Minggu, 31 Juli 2011

Cuma Gue yang Bisa part 4 (re-post)

Part 4: Rio jadi guru privat Ify!?


"Ya, ampuun Ify!?" Seru Bu Risna saat melihat anak gadisnya berkutat dengan laptop apple putih dari pagi sampai malam. Bu Risna hanya menggeleng-geleng kepala. Ify hanya nyengir.

"Kamu ini, pagi nge-net, siang nge-net, malam nge-net..cita-cita kamu mau jadi apa sih?" Tanya Bu Risna.

"Penjaga warnet, Ma!" Celetuk Deva yang sudah berada di belakang Mamanya. Ify melotot pada Deva.

"Aduuuh, Ify, kapan kamu mau belajar?" Tanya Bu Risna.

"Nanti, Ma. Dikit lagi!" Kata Ify sambil memandang laptopnya.

"Belajar apa?" Tanya Bu Risna.

"Belajar nge-net, Ma!" Kata Ify. Bu Risna menghampiri Ify dan menutup laptop Ify. Mata Ify terbelalak.

"Yaaahh, Mama!! Ify lagi ngupdate blog, Ma!" Seru Ify.

"Update Blog? Harusnya yang kamu update itu nilai kamu!" Bu Risna langsung menaruh seluruh nilai ulangan Ify di atas laptopnya. Ify kembali terbelalak.

"Kok ada di Mama sih??" Tanya Ify. Deva mengambil nilai-nilai ulangan Ify dan melihat semua nilainya.

"Emangnya Mama gak tau kamu nyembunyiin semua nilai kamu di mana? Kamu gak bisa bohong sama Mama, Fy!" Kata Bu Risna. Ify hanya nyengir.

"Widiih, ada tongkat (1), ada bebek (2), ada kursi (4), lo mau jualan apa, Kak?" Kata Deva. Ify langsung mengambil paksa nilai-nilai ulangannya dari Deva. Bu Risna langsung mengambil laptop Ify.

"Yah,yah Ma! Laptopnya mau dibawa kemanaa?" Tanya Ify.

"Mama sita dulu laptop kamu! Baru
Mama balikkin kalo nilai kamu membaik!" Kata Bu Risna.

"Yaah, Mama..jangan dong! Pliiss..Laptop itu hidup mati Ify, Maa.." Mohon Ify.

"Gak ada laptop juga kamu masih bisa hidup, Fy!" Kata Bu Risna.

"Tapi hati Ify mati, Maa.." Kata Ify beralasan.

"Kamu ganti aja hati kamu sama hati sapi beli di pasar!" Kata Bu Risna sambil keluar dari kamar Ify. Ify cemberut. Deva masih berada di sampingnya, sambil nyengir.

"Apa lo nyengir-nyengir!?" Tanya Ify.

"Laptopnya buat gue ya, Kak!" Kata Deva. Ify langsung melempar bantal yang ada di kasurnya ke Deva, tapi Deva udah kabur duluan.

***

Pagi hari, keluarga Ify sudah duduk di meja makan untuk sarapan. Mukanya memelas, karena Ify tak bisa mengupdate blog fansite RISE, diakibatkan nilai Ify yang sangat buruk. Ify cuma menatap roti bakarnya. Sesekali Deva melirik roti bakar Ify, dan mencoba mengambil roti bakar Ify selagi Ify sedang melamun dan cemberut. Tapi saat tangan Deva ingin mengambil roti bakar Ify, tangan Deva langsung ditangkap Ify dan Ify melotot pada Deva, Deva hanya nyengir.

"Kak, lepasin dong tangan gue!?" Seru Deva.

"Lo mau maling roti gue ya?" Tanya Ify.

"Hehee..tadinya..eh lo malah sadar duluan!" Kata Deva. Ify meremas tangan Deva. Deva meringis kesakitan.

"Aduuuh! Sakiit, jeleek!!" Ringis Deva. Karena dibilang jelek, Ify menambah kekuatannya.

"Aduh, lepasin kakak gue yang paling cantik!" Seru Deva. Ify melepaskan tangannya. Deva mengelus-elus tangannya.

"Ify, Papa dan Mama sudah putuskan." Kata Pak Indra.

"Putusin apaan, Pa?" Tanya Ify sambil melahap rotinya.

"Mama dan Papa bakal nyari guru privat buat kamu," kata Bu Risna. Ify tersedak.

"Hah? Guru privat!?" Tanya Ify.

"Iya, Mama sedih banget ngeliat nilai kamu yang sangat memprihatinkan!" kata Bu Risna.

"Tapi.."

"Gak tapi-tapian, Ify! Ini demi kebaikan kamu!" Kata Pak Indra. Ify menghela napas dan menuruti apa kata-kata orang tuanya.

***

"Seperti biasa, Sivia gambar kamu sangat bagus!" Puji Pak Joe, guru seni rupa dan seni budaya Citra Bangsa.

"Terima kasih, Pak!" Kata Sivia. Setelah melihat hasil gambar Sivia, Pak Joe melihat gambar Ify.

"Ini gambar lidi?" Tanya Pak Joe.

"Ini gambar orang, Pak! Masa lidi sih!?" Gerutu Ify.

"Itu bukan orang, Ify! Itu lidi!" Kata Pak Joe.

"Kan saya yang gambar, Pak! Masa Bapak yang nentuin sih!" Kata Ify sewot.

"Haah..terserah kamu deh!" Pak Joe meninggalkan meja Sivia dan Ify.

"Vi, gambarin buat gue dong!"

"Nilai gue dobel jadinya!"

"Maksud lo?"

"Pak Joe pasti tau yang gambarin itu gue, jadinya Pak Joe ngasih nilainya ke gue, bukan ke elo, hehee.." Kata Sivia sambil terkekeh. Ify hanya cemberut.

***

Rio sedang melamun di kelasnya sambil terus menghela napas, Alvin yang daritadi ada di sampingnya hanya memandang dengan heran. Gabriel dan Cakka yang baru masuk ke kelas Rio dan Alvin berekspresi sama dengan Alvin.

"Woi, Yo!" Cakka menepuk punggung Rio dan Rio tersadar dari lamunannya.

"Kenapa lo? Mikirin Ify, yaa?" Celetuk Gabriel.

"Iiih, gak sudi!" Kata Rio.

"Terus lo kenapa?" Tanya Alvin.

"Duit gue abis nih, gak mungkin kan gue minta lagi ama bonyok? Di pecat gue jadi anak!" Kata Rio.

"Lo mau kerja?" Tanya Cakka.

"Kalo bisa, paling nggak sesuai sama kemampuan gue, Cak."

"Jadi babu gue aja, Yo!" Celetuk Cakka.

"Yeee..kurang asem lo!" Kata Rio.

"Ntar gue cari dulu deh, siapa tau ada yang butuh seseorang gituu.." kata Gabriel.

"Thanks, Yel, lo emang friend gue yang paling baek!" Rio hampir memeluk Gabriel.

"Lo seneng banget sih meluk orang, Yo!!" Seru Gabriel.

***

Sivia sedang duduk sendirian di pekarangan sekolah, sambil membuat sebuah sketsa untuk mengisi waktu luang saat istirahat. Sedangkan Ify? Ify sedang membuat pertemuan rahasia dengan anggota klub RISE. Alvin yang sedang di pekarangan sekolah pun melihat Sivia yang sedang sendirian.

'Deketin gak ya? Deketin gak ya?' Pikir Alvin. Kemudian Alvin memutuskan untuk menghampiri Sivia.

"Sendirian?" Tanya Alvin. Sivia mendongak kearah suara.

"Iya, Kak." Kata Sivia. Alvin duduk di. samping Sivia.

"Ify mana?" Tanya Alvin.

"Biasa, ada pertemuan yang mencurigakan dengan Klub RISE." Jawab Sivia.

"Oooh," Tanggap Alvin, kemudian Alvin tertarik dengan sketsa Sivia yang daritadi sudah ia lirik.

"Lo suka gambar ya?" Tanya Alvin. Sivia mengangguk.

"Gue seneng banget membuat sketsa dan melukis, soalnya dengan itu semua waktu luang gue terisi dengan tidak percuma dan gue bisa mencurah hati gue dalam sebuah lukisan." kata Sivia.

"Gue juga kalo ada waktu luang, gue suka mengambil foto-foto dengan kamera gue," Kata Alvin sambil menunjukkan kamera analog miliknya.

"Lo suka fotografi?" Tanya Sivia.

"Kalo gue gak suka, kenapa gue jadi ketua klub fotografi?" Tanya Alvin. Sivia tertawa kecil.

"Iya juga, yaa.." Alvin sangat senang melihat senyuman manis Sivia.

"O,ya dikit lagi seleksi OSIS, lo tertarik buat ikut gak?" Tanya Alvin.

"Hmm..gak tau deh, Kak." Kata Sivia.

"Kan lumayan buat ngisi waktu luang juga, Vi,"

"Gue pikir-pikir dulu, Kak, gue balik kekelas ya!" Kata Sivia.

"Oke!"

***

Besoknya.. Pagi-pagi Gabriel langsung pergi ke XI IPA 2 untuk mencari Rio.

"Yo, gue ada kerjaan buat lo!" Kata Gabriel.

"Hah? Serius? Bukan jadi babunya Cakka, kan?" Tanya Rio.

"Yaa nggaklaah..jadi guru privat mau gak? Kan nilai-nilai lo bagus, Yo."

"Guru privat? Siapa yang gue ajar?"

"Anaknya temen nyokap gue."

"Lo tau anaknya?"

"Gak tau, Yo. Tapi katanya kelas X, kok, jadi setidaknya lo masih inget pelajaran-pelajaran kelas X. Kemaren gue sama nyokap ketemu temen nyokap gue itu, katanya nilai anaknya amat sangat memprihatinkan, dan gue merekomendasikan lo buat jadi guru privatnya, mau gak?" Tawar Gabriel.

"Boleh gue coba, kapan?"

"Besok, lo gue anterin kerumahnya."

"Thanks, sob!"

"Sama-sama, o, iya ntar kita ngiter ke kelas anak X buat ngasih formulir seleksi OSIS!"

"Yaudah, deh!"

***

Untuk pergi kekelas-kelas, Gabriel meminta Alvin, yang menjabat sebagai wakil ketua OSIS terpilih dan Rio yang menjabat sebagai Ketua bidang olahraga untuk menemaninya ke kelas X, karena kelas XI diambil alih oleh pengurus kelas XII. Saat mereka sampai di kelas X-3, muka Rio memucat.

"Yel, gue gak ikut masuk, ya!" Kata Rio.

"Enak aja, gue tau lo takut ketemu fans fanatik lo itu, tapi profesional dong, Yo!" Kata Gabriel. Alvin hanya mengangguk.

"Haah, nasib..nasib.." kata Rio. Gabriel mengetuk pintu kelas X-3.

"Masuk!" Suruh Bu Vera.

Ify yang melihat Rio memasuki kelasnya, langsung melambai-lambaikan tangannya pada Rio. Rio bergidik ngeri.

"Selamat siang semuanya, saya Gabriel dari kelas XI IPA 3 selaku ketua OSIS, saya ingin mengumumkan bahwa besok akan diadakan seleksi OSIS, kira-kira disini ada yang berminat untuk mengikuti seleksi?" Tanya Gabriel.

Banyak anak-anak dari kelas X-3 ingin ikut seleksi OSIS, yang mau ikut mereka mengambil formulir pendaftaran di Alvin dan Rio. Sivia menerima ajakan Alvin untuk mengikuti seleksi OSIS, ia mengambil formulirnya di Alvin.

"Akhirnya lo ikut juga," kata Alvin tersenyum.

"Buat ngisi waktu luang,hehee.." kata Sivia.

Bagaimana dengan Ify?? Sudah pasti ia ingin mengikuti seleksi tersebut karena ada Rio. Saat Ify sudah berada di depan Rio, Ify hanya nyengir.

"Kak, mana formulirnya?" Tanya Ify.

"Gak ada."

"Kenapa gak ada?"

"Abis."

"Kenapa abis?"

"Banyak yang ikut."

"Kenapa banyak yang ikut?"

"Kenapa nanya ama gue? Tanya ama temen-temen lo!" Ify mulai cemberut, kemudian melirik selembar kertas yang dipegang Rio dan di sembunyikan di belakang. Ify menyipitkan mata.

"Itu apa? Pasti lo sisain satu buat gue yaa? Tapi lo boongin gue, lo mau kasih suprise buat gue kaan?" Tanya Ify.

"Ngarep banget lo! Yang gue pegang kertas kosong!" Seru Rio. Gabriel yang agak sedikit kesal melihat tingkah laku Rio yang kayak anak kecil. Gabriel mengambil paksa kertas yang di pegang oleh Rio.

"Nih, Fy. Nanti ngumpulin formulirnya ke gue aja, ya!" Kata Gabriel. Rio menepok-nepok jidatnya.

"Hehee..makasih, Kak. Kak Rio, tunggu gue di OSIS! Hehee.." rasanya Rio ingin melakukan harakiri di sana.

"Terima kasih atas responnya, maaf mengganggu waktu belajar kalian, terima kasih.."

Gabriel, Alvin, dan Rio keluar dari kelas X-3, Rio memasang wajah cemberut pada Gabriel.

"Kenapa lo?" Tanya Gabriel.

"Yaah gara-gara lo, Ify jadi ikut kan seleksi OSIS!"

"Itu terserah Ify, dia mau ikut, kok seleksi OSIS, kita gak bisa ngelarang, udah ah! Ayo ke kelas selanjutnya!" Ajak Gabriel.

"Rasanya gue mau harakiri di sini," kata Rio.

"Hah? hadap kiri?" Tanya Alvin.

"Harakiri, dodool!!" Kata Rio.

***

Motor Rio dan Gabriel berhenti di sebuah rumah yang cukup besar, dengan halaman yang luas.

"Ini bener rumahnya, Yel?" Tanya Rio sambil membuka helmnya.

"Iya, Yo. Gue yakin ini rumahnya." Kata Gabriel sambil memastikan alamat rumah yang ia pegang. Gabriel dan Rio turun dari motornya dan memencet bel rumah itu. Kemudian seorang satpam membuka pintu pagarnya.

"Pak, ini bener rumah Bu Risna?" Tanya Gabriel.

"Iya, Mas. Mas-mas ini siapa?" Tanya Pak Gito, satpam rumah tersebut.

"Saya Gabriel, ini Rio, saya anaknya Bu Lisa." kata Gabriel.

"Oooh, masuk dulu, saya panggil Bu Risna dulu," Pak Gito mempersilahkan Gabriel dan Rio masuk.

Mereka menunggu di teras rumah. Kemudian Bu Risna keluar dan menemui Gabriel dan Rio.

"Eh, nak Iel.." kata Bu Risna.

"Siang, Tante. Sesuai janji Iel, Iel bawa guru privatnya, temen Iel, namanya Rio." Kata Gabriel.

"Saya Rio, Tante.." Kata Rio.

"Saya Risna, ayo masuk kalian tunggu di gazebo aja, ya, Tante panggil anak Tante dulu," kata Bu Risna.

Rio dan Gabriel menunggu di gazebo yang berada di samping kolam renang di halaman belakang.

***

"Ify, ayo turun! Guru privatnya dateng!!" Kata Bu Risna.

"Hha? Udah dateng??" Tanya Ify yang langsung bangun dari tempat tidurnya.

"Iya, cepetan ganti baju!!" Suruh Bu Risna.

"Siapa gurunya, Ma?"

"Ntar juga kamu tau!" Ify segera ganti baju dan ikut Mamanya pergi ke gazebo.

***

"Kok Tante Risna lama ya?" Tanya Gabriel yang sudah mulai bosan.

"Iya, nih." Kata Rio. Kemudian Bu Risna datang bersama anak perempuannya yang daritadi menunduk, sehingga wajahnya tak kelihatan. Rio dan Gabriel berdiri.

"Maaf, ya, lama, ini anak saya, ayo jangan nunduk dong!" Kata Bu Risna. Anak itu mendongakkan kepalanya. Rio dan Gabriel yang melihatnya menganga.

"Ini anak saya, namanya Ify." Bu Risna memperkenalkan anaknya, yaitu Ify. Sekali lagi IFY.

"IFY!?" Seru Gabriel dan Rio.

"Hah? Kak Gabriel? Kak Rio?" Seru Ify. Bu Risna mengangkat alis.

"Kalian udah saling kenal?"

"Ify adek kelas kita, Tante."

"Ma, guru privatnya Kak Rio apa Kak Gabriel?"

"Rio." Hati Ify langsung berbunga-bunga.

"Kak Rio jadi guru privat Ify?? Ya, ampuuun!! Kalo gurunya Kak Rio, Ify semangat banget, Ma!!" Kata Ify kegirangan.

Rio berbisik pada Gabriel.

"Kenapa lo gak bilang kalo anaknya itu Ify??" Bisik Rio.

"Jujur gue gak tau, Yo!"

"Boleh ngundurin gak?"

"Gak bisa, lo udah terikat kontrak sama Tante Risna." Rio hanya bisa pasrah.

"Nak Rio, jadwalnya mau kapan aja?" Tanya Bu Risna.

"Terserah Tante aja,"

"Gimana kalo Selasa, Kamis, Sabtu?"

"Setiap hari aja Ma!" Kata Ify.

"Hush, kamu, Fy!" Ify hanya cemberut.

"Gimana mau yang Selasa Kamis Sabtu?"

"Iya, Tante."

"O,iya Tante juga punya anak kelas 2 SMP, kamu bisa ngajarin juga gak? Harinya sama aja,"

"Bisa kok, Tante."

"Yaudah, Tante panggilin anaknya dulu ya," Bu Risna kembali ke dalam.

"Ya, ampun Kak Rio, saking pengen deket ama gue, lo mau jadi guru privat gue, hehee.." kata Ify cengengesan.

"Iiih, sebenernya gak sudi! Tapi gue terpaksa, gue udah terikat janji ama nyokap lo!" Seru Rio.

"Oooh ternyata Kak Iel anaknya Tante Lisa ya?" Tanya Ify.

"Iya, Fy, gue juga baru tau lo anaknya Tante Risna." Kemudian Bu Risna datang bersama anak laki-lakinya.

"Nah yang ini namanya Deva," kata Bu Risna.

"Lah? Kak Rio?"

"Deva?"

Mata Bu Risna, Gabriel, dan Ify terbelalak.

"Kamu kenal Rio, Dev?" Tanya Bu Risna.

"Kak Rio itu kakaknya Ray, temen Deva, Ma, Deva kan sering kerumahnya Ray." kata Deva.

"Lo tau rumahnya Kak Rio, Dev?" Tanya Ify.

"Tau laah,"

"Wah kalo gitu, kalo mau maen kerumah Ray, gue anterin deeh, hehee.." kata Ify.

"Iiih, bilang aja lo mau ketemu Kak Rio kaan? Pikiran lo kebaca banget, Kak!" Kata Deva.

"Udah jangan berantem! Nak Rio, bisa kan ajarin mereka berdua?" tanya Bu Risna.

"Yaa, mudah-mudahan gak stress duluan, Tante." kata Rio.

"Yaudah, Tante, kita berdua pulang dulu yaa.." Pamit Gabriel dan Rio.

"Kak Rio, berarti besok pulangnya bareng doong abis seleksi OSIS! Kan mau ngajar guee, hehe!" kata Ify cengengesan. Rio bergidik ngeri. Gabriel hanya menahan ketawa.

"Kayaknya idup lo gak jauh-jauh dari Ify, Yo, hahaa.." kata Gabriel.

"Makin rusak aja idup gue, Yel," kata Rio.

***

Alvin sedang bete di rumahnya, sehingga ia memilih berkeliling dengan motor Tiger-nya. Alvin melajukan motornya dengan sedikit lambat, sambil memandang sekeliling komplek rumahnya.

Saat ia berada di blok AB, Alvin mendengar suara seorang Bapak-bapak membentak seseorang di rumahnya. Alvin penasaran dengan suara tersbeut sehingga ia menghentikan motornya tak jauh dari rumah itu.

"Kenapa sih?" Tanya Alvin.

Kemudian Alvin melihat seorang gadis yang keluar dari rumah tersebut sambil menangis dan berlari meninggalkan rumahnya. Alvin terkejut, ia mengenal gadis itu.

"Lho? Itu kaann.."

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar