Minggu, 31 Juli 2011

Cuma Gue yang Bisa part 5 (re-post)

Part 5: Rio yang Sabar yaa, Orang Sabar disayang Tuhan

"Lho? Itu kan.."

Setelah melihat gadis tersebut, Alvin segera memakai helm dan menyusul gadis tersebut.

***

"Pokoknya Papa gak mau ngeliat kamu melukis terus! Harusnya kamu sadar, kamu sudah besar, Via! Kamu bisa memilih mana yang terbaik buat kamu, ternyata Papa salah kamu masih belum bisa dewasa!" Seru Pak Rendra, ayah Sivia.

"Pa, udahlah!" Kata Bu Vina.

"Kenapa Mama selalu membela Via!? Via itu belum bisa memilih mana yang benar mana yang salah!!" Kata Pak Rendra.

Sivia merasa sakit hati mendengar omongan Papanya, ia merasa terlalu diatur, tak bisa melakukan apa yang disukainya, air mata sudah jatuh di pipinya. Papanya ingin Sivia menjadi dokter seperti Papa dan Mamanya, tapi Sivia lebih memilih melukis yang merupakan kesukaannya dari kecil daripada menjadi dokter.

"Papa bilang aku belum dewasa, Pa? Mungkin menurut Papa aku belum dewasa, tapi menurutku sendiri aku udah dewasa! Aku udah memilih sesuatu yang terbaik buat aku, melukis adalah yang terbaik buat aku!!" Sivia berlari menuju luar rumah meninggalkan Papa dan Mamanya.

"Siviaa!!!" Panggil Pak Rendra. Tapi Sivia tak menanggapinya, Sivia meninggalkan rumahnya dan pergi menuju suatu tempat. Selama di perjalanan, Sivia terus mengingat perkataan Papanya yang membuat dirinya sakit hati. Air mata tak berhenti keluar dari matanya, Sivia terus menghapus air matanya, tapi tetap saja air mata itu tak berhenti keluar dari matanya. Tiba-tiba saat Sivia sedang merenung, sebuah motor Tiger berhenti di sampingnya. Sivia memandang sang
pengendara motor tersebut. Si pengendara motor itu memakai helm full face sehingga Sivia tak bisa melihat wajahnya.

"Lo siapa? Tukang ojek? Maaf Mas, saya gak mau naek ojek." Sivia meninggalkannya dan berjalan cepat, tapi si pengendara motor itu tetap menyusul Sivia sampai-sampai berhenti di depannya.

"Mas, saya kan udah bilang!? Saya gak mau naek ojek! Maksa banget sih!? Tuh ada Ibu-ibu nunggu ojek di sana! Mending samperin aja tuh Ibu-ibu! Jangan saya yang disamperin!!" Seru Sivia sambil menunjuk kearah Ibu-ibu yang sedang duduk menunggu ojek. Kemudian si pengendara motor itu malah tertawa. Sivia mengangkat alis.

"Lo beneran gak tau siapa gue?" Tanya si pengendara motor.

"Lo tukang ojek, kan?" Tanya Sivia. Tawa si pengendara motor itu meledak. Ia membuka helmnya, sehingga membuat mata Sivia terbelalak.

"Masa orang ganteng kayak gini dibilang tukang ojek sih?"

"Kak Alvin??"

"Bukan, tukang ojek! Iya, gue Alvin!" Kata Alvin sambil tertawa. Muka Sivia memerah, malu setengah mati.

"Kok lo bisa ada disini, Kak?" Tanya Sivia.

"Rumah gue di komplek ini juga, Vi. Gue lagi bete, jadinya gue keliling komplek, terus pas gue lewat blok AB, gue denger ada keributan..di..rumah lo.." Gumam Alvin.

"Jadi lo denger ya?" Tanya Sivia.

"Maaf,ya Vi.."

"Gak papa kok, Kak." kata Sivia.

"Mending lo ceritain semuanya ke gue, ayo naek." Ajak Alvin. Sivia menerima ajakan Alvin untuk ikut dengannya, Sivia naik ke motor Alvin dan pergi ke suatu tempat.

***

Alvin dan Sivia duduk di sebuah taman yang berada tak jauh dari rumah Sivia.

"Sekarang lo cerita sama gue, Vi." kata Alvin. Sivia menghela napas.

"Papa gak mau gue jadi pelukis, Kak. Papa maunya gue jadi dokter, sebagai penerus Papa. Gue pengen bikin Papa bangga, tapi bukan sebagai dokter, sebagai pelukis. Gue merasa melukis itu adalah yang terbaik buat gue, bukan menjadi dokter."Air mata menetes di pipi Sivia. Tangisannya tak bisa terbendung lagi.

Begitu Alvin melihat Sivia yang menangis, Alvin mengeluarkan saputangan dari saku celananya, dan menghapus air mata Sivia.

"Jangan nangis lagi ya, Vi. Mungkin bokap lo belom bisa nerima pilihan lo, tapi gue yakin suatu saat bokap lo pasti bisa terima itu semua, semangat, Vi. Jangan lemes kayak gitu, dong hehe.." kata Alvin sambil tersenyum pada Sivia.

"Makasih ya, Kak." kata Sivia.

"Sama-sama, Vi." kata Alvin.

Kemudian mereka diam satu sama lain. Tidak ada topik pembicaraan, gak ada sama sekali, sunyi, sepi, senyap, apalagi sih? =p

"Vi.." Panggil Alvin.

"Ke.kenapa, Kak?"

'Waduh, ngomong apaan nih gue? Deg-degan gue kalo di deket dia, bisa langsung mati gue disini..' batin Alvin.

"Kak, kenapa?" Tanya Sivia. Sivia terus memandang Alvin dengan rasa penuh tanya. ALvin yang merasa terus diliatin semakin salting.

'Aduuh, Vi..jangan ngeliatin gue kayak gitu dong..pengen bunuh diri gue disini..' batin Alvin.

"Vi, cu..cuacanya cerah yaa?" Tanya Alvin. Sivia mengangkat alis.

'Hah? Kok gue ngomong kayak gitu!? Aduuuhh, bego!bego!bego!' Alvin memukul-mukul kepalanya.

"Cuaca cerah?? Ya, ampun, Kak. Ada gledek kayak gitu, lo bilang ceraah?? Lucu banget sih lo, Kak..hahahaaa.." kata Sivia sambil tertawa. Alvin hanya nyengir sambil garuk-garuk kepala.

"Nah, gitu dong, Vi. Ketawa kayak gitu kan lebih cantik," kata Alvin.

'Kok gue jadi ngegombal kayak gini, gue pengen jedotin pala gue ke pohon duren deh!' batin Alvin sambil memukul-mukul kepalanya lagi. Muka Sivia memerah, sambil menunduk.

TIK..TIK..TIK..air hujan mulai berjatuhan.

"Vi, ujan!! Ayo pulaang!!" Seru Alvin. Alvin dan Sivia segera berlari menuju motor Alvin dan segera pergi meninggalkan taman.

***

Sejak si "penggemar rahasia" Sivia terus mengirim surat, foto dirinya, dan setangkai mawar putih, Sivia selalu pergi ke sekolah lebih awal, supaya tak ada yang tahu bahwa Sivia mempunyai "penggemar rahasia". Sivia menengok kekiri dan kekanan (udah kayak nyebrang jalan =p) meyakinkan diri bahwa di sana hanya ada dia sendiri. Mawar putih, sebuah surat, dan tak lupa sebuah foto dirinya yang sedang tertawa lepas bersama Ify sudah berada di atas mejanya.

Sivia tersenyum dan membuka lipatan surat tersebut.

Selamat pagi,

Jujur aku sangat senang melihat senyumanmu Ku harap kamu bisa terus
tersenyum seperti yang ada di dalam foto ini, Tak lupa, mudah-mudahan mawar putih ini bisa membuatmu lebih
sering tersenyum.

Kemudian Sivia melihat sebuah inisial huruf yang tidak biasanya si "penggemar rahasia" itu cantumkan. "AS". Sivia memutar-mutar otaknya.

"AS? Anto? Asep?" Ucap Sivia, tapi kenapa pikirannya tertuju pada Alvin?

"Alvin?? Kak Alvin yang ngasih surat ini ke gue? Gak mungkin aah.." kata Sivia. Sivia tidak memikirkan lagi tentang seseorang yang berinisial "AS" tersebut, ia memasukkan surat, foto dan mawar putihnya ke tas, dan membaca novel.

***

Waktu istirahat, Ify langsung menarik Sivia pergi ke kantin, alasannya karena ada Rio di sana. Ify duduk di tempat yang tak jauh dari meja Rio dkk. Ify terus memandang Rio yang sedang bercanda dengan teman-temannya. Ify menjadi senyam-senyum sendiri. Kemudian ia mengambil handphonenya dan mengambil foto Rio.

JEPRET!

Rio sadar bahwa dia difoto. Rio langsung menoleh kearah Ify. Ify hanya nyengir dan melambai-lambaikan tangannya. Rio langsung pergi ke meja Ify.

"Hai, Kak..hehee..makin ganteng aja lo, hari inii.." Kata Ify cengengesan.

"Lo ngapain ngambil foto-foto gue??" Tanya Rio.

"Mau gue abadikan di kamar gue, hehee..sama gue masukkin fansite!" kata Ify tanpa merasa bersalah.

"Hah? Bukannya laptop lo lagi disita sama nyokap lo? Gimana bisa masukkin ke blog?"

"Ya, ampuun, Kak Rio ganteeng, sekarang itu jaman teknologi udah canggih, kan bisa dari hape! Heheee, ntar jadi kan, Kak??"

"Jadi apaan??"

"Pulang bareng! hehee.."

"Enak ajaa, naek metromini aja lo!" kata Rio. Ify cemberut.

"Kak Rioo maah, jahat banget siih, kan ntar Kak Rio mau ngapel kerumah guee..hehe.."

"Sembarangan!" Cakka yang mendengarnya, langsung menghampiri Rio.

"Lu mau ngapel, Yo?" Tanya Cakka.

"Elo lagi dateng! Bikin rusuh aja lo, Cak!" Kata Rio.

"Beneran, Fy? Si Rio mau ngapel kerumah lo?"

"Iya!" Seru Ify.

"NGGAK!" Seru Rio.

"Yaaah, gue kira lo kena karma, Yo, jadi suka sama Ify."

"Amiiin!" Kata Ify. Rio melotot pada Ify.
"Jangan lupa lo dateng seleksi OSIS!" Kata Rio.

"Lo mengharapkan kedatangan gue, Kak?" Tanya Ify dengan mata berbinar-binar.

"Terpaksa." Rio langsung meninggalkan Ify.

***

Ify tak bisa duduk di kursi yang ada di depannya, ia terus mondar-mandir di sana. Bukannya bisulan, tapi karena deg-degan. Sivia yang melihat Ify, sampai bosan. Mereka saat ini sedang mengikuti seleksi OSIS, mereka akan di wawancarai oleh Alvin, Rio, dan tentu saja si Ketua OSIS, Gabriel.

"Fy, duduk napah!?"

"Gue deg-degan, Vi!"

Kemudian seorang pengurus OSIS datang memanggil mereka berdua.

"Alyssa, Sivia, ayo keruang OSIS!" Ajak si pengurus.

Mereka berjalan di belakang si pengurus OSIS itu, Sivia terlihat tenang, sedangkan Ify makin gak bisa diem, kayak cacing kepanasan.

"Fy, diem, jangan kayak belut gituu!!" Seru Sivia. Tapi tetap saja Ify tak bisa diam.

Ify dan Sivia memasuki ruang OSIS. Gabriel, Alvin, dan Rio sudah duduk di depan mereka. Sementara itu Rio berbisik ke Gabriel.

"Yel, gue boleh keluar gak?" Bisik Rio.

"Gue bogem lu, Yo!" Ancam Gabriel. Rio memasang muka memelas, kemudian bergidik ngeri melihat Ify senyum-senyum kearahnya.

"Ya, gue cuma mau ngomong, jangan gara-gara kalian berdua kenal sama kami, bukan berarti lo berdua bisa masuk secara gampang ke OSIS, apalagi lo, Fy. Lo paling deket banget sama Rio." Kata Gabriel sambil melirik Rio.

"Pala lo, gue deket sama dia!" Seru Rio. Alvin hanya menahan tawa.

"Secara si Ify fans fanatik lo, Yo." Celetuk Alvin.

"Lo ngomong lagi, Vin, lo gak bakal selamet ama gue!" Ancam Rio.

"Eh, lo berdua! Kenapa jadi berantem sih! Udah ah!" Gabriel marah-marah sama Alvin dan Rio. Akhirnya keributan bisa diredam, gara-gara Gabriel mengancam mereka.

"Yaa..gue mau nanya sama Sivia dulu, alasan lo ikut OSIS apa?" Tanya Sivia.

'Vi, jangan ngomong kalo gue yang ngajak lo!' Batin Alvin.

"Alasan saya ikut OSIS, karena dengan di OSIS saya bisa belajar berorganisasi di sini," jawab Sivia. Alvin sedikit bisa menghela napas.

"Kenapa harus OSIS? Kenapa gak di organisasi yang lain kayak PMR gitu?" Tanya Rio.

"Tapi saya lebih tertarik di OSIS, setidaknya saya bisa menyumbangkan pendapat saya yang menurut saya patut di pertimbangkan supaya OSIS bisa lebih beda istilahnya dan tidak bertele-tele seperti di organisasi lain." kata Sivia.

"Jadi kesimpulannya lo lebih milih OSIS daripada organisasi lain?" Tanya Gabriel. Sivia mengangguk.

"Baiklah, gue terima jawaban lo, sekarang gue mau nanya lo, Fy. Alasan lo masuk OSIS apa? Sama kayak Sivia, ato ada yang lain?" Tanya Gabriel sambil melirik Rio.

"Apa lo liatin gue? Ganteng?" Tanya Rio.

"Emang lo ganteng, Kak!" Ify nyerocos.

"Gue gak tanya ama lo!" Seru Rio. Ify cemberut.

"Yaaah..apa kata lo dah, Yo."

"Alasan saya masuk OSIS, yaaa..soalnya ada Kak Rio hehee.."

GUBRAAK!!!

"Pikiran lo gampang banget ketebak, Fy! Hahaa..selamat ya, Yo!" Kata Gabriel. Rio hanya mengacak-acak rambutnya.

"Ada alasan lain gak, Fy?" Tanya Alvin.

"Hmmm alasan saya yang lain adalah.." Ify menjawab pertanyaan Alvin dengan begitu serius dan diplomatis, membuat Gabriel, Rio, dan Alvin terkagum-kagum dengan ucapan Ify. Setelah Ify selesai berbicara, semua bertepuk tangan termasuk Rio.

"Gak nyangka, orang sarap kayak lo, bisa diplomatis kayak gini," kata Rio.

"Aaaah, Kak Rio bisa aja, hehee.." Rio kembali bergidik ngeri.

"Oke, wawancara selesai, makasih ya, besok gue umumin siapa aja yang masuk. Lo berdua boleh pulang!" Kata Gabriel.

"Kak Rio bareng doong! Kan lo mau kerumah guee!!" Kata Ify.

"Apaan sih lo, Fy!? Pulang aja pake metromini!"

"Aaaah, bilang aja lo pengen banget pulang sama gue, Kak..tapi lo malu, hehee.." Kata Ify.

"Jauh-jauh lo!" Kata Rio yang langsung kabur dari ruang OSIS, tapi kemudian di kejar sama Ify. (walaaah.)

Gabriel yang melihatnya, hanya geleng-geleng kepala.

"Vi, Vin gue pulang duluan ya!" Pamit Gabriel. Sekarang di ruang OSIS hanya ada Sivia dan Alvin.

"Vi, lo pulang sama siapa?" Tanya Alvin.

"Gue pulang sendiri, Kak."

"Bareng sama gue aja, ya. Udah sore banget," Tawar Alvin.

"Gue gak enak sama lo, Kak."

"Kan komplek rumah lo sama gue sama, Vi. Lagian, blok rumah lo sama rumah gue juga gak terlalu jauh." Sivia berpikir sejenak, dan akhirnya Sivia menerima ajakan Alvin.

***

Karena Rio kasian melihat tampang Ify yang sangat memelas, dengan sangat terpaksa Rio bareng sama Ify kerumah Ify. Sesampainya dirumah Ify..

"Tuuh, kaan..gue bilang juga apaa..lo pasti gak tega sama gue, soalnya lo kan perhatian banget sama guee,hehee.." kata Ify cengengesan.

"Sembarangan!" Kemudian Rio dan Ify memasuki rumah dan Deva ada di ruang TV.

"Eh, lo berdua kok sore amat nyampe sini? Ngapain? Pacaran ya lo berduaa??" Tuduh Deva.

"Ih, ogah banget gue pacaran sama kakak lo yang makin sarap, Dev.." Kata Rio. Ify mencibir.

"Jangan pasang muka jelek kayak gitu, Fy. Ayo cepetan belajar!!" Ajak Rio. Ify mengikuti Rio pergi ke gazebo.

***

"Gila nilai lo, Fy! Ancur total!!" Kata Rio saat melihat nilai-nilai ulangan Ify. Ify hanya nyengir.

"Lo tuh belajar gak siih?"

"Belajar!"

"Belajar apaan gue tanya??"

"Belajar semuanya, tapi pikiran gue malah tertuju sama lo, Kak! hehee.." ujar Ify cengengesan.

"Alasan aja lo! Yaudah sekarang belajar Fisika, nilai lo paling ancur di fisika!"

Rio mengajar fisika dengan penuh rasa sabar menghadapi Ify. Ify hanya manggut-manggut saja mendengar penjelasan Rio, tapi materi tak ada yang nyangkut satupun karena pikirannya tertuju pada hal lain.

'Besok pertemuan klub RISE ngebahas apa yaa??O,iya fansitenya gimana tuh, belom gue update! Adduuhh Kak Rio keren banget siih!!' Batin Ify sambil kesenengan sendiri.

"Lo udah gila ya?" Tanya Rio.

"Hehee..iya gue gila, gila sama lo, Kak! hehee.." Rio meringis mendengar kata-kata Ify.

"Yaudah sekarang lo kerjain nih soal, gue tunggu 15 menit." Rio menunggu Ify menyelesaikan soal darinya dengan membaca buku sejarah, Ify terus mencoba mengerjakannya, tapi tetap saja tidak bisa. Karena udah bosan, Ify mengambil handphone dan mengupdate blog RISE. Rio meloto begitu melihat Ify malah asyik dengan hapenya, kemudian Rio mengambil dengan paksa hape Ify.

"Yaaahh!!! Kak Rioo!!! Jangan diambiil!!!"
"Hape lo, gue sita! Gue balikin kalo lo udah selesai ngerjain soal!" Suruh Rio. Ify cemberut. Begitu Ify melihat Rio kembali membaca buku sejarahnya, Ify mengeluarkan Blackberry yang ada di tasnya. begitu Rio melihat lagi, Rio langsung mengambil Blackberry Ify.

"Kak Riiooo!!!" Seru Ify.

"Cepetan selesein duluu!!"

Ify kembali cemberut, dan mulai mencoba mengerjakan soal fisikanya.

30 menit kemudian..

"Kak, gue udah selesai!!" Kata Ify. Rio mengambil kertas jawaban Ify, baru beberapa detik melihat, Rio langsung mencoret jawaban Ify dengan mudah. Ify menganga.

"Kok dicoreeet??" Tanya Ify.

"SALAH! Kerjain lagi!" Suruh Rio.

"Ya, ampun Kak, jangan marah-marah gitu dong, ntar gantengnya ilang, hehee.." kata Ify.

"Gara-gara otak lo bebel, jadinya gue marah-marah!" Rio membuang muka.

15 menit berlalu...
"Huwaaa..gue pengen nangis!!" Kata Ify. Ify mencoba lebih keras mengerjakannya, sesekali Rio melirik Ify, tapi cepat disadari Ify.

"Kenapa lo, Kak ngeliatin gue? Mulai naksir gue yaa??" Tanya Ify.

"Iiih, no way!" Tolak Rio. Tiba-tiba Sivia datang.

"Hai, Fy!" Sapa Sivia.

"Elo, Vi. Ngapain disini? Ganggu gue berduaan ama Kak Rio aja lo!" Kata Ify.

"Yeee..ngusir nih ceritanyaa?" Tanya Sivia.

"Yaelah, bercanda, Vi. Lo mau ngapain?"

"Gue bete dirumah, akhirnya gue kerumah lo, eh ternyata lo berdua malah pacaran, hehe.." celetuk Sivia.

"Sembarangan ngomong, lo Vi!" Seru Rio. Sivia melirik soal yang di kerjakan oleh Ify.

"Ya, ampun Ify...ini kan soal paling gampang! Kok lo gak bisa siih?" Tanya Sivia.

"Soalnya ada Kak Rio, jadinya pikiran gue tertuju pada Kak Rio hehee.." Celetuk Ify sambil melirik Rio.

"Yeee..nyalahin gue lagi! Bilang aja lo gak bisa!" Kata Rio.

"Sini deh, gue bantuin.." Sivia membantu Ify mengerjakan soal dengan cara yang gampang.

"Ngerti gak?" Tanya Sivia. Ify nyengir.

"Nggak, Vi..hehee.." Kata Ify.

GUBRAAK!!!

"Aduuh, sini deh gue yang ajarin," Rio akhirnya mengajarkan Ify dibantu oleh Sivia. Akhirnya setelah 1 jam diajari, Ify menjadi mengerti.

"Ya, amppuunn kok gampang banget siih!!" Seru Ify.

"Otak lo bebel sih!" Kata Rio menoyor kepala Ify.

"Kak Rio, baru kali ini, lo noyor kepala gue heheee.." kata Ify cengengesan.

"Ditoyor aja lo bangga banget, sih Fy!" Kata Sivia.

"Soalnya yang ngelakuin Kak Rio, coba elo. Ngapain gue banggain??" Celetuk Ify.

"Udah ah, gue pulang dulu, ntar kamis belajar MTK!" Kata Rio.

"Fy, gue juga pulang ya, udah malem banget! Dadaaahh.." Pamit Sivia.

"Vi, lo bareng gue aja," tawar Rio.

"Boleh deh, Fy, Kak Rio gue pinjem dulu yaa!!" Kata Sivia.

"Lo jangan tebar pesona sama Kak Rio, Vi! Ntar Kak Rio jadi gak suka lagi sama guee!!" Seru Ify.

"Kapan gue suka sama loo!!" Seru Rio. Ify hanya cengengesan.

***

"Ifyy!!! Kita diterimaaa!!!" Seru Sivia. Ify terbelalak.

Sivia Azizah

Alyssa Saufika Umari

Namanya terpampang di daftar pengurus OSIS yang baru. Ify tak percaya, tapi setelah itu dia jadi kegirangan karena dengan menjadi pengurus OSIS, Ify bisa menjadi lebih dekat lagi dengan Rio.

Sepulang sekolah, Gabriel mengumpulkan seluruh anggota OSIS baru di lab Biologi untuk mengadakan pengarahan. Saat di lab Biologi, Ify bertemu Agni.

"Kak Agni, lo jadi pengurus juga?" Tanya Ify.

"Iya, Fy. Gue di terima juga, hehee.." kata Agni. Kemudian Agni melihat Cakka dengan sinis. Begitu Cakka melihat Agni, Cakka melambaikan tangannya, tapi tak ditanggapi oleh Agni. Cakka hanya menghela napas. Cewek yang ia sukai, jutek padanya.

"Baiklah, gue ucapkan selamat kepada kalian semua, kalian adalah anggota baru OSIS, gue harap kita semua bisa bekerja sama dengan baik. Sekarang gue mau ngasih tau, kalo hari Sabtu gue beserta pengurus inti bakal ngadain pelantikan anggota baru OSIS, jadi dimohon kesiapan kalian semua, sekarang gue akan ngebagiin kelompoknya."

Gabriel mengumumkan anggota-anggota kelompok untuk LDK OSIS. Gabriel membuat kelompok yang terdiri dari 4 murid.

"Kelompok satu.."
"Kelompok 2.." Kelompok 2 adalah kelompok Sivia.
"Kelompok 3, Agni, Cakka, Ify, dan..Rio." Begitu Rio mendengar namanya tergabung dalam kelompok yang sama dengan Ify..

"Hah? APAA!!?" Seru Rio shock.

"Kenapa, Yo?" Tanya Gabriel.

"Yel, gue minta pindah kelompok doong! Pliiss.." Mohon Rio.

"Gak bisa, Yo. Udah fix disetujuin sama anak kelas XII.." Kata Gabriel.

"Gue sekelompok sama Kak Rioo?? Ya, ampuun...senangnyaaa!!" Kata Ify kegirangan. Rio hanya mengacak-acak rambutnya.

Memang benar kata Gabriel, hidup Rio tak jauh-jauh dari Ify. Dimana ada Rio, pasti disitu ada Ify.

"Ya, Tuhan, apa salah dan dosaku?? Kenapa Engkau memberikan kesialan untukku??" Tanya Rio.

"Gue bukan kesialan, Kak! Gue anugerah! Hehee.." Kata Ify.

"Lama-lama gue mati beneran disini nih!" Kata Rio.

"Orang sabar disayang Tuhan, Yo!" Celetuk Alvin. Sivia hanya menahan tawa.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar