Minggu, 31 Juli 2011

Cuma Gue yang Bisa part 15 (re-post)

Part 15: Alvin=AS??


“Ify?”

“Kak Debo?” Ify pun menghampiri Debo yang tengah berdiri di depan pos satpam. Rio terbelalak melihat Debo berdiri memandang Ify dengan wajah berseri-seri.

“Aduuh, ada yang terbakar api cemburu niih..” Goda Alvin.

“Api cemburu?? Jangan-jangan..Kak Rio…” kata Sivia sambil menyipitkan mata.

“Apaan, Vi?” Tanya Alvin.

“Suka yaaa sama Ify?? Hayooo..ngakuuu..” kata Sivia. Rio hanya mengelap keringat.

‘Sial! Tau juga akhirnya nih anak,’ batin Rio.

“Bener, kaan??” Tanya Sivia.

“Iya,iyaa gue sukaa sama Ify..” Aku Rio.

“Akhirnya ngaku juga lo, Kak..kena pelet lo ya ama Ify?” celetuk Sivia.

“Hah? Ify melet gue?” Tanya Rio.

“Ya, nggak laah!! Bego banget sih lo, Kak!” kata Sivia.

“Kira-kira yang ngomongin apaan ya?” Tanya Alvin.

***

“Ngapain lo kesini, Kak?” Tanya Ify.

“Gue pengen ketemu lo, Fy.” Kata Debo.

“Ketemu gue?? Sori, gue mau pulang..” kata Ify yang berjalan meninggalkan Debo, tapi..tangannya di tarik sama Debo.

“Fy, tunggu dong, gue mau ngomong sama lo!” kata Debo.

“Apaan siih?? Gue udah ditungguin,” kata Ify sambil melipat tangan di dadanya.

“Ehm, gini aja deh, gue pengen kita ketemuan hari Sabtu di Café Violet, jam 3 sore..” kata Debo.

“Gue mau nonton Idola Cilik dirumah,” kata Ify.

“Ayolah, Fy..gue pengen cerita sama lo,” rayu Debo.

“Euh, Minggu aja deh! Tapi jam 5, gue pengen nonton raport Idola Cilik dulu!” kata Ify.

“Iya, deh. Terserah lo, gue pulang ya, Fy..” Debo memakai helmnya dan segera melajukan motornya dengan kencang.

‘Kira-kira mau ngomong apaan tuh orang?’ Pikir Ify.

***

“Waduh, Yo! Tangannya Ify di pegang tuh!!” kata Alvin. Sivia melihat muka Rio memancarkan aura neraka, saking cemburunya.

“Kak Alvin jangan dipanas-panasin dong!! Liat mukanya udah kayak mau ngebunuh Kak Debo tuh!” kata Sivia sambil menunjuk kearah muka Rio.

“Eh, iya..juga..stay cool, bro!!” kata Alvin.

“Berisik lu!!” seru Rio.

Ify pun menghampiri Sivia, Rio dan Alvin setelah mengobrol dengan Debo sebentar.

“Sori, ya pada nunggu lama.” Kata Ify.

“Emang lama!!” Jawab Rio ketus.

“Rio!” seru Alvin.

“Apaan sih!? Udah ah, mending pulang!” kata Rio mendahului mereka bertiga menuju tempat parkir.

“Kak Alvin, Kak Rio kenapa?” Tanya Ify.

“PMS kali..”jawab Alvin enteng. Sivia hanya mengangkat bahu.

“Aaah, yaudah deh, paling ntar udah adem sendiri.” Kata Ify.

***

“Vi, udah sampe,” kata Alvin. Sivia turun dari motor Alvin dan memberikan helmnya pada Alvin.

“Thanks ya, Kak.” Kata Sivia tersenyum. Alvin pun jadi salting.

“Eum..Vi,” panggil Alvin. Sivia menoleh.

“Kenapa, Kak?”

“Besok mau berangkat bareng gak? Gue jemput..” Tawar Alvin. Muka Sivia memerah.

“Gu..gue takut ngerepotin lo, Kak.” Kata Sivia.

“Kalo ngerepotin ngapain gue tawarin ke elo, Siviaa..” kata Alvin sambil tertawa kecil. Jantung Sivia berdegup kencang begitu melihat senyuman Alvin.

“I..iya deh, gue masuk dulu ya..” Sivia menutup pagar rumahnya.

Alvin yang bersiap-siap untuk pergi, tiba-tiba mendengar suara teriakan Sivia.

“Papaa!!!Jangaaaann!!!” Teriak Sivia. Alvin terkejut, ia turun dari motornya dan segera masuk ke dalam rumah Sivia.

“Papa bakar semua alat lukis kamu supaya kamu gak bisa melukis lagi dan kamu bisa konsentrasi ke pelajaran!!” Kata Pak Rendra.

“Papa jahaaatt!!!” kata Sivia dengan suara serak.

“Sivia!!” Seru Alvin. Sivia dan Pak Rendra menoleh kearah Alvin. Alvin berlari kearah Sivia .

“Vi, lo gak papa?” Tanya Alvin dengan nada penuh khawatir. Sivia tak menjawab, ia tetap menangis. Alvin tak tega melihat Sivia hancur seperti itu.

“Oom, kenapa Oom bakar semua alat lukisnya?? Udah jelas Sivia lebih suka melukis daripada menjadi dokter, Oom!!” Kata Alvin membela Sivia.

“Kamu ya, yang mempengaruhi Sivia supaya Sivia tidak nurut pada saya??” Ucap Pak Rendra.

“Bukan saya, tapi Anda sendiri yang membuat Sivia tidak nurut kepada Anda,” jawab Alvin enteng.

“Berani-beraninya kamu!!” Tangan Pak Rendra hampir mendarat di wajah Alvin.

“Jangan, Pa! Kak Alvin gak salah!” Bela Sivia. Sivia berdiri di depan Alvin, supaya Papanya tidak bisa menampar Alvin. Kemudian Pak Rendra menarik tangan Sivia.

“Sivia, masuk kamu!! Kamu pergi dari sinii!!” Usir Pak Rendra.

“Kak Alvin, Kakak pulang aja!!” Suruh Sivia.

“Tapi, Vi..”

“Pulang, Kak! Gue gak papa kok!” kata Sivia. Alvin menuruti omongan Sivia yang menyuruhnya pergi. Tapi Alvin masih khawatir dengan keadaan Sivia, akhirnya ia memilih untuk pergi kerumah Ify untuk bicara tentang masalah Sivia dengan Rio dan Ify.

***

“Kak Rioo..kenapa siih?” Tanya Ify.

Rio tidak menggubris panggilan Ify dan tetap mengajari Deva. Rio menganggap panggilan Ify hanya angin lalu.

“Kak Riooo…” Panggil Ify sambil menggoyang-goyangkan bahu Rio.

“Kak Rio, dipanggil tuh,” kata Deva.

“Biarin aja,” jawab Rio enteng. Muka Ify udah panas, kesel sama Rio. Ify pun pergi meninggalkan mereka berdua.

“Yah, tuh kan Kak, ngambek.” Kata Deva. Rio pun menoleh kebelakang. Ify sudah pergi. Rio pun kembali mengajari Deva.

“Nih Dev, caranya gini..” tiba-tiba..

BLETAAKK!!!

“Aduuuh!!!” Ringis Rio sambil memegang kepalanya, sebuah sandal rumah mendarat di kepalanya. Rio menoleh kebelakang, mendapati Ify sedang berdiri di depan pintu sambil bersiap-siap menimpuk sandal yang satunya ke kepala Rio.

“Sakiiit, gilaa!!” teriak Rio.

“Makan tuh sandal guee!!!” Teriak Ify. Rio pun mulai naik darah, Rio mengambil sandal yang tadi dilempar Ify dan melemparnya lagi kearah Ify.

“Lo aja yang makan!! Gue gak doyaan!!” Balas Rio. Ify tak mau kalah, ia kembali melempar sandalnya kearah Rio.

“Gue juga gak doyaan!! Buat lo ajaa!!” kata Ify.

“Gue udah banyak sandal di rumah!! Nih, sekalian sepatu gue lo makan!!” kata Rio sambil melempar sepatunya juga.

“Iiih, gue males!! Sepatu lo bau!!” kata Ify melempar sepatunya Rio. Mereka jadi lempar-lemparan sandal. Deva hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku mereka berdua.

“Enak aja sepatu gue bau!! Sandal lo tuh yang bauu!!!” Rio melempar sandal Ify kearah Ify, tapi meleset dan akhirnya mendarat di..

PLAAAAK!!!

“Aduuuh!!!” Ify menoleh kebelakang. Mata Ify dan Rio terbelalak, seseorang di belakang Ify sedang meringis kesakitan sambil memegang hidungnya.

“Kak Alvin??” Kata Ify.

“Rio sial!! Idung gue yang mancung jadi pesek niih!!” Ringis Alvin yang memegang hidungnya.

“Idung lo kan emang udah pesek dari dulu, Pit!” Jawab Rio enteng.

“Pit, Pit..nenek lo sipit!!” kata Alvin.

“Tumben, Kak kesini, kenapa?” Tanya Ify.

“Gue pengen ngomong sama lo berdua,” kata Alvin. Alvin pun duduk di gazebo bersama Rio dan Ify (juga Deva, tapi kagak dianggep, hehee..).

“Gini ceritanya…”

“Eh, eh tunggu..tunggu..” Sela Ify, kalimat Alvin terpotong.

“Kenapa?” Tanya Alvin. Ify menunjuk kearah Deva yang sudah menopangkan dagunya di atas kedua tangannya dan siap mendengar cerita Alvin.

“Dep, masuk sono!! Privasi nih!!” Suruh Ify. Deva memasang wajah kecewa.

“Yaaahh, kok gitu siih, gue kan pengen dengeerr..” kata Deva.

“Belom cukup umur!! Masuk sono!!” Usir Ify.

“Wooo!! Ipi pelit!!” Deva menjulurkan lidah kearah Ify. Ify pun melempar sandalnya kearah Deva, tapi meleset.

“Terusin, Vin..” suruh Rio.

Alvin menceritakan kejadian yang tadi ia saksikan dengan mata kepala dia sendiri, saat Sivia menangis karena alat lukisnya di bakar Papanya. Ia juga menceritakan saat dirinya akan ditampar oleh Papa Sivia. Rio dan Ify tak menyangka bahwa Papanya Sivia sekejam itu.

“Kak Alvin, setahu gue dulu Papanya Sivia baik banget, Kak..kenapa sekarang kayak gitu??” Tanya Ify tak percaya.

“Jahat banget Papanya Via,” kata Rio.

“Dulu gue di certain sama Sivia, dulu Papanya gak kayak gitu, saat Via suka melukis tapi sebagai hobi, tapi saat Via memilih untuk menjadi pelukis, Papanya gak terima, yaa jadinya gitu, Fy..gue gak nyangka aja, masih aja ada orang tua kayak gitu.” Ujar Alvin.

“Gue kasian sama Via, padahal gue
sahabatnya, tapi gue gak bisa berbuat apa-apa, Kak..” gumam Ify lirih.

“Apalagi gue, Fy, “ gumam Alvin.

“Gue mau sms Via,” kata Ify sambil mengeluarkan BB-nya, tapi di cegah Rio.

“Jangan, Fy! Via masih butuh ketenangan! Jangan ganggu dulu!” Cegah Rio. Ify pun mengurungkan niatnya untuk mengirim pesan singkat pada Sivia. Tapi tiba-tiba BB-nya berbunyi.

“Via??”

Alvin dan Rio mengerubungi Ify melihat pesan dari Sivia.

From: Via

Fy, hari ini gue kerumah lo, ya..nginep,

“Gue jawab apaan nih?” Tanya Ify bingung.

“Lo tanya kenapa dia mau nginep..” kata Alvin.

To: Via

Tumben lo mau nginep, Vi kenapa?”

From: Via

Gue mau curhat sama lo Sekarang OTW nih

To: Via

Oke, gue tunggu
Ada Kak Alvin sama Kak Rio kok

From: Via

Kak Alvin? Yaudah deh..

Setengah jam kemudian, Sivia pun datang dengan tas ransel besar yang di bawanya. Sivia datang dengan mata sembab, dan terlihat acak-acakan.

“Ya, ampun Viaa..lo kenapa??” Tanya Ify sambil menghampiri Sivia. Sivia tiba-tiba menangis, Ify pun memeluk Sivia dan membawa Sivia ke gazebo.

“Vi..gue udah denger ceritanya dari Kak Alvin, sabar ya..” gumam Ify.

“Kak Alvin, tadi maafin Papa ya..” kata Sivia dengan suara serak. Alvin tersenyum.

“Gak papa, kok Vi..gue juga salah udah nyolot sama bokap lo,” kata Alvin.

“Vi, kalo misalnya ada masalah, cerita aja sama kita..” kata Rio.

“Semuanya makasih, yaa..” kata Sivia.

“Jangan nangis lagi yaa, cantiik..” kata Ify sambil menghapus air mata dari wajah Sivia.

“Mata lo udah bengkak gitu, Vi..ntar jadi sipit kayak Alvin lagi, hahaa..”celetuk Rio. Alvin pun menoyor kepala Rio.

“Sakiit!!” Ringis Rio. Alvin menjulurkan lidah.

“Gue pulang dulu ya, Fy, jagain Via yaa,” kata Alvin.

“Ehm, Vin belom resmi tau..” goda Rio.

“Berisik lo, Yo!” Seru Alvin dengan muka memerah.

“Gue pulang Fy, Yo.” Pamit Alvin.

“Kak Alvin, makasih yaa..” kata Sivia. Alvin tersenyum.

“Kak Rio ajarin tuh adek gue!! Gue mau kekamar dulu! Awas lo ngintip!” Kata Ify.

“Ngapain gue ngintip! Kagak napsu gua ama lo!” Kata Rio sambil pergi kekamar Deva.

***

Ify terus memandang bangku Shilla yang 2 hari ini selalu kosong, Ify khawatir dengan keadaan Shilla karena kejadian tempo hari.

“Fy, lo kangen sama Shilla??” Tanya Sivia. Mata Ify melotot.

“Iih, najong tralala..ngapain gue kangen sama dia?” Kata Ify.

“Buktinya dari tadi lo mandangin bangku Shilla terus, tapi sejak kejadian 2 hari yang lalu, Shilla gak masuk, gue jadi sedikit khawatir sama dia..” gumam Sivia.

“Adanya elo yang kangen sama Shilla!”

“Elo juga, behel!!” kata Sivia.

“Iya, iyaa gue jujur, gue khawatir sama dia!” Jujur Ify.

“Gimana kalo nanti kita tanya Kak Iel aja, Fy.” Usul Sivia.

“Boleh juga..” kata Ify.

“Ntar ya pas istirahat..” kata Sivia.

***

“Gue juga gak tau, Fy..” kata Gabriel.

“Beneran lo gak tau? Kan lo sohibnya..” kata Ify.

“SMS gue gak pernah dibales sekalipun sama Shilla,” kata Gabriel.

“Gara-gara lo, Yo!” Kata Cakka.

“Enak aja gara-gara gue! Jangan asal bunyi tuh congor!” Seru Rio.

“Pesona lo terlalu kuat, Yo! Makanya bikin Shilla klepek-klepek! Berantem kan tuh sama Ify, rebutan elo!” Kata Cakka.

“Daripada elo gak ada yang ngerebutin, Cak!” Celetuk Alvin enteng.

“Sirik lo, Vin!” Kata Cakka.

“Ngapain?? Gak ada yang lebih bagus??” Tanya Alvin nyolot.

“Lama-lama gue acak-acak juga muka lo!!” kata Cakka.

“Udah deh! Jangan kayak anak kecil!!” kata Gabriel.

“Kak, gue sama Sivia boleh gak kerumah Shilla?” Tanya Ify. Sivia mengangguk.

“Hah? Lo berdua yakin mau kerumah Shilla? Ntar lo sama Shilla maen cakar-cakaran lagi!” kata Rio.

“Kalo misalnya Shilla gak nyari ribut, gue gak bakal nyakar dia lagi, tapi kalo tetep nyari ribut tuh anak satu, gue punya jurus baru!” Kata Ify optimis.

“Apaan tuh?” Tanya Cakka penasaran.

“Gue gigit!” kata Ify.

“Buas banget lo, Fy!” Kata Alvin.

“Biarin!! Supaya gak ada yang bisa deket-deketin Kak Rio!” kata Ify sambil nyengir kearah Rio. Rio pun jadi gemeteran.

“Keren lo, Yo. Belom jadi artis aja udah punya bodyguard lo! Hahaa..” kata Cakka.

“Bukan bodyguard, peliharaan!” kata Rio.

“Kak Rio, belom pernah kelilipan sepatu gue??” Tanya Ify.

“Belom tuh, lo sendiri??” Tanya Rio nyolot.

“Kenapa jadi pada berantem sih?” Tanya Sivia.

“Gak tau ah, gak ikutan,” kata Alvin.

Alvin pergi menuju kekelasnya sendirian, sedang kan yang lain masih bertengger (emang burung??) di kantin, Rio-Ify masih berantem, Gabriel bengong mikirin Shilla, Cakka sibuk ngerapihin rambutnya dan terus melihat cermin sambil ngomong“gue ganteng kan?” -,-‘ . Sivia menatap punggung Alvin yang semakin menjauh dari pandangannya.

***

“Vi, gue tunggu di parkiran ya bareng Kak Iel!” Kata Ify.

“Sippo!” Kata Sivia.

Sivia masih sibuk dengan tugas yang diberikan Bu Dina padanya, ia sedang membereskan kertas-kertas soal milik anak-anak. Tiba-tiba..

PLETAK!!

“Aduuh!” Sivia ditimpuk sebuah kertas dari luar.

“Siapa siih??” Gumam Sivia. Sivia membuka surat tersebut, lagi-lagi dari seseorang berinisial AS.

Sivia Azizah

Aku perhatikan mata kamu sembab, kamu menangis ya?

Aku mohon jangan menangis lagi, air matamu sayang jika ditumpahkan, tetaplah tersenyum, semua orang ingin melihat senyuman manismu, terutama aku yang selalu melihatmu dari dekat.

AS

Muka Sivia merah merona. Ia tak percaya bahwa orang itu selalu memperhatikan Sivia dari dekat, Sivia sangat penasaran dengan orang itu, kemudian ia melihat sebuah mawar putih tergeletak di depan pintu kelasnya dan tentu saja foto dirinya. Sivia langsung mengambilnya dan menaruhnya di tas.

Sivia mengambil kertas-kertas soal itu dan berlari menuju keluar, tapi tiba-tiba..

BRUUUKK!!

Sivia terjatuh, dan kertas-kertas soal semua berserakan.

“Via, maaf ya, gue gak liat..” kata orang tersebut yang ternyata Alvin.

“Gue juga minta maaf, Kak, kamera lo jadi jatoh,”

Alvin membantu Sivia membereskan kertas-kertas soal yang jatuh berserakan, sedangkan Sivia? Matanya
tertuju pada kamera Alvin yang terjatuh disampingnya dengan keadaan menyala. Sivia melihat foto yang terpampang di kamera tersebut. Mata Sivia terbelalak. Gambar dirinya terpampang di kamera Alvin, foto itu merupakan foto yang diberikan seseorang dengan inisial AS tempo hari. Sivia memandang Alvin, muka Alvin menjadi pucat.

“Kak, Alvin..lo itu..??”

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar