Senin, 01 Agustus 2011

Surgeons Of My Love Part 1

“Yeeee aku lulus!!!!!” teriak seorang gadis bernama Alyssa Saufika Umari sesaat setelah melihat namanya tertera di harian surat kabar, begitu bangganya ia melihat namanya diantara ratusan nama di surat kabar tersebut sebagai calon mahasiswa jurusan fakultas kedokteran Universitas Indonesia..

Melompat-lompat, teriak dan segera menciumi kedua orang tuanya yang ikut bangga akan keberhasilan anak semata wayang mereka..

“Nah Ify, kamu udah jadi mahasiswi sekarang, satu hal yang papa sama mama mohon kamu untuk ga ngulangin lagi sikap kekanak-kanakan kamu pas di SMA kemaren..” nasihat papa

Ify sedikit manyun, Ify memang terkenal dan eksis dimasa SMA, bukan hanya sebagai siswi nakal, tetapi sebagai siswi malas dan pembangkang, semua guru kenal padanya, Ify juga merupakan anak yang senang bergaul, bahkan teman-temannya pun bangga memiliki teman seperti Ify. Meskipun begitu Ify merupakan anak yang pintar, juara kelas tak pernah lepas dari tangannya, tak heran kalau pengumuman disurat kabar itu meletakkan namanya..

***

Ify terdiam melihat album foto yang tersusun rapi dikamarnya, memandangi satu per satu wajahnya yang ceria disana, sudah dua kali Ify meras sedih seperti ini, pertama saat perpisahan di SMA, dan sekarang ia harus melewati lagi perpisahan tersebut dengan memandangi foto-foto dirinya dan teman-temannya di album itu.

Ya, Ify sekarang bukan Ify yang remaja lagi, ia sudah menjadi Ify yang dewasa, wisuda telah dilaluinya, dan sekaranglah saatnya Ify harus menatap masa depannya..

“Gue ga boleh sedih, ini bukan akhir tapi ini awal dari langkah gue sebagai seorang dokter spesialis muda berbakat...” ujarnya sambil menghapus air mata seraya tersenyum..

“Ify sayang...” panggil mama dari lantai bawah, Ify segera turun dan menemui mamanya...

“Gimana kamu? Udah ada rencana kerja?” tanya mama tersenyum sambil memberikan segelas es jeruk untuk Ify

“Hmm, ikutin saran papa kemaren lah buat daftar di rumah sakit itu...”

“Papa yang daftarin?” tanya mama lagi

“Ia sih tadi berkas-berkasnya udah di bawa semua sama papa..”

“Oke, good luck deh anak mama pasti keterima!” mama mengelus puncak kepala Ify

“Tapi ma, kan Ify belum begitu yakin...” gumam Ify

“Loh kenapa sayang? Itu kan impian kamu..” jawab mama lalu duduk disamping Ify

“Impian sih ia, tapi rumah sakit itu kan terkenal banget, katanya harus ada test segala ya?”

Mama mengangguk, “Ia Gouvent Hospital memang rumah sakit swasta terbaik saat ini Fy, test apapun harus bisa dilaluin sama orang yang mau jadi bagian dari mereka, apalagi seorang dokter seperti kamu, jadi kamu harus yakin kamu bisa!”

Ify tersenyum, “Makasih ma, jadi semangat kalo mama udah ngomong gitu..”

***

“Apaaaa????!!!!!” teriak Ify, matanya melotot hampir keluar ketika membaca surat pemberian papa pagi ini.

“Ya sayang, kamu memdapat panggilan untuk datang ke Gouvent dan segera menandatangani persetujuan mengikuti penyuluhan disana..!!” jawab papa bangga

“Pa..papa serius? Ify? Ify pa?” Ify masih tak percaya

Sekali lagi papa mengangguk cepat, “Iya nak, besok kamu harus kesana, dan setelah kamu tanda tangan kamu akan dibimbing ulang mengenai apa yang harus kamu lakukan diwaktu praktek sebagai dokter, itu artinya...”

“Ify beneran bakal kerja di Gouvent sebagai dokter spesialis???!!!” jawab Ify histeria

Mama dan papa menangguk..

“Yuhuuuuuuuuuuuuuu!!!!!” Ify teriak-teriak lagi. Memang bernasib baik sekali gadis itu, mam dan papa hanya tertawa melihat anak mereka

***

Keesokan hari pun tiba, dengan semangat Ify menuju rumah sakit itu, senyum merekah diwajahnya, dengan meggunakan kemeja dan rok selutut ia siap menemui sang direktur utama..

Sampai dirumah sakit Ify celingak celinguk sendiri karena bingung, tampang serius menghilang diwajahnya dan berganti dengan tampang bodoh..

“Waduh, perasaan nih jalan panjang amat, mana ruang dokter Albert ya?” gumam Ify yang dari tadi mencari ruangan direktur utama..

Dari pada nyasar, Ify memutuskan untuk bertanya pada orang-orang disekitar, kebetulan hanya ada seorang pria yang sedang berjalan, Ify memperhatikannya dari jauh sedikit bingung, tapi ia menghampiri pria itu..

Dengan masih menoleh kanan-kiri Ify memperhatikan orang itu tetapi...

GUBRAKK... “Aaw...” rintih Ify lalu bangun dari jatuhnya.

Untung suasana disana sepi, hanya ada Ify dan... pria itu!

“Aduh...” kata Ify lagi, lalu ia mendengar derap langkah kaki menuju kearahnya...

Ify ketakutan dan malu sekali dengan satu kakinya yang tersangkut di kotak sampah disana.. Ia langsung berdiri dan merapikan rambut, baju dan langsung mengatur nafas..

“Maaf mas, boleh numpang tanya...” tegur Ify cepat

Pria itu menoleh, lalu melihat Ify dari ujung kaki sampai ujung kepala berulang-ulang..

‘Ini orang kenapa? Ga pernah ngeliat cewek cantik?’ batin Ify. Tunggu, cantik? Ify segera menunduk ia menyadari wajahnya tak lebih baik dari wajah anak idiot...

“Mas.. Emm, ruang pak direktur dimana ya? Dokter Albert maksud gue, eh maksud saya...” Ify gugup

Pria itu menahan tawa, “Itu...” ucapnya menunjuk kearah pintu ruang dokter Albert

“Oh itu, ma..makasih...” jawab Ify lalu mealngkahkan kakinya berjalan kearah ruang dokter..

Tiba-tiba langkah Ify tertahan karena pria itu memegangi bahunya untuk menahan Ify..

“Tempat sampah itu buat sampah, bukan buat kaki...” ia lalu melepaskan tangannya, tersenyum, dan meninggalkan Ify

Nafas Ify mulai tak teratur, ingin sekali ia meledakkan bom didepan pria itu...

“Sabar Ify sabar... Tugas lo bukan buat dia, tapi buat pak direktur...” gumam Ify lalu masuk ke ruangan yang ia tuju...

Dengan langkah berat Ify masuk dan langsung dipersilahkan duduk disana..

“Selamat pagi pak..” sapa Ify ramah, ia berusaha untuk seramah mungkin karena ia yakin ia bisa berdasarkan pengalamannya dahulu yang beberapa kali diminta sekolah untuk mengikuti berbagai lomba public speaking..

Benar saja, dengan lancar Ify menjawab semua pertanyaan wawancara dari dokter Albert..

“Hmm, saya suka orang seperti kamu Ify, kamu sudah layak menjadi seorang dokter disini, tetapi tetap saja kamu harus mengikuti penyuluhan dan bimbingan bagi setiap dokter baru disini, sekarang segera pergilah keruang bimbingan untuk menerima apa saja yang harus dilakukan, terutama persiapan kerja lapangan..”

“Baik pak, saya segera kesana sekarang, terima kasih...” pamit Ify ramah, tak lupa ia bersalaman dengan dokter Albert dan segera pergi..

***

Sampailah ia keruangan itu, terdapat beberapa anak sebaya Ify disana sedang menunggu waktu... Ify tersenyum, segera ia duduk di salah satu kursi disana..

“Hai!” sapa Ify ramah kepada gadis perempuan disebelahnya, membuat gadis itu sedikit terkejut..

“Gue Alyssa Saufika Umari, panggil aja Ify, nama lo siapa?” ujarnya to-the-point sekali

“Gu..gue Sivia, Sivia Azizah...” jawab gadis itu ramah, masih kaget

“Hmm, sorry deh kalo gue ngagetin, hehehe...” canda Ify

Mereka lalu mengobrol banyak satu sama lain, sampai akhirnya ibu Ira datang dan memberikan peraturan..

“Baiklah anak-anak tanpa basa basi, para calon dokter sekalian, sekarang kita langsung saja ke titik acara. Kalian tau kan apa yang harus dilakukan sebagai calon dokter disini?” tanya bu Ira bijaksana

Semua anak mengangguk, ya kerja lapangan. Itulah tugas yang harus mereka jalani, mereka harus ditempatkan didesa-desa selama satu bulan penuh, dan membuka praktik sendiri, untuk mendapatkan pengarahan dan pengalaman kerja..

“Satu orang akan di temani oleh satu dokter senior, jadi kalian akan berpasang-pasangan untuk membuka praktik kecil di desa-desa yang sudah ditentukan...” Bu Ira memberitahu sambil membagikan kertas tentang peraturan dan apa-apa saja yang harus dibawa nanti..

“Oke semua, pengumuman pasangan dan lokasi akan di tempel besok, dan minggu depan kalian sudah harus berangkat...”

Akhirnya penyuluhan itu berakhir, Ify bersama teman barunya Sivia, dan teman-teman lain tentu saja segera pulang meninggalkan rumah sakit itu..

“Ify lo pulang sama siapa?” tanya Sivia

“Ada supir gue, lo?”

“Oh gue bawa mobil, kirain lo mau nebeng..” kata Sivia

“Yee, lo belum kenal gue Vi, pulang jalan kaki aja gue pernah!!” jawab Ify

“Hahha, iya deh iya yang preman...”

Mereka berdua berjalan dikoridor untuk segera pulang, tiba-tiba langkah Ify terhenti melihat sosok pria yang sudah meremehkannya tadi.

“Tunggu Vi, saatnya pembalasan!” bisik Ify lalu tersenyum jahil..

“Heh? Lo mau apa?” tanya Sivia udah aneh ngeliat Ify

“Itu cowok rese yang udah ngehina gue tadi pagi, awas aja dia..” Ify mencari-cari batu untuk melempar pria itu tetapi ia tidak menemukan batu di tas nya yang ia temukan hanya karet penghapus kecil

PLAAK!! Penghapus itu sampai dikepala pria itu dan ia langsung terkejut, Ify dengan tampang penuh kemenangan menatap pria itu..

“Heh?!!” tegurnya serius dan menghampiri Ify cepat..

“Aduh Ify, lo apa-apaan!!!”

“Udah Via lo diem aja, ini urusan gue sama dia!” cegah Ify

“Ify tapi dia itu...”

“Apa lo? Mau ngejek gue lagi?” tanya Ify, gaya premannya keluar. Pria itu hanya menatap Ify lalu melengos..

“Kasian banget cewek kaya lo yang bisanya cuma minta perhatian, dan gue bukan tipe cowok yang mudah terpengaruh sama cewek jadi-jadian kaya lo! Bye...” pria itu berjalan cepat meninggalkan Ify dan Sivia. Ify terpaku, amarahnya memuncak..

“Ify stop! Sebelum semuanya telat, ok!” Sivia menarik tangan Ify dan segera pergi...

“Vi, lo apa-apaan sih narik-narik gue!” Ify melepaskan tangan Sivia darinya, lalu duduk di kursi koridor..

“Oke, lo sekarang dengerin gue, lo ga pantes ngelakuin hal kaya tadi disini Fy!!” jawab Sivia

“Kenapa? Apa gue salah! Coba kalo lo yang ngalamin kejadian tadi pagi?!”

“Iya, apapun kejadian lo gue ga peduli, terserah deh. cuma lo ga pantes ngelakuin hal itu terutama ke orang tadi.”

“So? Orang itu udah kurang ajar Viaa...” Ify mulai kesel dengan ocehan Sivia

“Kesel ke siapa aja boleh, tapi lo tau siapa orang itu?” tanya Via geregetan

“Orang rese!” jawab Ify nyantai

“Aduh lo kelewat bego ya! Dia itu dokter Rio anak satu-satunya dokter Albert! Dan lo tau siapa dokter Albert? Pemilik sah The Gouvent Hospital!” jawab Sivia tegas

Ify cengo ngeliatin Sivia, dia kaget setengah mampus

“Cengo sekarang kan?” tanya Via lagi

“Lo serius Vi? Dia?”

“Mario Stevano Aditya Haling ahli bedah tulang!” jawab Via cepat..

“What?” gumam Ify berusaha tenang..

“Ya udah ya Fy, gue beneran kapok deh ngadepin lo, gue sekarang mau pulang, dan terserah lo mau pulang apa ga, yang penting lo suka, okay, dah Ify...” Sivia dengan santai ninggalin Ify yang masih duduk diem disana..

Ify berkali-kali memutar otaknya, kenapa musti dia? Kenapa musti orang yang punya peran penting di rumah sakit ini? Ify beneran bingung, baru hari pertama ia sudah dapet cobaan yang gagal ia lalui, dan ia yakin karena kegagalan itu pasti bakal bikin dia sial seumur-umur kerja dirumah sakit ini..

***

Hari dimana penentuan senior-junior pun tiba, Ify datang agak kurang bersemangat, ia benar-benar merasa takut untuk bertemu dengan dokter itu, dokter yang menyebalkan tapi harus ia segani, dan kali ini Ify berharap agar cepat-cepat pergi ke suatu desa bersama senior dokter spesialis agar tidak bertemu Rio, sang ahli bedah tulang.

“Ify!!!” Sivia memanggil Ify dengan terengah-engah dan segera menarik Ify melihat papan pengumuman..

“Gue mohon lo jangan ngeledakin bom waktu lo liat pengumuman itu.. Pliss..” bisik Sivia

Dengan penasaran Ify melihat daftar nama disana dan tersentak ketika melihat nama di kolom sebelah namanya terdapat tulisan Mario Stevano Aditya Haling, bedah tulang.

“Apa? Gue sama dia?” Ify berusaha tenang dan menepati janji agar ia tidak meledak ditempat

Ia melihat lagi daftar nama itu ternyata tidak berubah, Ify dan Rio..

“Vi!! Ini ga adil Vi!! Masa gue sama dia! Jelas-jelas gue dokter spesialis, trus dia dokter bedah! Masa dia jadi pembimbing gue?! Ga nyambung banget!!!” protes Ify

“Udah-udah lo tenang, gue juga aneh, masa cuma nama lo sendiri yang pembimbingnya keluar jalur!” Sivia membawa Ify pergi keruangan berkumpul..

“Bisa mampus gue!” gumam Ify

Setelah berkumpul bersama akhirnya diketahui bahwa senior pembimbing di bidang spesialis memang tidak tersisa untuk seorang Ify, sang dokter sedang pergi keluar kota untuk melaksanakan seminar, jadi terpaksa deh sama dokter Rio

***

Ditempat berbeda, Rio ternyata juga melakukan protes kepada ayahnya sendiri dengan ditempatkannya dia sebagai salah satu pembimbing..

“Pa, ini ga adil banget! Masa Rio harus jadi pembimbing dibidang spesialis?” tanya Rio kesal

“Iya Rio, maaf nak, ini atas keputusan bersama, karena semua pihak benar-benar bingung untuk nempatin siapa yang jadi pembimbing untuk junior kamu itu. Papa pikir kamu tidak hanya jago dibidang kamu Yo, papa tau kamu..”

“Tapi pa, kenapa ga yang lain aja? Kan bukan cuma Rio?”

Dokter Albert menghela nafas, “Iya papa tau, tapi sudah saatnya kamu mencoba mengapresiasikan ilmu yang kamu punya, lagian ga ada salahnya kan kalo kita menjadi seorang guru?”

Rio terdiam, “Ya tapi pa ditempatin disebuah desa? Apa pantes?”

“Ga ada yang ga pantes dilakuin bagi seorang dokter Yo, dimanapun dan kapanpun mereka harus terima, kamu ingatkan semboyan rumah sakit kita?”

No matter about the risk, all must be done!” jawab Rio lemas

“Itu baru anak papa!”

***

Waktu berjalan benar-benar tak terasa, hari yang tadinya ingin cepat-cepat Ify temui berubah menjadi hari neraka untuknya, tapi Ify harus dan tetap menjalani itu demi karirnya sebagai seorang dokter...

“Oke semua sudah hadir?” tanya bu Ira di aula besar pada saat pelepasan mereka pergi..

“Heh? Jadi lo?” Rio terkejut melihat Ify berdiri disebelahnya

“Iya, kenapa? Telat lo baru kaget sekarang!” jawab Ify melengos

Rio hanya berdecak makin kesal...

‘Oke Rio ini resiko pertama, lo harus jalanin tugas ini dan harus terima murid wanita jadi-jadian disamping lo..’ gumam Rio menyemangati dirinya sendiri

***

Pada saat diperjalanan mereka hanya berdiam diri, pak supir yang mengantar pun ikut heran tetapi ia juga hanya bisa diam..

Ify ga tau harus membuka topik apa saat ini, jiwa pergaulannya tiba-tiba hilang ketika menghadapi Rio..

“Akh! Bosen gue diem mulu gini!” gumam Ify

Tak disangka Rio mendengar ucapan Ify barusan, “Mau ngobrol? Ngobrol tuh sama kaca!” bales Rio

“Eh lo itu nyo...” kata-kata Ify terhenti, ia kembali teringat dengan posisi seorang Rio

‘Tuhan sampe kapan gue tersiksa gini!’ batin Ify

Akhirnya mereka sampailah pada lokasi tujuan, Desa Kemuning namanya, Rio bahkan Ify belum pernah sama sekali mendengar tentang desa tersebut.. Mereka tinggal dirumah kecil yang memang sudah disediakan

“Wiii... seger juga tempatnya...” kata Ify tersenyum sambil menghirup udara segar..

Rio hanya geleng-geleng ngeliatin Ify, “Nih cewek aneh banget, ga yakin gue bakal berhasil jadi gurunya dia...”

“Hah? Ngomong apa lo barusan?” tanya Ify

“Eh nggak-nggak ga ngomong apa-apa kok...” Rio melengos

“Awas ya lo kalo lo berani macem-macem sama gue, nyaho lo!!” Ify memasukkan barangnya ke rumah tempat mereka akan tinggal

“Ih, ngapain juga gue macem-macemin cewek jadi-jadian kaya lo!” kata Rio bergidik ngeri

“Halah.. ngomong aja lo kan yang mau ikut gue! Buaya!”

“Yee, kalo bisa dituker mah gue yang nomor satu nunjuk.. Enak aja mau sama lo! Dasar cewek aneh...” Rio menoyor kepala Ify lalu berlari menuju kamarnya..

“Weekk!!” kata Rio lalu kabur

“Cowok aneh!!!” teriak Ify lalu masuk kamar dan sedikit membanting pintu kamarnya..

Ify manyun sendiri di kamar...
“Arrgghh!! Gimana mau belajar nya kalo gini! Belum apa-apa udah diapa-apain! Ada aja ya dokter bedah yang kaya gitu.. heran gue!” gerutu Ify

Beberapa jam Ify ga keluar dari kamar...sampai akhirnya Rio mengetok-ngetok pintu kamarnya

“Heh? Mau sampe kapan lo di dalem?” teriak Rio

“Iya iya serah lo deh!” balas Ify

“Lo mau makan ga? Udah jam berapa tau!!”

“Udah lo duluan aja, males gue!!”

Rio menghela nafas, ‘kayanya nih anak beneran marah sama gue...’ batinnya


“Ayo dong, Ify... Ify kan nama lo? Ntar kalo lo sakit gue juga yang repot! Buruan buka!”

“Yah terserah gue, lagian lo ga repot-repot banget kali lo kan dokter!!” jawab Ify manyun

“Udah deh, ngambeknya...”

“Minta maaf dulu!”

“Ogah!!” jawab Rio

“Ya udah, makan aja sendiri!” jawab Ify tambah kesel

Rio nyerah dia segera berlari ke dapur, padahal dia sudah membelikan 2 bungkus nasi untuk ia dan Ify, setelah sampai di meja makan, dia memutuskan untuk balik lagi, “Dokter macem apa gue!” gerutu Rio

Rio pergi keluar rumah, dia melihat ruang prakteknya bersama Ify yang masih belum ada apa-apa, hanya ada kasur tempat pasien dan beberapa lemari obat-obatan, serta meja dan kursi dokter..

“Gue siapin aja deh barang-barangnya...” kata Rio lalu mulai bekerja, ia membuka koper obat-obatan besar dan menyusun isinya di beberapa lemari, juga mengeluarkan alat-alat dokter yaitu suntikan dan kawan-kawan..

Sudah sekitar 2 jam Rio bekerja, sendiri, dan.. belum makan siang... Apa yang terjadi pada Ify? Gadis itu belum keluar dari kamar, melainkan molor sendiri...

“Hmm.. capek juga gue, mana belum makan lagi, tapi gue ga tega ninggalin tuh cewek, walau gimanapun dia tanggung jawab gue...” Rio berfikir sejenak, ia tak pernah melakukan tanggung jawab besar seperti ini, dan ini adalah pengalaman pertamanya yang tidak disangka-sangka harus dijalani bersama seorang gadis nakal, ah tapi cantik juga..pikir Rio

“Oh iya, palang dokternya belum gue bikin, bikin dulu ah...”

Pria itu segera mengambil papan yang memang sudah dibawa dari Jakarta, dan menuliskan sesuatu lalu meletakkannya di ujung kayu kuat sebagai palang dokter agar diketahui masyarakat desa itu..

“Aduh!!! Bunyi apaan sih! Ganggu orang aja!” Ify terbangun dari tidurnya...

“Ini orang sengaja bangunin gue kali ya!!!” Ify kesal saat melihat jendela, ia mencari-cari sosok Rio tapi tak terlihat, ia memutuskan keluar...

“Heh! Lo bisa di....” Ify memotong sendiri kata-katanya, ia melihat Rio sedang menaiki kursi yang tinggi dan memaku papan yang telah ia buat, dan sekali lagi..hanya sendirian...

“Rio...Eh..Dok..” Ify berjalan mendekatinya..

“Udah bangun lo?” tanya Rio sambil menyeka keringatnya yang bercucuran

“Eh iya, lo ngapain?”

“Kalo ga ada merk nya orang mana tau ada dokter disini...” Rio menoleh dan sedikit tersenyum...

“Oh..”

“Kenapa?” tanya Rio, Ify menggeleng..

Ify benar-benar tidak menyangka bahwa ia telah melihat sisi lain dari Rio, disamping tampang dan caranya yang dingin, ternyata Rio merupakan orang yang bersemangat sekali, baru kali ini Ify merasa salut padanya...

“Ngapain lo liatin gue?” tanya Rio heran ngeliatin Ify senyum-senyum sendiri..

“Ga..ga papa kok.. Lo udah makan kan? Gue makan dulu ya..”

“Belum!” jawab Rio membuat Ify menghantikan langkahnya

“Hah? Jadi dari 2 jam tadi lo belum makan?”

Rio mengangguk...

“Ya udah turun dulu makan! Ya ampun, dokter macem apa sih lo! Kalo lo sakit gimana? Gue mah ga tau! Lagian lo yang harus ngajarin gue!!” Ify malah marah-marah

Rio turun dari kursi itu dengan muka malas..

“Siapa coba yang bikin gue nahan laper..” gumam Rio, Ify tersentak ketika mendengarnya, tapi ia cuek...

Mereka berdua masuk ke ruang makan dan makan bersama, hanya diam..

“Lo ngapain sih pake nungguin gue segala? Lo makan aja dari tadi..” tanya Ify

“Eh lo kalo manggil gue yang sopan dong! Lo itu masih kecil nyadar ya!” jawaban Rio malah lain

“Ehm, iya pak dokter, tapi masa gue harus manggil lo dokter setiap saat?”

“Ya..ya iyalah, gue senior lo, lo tau kan gue siapa?” jawab Rio bales nyolot

“Iya juga sih.. tapi kayanya gue ga tertarik deh nganggep lo punya kedudukan lebih tinggi gitu, ntar lo anggep gue apa gitu....”

“Gitu gitu gitu gitu....” bales Rio, “Kalo lo ga mau lo panggil gue kakak...”

“Ngeekk... Kakak?” Ify menahan tawa

“Lo kenapa sih kurang ajar banget jadi cewek...”

“Hehehe, terserah, pokoknya gue ga mau pak dokter...” Ify ninggalin Rio yang belum selesai dengan makanannya, gadis itu berlari keluar..

***

Diluar, Ify terkejut sendiri melihat palang yang dibuat Rio tadi..

Dokter Spesialis
Mario Stevano Aditya
Alyssa Saufika Umari
(RIFY)

“Hah? Apaan tu? RIFY?” tanya Ify heran

“Iya itu singkatan Rio dan Ify..” jawab Rio yang tiba-tiba muncul disamping Ify...

Ify heran menatap Rio, tapi Rio membalas dengan tatapan senyuman manis...

“Gimana bagus kan?” tanya Rio

“Bagus sih, tapi kok nama keluarga lo ga di pake?”

“Yah.. ga papa kepanjangan....”

“Kepanjangan apa malu lo? Hah?” ledek Ify

“Ya...ya nggak lah.. masa malu...” Rio ngelak

Ify hanya senyum-senyum dan ninggalin Rio, gadis itu masuk ke tempat kerja, dan lagi-lagi ia kaget dengan hasil kerja Rio yang sangat rapi, semuanya tertata sesuai dengan keinginan Ify

“Welcome...” kata Rio melihat ekspresi Ify yang kaget

“Lo..lo..dokter.. yang kerjain ini?” tanya Ify gugup

Rio mengangguk yakin, “Gimana? Lo suka kan?”

Ify mengangguk  lalu diam, ia benar-benar merasa bersalah telah membiarkan Rio bekerja layaknya pembantu, sementara ia bagai majikan yang hanya tahu beres..

“Kenapa? Kok diem? Lo kan bawel?”

“Ga papa, gue jadi ga enak sama lo.. Masa dari tadi lo kerja sih, sementara gue...”

“Udah-udah ga papa, gue maklum kok, anggep aja ini buat nembus kesalahan gue sama lo tadi...Oke?”

Ify hanya tersenyum, ia berkali-kali takjub dengan sikap Rio yang berbalik sekali dari apa yang ia pikirkan sebelumnya, satu sifat yang Ify bangga dari seniornya itu yaitu..tanggung jawab...

***

Hari-hari Rio dan Ify bekerja diwarnai oleh canda tawa dan kelakuan mereka yang kadang akrab, kadang juga bertolak belakang, sering kali Ify disuruh-suruh oleh Rio, dan Rio kadang tidak sabar mengajari Ify yang lemot, Ify sekali-sekali membalas dengan mengerjai Rio, sekali-sekali pula ia menurut..

“Yang bener, caranya itu gini...” ujar Rio tak sabaran kala mengajari Ify, Ify manyun aja, sementara pasien mereka kadang tertawa melihat kedua prilaku dokter ini...

“Lo malu-maluin gue aja sih...” bisik Ify

“Abis lo, udah berapa kali diajarin pegang jarum suntik aja susah amat ga nangkep-nangkep!” jawab Rio

“Ih kalo gini terus mah lo aja yang kerja!”

“Lo ga mau gue kasih nilai gede?” tanya Rio yang bikin Ify diem, yah Ify ga mau banget dia gagal, udah jauh-jauh ke sini dia harus bisa dan suatu saat menjadi dokter utama seperti Rio..

Biasanya setelah bekerja, malam hari mereka bercakap-cakap dan Rio memberikan pelajaran bagi Ify, Ify mendengarkan dengan seksama, teori atau praktek mereka kerjakan bersama, semangat Ify untuk belajar menumbuhkan kekaguman tersendiri bagi Rio, dia pun jadi ikut bersemangat...

“Nah Fy, coba lo praktek sama gue langsung, ceritanya gue ini pasien mimisan yang dateng ke dokter, trus lo yang ngobatin, cepet!” perintah Rio

Mereka berdua segera praktek, Rio berbaring di tempat tidur dan Ify mulai mempraktekkan langkah-langkahnya, sedikit gugup bagi Ify, langkah yang utama adalah memulai percakapan yaitu menyuruh pasien bernafas dari mulut, tetapi Ify langsung memencet hidung Rio sehingga Rio tidak bisa bernafas..

Rio menepis tangan Ify, “Anjrit lo! Kalo pasien kaget gimana? Untung masih gue!” Rio kesal

“Eh iya..iya maaf.. aduh lupa gue...” jawab Ify

“Ngomong dulu kek, ramah dikit napa...” Rio manyun, “Ulang...”

Ify mengulanginya lagi dengan perlahan-lahan...

“Nah, sekarang, adik bernafas dari mulut dulu ya, biar idungnya dipencet...” kata-kata Ify terputus karena Rio sudah tertawa terbahak-bahak..

“Heh! Kok ketawa sih? Lo bilang mau serius!”

“Abis lo ngomong ga bagus banget, masa ‘dipencet’ ?” Rio masih tertawa

Ify jadi malu sendiri dan langsung menggaruk-garuk kepalanya

“Belajar bahasa Indonesia dimana lo? Yang ada pasien ketawa lagi...” Rio menghentikan tawanya..

Akhirnya kegiatan itu dilakukan sekali lagi, dan kali ini Ify berhasil melakukannya, Rio memperhatikan gerak-gerik Ify yang sempurna, tak lupa ia sematkan senyum kecil seakan-akan seorang ibu dokter yang ramah sekali membuat Rio ikut tersenyum..

“Apa lo senyum-senyum?” konsentrasi Ify buyar

“Ga papa kok.. Lo berhasil!” kata Rio sambil mengacungkan jempolnya lalu duduk ditempat tidur itu..

“Yes, tuh kan apa gue bilang, gue itu jago kalo soal gini!”

“Lah? Jago? Trus tadi kenapa salah mulu?” ledek Rio

“Hhehe, belum siap aja..” Ify ngeles

“Jangan jangan lo gugup karena pasiennya gue kali...” Rio menyenggol bahu Ify dengan bahunya

“Yee.. ge er lo...” Ify berusaha melawan, tapi rona merah dipipinya tak bisa tertutupi dari Rio. Rio hanya tersenyum..

Mereka berdua kembali ke ruang tengah..

“Huff... capek juga gue belajar sama lo...”

“Baru gitu aja capek.. Ify..Ify...” ujar Rio duduk disamping Ify..

“Ya iyalah lo nya pake marah-marah...”

“Lo baru gitu aja udah ngeluh, serius ya, keadaan ini beda banget sama waktu gue dulu...”

“Emang pengalaman lo dulu gimana?” Ify jadi penasaran..

“Dulu, gue juga ikut kerja lapangan gini, tapi pembimbingnya mah galak, lo sih masih enak, gue bisa sabar ngajarin lo, walaupun ngulang-ngulang tapi marah nya gue belum seberapa kalo dibandingin sama guru gue dulu, yah bisa dibilang gue bener-bener harus bener deh setiap ngelakuin apa aja, bukan cuma di praktek, malahan di pelajaran teori juga...”

“Oh gitu... Trus lo betah?”

“Yah mau ga mau lah Fy gue harus bisa, makanya gue sering geregetan kalo lo salah atau ga bisa...”

Ify baru ngerti, dan dia beruntung banget Rio ga bales dendem tentang penderitaannya dulu..

“Lo ga ada niat buat bales dendem gitu?”

“Hmm, percuma, gue rasa itu bukan cara yang tepat, dan takutnya ntar ketuleran deh sampe seterusnya, sebenernya sih mau aja bales dendem ke lo, biar lo nyaho!” ledek Rio

“Yeee, enak aja, gue kan pinter lagi. Eh emang siapa sih pembimbing lo yang jahat gitu?”

Rio tersenyum, “Dokter Albert Haling...” dia berdiri

“Hah? Bokap lo?” Ify kaget

Rio mengangguk, “Udah Fy, udah malem gue capek, gue mau istirahat..” dia lalu mengacak-acak rambut Ify dan pergi tidur

Ify kaget dan memperhatikan Rio yang berjalan menuju kamarnya, gadis itu tersenyum simpul...

***

Pagi hari ini, Ify tampak semangat untuk bekerja, ia ingin sekali membuktikan kepada Rio bahwa seseorang dapat berhasil tidak hanya dengan kekerasan seperti yang telah diusahakan Rio, Ify ingin meyakinkan Rio bahwa usahanya berhasil

“Waahh... Ada angin apa nih lo udah disini aja?” tanya Rio ketika Ify sudah bersiap-siap diruang praktek

Ify tersenyum, “Udah deh ya lo terima aja kalo gue lagi semangat gini...” jawab Ify masih dengan senyum merekah diwajahnya, Rio cuma geleng-geleng perhatiin Ify’

Waktu masih menunjukkan pukul 8 pagi, Ify dan Rio yang baru siap-siap terima pasien tiba-tiba kaget dengan kedatangan seorang pemuda berwajah sangat lemas, dia hampir pingsan didepan pintu tetapi dengan langkah cepat Rio segera menopang pria itu dibantu Ify..

“Aduh gimana nih? Ni orang kenapa?” Ify panik

“Udah jangan panik, biarin dia istirahat dulu, coba lo ambil air gih..” kata Rio, Ify segera kebelakang..

Rio memperhatikan pemuda itu sambil geleng-geleng, sesekali ia memegangi dahinya..

“Ini orang pasti sakit, tapi kenapa ya dia bisa gitu?” gumam Rio. Tak lama Ify tiba dengan membawa semangkuk air kompresan dan segelas air minum

Dengan sabar, Rio mengompres orang itu Ify berada disampingnya..

“Ya udah Fy, lo tungguin bentar gue mau bikinin resep, kayanya dia cuma demem, dan kalo dia bangun lo kasih minum...” Rio beranjak dari kursinya dan masuk kedalam..

Ify duduk disebelah pria itu, dan memperhatikannya dengan sedikit tersenyum..

“Ini cowok darimana ya? Ga kalah ganteng sama si Rio..” gumam Ify

Tiba-tiba Ify terkejut melihat matanya yang terbuka, dan sedikit bingung harus ngelakuin apa..

“Aduh.. gimana nih...” gumam Ify tapi ia segera menenangkan diri dan mengikuti apa yang dibilang Rio tadi..

BERSAMBUNG

1 komentar: