Minggu, 31 Juli 2011

Memang Cuma Gue yang Bisa: SpecialPart 3 (SHIEL) (re-post)

Shilla: Cuma Lo Yang Bisa Memberikan Sebuah Hadiah Terindah

Bandara Soekarno-Hatta

Ify harap-harap cemas menunggu kedatangan Rio dari Perancis untuk berlibur ke Indonesia. Ify tidak sendiri, Ify juga ditemani oleh Alvin, Sivia, dan Shilla. Cakka dan Agni masih di Yogyakarta, mereka baru datang besok, sedangkan Gabriel banyak tugas yang menumpuk dari dosennya.

“Vi, muka gue celemotan gak?” tanya Ify.

“Ya, ampun Ify. Lo itu udah cantik banget! Kak Rio langsung klepek-klepek deh liat lo,” jawab Sivia.

“Iya, Fy. Tenang aja,” kata Shilla.

“Eh, itu Rio bukan sih?” tanya Alvin sambil menunjuk kearah seseorang dari kejauhan.

Seseorang yang berperawakan tinggi. Rambut ditata acak-acakan, berkulit hitam, dan sedang berjalan kearah mereka berempat. Laki-laki itu menyungginkan senyum manis dan melambaikan tangan kearah mereka.

“ALVIN!!!” Teriaknya.

“Woi! Rio!” balas Alvin.

Mereka langsung berpelukan dengan gaya cowok.

“Kak Rio makin tinggi aja lo!” kata Sivia.

“Elo, Vi! Makin kuntet aja lo!” balas Rio.

“Tambah nyebelin aja lo!” celetuk Shilla.

“Tambah jutek aja lo, Shil!” balas Rio.

“Ehm, yang lagi duduk dengan wajah mupeng itu gak disapa Yo?” tanya Alvin sambil melirik Ify. Rio melirik Ify.

“KAK RIOOO!!!!” Teriak Ify sambil berlari kearah Rio.

“Baek-baek lo, Fy!” seru Rio sambil melepas pelukan Ify yang terlalu kencang.

“Huwaaa!! Kangen banget gue!! Udah tiga kali puasa tiga kali lebaran lo gak pulang!” seru Ify lebay.

“Lo kira gua Bang Toyib??” keluh Rio.

“Biasa deh, dasar pasangan Riweuh!” ledek Sivia. Alvin tertawa sambil merangkul Sivia.

“Yo, lo bakal tinggal dimana selama liburan?” tanya Alvin.

“Dirumah gueee!!” teriak Ify kegirangan. Alvin, Sivia, dan Shilla melotot.

“Beneran, Yo?” tanya Alvin.

“Iya, kata nyokap gue, gue disuruh tinggal dirumah Ify, nyokapnya Ify juga nerima gue dengan senang hati,” tutur Rio.

“Ify awas lo, diapa-apain sama Kak Rio!” kata Sivia.

“Nyeh, adanya juga gue yang diapa-apain sama dia!” kata Rio.

“Kak Rio jahat ih!” gerutu Ify.

“Bercanda mademoiselle Alyssaaa!!” kata Rio sambil mengacak-acak rambut Ify.

“Ya, ampun udah lama gue gak dipanggil pake Mademoiselle Alyssa! Kangen gue!” kata Ify.

“Ehm, panggilan sayang nih yee!” celetuk Alvin.

“Panggilan sayang ke dia bukan itu, itu hanya paksaan, panggilan sayangnya itu kodok!” seru Rio.

“Kak Rio jahaat!!” teriak Ify sambil kejar-kejaran.

“Dasar mereka berdua gak berubah,” kata Sivia.

“Vi, ayo susul mereka,” kata Alvin.

“Oke, Shil ayo!” ajak Sivia. Shilla hanya tersenyum masam.

Shilla merasa envy terhadap kedua pasangan itu. Rio-Ify dan Alvin-Sivia. Seandainya Gabriel ada disampingnya, main kejar-kejaran seperti Rio dan Ify, atau berjalan berdua sambil bergandengan tangan seperti Alvin dan Sivia. Shilla mendesah pelan. Ia harus mengerti keadaan Gabriel sekarang. Jadwal Gabriel terlalu padat, ada penelitianlah, ada tugaslah. Sampai-sampai Shilla merasa, Gabriel melupakan dirinya dan lebih memilih tugas. Shilla terus melirik kearah BBnya yang dipegang di tangan kirinya. Shilla kembali mendesah. Tak ada SMS.

"Shilla?? Ayo!” kata Sivia.

Shilla mengangguk dan berlari menyusul mereka.

***

Besoknya, Cakka dan Agni sampai di Jakarta dan langsung pergi kerumah Ify. Mereka berkumpul di sana.

“Asiik, makin ganteng aja lo, Cak!” puji Rio.

“Emang daridulu gue cakep, Yo! Gak nyadar sih lo!”

“Salah ngomong kayaknya gue!” keluh Rio.

“Eh, Gabriel mana, Shil? Kok belom dateng?” tanya Agni.

“Gak tau, Kak. Katanya sih telat, aku telpon dulu ya,” Shilla beranjak dari duduknya dan pergi kebelakang untuk menelepon Gabriel. Shilla menekan speed dial nomor dua, dan langsung menaruh BBnya di samping telinganya.

TUUUT…TUUT…

“Halo?” senyuman Shilla langsung mengembang.

“Halo? Kak Iel?”

“Kenapa, Shil?”

“Kak Iel lagi dimana?? Anak-anak udah pada kumpul dirumah Ify,”

“Aku masih dijalan, maaf ya aku telat, banyak tugas,”

‘Lagi-lagi tugas,’ batin Shilla.

“Gak papa, Kak. Lagian mereka juga mau lama-lama disini, kita masih nungguin kok,” jawab Shilla.

“Siip, dikit lagi aku nyampe kok,”

“Oke,” Shilla menekan tombol disconnected dan menaruh BBnya di saku celana.

“Gimana, Shil?” tanya Ify.

“Udah dijalan kok, dikit lagi sampe,” jawab Shilla.

“Gue punya ide nih, gimana kalo kita naik gunung, jarang-jarang kan kita lintas alam kayak gitu, daripada jalan-jalan ke Mall terus,” usul Alvin.

“Ide bagus tuh, kita juga bisa sekalian camping disana!” kata Rio mengangguk mantap.

“Gue setuju!” kata Ify.

“Gue juga!” kata Sivia.

“Setuju! Yang gak setuju gue tinju satu-satu!” kata Cakka.

“Kalo gue yang bilang gak setuju? Lo mau ninju gue, Cak?” tanya Agni. Cakka hanya nyengir.

“Kalo lo yang ngomong nggak deh, ntar gue dibales,” kata Cakka.

“Ih, pilih kasih!” sindir Ify.

“Apaan sih lo, Fy? Envy?? Rio mau dikemanain?” tanya Cakka.

“Ih, males! Ngapain juga gue envy sama lo!” kata Ify.

“Eh, maaf gue telat!!” Gabriel berdiri di depan pintu rumah Ify sambil mengatur napasnya yang ngos-ngosan.

“Yeuuh, ngapain dulu lo? Jualan?” tanya Cakka.

“Gue banyak tugas,” kata Gabriel sambil duduk disamping Shilla.

“Yel, kita punya rencana, kita liburan mau naik gunung, terus camping, kan seru tuh, daripada jalan-jalan ke Mall terus, mau gak, Yel?” tanya Rio.

“Kapan?”

“Rencananya Jum’at minggu depan,” kata Alvin.

“Jum’at minggu depan? Yah, gue gak bisa ikut, sori deh, gue ada tugas,” kata Gabriel.

“Yah, elo gimana sih, Yel? Mumpung Rio, Cakka, sama Agni bisa ngumpul sama kita,lagian kan kita lagi liburan,” rayu Alvin.

“Tapi mau gimana lagi, gue liburan malah banyak tugas,” kata Gabriel. Ify melihat Shilla mendesah dan memasang wajah kecewa. Ify mendekat kearah Rio dan membisikkan sesuatu.

“Kak, bujuk Kak Iel, sekali lagi, liat tuh Shilla udah kecewa banget sama Kak Iel,” bisik Ify. Rio melirik kearah Shilla.

“Yah, gue usahain,” kata Rio.

“Yel, gue mau ngomong sama lo, tapi di lantai atas ya,” kata Rio.

“Aw, Rio maho!” ledek Cakka.

“Asem lu, Cak!” kata Rio.

“Ih, Kak Cakka!! Kak Rio bukan maho!!!” seru Ify.

“Ehehe, pis Fy!” kata Cakka.

***

“Mau ngomong apa, Yo?” tanya Gabriel.

“Plis, lo ikut naik gunung, Yel,” kata Rio.

“Kan udah gue bilang, gue banyak tugas,” kata Gabriel.

“Lo gak liat tadi tampang Shilla begitu lo ngomong kayak gitu?” tanya Rio. Gabriel terdiam.

“Shilla kecewa banget sama lo, Yel. Lo gak pernah punya waktu sama dia, lo ngerti kan perasaan cewek? Cewek kalo ditinggal sama cowoknya ato cowoknya gak punya waktu buat dia, si cewek pasti kecewa,” kata Rio. Gabriel menunduk.

“Berarti selama ini, gue udah bikin Shilla kecewa?” tanya Gabriel. Rio mengangguk.

“Jadi, gue mohon sama lo, lo ikut,” kata Rio.

“Iya, gue ikut,” jawab Gabriel. Rio tersenyum.

“Itu namanya sohib gue,” kata Rio sambil menepuk-nepuk bahu Gabriel. Gabriel hanya tersenyum.

***

"Nah itu dia Rio sama Iel, ngapain tuh di atas??” celetuk Cakka. Ify langsung melotot kearah Cakka sehingga membuat Cakka gemeteran.

“Ehm, temen-temen, gue berubah pikiran, gue jadi ikut,” kata Gabriel.

“Beneran, Yel? Oke berarti jadi ya!” kata Alvin antusias.

***

Halaman belakang

“Kak, aku seneng banget Kakak ikutan," kata Shilla dengan wajah berseri-seri.

“Maaf, ya, tadinya aku gak mau ikut,” kata Gabriel.

“Gak papa, Kak,” Shilla tersenyum.

“Eum, Kak…” panggil Shilla.

“Apa?”

“Kakak inget, malam Minggu, minggu depan hari apa?”

“Sabtu?”

“Aduuh, Kakak…itu tepat satu tahun kita jadian, pas kan kita ngerayain di tengah alam,” kata Shilla.

‘Kok gue bego sih, bisa gak inget,’ batin Gabriel.

“O, iya…hehe…em, aku mau minta maaf sekali lagi Shil,” gumam Gabriel.

“Buat?”

“Yaaa, soalnya aku selama ini gak punya waktu buat kamu, aku lebih mentingin tugas daripada kamu,” kata Gabriel. Shilla tersenyum.

“Gak papa, Kak. Aku ngerti kok keadaan Kakak yang sekarang, Kakak banyak tugas, setidaknya aku gak boleh egois,” kata Shilla. Gabriel tersenyum dan mengelus rambut Shilla.

“Makasih ya, Shil,”

“Sama-sama, Kak,”

***

“Kita naik gunung apaan nih?” tanya Ify.

“Gunung Merapi!”

“Ih, apaan? Ogah!” tolak Ify.

“Ya, nggaklah! Lo mau cari mati disitu?” tanya Rio.

“Aaah, Kak Rio mah godain gue terus nih kerjaannya saking kangen sama gue, hehee…” kata Ify. Rio memutar bola matanya.

“Kita naik Gunung Gede aja, Fy. Lagipula banyak objek wisata juga disana,” kata Alvin.

“Oke, ide yang bagus!” kata Sivia.

***

Jum’at pagi

“Udah siap semua?” tanya Alvin.

“SIAP!!” Semua menjawab secara bersamaan.

“Oke ayo berangkat ke Cipanas!” Mereka naik mobil Alvin untuk sampai ke Cipanas, gerbang untuk menuju Gunung Gede ada di Cipanas.

Cipanas

Alvin memarkirkan mobilnya tak jauh dari gerbang masuk Taman Nasional Gede Pangrango (bener gak sih ada di Cipanas ?)

“Sebelum, naik gunung, ayo berdoa dulu,” suruh Rio.

Mereka berdoa dengan khusyuk, setelah itu mereka pun memulai perjalanan panjang untuk mendaki gunung yang terkenal itu.

“Waw, alamnya indah banget! Sejuk lagi!” seru Sivia sambil menarik napas panjang.

“Gak salah kan, gue ngajak kesini?” tanya Alvin ke Sivia.

“Hehe, gak salah,” jawab Sivia.

“Kak Rioo…capek!!” seru Ify.

“Terus?”

“Gendong!!”

“Ogah!! Badan lo kayak karung beras!!” seru Rio.

“Kak Rio jahaaat!!”

Sementara itu Agni-Cakka

“Huoo…huoo…” dendang Cakka sambil memetik gitar kesayangannya.

“Cakkaaaa!! Berisiik!!” seru Agni.

“Ahelah, suara emas gini, lo bilang berisik!” keluh Cakka.

“Lo nyanyi lagi, gue kasih lakban mulut lo!” ancam Agni.

“Hehe, nggak deh,” kata Cakka.

“Mereka itu berisik banget sih,” keluh Gabriel.

“Haha, iya nih, menganggu keindahan alam aja,” kata Shilla sambil membenarkan topinya.

“Kamu capek, Shil?” tanya Gabriel.

“Enggak sih, emang kenapa?”

“Kalo capek, aku gendong kamu,” kata Gabriel. Wajah Shilla memerah.

“Ah, berat-beratin Kakak aja deh,” kata Shilla.

“Kalo capek, bilang aja ya,” Kata Gabriel. Shilla mengangguk.

Hari sudah semakin sore, mereka pun mencari tempat untuk berkemah, kemudian Ify berteriak.

“Woi! Semuanya! Gue dapet tempat yang cocok buat kemah!!” teriak Ify.

Mereka berdecak kagum dengan tempat yang ditemui oleh Ify. Sebuah sabana.

“Keren banget tempatnya!” seru Rio.

“Amazing!” kata Cakka.

“Kita bagi tugas, Gabriel, Shilla, Agni, sama Cakka cari kayu bakar buat api unggun. Gue sama Rio bikin tenda, Via sama Ify siapin peralatan buat masak,” perintah Alvin.

“Siip!”

Mereka pun memulai tugasnya. Cakka-Agni berpisah jalan dengan Gabriel-Shilla. Shilla dan Gabriel mencari kayu bakar di tengah hutan yang tak berada jauh dari sabana tempat mereka berkemah. Shilla mendengar suara berisik seperti burung-burung terbang, Shilla mendongak ke atas. Ia terkagum-kagum melihat keindahan yang ada. Shilla melihat berbagai spesies burung berterbangan di angkasa meramaikan keindahan langit pada sore hari.

“Kak Iel!!” panggil Shilla.

“Apaan, Shil?”

“Liat keatas…”

Gabriel mendongak keatas, tak beda dengan Shilla. Gabriel terkagum-kagum melihatnya.

“Keren,” gumam Gabriel.

“Banget,” tambah Shilla.

“Udah yuk, Shil. Pasti mereka nyariin kita,” ajak Gabriel.

“Ayo!”

‘Shilla tunggu malam Minggu nanti, gue mau kasih hadiah ke elo, I hope you like it,” batin Gabriel.

***

Malam hari

“Cakka jangan nyanyii!!” seru Agni.

“Kenapa siih, Ag??”

“Suara lo gak bagus!”

“Sini! Mending gue aja! Rio merebut gitar Cakka.

Well you done done me and you bet I
felt it
I tried to be chill but you’re so hot that
I melted
I fell right through the cracks
and now I’m trying to get back

Before the cool done run out
I’ll be giving it my bestest
Nothing’s going to stop me but divine
intervention
I reckon its again my turn to win some
or learn some
I won’t hesitate no more, no more
It cannot wait, I’m yours

Well open up your mind and see like me
Open up your plans and damn you’re
free
Look into your heart and you’ll find love
love love
Listen to the music of the moment
maybe sing with me
Ah, la peaceful melodys
It’s your God-forsaken right to be loved
love loved love love

So I won’t hesitate no more, no more
It cannot wait I’m sure
There’s no need to complicate
Our time is short
This is our fate, I’m yours

I’ve been spending way too long
checking my tongue in the mirror
And bending over backwards just to
try to see it clearer
But my breath fogged up the glass
And so I drew a new face and laughed
I guess what I’m saying is there ain’t no
better reason
To rid yourself of vanity and just go
with the seasons
It’s what we aim to do
Our name is our virtue

I won’t hesitate no more, no more
It cannot wait I’m sure
There’s no need to complicate
Our time is short
This is our fate, I’m yours

Well no no, well open up your mind and
see like me
Open up your plans and damn you’re
free
Look into your heart and you’ll find love
love love love

Listen to the music of the moment come
and dance with me
ah, la one big family (2nd time: ah, la
happy family)
It’s your God-forsaken right to be loved
love love love

I won’t hesitate no more
Oh no more no more no more
It’s your God-forsaken right to be loved,
I’m sure
Theres no need to complicate
Our time is short
This is our fate, I’m yours

No I won’t hesitate no more, no more
This cannot wait I’m sure
There’s no need to complicate
Our time is short
This is our fate, I’m yours, I’m yours
(I'm Yours-Jason Mraz)

“Mantep suara lo, Yo!” kata Alvin.

“Emang kayak Cakka??” celetuk Gabriel.

“Kurang asem lo, Yel!” gerutu Cakka.

“Pasti lagunya buat guee??” tanya Ify sambil mesem-mesem sendiri.

“Nyeh, harus gue akuin dengan sangat amat terpaksa…yah, itu buat lo,” kata Rio.

“Ciyeee…Ify…makin romantis aja Kak Rio,” goda Shilla.

“Cie, cie, cie…” goda Sivia.

“Asiik daah!” kata Agni.

“Udah, sekarang tidur, besok jalan-jalan bebas!” kata Alvin.

Para cewek masuk ketenda cewek, sedangkan cowok masuk ke tendanya sendiri.

Tenda Cewek

Shilla tak bisa tidur daritadi, sedangkan teman-temannya yang lain sudah tidur duluan. Pikiran selalu dipenuhi oleh Gabriel. Shilla memutuskan untuk bangun dan keluar tenda. Saat Shilla keluar dari tendanya, ia melihat Gabriel sedang bermain gitar sendirian sambil memandang langit di depan api unggun.

“Kak Iel?”

Gabriel menengok ke samping.

“Shilla? Kamu belom tidur?” tanya Gabriel. Shilla menggeleng. Ia duduk disamping Gabriel.

“Gak bisa tidur,”

“Sama, aku juga gak bisa tidur,” kata Gabriel.

“Kak Alvin, pinter banget deh nyari tempat yang bagus,” gumam Shilla.

“Namanya juga fotografer, pasti tau tempat yang bagus, gak hanya Alvin kok, aku juga tau tempat yang bagus,” kata Gabriel.

“Ha? Maksud Kakak?”

“Ikut!” Gabriel menarik tangan Shilla.

“Mau kemana, Kak? Nanti dicariin!” keluh Shilla.

“Mereka kan masih tidur, jadi gak bakal tau!” Gabriel tak melepaskan genggaman tangannya pada Shilla.

“Ya, ampun!” Shilla menutup mulutnya dengan kedua tangannya, ia melihat pemandangan yang bisa membuat orang terkagum-kagum. Kerlap-kerlip lampu yang ada di kawasan Puncak terlihat dari tempat Shilla dan Gabriel berdiri.

“Keren banget! Sumpah!” kata Shilla.

“Aku gak kalah kan sama Alvin??” tanya Gabriel.

“Haha, ya nggaklah, bagi aku, Kakak tetep nomor satu!” kata Shilla.

“Tapi kenapa di speed dial kamu aku masuk ke nomor dua?” tanya Gabriel.

“Itu…hmm...kapan-kapan aja deh kasih taunya hehe…” kata Shilla.

“Pelit dah! Udah yuk balik ke tenda terus tidur,” ajak Gabriel.

“Ayo!”

***

Pagi hari

“Huah, udaranya fresh bangeet!” seru Ify sambil merenggangkan tangannya.

“Ify! Jangan panjang-panjang renggangan tangannya! Ketek lo bau!” seru Cakka.

“Kak Rioo!! Kak Cakka gangguin guee!!” Ify mengadu ke Rio dengan masuk kedalam tenda cowok.

“Apaan sih! Berisik tau! Tonjok aja mukanya Fy!” kata Rio sambil menarik selimutnya lagi.

“Kak Rio, banguun!! Udah siang!” seru Ify.

“Satu jam lagi, ngantuk banget guee…” kata Rio.

“Nyeh, dasar kebo!” Ify pun keluar dari tenda cowok.

Sementara itu Shilla dan Gabriel…

“Shil, ikut aku lagi yuk!” bisik Gabriel.

“Kemana?”

“Rahasia! Ntar juga tau!” kata Gabriel.

“Heh! Mau kemana lo berdua?” tanya Agni.

“Mau jalan-jalan pagi!” kata Gabriel.

“Jangan lama-lama lo!”

“Siip, Bu Agni!”

Sekali lagi, Gabriel membawa Shilla ke tempat yang bisa membuat orang terkagum-kagum, Gabriel membawanya ke sebuah sungai dengan air yang jernih dengan aliran yang cukup deras. (anggep aja ada).

“Sekali lagi aku dibuat kagum sama Kakak,” kata Shilla takjub.

“Makasih, cantik,” kata Gabriel.

Shilla menyusuri sungai tersebut, ia melihat keindahan ekosistem yang berada di dalam sungai tersebut. Sungai dengan air yang sangat jernih, beda dengan sungai yang ada di Jakarta.

“Bagus kan Shil?” tanya Gabriel yang berada di sampingnya.

“Banget!” kata Shilla.

‘Saatnya gue ngasih hadiah buat Shilla,
tepat waktunya,” batin Gabriel.

Shilla masih memandang dengan kagum sambil berjongkok di pinggir sungai diatas batu.

“Shil, hati-hati batunya licin,” kata Gabriel.

“Tenang aja, aku gak bakal…” kalimat Shilla terhenti, keseimbangannya goyah.
“KYAA!”

“Shilla!!” Gabriel mengulurkan tangannya pada Shilla. Tapi percuma, mereka berdua tercebur kedalam sungai yang alirannya sangat deras itu.

***

“Shil…Shil bangun…”

Shilla membuka matanya perlahan, dan kemudian terbatuk-batuk akibat air yang masuk kedalam tubuhnya. Shilla terkulai lemas di rangkulan Sivia.

“Alhamdulillah, Shil, lo udah sadar!” kata Ify.

“Gue kenapa?” tanya Shilla dengan suara kecil.

“Lo kecebur ke dalem sungai, untung tadi ada petugas yang ngeliat lo, tadi gue sama anak-anak nyari lo dan gue liat lo udah basah kuyup kayak gini di sampan petugas itu,” tutur Agni.

“Kak Iel, Kak Iel! Kak Iel mana??” tanya Shilla panik. Agni, Sivia dan Ify saling tatap.

“Kak Iel hanyut, masih dalam pencarian, Kak Rio, Kak Alvin sama Kak Cakka lagi nyari Kak Iel bareng petugas-petugas yang lain,” kata Ify.

Tiba-tiba Shilla langsung memeluk Sivia dan menangis sekencang-kencangnya.

“Shil, Kak Iel pasti ketemu kok,” kata Sivia.

“Ini salah gue, harusnya gue gak berdiri di batu licin itu,” kata Shilla sesenggukan.

“Sabar, Shil,” kata Ify.

“Woi!! Gabriel ketemu!!” teriak Cakka.

“Tuh, Shil! Kak Iel ketemu!” Seru Sivia.

Mereka bertiga membantu Shilla yang lemas untuk berdiri. Mereka menghampiri Alvin, Rio, dan Cakka, serta beberapa petugas. Gabriel terkulai lemas, ia tak sadarkan diri.

“Kak Iel, banguun…” gumam Shilla.

Gabriel tetap tak membuka matanya.

“Sepertinya kepala anak ini terbentur batu, jadi dia tak sadarkan diri, kita harus bawa dia ke Rumah sakit,” kata salah satu petugas.

“Iya, Pak. Bantu kita bawa dia ke Rumah Sakit, Pak.” Kata Rio.

Mereka pun membawa Gabriel ke Rumah Sakit terdekat.

***

Rumah Sakit

Shilla terus melihat Gabriel dari luar kamar rawat. Gabriel masih belum sadarkan diri. Kata Dokter, Gabriel mengalami benturan keras, sehingga tidak tahu pasti apakah Gabriel akan kehilangan ingatannya atau tidak. Mereka hanya perlu menunggu. Shilla mendesah. Air matanya terus jatuh, ia masih menyesali kejadian yang terjadi pagi hari.

“Shil, nih Hot Chocolate buat lo, buat ngangetin badan, badan lo dingin, Shil,” kata Ify sambil menyodorkan sebuah gelas plastic pada Shilla.

“Thanks, Fy,” Shilla tersenyum masam. Ify duduk di sampingnya.

“Yang lain mana, Fy?”

“Mereka lagi makan di kantin,”

“Lo gak ikut makan?” Ify menggeleng.

“Gue maunya makan sama lo, gue gak mau best friend gue ini kelaperan sedangkan gue kekenyangan, hehe…”

“Haha, maksudnya, lo mau ngajak gue makan?”

“Iya, makan dulu yuk,” ajak Ify. Shilla mengangguk dan mengikuti Ify dari belakang.

Kantin

“Fy…”

“Kenapa Shil?”

“Gue takut, Kak Iel ilang ingatan…” gumam Shilla lirih.

“Lo jangan sugesti kayak gitu, lo harus optiming kalo Kak Iel bakal baik-baik aja, ya?” Shilla tersenyum dan mengangguk.

“Thanks for your support,”

“You’re welcome,”

***

Shilla terus menunggu di samping Gabriel. Shilla menyuruh Ify dan yang lain pulang, karena mereka terlihat lelah. Awalnya mereka tidak mau, tapi Shilla tetap memaksa, dan akhirnya mereka pun luluh dan memberi waktu untuk untuk Shilla dan Gabriel.

“Kak Iel, maafin aku ya…aku teledor banget…gara-gara aku Kak Iel jadi kayak gini…” Air mata Shilla kembali jatuh, tapi Shilla langsung mengusapnya.

“Shil…”

Shilla terdiam, ia mendengar suara Gabriel meskipun tidak terdengar jelas. Gabriel memanggil namanya.

“Shilla…”

“Kak Iel…Aku disini,” kata Shilla dengan berbisik di telinga Gabriel.

Mata Gabriel perlahan terbuka, ia menengok kearah Shilla, kemudian tersenyum.

“Kak Iel…”

“Syukurlah, kamu gak papa Shil…” gumam Gabriel. Shilla tiba-tiba menangis.

“Kenapa?”

“Maafin aku, Kak…gara-gara aku…”

“Plis, jangan minta maaf, kamu gak salah, ini murni kecelakaan,” gumam Gabriel. Shilla menghapus air matanya dan mencoba untuk tersenyum.

“Kali ini aku yang harus minta maaf, maaf ya aku gak bisa ngasih kamu hadiah, awalnya aku mau ngasih kamu hadiah sebuah liontin di tepi sungai itu, tapi kenyataan berkehendak lain, aku hanyut, dan hadiahnya hilang,” lirih Gabriel. Shilla menggeleng.

“Aku gak butuh hadiah berupa material, Kak…asalkan Kakak ada di samping aku, itu udah merupakan hadiah terindah buat aku, hadiah buat aku ya Kakak, Kakak yang selalu ada buat aku…” tutur Shilla. Gabriel tersenyum.

“Kamu juga hadiah yang terindah buat aku, aku janji gak bakal bikin kamu kecewa lagi, aku gak bakal nelantarin kamu lagi, aku janji…” Gabriel menunjukkan jari kelingkingnya.

“Janji…” Shilla menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingkin Gabriel.

“Aku sayang sama Kakak…”

“Aku juga sayang sama kamu…”

"O, ya kamu belum jawab pertanyaan aku," kata Gabriel.

"Yang mana?"

"Kenapa nomor aku ditaruh di nomor dua di speed dial?"

"Itu karena kalo ada Kakak di samping aku, aku merasa lengkap, merasa lebih baik, kayak lagunya Acha yang Berdua Lebih Baik, hehe..."

"Oh, gitu, yaudah aku juga naruh kamu di nomor dua,"

"Lho? Emang dulu aku ditaro di nomor berapa?"

"Nomor satu,"

"Gak usah diganti, biar aja kayak gitu, itu kan udah sesuai keinginan Kakak, jangan ganti gara-gara aku," tutur Shilla. Gabriel tersenyum dan mengusap lembut rambut Shilla.

"Aku beruntung bisa punya kamu, Shil..."

"Aku juga..."

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar