Senin, 01 Agustus 2011

Surgeons Of My Love Part 2 (END)

“Hei..” sapa Ify, ia tersenyum

Pemuda itu berusaha membuka mata dan melihat Ify

“Gimana keadaan lo udah enakan? Nih minum...” Ify memberikan segelas air yang dibawanya tadi, pria itu duduk dan meminumnya..

“Makasih...” ucapnya pada Ify, Ify hanya tersenyum

“Ngomong-ngomong lo kenapa? Kok tadi tiba-tiba dateng terus pingsan?” tanya Ify

“Iya maaf mungkin gue ngagetin, gue emang demem dari kemaren, salahnya gue baru hari ini ke dokter...” jelasnya

“Sendirian?”

“Iya gue emang tinggal sendirian, bisa dibilang gue sebatang kara..”

“Oh maaf...” Ify merasa bersalah

“Udahlah ga papa gue udah biasa kok.. Oh iya, gue Alvin...” dia tersenyum

“Ify, gue dokter baru disini...”

“Oh jadi lo yang dibilang-bilangin warga itu, tentang kerja lapangan dari Jakarta?”

Ify mengangguk, “Dan gue sama...”

“Rio...” tiba-tiba Rio muncul dibelakang Ify, mengulurkan tangan kepada Alvin dan tersenyum

“Oh Alvin...” jawabnya

“Gimana keadaannya? Udah baikan?” tanya Rio sopan

“Udah dok, makasih ya...”

“Iya ga papa, lain kali kalo emang udah ga enak badan, langsung kedokter...”

Alvin tersenyum, “Iya deh...”

“Gimana Fy? Lo udah kasih minum ke dia?”

Ify menatap Rio sinis.. “Lo kalo didepan orang yang sopan dong!” gumam Ify

Alvin tertawa...

“Tuh kan malu gue! Maaf deh Vin ini dokter emang gini orangnya...” Ify pasrah

“Tapi kan lo duluan neng yang ga sopan sama gue..” balas Rio dia lalu memberikan beberapa obat kepada Alvin untuk dibawa pulang

“Kalian lucu ya, kaya bukan dokter...” kata Alvin masih tertawa

“Dia kan?” tanya Rio dan Ify bareng dan sama-sama menunjuk

“Dua-duanya!” jawab Alvin lalu turun dari tempat tidur..

“Okee, gue pamit deh, oh iya berapa bayarnya?” tanya Alvin

“Udah-udah gratis kok...” jawab Rio

“Ya ga bisa dong dokter...” Alvin tersenyum dan mengeluarkan dompetnya

“Udah ga usah Vin, buat lo doang sih...” Rio mengelak lagi

Alvin memutar bola matanya, “Ya udah deh kalo gitu, tapi lain kali ga pake gratisan ya..”

Rio dan Ify tersenyum, Alvin melangkahkan kakinya keluar..

“Alvin...” Ify mengejarnya kedepan pintu sambil membawa sebuah jaket

“Jaket lo...” Ify memberikannya

“Oh iya, thanks Fy... Kapan-kapan gue boleh kesini kan?” tanya Alvin

Ify mengangguk tanda setuju..

***

Sudah 2 minggu lebih Alvin sangat dekat dengan 2 orang dokter itu, terutama Ify, Alvin sering berkunjung ke rumah mereka, mengobrol bersama, dia merasa sangat cocok dengan Ify, terkadang mereka salaing bercerita tentang kehidupan masing-masing..

Dan ini merupakan 3 hari terakhir Ify dan Rio berada di desa Kemuning, tugas mereka hampir selesai, tetapi Alvin masih sering datang ke tempat itu untuk sekedar bermain dan mengobrol..

“Ya ampun Fy, kok tragis juga kisah lo ketemu Rio..” Alvin tertawa

“Iya, gue aja ga habis pikir kenapa bisa gitu, eh ga taunya dia yang harus jadi pembimbing gue...” kata Ify

“Ya tapi lo bersyukurlah, untung Rio bisa segala bidang...” puji Alvin

Rio memperhatikan obrolan mereka, dan menyadari bahwa ada satu hal yang janggal dihatinya ketika melihat keakraban itu, begitu mudahnya Alvin dekat dengan Ify berbeda sekali dengan Rio yang sangat sulit merasakannya...

Terus-terusan Rio memandang Alvin dan Ify yang tertawa senang, tapi yang Rio maklumi bahwa walaupun Ify mendapatkan teman baru, ia tidak melupakan tanggung jawabnya disini..

“Udah ngobrolnya?” tanya Rio tiba-tiba muncul, Ify dan Alvin sedikit terkejut

“Eh udah kok, ya ampun gue sampe lupa waktu ngobrol sama lo Fy, gue pulang deh ya.. Udah sore..” pamit Alvin lalu berdiri

“Hhehe, iya kapan-kapan ngobrol lagi deh..” jawab Ify

Alvin trersenyum, “Dokter Rio, gue pulang ya...” tetapi Rio hanya tersenyum masam..

***

“Ify, gue boleh ngomong bentar?” tanya Rio serius

“Ya, kenapa? Ngomong aja..” kata Ify

“Rio lalu duduk disamping Ify dan mulai berbicara..

“Kok lo deket banget sih sama Alvin? Yah maksud gue akhir-akhir ini?”

Ify terdiam dan menaikkan alisnya..

“Yah, kalo sekedar deket ga ada salah kali.. Toh gue tetep nyelesain tugas-tugas gue kan?”

Rio menghela nafas, ia bingung mau bicara apa, memang ia tak berhak melarang Ify, tapi didalam hatinya yang paling dalam, ia tidak ingin membiarkan Ify dekat dengan pria lain selain...dirinya..

“Ga gitu juga sih Fy, lo boleh deket sama Alvin, tapi...”

“Tapi kenapa?” Ify heran

“Yang jelas, gue ga suka aja gitu..” kata-kata itu tiba-tiba saja terlontar dari mulut Rio

“Baahh, terserah gue kali mau deket sama siapa aja, apa urusan lo!” Ify nyolot

“Ya, tujuan kesini bukan buat itu, lo kesini buat belajar kan? Dan selama disini lo jadi tanggung jawab gue!” Rio ga kalah nyolot

“Tapi kan tanggung jawab lo ke gue bukan berarti ngelarang gue Yo! Oke gue terima lo terus-terusan kesel ngajarin gue, tapi ga gini juga!”

Rio berdecak kesal, “Fy! Gue cuma ga mau fokus lo terbagi sama itu cowok!!”

Ify menatap Rio sinis, “Gue ga nyangka lo punya sikap kaya gitu! Asal lo tau gue udah mulai ada rasa hormat ke lo akhir-akhir ini, tapi gini balesan lo! Sekarang lo ga usah ikut campur urusan gue, gue mau temenan sama siapa aja itu terserah gue!”

Ify berlari ke kamarnya meninggalkan Rio yang hanya diam..

***

Dikamar, Ify menangis diam-diam, benar-benar kesal dengan sikap Rio barusan..

“Dia ga berhak ngelarang gue! Gue bisa ngelakuin tugas gue tanpa aturan dari dia, apa gue salah temenan sama Alvin?” gumam Ify

Dia tidak keluar-keluar dari kamar selama 2 jam lebih, dan tidak peduli apa yang dilakukan Rio saat ini. Terserah! Ify merasa ia tidak perlu ikut praktek bersama pria itu, untuk apa bekerja sama kalau sudah begini?

Ify memang orang yang teguh pada pendiriannya, tetapi ia berfikir, ia tetap harus bertanggung jawab atas tugas besar ini..

“Aduh Rio, mau lo itu apa sih, gue udah rela lo marah-marahin lo ejek-ejek, tapi kenapa sikap lo gini, gue nahan aja Yo setiap lo nge-ralat semua kesalahan gue, dimana lo selalu bilang gue bego, lemot, nakal, ga bisa apa-apa, gue nahan aja Yo biar gue nggak meledak, itu demi cita-cita gue! Tapi nggak buat yang satu ini, gue ga bisa dilarang-larang untuk soal yang menyangkut temen...!” Ify menyeka air matanya..

Akhirnya waktu menunjukkan pukul 4 sore, ia memutuskan untuk keluar kamar, dilihatnya Rio sedang sibuk bekerja dimejanya, Rio menoleh..

“Ify... akhirnya lo..”

“Gue mau pergi!” potong Ify cepat

“Mau kemana lo?”

“Bukan urusan lo!” Ify melangkahkan kakinya cepat dan berlari keluar rumah..

Rio ingin menyusulnya tetapi ia batalkan, mungkin bukan saat yang tepat, pikir Rio. Dia sedikit menyesal dengan ucapannya tadi kepada Ify..

***

Dari jarak yang cukup jauh, Ify pergi ke taman didesa itu, dia berusaha menenangkan pikirannya disana dengan menikmati udara alam bebas..

“Hei!!” seseorang memanggil Ify dan gadis itu menoleh

“Eh Vin...” sapa Ify dan tersenyum, Alvin lalu duduk disebelahnya..

“Kok lo disini? Ga kerja?”

Ify menggeleng, “Ga, gue mau cari udara bebas dulu, bosen...”

Alvin heran melihat tatapan Ify yang murung, “Lo kenapa Fy? Lo pasti ada masalah, ya kan?”

“Hmm.. menurut lo gitu?” Ify balik tanya

“Lo boleh cerita ke gue kalo mau...” tawar Alvin, Ify menghela nafas dan menatap pria itu..

***

Di rumah, Rio gelisah sendiri menunggu Ify yang ga kunjung dateng..

“Kemana itu cewek? Kalo gue cari ga mungkin, nanti pasien dateng...” Rio menghela nafas

Ia khawatir dengan kesendiriannya tanpa Ify, dimana dia? Dengan siapa? Apa dia sudah makan? Pikiran Rio terus-terusan tertuju pada gadis itu..

Harapannya tak sia-sia tepat matahari terbenam ia melihat sosok Ify kembali yang berjalan memasuki tumah, Ify menatap Rio sekilas lalu masuk kerumah tanpa mengatakan apa-apa. Tadinya Rio ingin menyambutnya dengan senyuman, tapi ia mengurungkannya karena melihat tatapan Ify..

***

Sampai esok hari pun Rio dan Ify masih tetap berdiam-diaman, Ify melaksanakan tugas seperti biasa, walaupun bekerja sama tapi tidak ada tali komunikasi antara mereka..

Sekitar jam 10 pagi, Rio mendapati Alvin yang sudah berada di teras depan rumah... dan lagi-lagi bersama Ify

“Ify, gue mau ngobrol sama bos lo, boleh?” tanya Alvin

Ify menatap Rio dan mengangkat bahu, lalu ia pergi kedalam, mempersilahkan mereka berdua mengobrol..

“Ada perlu apa?” tanya Rio sinis lalu duduk bersama Alvin..

“Gue udah tau semuanya, kemaren Ify cerita sama gue..”

“Trus?”

“Gue mau jelasin sesuatu sama lo, tentang Ify!”

Rio mulai terdiam, dan menatap Alvin siap untuk mendengarkannya

“Gue tau lo marah karena kedekatan kita akhir-akhir ini, tapi lo ga berhak ngelakuin itu Yo, Ify juga punya dunia, dan dengan alesan yang ga masuk akal itulah yang bikin Ify marah sama lo, yah bagi gue alesan lo itu udah bisa nebak perasaan lo ke dia, mungkin dia belum ngerasa kali ya sama perhatian lo yang gede ke dia, tapi gue bisa nebak itu Yo. Dan lo perlu tau rasa sayang gue ke Ify beda sama yang lo rasain, gue cuma anggep dia sebagai adik gue adik gue sendiri, ga lebih Yo, dan ga akan pernah..”

Rio tertegun mendengar penjelasan Alvin..

“Memang setiap orang yang udah kenal Ify pasti punya perasaan spesial buat dia, gue akuin itu. Tapi gue dengerin curhatan Ify gimana dia menganggap seorang Rio, gue sadar, kalo Ify bener-bener orang yang gigih ngadepin lo. Dia bilang dia selalu nahan emosi kalo ketemu lo, sebagai apa? Sebagai bentuk hormat ke lo sebagai gurunya, dan dia berusaha selalu semangat jalanin pelajaran dari lo. Tapi setelah lo ngeluarin suatu larangan ke dia, semangatnya seolah-olah ilang Yo, Ify yang awalnya mau bikin lo senyum karena keberhasilan lo dalam mengajar, tiba-tiba pudar dan berubah jadi kekesalan dia ke lo..”

“Vin stop...” cegah Rio, dia tak tahan mendengarkan kalimat-kalimat itu..

“Gue harap sekarang lo pikir lagi Yo, Ify orangnya ga bisa diatur sesuka hati kalo itu jelek dimatanya...”

Rio mengangguk, “Jadi, menurut lo gue harus gimana? Apa gue..”

“Lo ungkapin semua penjelasan ke dia tentang kenapa lo lakuin ini, dan lo juga sebaiknya ungkapin semua yang lo rasain ke dia..” Alvin tersenyum

“Soal itu, gue belum tau juga harus bilang gimana...” Rio menunduk

“Why? Bilang aja Yo, ntar keburu..gue deh ambil..” sindir Alvin yang membuat Rio kaget

“Hhee, canda! Kan udah gue bilang, gue sama Ify ga ada rasa!”

Mereka berdua tertawa bersama..

Ify tiba-tiba datang membaca 2 cangkir es jeruk dan langsung meletakkannya di meja tempat Alvin dan Rio

“Nih diminum...” Ify lalu kembali melangkahkan kaki untuk pergi tetapi langkahnya terhenti karena Rio menahannya..

“Duduk Fy...” kata Rio, Ify menurut dan duduk

“Fy, gue.. gue mau minta maaf..” Rio tertunduk

“Gue ngaku gue udah salah, dan gue nggak berhak buat ngelarang lo, lo mau maafin gue?”

Ify menatap Rio lalu menghela nafasnya..

“Ify sumpah, gue pengen banget narik kata-kata gue kemaren, gue nyesel..”

“Udah, udah Yo.. Ga usah di ungkit lagi, gue..gue maafin lo kok..” Ify tersenyum

Rio menghela nafas lega, “Beneran Fy? Thanks..”

Ify mengangguk, dan menoleh Alvin

“Pasti ini kerjaan lo!” tuduh Ify

Alvin hanya mengangkat bahu, “Nah, tugas gue selesai, gue mau pulang, udah siang nih ngantuk gue..” Alvin beralasan

“Loh Vin, ga main dulu?” tanya Rio kaget

“Ga ah, males, ntar ada yang berantem lagi..” ledek Alvin, Rio malah senyum

“Oke deh, gue mau pulang dulu Yo, Fy, lo berdua baek-baek ya..”

“Iya, Vin tunggu...” kata Rio, “Gue belum ucapin thanks ke lo, makasih banget semuanya, mulai sekarang lo juga jadi sahabat terbaik gue..”

Alvin tertawa, “Ya ampun ga usah segitunya Yo, udah ah yang ada gue ga pulang ntar, oh iya, sukses buat ntar, gue saranin, cari tempat yang bagus deh buat lo, banyak kok disini, lo keliling aja..daaahh..” Alvin pamit

Rio tersenyum, Ify malah bingung sendiri..

“Lo tadi ngomongin apa sih berdua?” tanya gadis itu

“Lo mau tau?” Ify mengangguk semangat

“Dasar mau tau aja urusan orang! Ga boleh ah, lo masih kecil...” ledek Rio lalu berlari sebelum Ify meledak lagi

“Iiiihh!! Ga ada sadarnya lo!” teriak Ify nyolot

***

Sore harinya Rio dan Ify sepi pasien, alias ga ada kerjaan..

“Fy, lo mau ikut ga?” tanya Rio yang sudah berganti pakaian stelan kaos hitam dan jeans..

Ify tampak kaget melihat dandanan Rio yang jauh sekali berbeda, sangat casual, bisa dibilang kesan dokter sangat jauh dari penampilan Rio yang sekarang, Ify cuma bisa geleng-geleng

“Lo mau mejeng? Kerjaan belum selesai juga!” protes Ify

“Udah, bentar dioang kok, lagian pasien sepi gini! Mau ikut ga? Kalo mau buruan gue tunggu, ganti baju sono!” Rio melangkahkan kakinya keluar

Ify bingung sendiri, tapi daripada sendirian dirumah, lebih baik dia mengikuti Rio, segera ia berganti pakaian biasa...

“Gimana udah si...” Rio terpana melihat Ify yang mengenakan kaos putih bergambar stitch dan rok pink mekar selutut, cantik sekali!

“Apa lo liat-liat?” ledek Ify, Rio langsung geleng-geleng ga jelas..

“Ya udah yuk pergi!” ajak Rio

Mereka berdua menelusuri jalan dengan santai, dari tadi Ify bingung sendiri mau diajak kemana..

“Yo, mau kemana sih?” Ify memberanikan diri bertanya..

Rio ga jawab pertanyaan Ify melainkan terus berjalan, Ify jadi sedikit kesal akibat pria itu..

Sampailah mereka disebuah taman yang banyak terdapat bunga dan pepohonan, Rio mengajak Ify duduk disalah satu ayunan disana yang terdapat dibawah pohon..

“Gue masih heran deh, dan lo belum jawab-jawab pertanyaan gue, ngapain kita kesini?” Ify sekali lagi menatap Rio

Rio diam membalas tatapan Ify, sekitar 20 detikan mereka saling menatap..

‘Kok gue ngerasa Rio ganteng banget ya, tatapannya itu loh dalem banget, coba aja kalo dia menatap gue kaya gini setiap saat, gue pasti rela deh di jahil-jahilin, dimarah-marahin sama dia, dan gue pasti rela kerja bareng dia, dan ngikutin untuk manggil dia dengan sebutan kakak... Kalo aja dia jadi cowok gue, beruntung banget gue!’ batin Ify

Ternyata Rio juga mengagumi sosok Ify..

‘Ya Tuhan, ini beneran anugerah terindah yang ada didepan mata gue, cantik banget mukanya, apalagi pas gue liat matanya, ditambah sama rambut yang membingkai itu semua, Ify, gue nyesel deh kenapa ga bersikap manis dari dulu ke lo, tapi sebelum gue telat, hari ini juga lo bakal jadi milik gue...’

Lalu mereka sama-sama memalingkan muka...

“Lo mau tau gue ngajakin lo kenapa?” tanya Rio lembut

“Masih nanya lagi, jadi lo pikir gue dari tadi ngomong apa? Kumur-kumur doang?” Ify menatap pria itu lagi, Rio tersenyum

“Fy, lo tunggu bentar ya, bentar aja! Ntar gue balik..” Rio segera berdiri..

“Heh? Tapi lo mau kemana?” Ify kaget

“Bentar aja!” Rio berlari ninggalin Ify sendirian..

Selama beberapa menit Ify sendiri, memang benar apa kata orang-orang awam, waktu yang paling tidak enak adalah menunggu..

“Dimana sih tu cowok? Pake acara ninggalin gue lagi!” Ify marah-marah ga jelas...

“Ify!!!” seseorang memanggil namanya... Ify toleh kiri kanan tapi ga ada orang..

“Siapa sih?” gumam Ify bingung

“Ify! Gue disini!!” suara itu muncul lagi

“Woi lo siapa!!” saking keselnya ify ikutan teriak..

“Ify gue diatas!!” suaranya makin besar seperti memankai toa, Ify sampe tutup telinga..

Ify menoleh keatas dan kaget..

“Aaaaaa!!!!” teriak Ify turun dari ayunan dan ngeliat ke atas.. Ify kaget melihat sosok orang kaya tarzan..

“Hah siapa lo?!” Ify mencoba berani, Ify tak bisa melihat wajah orang itu karena dia beneran pake topeng tarzan -__-

“Ify! Gue cinta sama lo!!” teriak orang itu lagi

“Haaahhh?? Lo siapa? Berani-beraninya ngomong gitu!!”

“Gue cinta sama lo, lo mau kan jadi pacar gue?!” suara itu terdengar dengan nada paksaan

“Eh lo kurang ajar banget deh! Ga pernah sekolah apa, ngomong ngasal aja! Gue laporin kak Rio lo!” teriak Ify tanpa sadar dia menyebut...kak Rio

Orang yang diatas ikut kaget dan langsung membuka topengnya sambil tersenyum menatap Ify

“Fy! Ini gue! Lo mau jadi pacar gue?” teriaknya lagi dan Ify benar-benar kaget melihat orang itu adalah Rio

“Kak Ri...Rio!!” teriak Ify

Rio mengangguk, “Lo mau kan jadi pacar gue! Ya ya?” pinta Rio

“Eh lo apa apaan sih! Turun!! Kaya orang gila aja! Malu tau!”

“Ga! Gue ga mau sebelum lo jawab iya!” Rio maksa

“Maksa amat lo! Ga lo turun dulu! Malu nih gue!”

“Kan udah gue bilang tadi! Jawab dulu, atau kalo lo ga mau gue teriak nih mumpung gue pegang toa!”

“Heh? Plis lo turun, trus gue baru jawab...” pinta Ify kali ini memelas, “Lo mau turun apa gue yang manjat?!” ancam Ify

“Nggak nggak, oke gue turun deh daripada lo manjat...” Rio kalah dia lalu turun...

“Gimana? Lo mau kan?” pinta Rio lagi..

Ify menatap pria itu, “Tapi kenapa sih lo ngelakuin ini?” Ify menghela nafas

“Gue cuma mau nunjukin perjuangan gue Fy, gue emang salah ngeremehin lo, sehingga gue rela manjat-manjat pohon demi lo, mana ada anak dokter utama yang macam gue kan?”

“Emm.. terus terang gue kaget banget...” Ify menahan tawa

“So? Jawabannya?” Rio berharap penuh dan menggenggam tangan Ify

Ify tersenyum dan menghela nafas, “Gue emang belum pernah nemu cowok yang pas buat gue Yo, gue sih ga pernah mau nyari karena kalo dicari pasti susah banget, dan kayanya gue emang ga perlu nyari karena cowok yang pas sama gue emang bakal dateng sendiri didepan mata gue...”

Rio tersenyum dan menggemnggam tangan Ify lebih kuat lagi, dia ga nyangka jawaban Ify sukses bikin kekaguman dihati Rio semakin bertambah..

“Thanks Fy, mulai detik ini gue lah cowok yang pas buat lo, dan lo merupakan akhir penantian gue...”

Ify mengangguk senang, “Rio..eh Kak Rio, gue minta maaf ya atas kelakuan gue yang kurang sopan sama lo, gue bakal panggil lo Kakak...”

Rio tertawa, “Nah gitu dong dari dulu, ya udah pulang yuk...”

“Pulang? Ntar dong! Ini kan hari terakhir, besok beres-beres dan lusa pulang ke Jakarta...” Ify manyun

“Hmm, jadi sekarang mau ngapain? Pacaran? Dirumah aja biar lebih enak!” ledek Rio nyengir

“Jangan pikiran macem-macem lo!” jawab Ify

“Jiaah, masih sama deh lo!” Rio mengacak-acak rambut Ify, “Iya deh terserah apa kata lo..”

Akhirnya sebelum pulang, mereka duduk kembali di ayunan itu menikmati senja hari, mereka mengobrol banyak sekali...

***

Keesokan harinya dimana hari ini adalah hari beres-beres, semua peralatan mereka simpan, tak terasa sebulan lebih mereka membuka praktek bersama, saat Rio mengambil papan nama RIFY itu, Ify tersenyum dan merasa terharu karena RIFY yang tadinya ia tidak setuju sekarang jadi kenyataan..

Ditengah kesibukan mereka, seseorang datang dan terkejut..

“Heh? Ini kenapa? Kok bongkar-bongkaran?” dialah Alvin

“Eh Vin, sorry banget baru ngasih tau, gue sama Ify pulang besok..

“Hah? Pulang? Tega lo!” Alvin tampak kecewa

“Iya Vin, maaf banget ya, mau gimana lagi, kontraknya udah habis...” sesal Ify

Alvin duduk di sofa, menunduk... Rio dan Ify mendekatinya

“Fy, Yo, lo berdua udah gue anggap keluarga gue, gue yang semula sebatang kara jadi semangat karena ketemu orang-orang kaya lo berdua, tapi apa kebahagiaan gue cuma sampe sini?”

Rio dan Ify saling menatap karena merasa bersalah..

“Vin, walaupun kita udah ga disini, gue yakin kok kita bertiga bakal terus sahabatan...” ucap Rio, Ify mengangguk

“Yakin lo? Lo berdua di Jakarta! Mana pacaran lagi, ga mungkin ingatan kalian akan gue bisa bertahan...”

“Vin, kita ga bakal lupain lo, lo orang berjasa buat gue juga buat kak Rio...” jawab Ify

Mereka diam sejenak sama-sama merenung, tiba-tiba ide muncul dibenak Rio..

“Vin, lo beneran sendiri kan disini? Ga ada siapa-siapa kan?” tanya Rio histeris, dan Alvin mengangguk

“Nah, kenapa lo ga kepikiran buat ikut kita aja ke Jakarta?!” Ify pun jadi semangat mendengar usul Rio

“Hah? Gue? Ke Jakarta? Sama siapa gue? Masa tinggal sama lo? Ga mungkin lah!”

“Mungkin! Gue bakal minta bokap biar lo masuk juga di Gouvent, sebagai dokter seangkatan Ify. Gimana lo mau kan?”

“Ga ah! Malu gue! Masa gue yang ga jelas nemu dimana harus jadi dokter kaya lo berdua? Gue mana pantes!” tolak Alvin

“Vin, lo punya bakat itu, dan kalo lo serius gue yakin gue ga salah orang, lagian lo sering kan kesini buat bantuin kita, apa lo ga pernah liat cara kita praktek dan cara gue ngajarin Ify?”

Alvin terdiam... “Tapi kalo gue harus berada dilingkungan lo gue merasa belum pantes Yo, dan ga akan pernah pantes, apa kata orang tentang gue ntar? Kuliah nggak, ikut ngelamar nggak, kerja lapangan nggak juga!”

Rio tersenyum, “Kalo itu udah jadi keinginan gue yang berhubungan sama rumah sakit, pasti bakal terwujud Vin, tanya aja sama Ify!”

Ify tersenyum dan mengangguk.. “Lo tenang aja Vin, semua orang mana berani sama perintah dokter Rio...”

Alvin berfikir sejenak karena masih berat hati, tetapi akhirnya ia setuju dan meng iya kan ajakan itu...

“Anggep aja ini sebagai ucapan terimakasih gue ke lo Vin!” kata Rio

***

Akhirnya mereka bertiga sampai di Jakarta dan menuju rumah sakit, semua peserta kerja lapangan disambut suka cita oleh orang tua masing-masing disana, tetapi mereka semua belum boleh pulang karena masih ada suatu hal yang dilakukan..

Rio telah menjelaskan kepada ayahnya tentang maksudnya mengajak Alvin datang, ia juga menjelaskan hubungannya dengan Ify..

“Oke Yo, asalkan kamu bisa tanggung jawab sama semua ini, papa ga mau nanti rumah sakit ada apa-apanya karena ulah kamu, dan Alvin Jonathan, selamat datang ya...” dokter Albert menyalami Alvin

“Makasih dokter, Alvin beneran ga nyangka atas apa yang terjadi...”

“Dan kamu Alyssa, selamat ya.. Akhirnya ada orang yang bisa bikin hari-hari Rio jadi semangat mulai sekarang...”

“Makasih Om.. Eh.. Dokter...” Ify latah

***

Kedatangan Alvin membuat semua orang bertanya-tanya, tetapi keadaan itu tidak lama, karena Rio turun tangan sendiri dan menjelaskan semua, Rio juga menjelaskan tentang hubungannya dengan Ify..

“Enak banget sih Vin...” kata seseorang kepada Alvin saat para dokter baru berkumpul..

“Hhehe, tapi tenang aja temen-temen, gue bakal nganggep kalian lebih senior dari gue, mohon bantuannya ya...” Alvin nyengir

“Iya, tapi tenang aja, Alvin orangnya cepet nangkep kok, jadi ga susah kalo diajarin...” puji Ify

“Ciee Ify calon menantu dokter Albert...” kata Sivia salah satu temen Ify yang lama tak dijumpainya..

Semua orang men-cie-cie kan Ify, Ify jadi malu sendiri...

***

Akhirnya para dokter baru mulai bekerja, kehidupan Ify dan Rio makin baik, walaupun berpacaran, mereka tidak lengah dalam bertugas..

“Ify makan siang dulu yuk...” ajak Sivia sahabat Ify yang paling dekat..

“Okee!” jawabnya dan mereka berdua langsung pergi menuju kantin rumah sakit.. Sivia masih membawa wadah berisi suntikan, kapas dan obat-obatan yang ingin diantarkan ke laboratorium..

Saat mereka berjalan keluar, ternyata Rio dan Alvin berjalan kearah berlawanan sehingga mereka bertemu..

“Hei!” sapa Rio mengagetkan..

Ify dan Sivia terkejut dan tersenyum melihat mereka..

“Lo berdua mau makan siang?” tanya Rio, Ify mengangguk..

“Kalian?” tanya Ify

“Aww!!” kata-kata Ify terputus melihat Alvin yang teriak kecil..

“Aduh..aduh sori.. ya ampun...” Sivia panik, ternyata jarum suntik yang dibawa Sivia tersenggol lengan Alvin saat mereka mendengarkan omongan Ify dan Rio

“Hah? Kenapa Vi?” tanya Ify ikut panik melihat lengan Alvin mengeluarkan darah

“Ketusuk, gue ga sengaja..” jawab Via langsung membersihkan darah itu dengan kapas..

“Kok bisa? Tapi suntikkannya ga ada apa-apa kan?” tanya Rio membantu Sivia

“Ga ada kok, cuman jarumnya belum gue masukin tadi..” sesal Sivia

“Ohh, lain kali di cek lagi ya Vi...” nasihat Rio

“Iya iya, aduh maaf ya...” Sivia menatap Alvin

“Udah-udah ga papa, darahnya udah ga ngalir kok...” Alvin tersenyum dia menggerakkan tangannya..

“Untung ga kenapa-kenapa..” lanjut Ify..

“Emm, Sivia kan namanya?” tanya Alvin, Via mengangguk, “Maaf ya.. Alvin..”

“Lain kali jangan suntik tangan gue, suntik aja hati gue tiba-tiba...” Alvin tersenyum jahil pada Sivia

Sivia kaget lalu tertunduk, mukanya merah..

“Hmm, gue bercanda Vi.. Tapi kalo mau beneran juga ga papa...”

“E...eh.. gu..gue kedalem bentar ya...” Sivia menghindar, tetapi tangannya ditarik Alvin

“Katanya mau makan dulu? Bareng gue aja...” ajak Alvin lalu melepaskan tangannya..

“I..iya ntar gue nyusul, lo semua duluan aja..” jawab Sivia

“Vi, sebelum lo pergi gue cuma mau bilang yang tadi gue serius, dan gue tunggu jawaban lo...” Alvin tersenyum, Sivia buru-buru pergi

Rio dan Ify tertawa dan membalikkan badan mereka..

“Bagus deh kalo gitu, Alvin romantis banget, pake suntik-suntikan segala...” bisik Ify

Rio setuju, “Tapi lebih romantisan gue ke lo Fy....”

Ify bergidik menatap Rio, “Heh? Romantis apanya? Ketemu aja udah beda jalur sama gue!”

“Yah walaupun beda jalur tapi lo beruntung...”

“Beruntung karena?”

“Dokter spesialis sama dokter bedah emang beda, tapi cuma gue dokter bedah yang bisa bedah cinta lo!” jawab Rio lalu mengacak-acak puncak kepala Ify

THE END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar