan tali, Ify meronta – ronta, tapi tetap saja…

“Lo siapa?” Tanya Ify.

Dan betapa terkejutnya Ify saat sosok itu menoleh, sosok yang sudah dikenalnya, Gabriel.

“Gabriel?”

Gabriel tersenyum sinis, lantas berdiri, “Hai, fy..” sapanya.

Ify nyaris tidak bisa mempercayai kenyataan didepan matanya, ya tuhan, Gabriel?

“Lo.. Lo yang bawa gue kesini?”

“Iya,” Sahut Gabriel cepat.

“Tapi kenapa, iel? Gue salah apa sama lo?” Gabriel tersenyum sinis, lantas melangkah mendekati Ify, “Salah lo, Lo udah bikin bintang gue nangis, lo penyebabnya..”

Ify tertegun, “Hah? Bintang lo? Siapa?”

Gabriel tak menjawab, ia malah mengangkat tangan lantas menunjuk kanvas yang tadi ditekuninya, sebuah kanvas yang berukuran cukup besar. Ify mengamati kanvas itu,dan, oh ya tuhan, Ify terkejut setengah mati begitu mengenali sosok seorang cewek yang wajahnya terlukiskan dikanvas itu, sivia? Ya, itu memang lukisan wajah Sivia, Ify tidak mungkin salah,

“Sivia?” Tanya Ify, tidak sanggup mencari kata lain.

Gabriel kembali tersenyum sinis, “Iya, sivia, dan lo adalah orang yang udah buat dia nangis, lo yang bikin putri masa kecil gue itu nangis!” Jelas Iel lirih.

“Maksud lo apa? Geu gak pernah bikin sivia nangis.”

“Itu kan didepan lo, tapi dibelakang lo? Apa lo pernah tau gimana perasaannya sivia tiap lo ada disamping Rio? Apa lo pernah tau gimana hancurnya hati Sivia ngeliat Rio selalu peduli sama lo?
Gak kan?” Jelas iel.

Ify tertegun, ia kaget bukan main, “rio? Maksud lo apaan sih? Gue gak ngerti..” ify terpaksa menghentikan kalimatnya karena tiba – tiba satu tamparan iel mendarat di pipi Ify, Ify merintih,

“Lo bukannya gak ngerti! Tapi lo gak pernah mau ngerti! Lo gak pernah mau ngerti perasaannya sivia..” Jelas iel Lirih.

Ify memegangi pipinya yang baru saja terkena tamparan iel, ada rasa sakit yang dirasakannya,

“Lo gak pernah tau kan gimana Sivia suka sama Rio?”

Kalimat terakhir Gabriel membuat Ify tercekat, Ya tuhan, jadi selama ini Sivia menyukai Rio?

“Dan lo pikir selama ini lo udah jadi sahabat yang baik buat sivia? Lo salah! Bahkan mungkin lo adalah sahabat terjahat untuk sivia..” Lanjut iel.

Ify terus berusaha melepaskan iktan ditubuhnya, tapi teteap saja hasilnya nihil, “iel..”

“Kenapa sih fy lo gak pernah nyadarin itu semua?”

“iel..”

“Fy, Sivia selalu menganggap Rio itu bintangnya, dan disaat dia berusaha ngeraih bintangnya sendiri, lo tiba – tiba dateng dan menghancurkan semuanya… semuanya, Fy! Termasuk perasaan gue waktu ngeliat dia nangis..” Iel menghela nafas panjang, kemudian menyambung kalimatnya,“Lo gak pernah tau gimana hancurnya perasaan gue waktu ngeliat sivia nangis!”

“Tapi gue kan gak tau semuanya iel!” Bantah Ify, air matanya mulai mengalir.

“Lo gak mau tau , Fy!”

“Gak, iel.. gue gak tau! Kalau aja gue tau dari awal, gue pasti bakal menghargai perasaan sivia tanpa lo suruh!”

“Ya, tapi kenyataannya apa? Semuanya udah terlambat, rio terlanjur memilih lo, sementara sivia? Gimana sama dia, fy? Gimana?” Lanjut Iel.

Ify diam, tidak tau harus menjawab apa,

“Jawab gue, Fy! Gue sayang banget sama sivia, gue gak mau ngeliat dia sedih, itu aja.” Sambung iel.

Ify lagi – lagi hanya diam, ia terus menangis,

“Lo gak tau gimana pengennya sivia ngeliat Rio ikut lomba nyanyi itu kan? Karena lo egois, lo gak pernah mau tau gimana perasaan sahabat lo sendiri. Makanya gue sangaja bawa lo kesini, geu gak mau disaat Sivia ngeliat bintangnya selalu ada elo!”

Ify tertegun, apa?

“Iel, gue minta maaf, gue minta maaf buat semuanya..”

Gabriel tersenyum sinis, “kalo maaf lo itu masih ada harganya pun gue gak sudi untuk nerima..” Sahut Iel dingin.

Ify terus menangis, ya tuhan, Kenapa harus Rio? Dan kenapa haru sivia? Sahabatnya sendiri.

Iel bergeming, ia melangkah perlahan mendekati kanvas berlukiskan wajah Sivia, lantas menyentuh lukisan itu lembut, lukisan dari tangannya sendiri. Perlahan Iel mengeluarkan air mata, tapi buru – buru dihapusnya.

Ify terus menangis, sampai sebuah kegaduhan itu tiba – tiba terdengar. Pintu ruangan itu dibuka dengan kasar, dan munculah sosok Rio dengan didampingi dua orang bapak – bapak yang tadi pagi menjemput Ify dirumah.
Ify terperanjat melihat kedatangan rio, terlebih sekarang kedua tangan Rio dipegang kuat oleh dua bapak– bapak tadi,

“Ify..”Ucap Rio lirih begitu melihat Ify.

“Yo..” Panggil Ify balik.

Iel malah tersenyum sinis, lantas bertepuk tangan, “Wah, wah, ternyata sobat gue ada yang punya nyali juga!”

Rio tertegun, lantas menatap Gabriel tajam, “Iel! Mau lo apa sih?”

Iel berjalan mendekati rio yang kini tidak berdaya, “Sorry yo, ini semua bukan tentang persahabatan kita, tapi tentang pengorbanan cinta kita..”

“maksud lo?” Sahut Rio dingin.

“Lo berani dateng kesini buat menyelamatkan Ify, cewek yang lo yang suka, Right? Dan Ify gue bawa kesini, juga karena cewek yang gue suka, Sivia.”” Jelas Iel.

Rio tertegun, lantas melempar tatapan tajam kea rah iel, “Lo udah bener – bener gila, iel! Lo gila karena cewek itu..”

Iel tertawa sinis, lantas memberikan kode pada dua asistennya untuk melepaska Rio dan segera pergi, dua orang itu menurut.

“Denger ya, iel! Ini bukan pengorbanan cinta namanya, tapi ini itu lebih mirip sama pelampiasan cinta lo yang gak kesampaian!” Bentak rio.

Telinga Iel panas, hatinya berontak, Ia lantas mendaratkan satu pukulannya diwajah Rio. Rio yang lengah lantas hanya bisa menerima pukulan keras iel diwajahnya, ia pun tersungkur dilantai,

“Rio..” Panggil Ify lirih, tapi tetap tidak bisa melakukan apa – apa.

“Fy..” balas Rio seraya mencoba bangkit.

“Yo, lo ngapain sih kesini? Lo mau nyari mati?” Tanya Ify.

Akhirnya Rio berhasil bangkit, “Fy, mati sekalipun aku tetep rela ada disini..”

“Rio…” Ucap Ify, tidak sanggup mencari kata lain.

Rio tersenyum kecil, tapi tidak mengucapkan apa – apa lagi. Iel lagi – lagi bertepuk tangan, lantas tertawa sinis, “Rio, lo itu emang sobat gue yang paling jago ngerayu cewek! Salut gua..”

“Udahlah, iel, gue udah disini, sekarang apa mau lo?” Tanya Rio dingin.

“Mau gue? Gue mau lo janji satu hal,”

“Apa?”

“Lo harus nerima Sivia..”

“Tapi itu gak mungkin, iel”

“Apanya yang gak mungkin? Lo tinggal terima sivia!” Rio mendelik, “gue bak bisa, iel! Apa lo mau gue nerima Sivia Cuma karena lo? Bukan karena gue bener – bener suka sama dia? Apa lo mau gue tetep jalanin sama dia tanpa ada perasaan apapun?”

Iel terdiam, tidak tau harus menjawan apa, sampai Rio kembali buka mulut,

“Apa lo gak takut kalo itu malah akan nyiksa Sivia? Apa artinya sih sebuah hubungan tanpa dua orang yang saling mencintai?”Sambung Rio.

Iel lagi – lagi hanya diam, tatapannya menunduk,

“Mungkin Sivia suka sama gue, tapi bukan gue yang dia butuhin! Dia butuh elo… elo, iel!”

“Gak, yo!” Sahut iel dingin.

“Iya, iel. Buktinya selama bertahun – tahun dia bisa menyembunyikan perasaannya ke gue, tapi dia gak bisa jauh dari elo…”

“Sivia butuh sosok seperti elo, seseorang yang akan menjanjikan balasan perasaan! Dan itu bukan gue..” Sambung Rio.

Iel merasakan hatinya berontak, ia marasakan sakit yang teramat sangat dihatinya, seluruh perasaannya selama bertahun – tahun seperti meluap begitu saja. Dengan emosi yang meluap, Iel kembali maju untuk melayangkan satu tinju lagi diwajah Rio,Tapi belum sempat tangannya menyentuh wajah Rio, suara itu tiba – tiba terdengar,

“Iel…” Panggil seseorang.

Iel menoleh, “Sivia..”

Sivia masuk kedalam ruangan itu, “Iel, aku minta maaf..”

“via..” Ucap iel lirih, tidak sanggup mencari kata lain.

“Maaf, Maaf udah buat kamu harus terus berkorban…” Ucap Sivia lirih, air matanya mulai mengalir.

“Maaf, Maaf udah buat kamu menunggu tanpa kepastian…” Lanjut Sivia.

Iel membiarkan air matanya mengalir begitu saja,“via…”

“Maaf, Maaf karna sudah menyayangi aku..” Tambah Sivia seraya menyeka air matanya, lantas kembali membuka mulut, “Maaf, Maaf karna aku egois…”

“Maaf, Maaf untuk semuanya, Kamu berhak untuk bahagia..” Sambung Sivia.

Iel tertegun, hatinya berdesir hebat,” Via..”

Sivia tersenyum nakal, lantas mendekati Iel dan meninju punggung iel pelan, “Iel, jangan kayak gini lagi, ya! Aku takut, aku takut kehilangan kamu…” Sambung sivia seraya memberikan seulas senyum penuh makna.

Iel tertegun, oh tuhan, kata – kata sivia barusan terlalu indah untuk menjadi kenyataan..

Sementara, Rio dengan sigap menghampiri Ify lantas membuka tali yang mengikat tubuh Ify. Dan saat tali itu terbuka, Ify langsung meloncat kedalam pelukan Rio,

Rio balas mameluk Ify erat, seolah hanya Ify lah yang tersisa didunianya, perlahan Ify berbisik,

“Makasih ya, yo…”

“Fy, Aku takut, aku takut kehilangan kamu lagi…” Sahut Rio.

@@@

“Yaaak, kita panggilkan peserta selanjutnya, Alvin jonathaaaaannn!” Seru seorang MC dari atas panggung.

Alvin yang menyadari namanya disebut, langsung melihat sekeliling, Ify, seseorang yang ditunggunya belum juga datang. Oh tuhan, kenapa harus kayak gini? Padahal Ify-lah yang paling diharapkannya untuk melihat permainan pianonya. Padahal Ify-lah yang sangat ia harapkan untuk ada disini…

Dengan segenap keputusasaan, Alvin akhirnya berdiri dan melangkah menuju panggung yang tidak terlalu luas itu, lantas mengambil posisi di grand piano yang tersedia ditengah panggung, Alvin menghela nafas panjang, sesungguhnya ia masih sangat berharap saat ini juga Ify muncul dari pintu masuk, tapi apa mungkin? Alvin mengangkat kepalanya, mengalihkan pandangan ke-arah pintu masuk aula, dan betapa terkejutnya Alvin saat melihat sosok gadis yang dengan berlari kecil memasuki pintu masuk aula,

Ify.Ya, gadis itu datang, Ify benar – benar datang didampingi sosok Rio. Ada juga iel dan sivia. Alvin menghela nafas panjang,ia bahagia. Akhirnya Ify bisa melihat penampilannya, akhirnya.

Dari kejauhan, Ify yang baru saja memasuki aula cukup terkejut melihat Alvin-lah yang kini berada ditengah panggung, ya, Ify datang disaat yang tepat. Ify tertegun saat matanya dan mata Alvin bertemu, Ify tersenyum lebar. Memberikan semangat untuk Alvin diatas panggung.

Alvin mulai mendentingkan nada, lagu Kasih putih, seluruh penghuni aula sejenak terdiam, larut dalam alunan nada yang diciptakan jemari Alvin. Alvin mulai bernyanyi,kedua matanya terpejam, Alvin benar – benar menyanyikan lagu itu segenap hati.

Ify tertegun, ya tuhan, Suara Alvin bagus! Terlebih ditambah dengan penghayatannya, oh, suaraitu begitu mempesona, setiap lirik yang diucapkan Alvin seolah berasal dari dasar hati terdalam, setiap nada yang tercipta pun terdengar begitu indah.

Alvin dengan mulus bisa menyelesaikan penampilannya, semua berdecak kagum. Semua penonton dibuat terpana, mereka semua bertepuk tangan dengan senyum kepuasan diwajah.Tak terkecuali Ify, ia memberikan tepuk tangan dari hati untuk seorang Alvin yang kini mulai turun dari panggung.

“Yak, sungguh penampilan yang benar – benar memukau…” Seru seorang MC yang tampak gagah dengan setelan jas hitam pekat itu, “Oke, sekarang kita panggilkan peserta selanjutnya, yaitu…. Mario stevano Aditya haling!!!!” sambungnya.

Mendadak tepuk tangan penonton pecah, bayangka, seorang Rio yang notabene adalah cowok paling popular satu sekolah sesaat lagi akan menunjukkan penampilannya. Satu hal yang benar– benar terbilang langka.

Rio tersenyum tipis, lantas perlahan menoleh kearah Ify, menatap wajah manis gadis disampingnya, dan rio mendapatkan satu keyakinan diwajah Ify, Ify tersenyum…

Rio menghela nafas panjang, lantas melangkah pasti menuju panggung, ada keyakinan diwajahnya. Diatas panggung, Rio meraih sebuah gitar yang nampaknya sudah disediakan panitia, ia lantas duduk disebuah bangku ditengah panggung.

Disisi lain Ify terus menatap Rio, hatinya berdesir kecil. Dan ify pun tertegun saat pundaknya ditepuk seseorang dari belakang, Ify menoleh,

“Sivia..”

Sivia tersenyum lebar, lantas menyeka air mata dipipinya, “Fy..” Ucap Sivia lirih lantas memeluk Ify erat, “Sorry ya.. gue minta maaf, fy!”

Ify menghela nafas panjang, lantas balas memeluk sivia, “gue yang harusnya minta maaf…” Ujar Ify.

Sivia tertawa kecil lantas melepaskan pelukannya, “nggak fy, gue yang salah sama elo..”

Ify tersenyum lebar, merangkul sahabatnya satu itu.

Dan alunan nada dari gitar yang dipetik Rio membuat Ify segera mengalihkan pandangan ke arah panggung. Diatas panggung, Rio duduk tenang diatas sebuah bangku, perlahan tangannya mulai memetik senar gitarnya, menghasilkan sebuah nada yang begitu apik, sebuah lagu
berjudul Ajari aku,

Ify tercengang, matanya tak berhenti menatap Rio yang kini terus memetik gitarnya, suara rio mulai mengalun indah, ia mengucapkan bait demi bait dari lagu yang dinyanyikannya dengan begitu semprna, daaan, Ify benar – benar tidak mempercayai telinganya, Suara itu… suara Rio… terdengar begitu lembut. Dipadukan dengan alunan nada dari gitarnya, menjadikan suara Rio benar – benar memukau. Suara terindah yang pernah didengar Ify…

Semua penoton hanya bisa takjub melihat penampilan peserta satu ini, alunan suara Rio sudah membuat ruangan aula ini seakan hening, sejuk, tak ada lagi yang terdengar.Hanya suara Rio…. Dan alunan nada dari perikan gitarnya….

Rio terus bernyanyi, mengalunkan kata demi kata dengan segenap hatinya. Lagu ini merupakan gambaran perasaannya. Ya, itu sudah pasti. Rio memejamkan matanya, ia merasakan hatinya berdesir hebat. Ada kepuasan dihatinya yang pilu.

Dengan mulus dan tanpa cacat satu pun, Rio menyelesaikan lagunya. Semua penonton yang dibuat terpukau langsung bertepuk tangan. Sivia berdecak kagum, ya tuhan, bintangnya… bintangnya, Rio… Tapi kali ini sivia seperti menepis perasannya. Ia menoleh kesamping, ada Ify yang kini terus bertepuk tangan.Sivia sadar, sudah ada Ify. Ify yang lebih berarti untuk bintangnya.

Penontot terus bertepuk tangan. Semua takjub, semua terpesona, Ify pun serupa. Gadis satu ini tidak henti – hentinya bertepuk tangan, senyum lebar pun tak lepas dari bibirnya…

Disamping Ify, Sivia mencibir, “Udah kali Fy terpesonanya, Rio udah selesai tuh..” Ledek Sivia.

Ify tertawa kecil, tapi tidak menjawab apa – apa. Ia terus bertepuk tangan,

“Wow! Penampilan yang sangat, sangat, sangat luar biasa!” seru MC tadi, “Baik, sekarang kita akan memanggilkan peserta terakhir kita…. Sivia Azizah!!!”

Sivia tertegun saat namanya dipanggil, tapi tetap saja ia tidak dapat menyembunyikan senyum dibibirnya, Dengan lagkah pasti Sivia menuju panggung, ia meraih gitar yangtadi digunakan Rio, lantas berdiri ditengah panggung, Sivia tersenyum lebar, lantas mulai memetik gitarnya, memainkan sebuah nada dari lagu kesukaannya, Ten to Five-I will fly. Sivia mulai menyanyikan lagu pilihannya, dipadukan dengan nada apik dari gitarnya.

Ify tertegun, ia tidak menyangka yang sekarang berdiri ditengah panggung adalah Sivia, sahabatnya…

Dari kejauhan, iel yang masih berdiri didepan pintu masuk tersenyum lebar, hatinya bahagia, ia bahagia melihat Sivia, sang putri masa kecil yang kini tampak sangatnyaman menyanyikan lagu diatas panggung. Ia berharap, Setelah hari ini, Siviaakan lebih melihat perasaannya, bukan hanya melihat sosoknya. Semoga…

@@@

Tidak ada komentar:

Posting Komentar