Minggu, 31 Juli 2011

Pembantu Baruku part 21 (re-post)

Rio mematut dirinya disebuah cermin berukuran sedang dikamarnya. Wajahnya sedikit pucat, dan ada kantong mata dibawah kedua matanya. Ya, rio kurang tidur semalam. Merenung, itulah yg dilakukan rio. Ditambah lagi rasa sakit dikepalanya yang setiap detik selalu muncul, walau pun dengan ukuran sakit yang berbeda.

Rio menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya.

"Gue mohon, bertahanlah.. Acuhin setiap sakit yg loe rasain itu. Pliss..gue nggak mau bikin mereka repot. Gue cuma mau liat senyum mereka sekarang." gumam rio, berbicara pada sosoknya sendiri yg dipantulkan oleh cermin.

Kembali rio menghela nafas, sambil berharap dirinya akan baik-baik saja hari ini. Rio pun berjalan k lemari pakaiannya, mengambil obatnya dan memasukkannya kedalam ransel. Rio sengaja menyimpan obatnya di lemari pakaian, karna itu satu-satunya tempat yg tak bisa disentuh orang lain kecuali keluarganya. Sepertinya tekad rio sudah bulat untuk merahasiakan penyakitnya.

Rio turun kebawah sambil menyandang ransel hitamnya dan memaksakan seulas senyuman yg diminta ify kemaren.

"Nah...akhirnya turun juga loe yo.. Lama amat sih dandannya??" kata ify sambil becanda dan tersenyum geli akan candannya sendiri. Rio miris melihat senyum ify itu.

Dengan menarik nafas panjang, rio berusaha menarik ujung bibirnya, membentuk senyuman yang sama dengan yg dulu.

"Hehehe...biasa fy.. Rambut gue susah diatur.." kata rio sambil nyengir.

"Ah...elo mah rambut mulu yg dipikirin yo. Menurut gue ya, loe lebih ganteng klo rambut loe rebah gitu, nggak di spike." kata ify.

"Jadi loe akuin gue ganteng nih sekarang?? Yah...telat loe fy, loe orang yg kesejuta kali yg bilang gue kaya gitu." kata rio sambil masang muka PD.

"PD gila loe yo. Eh, tapi gue senang deh liat loe udah semangat lagi yo.." kata ify sambil tersnyum manis.

"Yah...demi loe fy..." batin rio.

Rio membalas senyum ify dengan perasaan aneh meenyerbu hatinya. Perasaan aneh saat dia harus membohongi ify dengan senyumnya. Terlebih lagi harus membohongi perasaannya.

"Gue lega deh yo, serius kemaren gue khawatir banget sama loe.. Nggak semangat, mata sayu, senyum loe aneh, kaya mau nangis ato apalah gitu. Gue sempat mikir klo gue punya salah sama loe yo. Malahan ya, gue udah punya rencana klo loe masih kaya kemaren. Syukur deh skarang udah semangat lagi." kata ify panjang lebar.

Rio menghela nafas lagi. Lalu kembali tersenyum kecil.

"Yo, kok pucet sih??" tanya ify lagi. Rio terdiam mendengar pertanyaan ify. Harus jawab apa lagi dia sekarang. Sampai kapan kebohongan yg membuat hatinya sakit ini harus berlanjut. Belum cukup 1 hari dia menjalankan harinya setelah tau penyakit ini, dia sudah mlakukan kebohongan sebanyak ini. Setiap senyum ketegaran yang dia keluarkan saja sudah merupakan salah satu kebohongannya. Apakah sekarang dia harus melakukannya lagi??

"Kakak-kakakku sekalian, jadi berangkat nggak nih??" potong ozy lalu tersenyum ke arah rio.

Rio tau maksud adiknya itu,"thanks zy.." batin rio.

"Eh, iya.. Gue lupa.. Hehehehe.. Yuk berangkat, udah siap kan semua??" kata ify. RiOzy mengangguk, kemudian mengikuti ify yang berjalan duluan ke luar rumah.

"Tiit...tiit.." suara klakson mobil terdengar saat 3 orang anak manusia itu keluar dari rumah.

"Ampun....apa dosa-dosa gue sih??? Siapa lagi yg mau bertamu pagi-pagi buta gini??" kata ozy setengah teriak. *nggak pake buta zy..*

"Pagi semua..." sapa sebuah suara. Mau tebak itu siapa?? Yap, itulah shilla, si cewek yg selalu mengganggu.*peace...shivers..^^v*

"Mau apa lagi loe kak???! Mau bikin gue telat??! Mau ngajak bareng kak rio lagi??! Nggak usah, nggak perlu, gue yg larang loe sekarang!!" bentak ozy yg sekarang beneran serius pingin berangkat sekarang.

Shilla mematung mendengar ozy membentaknya. Belum pernah ada yg membentaknya seperti itu, membuatnya merasa syok. Sementara ify udah panik duluan melihat shilla yang berdiri mematung. Takut shilla tiba-tiba nangis atau apalah. Dia nggak mau ada masalah dulu sekarang.

Sementara rio, menghela nafas untuk yang kesekian kalinya. "Kenapa hidup gue seribet ini sih?? Nambah satu deh masalah gue. Shilla...kenapa loe harus balik lagi?? Loe tau nggak, kedatangan loe bikin hidup gue tambah hancur!!" teriak rio dalam hatinya.

"Shill, harusnya loe belajar untuk sedikit lebih kuat sekarang. Baru dibentak gitu doang loe udah syok. Ternyata loe masih nggak berubah, tetep aja cengeng dan manja." kata rio dingin sambil jalan melewati shilla. Shilla tersadar lalu membalas perkataan rio.

"Aku emang manja yo. Seenggaknya aku udah berusaha sedikit tegar. Berusaha sabar sama sikap kamu yang udah berubah total sama aku itu. Kamu tau yo?? Sakit banget rasanya liat kamu yg cuekin aku, nggak perhatiin aku lagi, atau kamu yg terus berusaha menghindari aku. Kamu pasti bisa ngerti perasaan aku kan yo?? Kamu pasti ngerti banget sakit yg aku rasain kan yo?? DAn aku udah berusaha setegar mungkin menghadapi sakit aku itu. Apa masih kurang bagi kamu yo?? Apa emang nggak mungkin lagi kita balikan?? Kaya dulu lagi?? Aku kangen banget sama rioku yg dulu. Apa nggak mungkin lagi kamu bakal kaya dulu lagi yo??" kata shilla lirih. Membuat langkah rio berhenti.

"Maaf shil. Kisah kita udah berenti. Sebaiknya loe buka kisah loe yg baru, sama orang lain, sama orang yg jauh lebih baik dari gue. Karna sampai kapan pun gue nggak akan bisa lanjutin kisah kita lagi. Nggak akan bisa." jawab rio tanpa menoleh ke arah shilla, lalu memasuki mebil ify.

"Yo..aku nggak akan nyerah soal perasaan aku.. Aku akan buktiin ke kamu, sampai kamu mau nerima aku kmbali" kata shilla lalu berlari menuju mobilnya dengan rasa sakit dihatinya dan air mata yg mengucur deras dari kedua pelupuk matanya.

"Lebih baik loe nyerah akan gue shil, karna gue hanya bisa bikin loe sakit hati." gumam rio sambil memegangi kepalanya. Stres, itulah yg dirasakan rio sekarang.

Ify merasakan 2 rasa saat melihat rio dan shilla. Pertama perasaan senang karna perasaan rio ke shilla benar-benar sudah mati. Dan rasa sakit juga dihatinya. Ify bisa merasakan brapa sakitnya perasaan shilla saat ini, membuatnya iba pada gadis itu sekaligus merasa bersalah akan perasaan senangnya barusan.

Sementara ozy, memandang miris kakaknya. Entah mengapa, sekarang dia merasa kalu kebahagiaan benar-benar tidak memihak kakaknya itu. Ozy takut kakaknya akan stres dan kondisinya drop. Dan ozy merutuki dirinya sendiri, karna nggak bisa melakukan apa-apa untuk membuat sedikit senyum di wajah kakaknya itu. Senyuman sebenarnya, bukan senyum buatan yg dilihat dari wajah kakaknya itu.

****

"Oii yo.. Tumbn diem?? Yo, ngelucu dikit dong, nggak tau kenapa gue kangen elo banget deh sekarang." kata alvin sambil merangkul rio saat bel istirahat berbunyi.

"Vin, tangan loe berat.." rintih rio.

"Berat gimana?? Ahela yo... Nggak sampe 10 kilo kok tangan gue.." canda alvin.

"Serius berat vin.." rintih rio lagi.

"Vin, serius tuh kayanya. Keringetan tu anak. Lepasin tangan loe vin." suruh iyel. Alvin mengikuti printah iyel, dilepaskannya rangkulannya ke rio. Lalu memperhatikan wajah rio.

"Apa loe liat-liat?? Naksir loe sama gue?? Si zahra mau loe buang kemana??" kata rio masang muka risih, walau pun sebenarnya nggak niat
becanda sekarang. Tapi karna rio tau alvin pasti heran sama mukanya yang mulai memucat.

"PD gila loe yo... Najong tralalala gue naksir elo yo.. Gue cuma liatin muka loe yg makin putih aja menurut gue. Pake krim pemutih apa loe??" bantah alvin sambil noel pipi rio, niat nunjuk kulit rio yg memutih itu.

"Enak aja gue pake krim pemutih, elo kali vin. Gue pake cara alami tau.." kata rio ikutan becanda, mencoba mngacuhkan sdikit sakit yg menderu kepalanya.

"Apaan coba cara alaminya?? Gue mau juga deh yo..." kata iyel ikutan. Rio mengangkat bahu. Masa dia bilang cara alami dengan mengidap kanker. Nggak mungkin dong. Rio pun memilik melirik jam tangannya dan langsung terbelalak.

"Pantes sakit, telat minum obat toh gue!! Haduh...telat stengah jam aja sakitnya minta ampun, apalagi berjam-jam, langsung good bye dah gue." batin rio.

"Ngapain yo, melototin jam tangan?? Bagusan jam gue juga.." kata cakka. Tanpa menjawab pertanyaan cakka, rio langsung berdiri dari duduknya.

"Eh, loe pada mau ke kantin kan?? Duluan aja ya, gue ada urusan bentar." pamit rio dan langsung melesat kabur ke RO. Kenapa RO?? Karna di sanalah tempat yg aman utk rio meminum
obatnya, karna RO akan sepi jam istirahat begini, keculi ada kegiatan.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar