Senin, 01 Agustus 2011

Rasa Ini

Berulang-ulang denting-denting piano dari lagu ini aku dengar, nada-nadanya begitu bagus, dan indah, apalagi lirik demi liriknya yang selalu aku suka dan tak pernah bosan untuk di dengar...

Terutama hari ini, walaupun lelah kuteparkan tubuhku di kasur setelah mengikuti beribu materi pelajaran disekolah, tapi rasa lelah itu tertutupi oleh senyumku tentang semua yang aku alami hari ini.. :)

Beberapa jam lalu, hmm.. kira-kira 3 jam lalu, aku terkejut melihatnya, memang aku sering melihatnya, bahkan aku memperhatikannya, mengetahui semua tentang dia, tapi hari ini aku benar-benar susah mengatur nafas ketika dia mendekatiku, aku tak kuasa menahan rasa bahagia saat itu, terutama saat ia menyapa dan tersenyum...

***

Dengan sangat lelah, dia tiba-tiba datang duduk disampingku, aku kaget setengah mati, dia mengatur nafas dan meminum air minum yang ia pegang, setelah berlarian merebut bola basket bersama beberapa temannya..

“Pake abis lagi...” terdengar keluhannya melihat botol minum itu lama-lama habis...

Aku masih memperhatikan, dan aku mengambil botol minum di tas ku, sedikit gugup aku memberikan kepadanya..

“Ehm..” tegurku, tanpa melihat wajahnya, aku terus mengulurkan botol minum itu..

“Thanks...” jawabnya sambil meraih botol itu lalu meminumnya sampai habis..

“Makasih ya, eh sori habis...” ia menatapku, akupun melihatnya sambil menganggukkan kepala..

“Ehm, lo siapa? Kok gue ga pernah liat...”

Jantungku berdetak, bukan karena senang, melainkan kecewa, begitu tertutupkah diriku sehingga orang seeksis Rio tidak pernah melihat keberadaanku? Atau kemana saja dia selama ini? Parah, menurutku. Bahkan guru-guru disekolah ini pun sangat mengenal anak yang 2 tahun berturut-turut mendapatkan beasiswa sekaligus menjuarai olimpiade Sains tingkat nasional..

Aku memberanikan diri menatap wajahnya, melihat tatapan matanya yang tampak penasaran..

“Gue Ify...” jawabku datar..

“Ify? Emm, beneran gue ga tau deh sama lo, kelas?”

“XII IPA 3...”

“Oh.. Gue Rio, XII IPA 1...” dia mengulurkan tangannya, aku menbalas uluran itu...

“Eh makasih ya, gue mau kelapangan lagi...” dia lalu pergi...

***

Singkat sekali, tapi aku terus-terusan memikirkannya, siapa yang tidak kenal Rio di seantero SMA Ravenna, anak lelaki yang sangat keren, dan memiliki kedudukan penting sebagai pengurus OSIS bagian olahraga, selain itu menjadi kapten tim basket andalan sekolah, bisa dibilang semua siswi sangat mengidolakannya, tapi ia bukan anak yang sombong, ia ramah kepada semua orang, tampangnya selalu bersemangat dihari-harinya...

Tapi satu hal yang perlu semuanya sadar, Rio telah sukses memenangkan hati gadis pilihannya, Dea Crista Amanda, ia sangat mencintai Dea yang sudah 2 tahun di jadikannya permaisuri hati. Tetapi sikap Dea sangat bertolak belakang denga Rio, Dea kelihatan sangat angkuh dan sama sekali tidak ramah, mungkin karena posisinya sangat tinggi disekolah ini, yaitu sebagai anak si pemilik sekolah yang sangat kaya raya...

Ah percuma aku mengingat-ingat Rio, toh dia tidak bakal menoleh ku lagi setelah ini, wajahku saja tidak pernah ia lihat, dan yang tadi itu hanya kebetulan, Rio juga pasti akan melakukan hal yang sama jika gadis yang  duduk dan memberikan minuman itu bukan aku...

Ku tak percaya kau ada disini..
Menemaniku disaat dia pergi...

Sudah kesekian kalinya aku memutar lagu ini, tak bosan-bosan, dan tak terhitung jumlah saat ini yang ke berapa...

Rio, kenapa wajahnya terperangkap dipikiranku dan tidak bisa keluar dari tulang-tulang terngkorak kepalaku, sampai kapan wajah itu akan tetap disana? Berulang kali ku coba untuk memikirkan hal lain, tetapi tetap saja wajah Rio yang dating menyapa…

***
“Lo itu yang ga bisa ngertiin gue!!!”

“Mau lo apa sih De? Gue selalu ngertiin loe, cuma lo nya aja yang ngeyel kalo diomongin!”

“Begini sikap cowok yang ngertiin ceweknya? Muna lo!” Dea meninggalkan Rio yang terpaku sendirian…

Aku terkejut melihat kejadian ini, hanya aku, ga ada orang lain di koridor selagi jam pelajaran seperti ini..

Dea tampak marah sekali pada Rio, tatapan matanya sangat menakutkan pikirku. Tapi, untuk apa aku diam disini? Bukannya aku harus cepat-cepat mengambil buku-buku di ruangan bu Winda?

“Apa lo liat-liat?!!” Dea menatapku sinis ketika dia melewatiku, aku menunduk ketakutan…

Rio hanya menghela nafas melihat sikap Dea, tak sedikitpun ia menoleh kearahku, malahan ia melangkahkan kakinya gontai menjauhiku… Ingin sekali aku menghampirinya, sepertinya ia sangat menyesal dengan apa yang terlah terjadi barusan, tapi sudahlah tak ada gunanya, lagipula siapa aku dimatanya?

Jam istirahat tiba, perlahan-lahan aku melupakan kejadian yang sama sekali tidak ada hubungannya denganku tadi. Kulangkahkan kakiku menuju tempat favoritku, salah satu sisi taman dibelakang sekolah yang hampir tidak pernah dikunjungi orang lain kecuali aku, aku suka tempat itu, tempat yang sederhana, tetapi nyaman dengan beberapa tanaman bunga warna-warni, dan hanya satu bangku panjang sederhana disana..

Aku terkejut mendengar suara-suara yang kudengar ditempat itu, seperti suara gerakan orang yang sedang duduk disana, aku makin mendekat dan suara itu pun makin jelas, lama-kelamaan aku mendengar suara lain, yaitu seperti tangisan seseorang, jantungku berdegup. Takut. Ya, siapa yang sedang menangis disana? Bahkan aku sendiripun jarang untuk melimpahkan kesedihan disana…

“Siapa itu?” tanyaku dan makin mendekatinya…

 Tapi tak ada jawaban sama sekali, aku pun mulai penasaran, ku singkapkan dedaunan pohon yang menutupi penglihatanku, aku terkejut melihatnya…

***

“Eh…maaf…” kataku pelan, dia menoleh dan menyeka air matanya. Aku membalik badan dan melangkahkan kaki kananku…

“Tunggu!” cegahnya, aku pun berbalik lagi dan melihatnya…

“Maaf gue ganggu…” kata ku saraya menghela nafas…

“Lo ada perlu ditempat ini ya?” dia menggeser posisi duduknya tanda mempersilahkan aku untuk duduk..

Walaupun ragu, aku mengikuti untuk duduk disebelahnya...

“Gue ga ada perlu apa-apa kok, tapi emang gue sering kesini...” jawabku

“Oh, jadi gitu... Bisa dibilang ini tempat lo banget kan?! Maaf kalo gitu, gue udah dateng tanpa izin...”

Aku mengangguk, “Ga papa kok... Gue ngerti.. Mungkin ada orang lain yang butuh tempat ini selain gue..”

Rio tersenyum, “Ya seperti gue sekarang, gue lagi sedih, maaf ya tadi gue seenaknya nangis ditempat ini, gue rasa lo tau alesannya...”

“Tapi gue juga minta maaf, tadi gue ga bermaksud buat...”

“Udahlah Fy.. lupain aja semua yang lo liat tadi, gitulah sifatnya Dea, dia orang yang nggak mau banget disalahin, gue emang sayang banget sama dia, tapi kadang gue ilfil sama sikap dia yang kaya gitu, dan ginilah jadinya kalo dia udah kelewatan...”

Aku manggut-manggut dalam hati ia puas sudah mengetahui masalah yang ditimpa orang yang ia sukai itu..

“Eh maaf Fy.. kok gue jadi curcol ya...” Rio tertawa kecil

“Ga papa, lo yang sabar ya...” jawabku

“Gue udah berusaha untuk sabar dan selalu minta maaf ke dia, tapi kalo lama-lama gini gue jadi males sendiri. Orang-orang boleh taunya hubungan gue sama Dea baik-baik aja, ga ada masalah, tapi mereka semua salah, banyak banget masalah gue sama Dea yang selalu diakhirin dengan permintaan maaf gue, alesannya cuma satu gue terlalu cinta sama Dea...”

Tersentak aku mendengar pengakuan Rio tentang perasaannya, mataku sudah mulai panas mendengar itu, mungkin aku memang hanya ditakdirkan menjadi seorang secret admirernya saja...

“Emm, kalo gitu loe minta maaf aja sama dia, siapa tau setelah ini ga bakal ada lagi berantem-beranteman, gue doain deh...” aku tersenyum meskipun itu pahit..

“Makasih Fy.. Emm, makasih juga buat tempat ini, bagus kok tempatnya...” jawab Rio

Aku mengangguk dan menyudahi pembicaraan kami...

***

Kembali aku teringat dengan kata-kataku kepada Rio tadi, seharusnya aku merasa senang karena komunikasi aku dan dia sudah selayaknya teman, tapi aku bodoh! Mengapa aku mengusulkan itu? Mengapa harus aku yang mengusulkan dia untuk meminta maaf kepada Dea? Padahal aku tahu itu membuat perasaanku sangat sakit!

Air mataku menetes selagi jam pelajaran dimulai, aku tidak bisa berkonsentrasi mengikuti pelajaran ini, tetapi aku berusaha melupakan kebodohanku tadi dengan cara berkata, “Ah biarlah, jika Rio bahagia, aku harus lebih bahagia...”

Sesekali aku melihat ke jendela di kelas ku, dan terkejut melihat Dea sudah berdiri disana, dia menatapku.. sinis.. aku sangat takut melihat matanya, dia mengisyaratkan padaku untuk menemuinya di waktu pulang sekolah...

***

Dengan masih ketakutan ku temui gadis itu, dia telah menungguku sendiri di depan kelasnya, semua orang sudah tak ada disana, awalnya aku takut kalau dia akan mengajak teman-temannya dan melabrakku..

“Berani juga lo!” sapanya kasar

Aku masih diam, “Ma...mau.. eh.. ada perlu apa De?”

PLAAKK!! Tamparan tangan itu mendarat tepat di pipiku, aku meringis kesakitan karena terkejut, aku tak berani menatapnya..

“Ga usah pura-pura bego! Lo sengaja kan deket-deketin cowok gue!!” bentak Dea

“Nggak kok De...” jawab ku, air mataku mulai menetes..

“Hei! Lo ga usah sok suci ya! Lo pikir gue percaya apa sama tampang lo yang sok lugu itu!” Dea mununjuk-nunjukku..

“Gue ga ada niat De...”

“Halah! Basi tau ga! Awas ya, mulai sekarang kalo gue ngeliat lo sama cowok gue lagi, hidup lo bakal sengsara!!!” Setelah mengucap kata-kata itu, Dea pergi, ia menatapku tajam...

Langkahku bertambah berat, seperti ratusan ton besi menumpuk di sepatuku, air mataku masih menetes hingga pulang ke rumah...

Perasaanku lebih galau dari biasanya, aku senang tapi berakhir dengan kecewa... Kutulis semua tentang ke galauanku di diary kesayanganku, diary yang berisi semua perasaanku dari awal aku memilikinya...

Keputusanku bulat, aku harus melupakan dia...
Tentang lagu itu, kutulis semua liriknya, dan mungkin jadi tulisan terakhirku di diary kali ini, tak lupa kutulis nama orang yang kutujukan dalam lirik lagu itu... Rio....

***

Terus-terusan aku mengucap dalam hati untuk melupakannya, tapi dari menyebut namanya aku selalu ingat, selalu ingat! Seakan-akan ada yang kurang dihatiku kalau tidak menyebut namanya...

Disini memang tempat yang tepat bagiku untuk menenangkan diri, ya, taman belakang tempat dimana aku menemukan Rio yang menangis disana..

Ku buka kembali diaryku, melihat, dan membaca ulang apa yang telah aku tulis kemarin...

Sungguh bahagia kau ada disini...
Menghapus semua sakit yang kurasa...

Air mataku menetes lagi untuk kesekian kalinya dan membasahi buku diaryku, cepat-cepat aku menghapusnya ketika mendengar suara hentakkan kaki menghampiri..

“Ify...!!!!” dia datang! Dengan meneriakkan namaku dia menghampiriku, ditambah raut wajahnya yang berseri-seri...

“Gue udah tebak loe pasti disini!!! Gue seneng Fy.. Gue seneng!!” dia meloncat-loncat dihadapanku..

Aku hanya tersenyum, ku perhatikan gerak-geriknya, tak sempat aku bertanya ia sudah duduk disebelahku..

“Ify, gue udah baikan sama Dea!!” ujarnya bangga. Kembali aku menahan rasa yang menusuk-nusuk dihatiku saat ini..

“Oh ya?” tanya ku pelan, suaraku agak parau...

“Iya, barusan aja gue minta maaf sama dia, dan dia langsung maafin gue, dia bilang dia ga mau berantem lagi sama gue, dan dia janji buat ga ngelakuin hal yang udah lewat yang nyakitin gue...”

“Baguslah, selamat ya...” balasku..

“Iya iya... ini berkat lo juga Fy.. makasih ya... Eh tapi tunggu...” raut wajah Rio berubah ketika melihatku..

“Lo nangis Fy? Kenapa?” tanya Rio, wajahnya sedikit khawatir..

“Eh nggak kok.. kata siapa.. Gue ga nangis...” aku mengelak sambil menyembunyikan wajahku..

“Bohong ah, itu matanya merah.. Lo kenapa? Ada masalah?”

“Nggak Rio, gue ga papa...” aku tetap mengelak pertanyaannya..

“Kalo lo mau, lo bisa cerita ke gue.. Gue bakal dengerin, dan siapa tau gue bisa kasih solusi...”

Aku tetap pada pendirianku dan hanya menggeleng padanya..

“Ya udah gue ga maksa, yang pasti kalo lo butuh temen lo cari aja gue...” Rio tersenyum, “Fy, gue cabut dulu ya, mau nemuin Dea... Daaah..” Rio langsung berlari meninggalkanku..

Mungkinkah kau merasakan..
Semua yang ku pasrahkan...
Kenanglah kasih..........

Aku berusaha menarik kedua sisi bibirku untuk memperlihatkan bahwa aku tidak kecewa, meski air mata itu tetap mengalir, aku yakin senyumku akan melawan semuanya...

***

“Maaf ya De lama...” kata Rio setelah ia menemui Dea..

“Iya iya ga papa, emm.. emang tadi dari mana?”

“Itu ada temen gue.. Eh iya, nanti malem ada waktu ga? Kita dinner yuk...” ajak Rio

Dea membelalakkan matanya tampak gugup..

“Emm... ntar malem ya? Aduh Yo, sori gue ga bisa....” sesal Dea

“Ga bisa kenapa?”

“Gue... gue.. mau.. mau temenin mama, iya, mau temenin mama ke acara temennya...” jawab Dea, iya mengatur nafasnya gugup..

“Oh gitu, ya udah ga papa, lain kali aja deh...” Rio tersenyum

“Iya, maaf ya... Ntar gue pasti sempetin waktu deh...” ujar Dea....

***

Malam harinya, alhasil Rio hanya sendiri, ia merasa bosan dan pergilah ia keluar untuk berjalan-jalan sejenak... Secara tiba-tiba ia memarkir cagivanya tepat di sebuah restoran makan malam terkenal di Jakarta, ia mencurigai sesosok wanita cantik dengan gaun putihnya didalam sana yang sedang duduk berdua bersama orang lain...

Rio masuk ke resto itu, dia sedikit bersembunyi di balik jaket kulitnya, hatinya tiba-tiba bagai tertusuk-tusuk pisau melihat gadisnya sedang berpegangan tangan mesra dengan pria lain...

Hati Rio sudah panas, tapi dia menahan emosi, perlahan-lahan dia mendekat ke arah Dea dan pria itu..

“Ehmm...” sapa Rio, sontak Dea langsung melepaskan genggaman tangannya dan melihat Rio..

“Hai De... Nyokap lo mana?” tanya Rio ia berpura-pura memandang sekitar...

“Oh ini ya? Sejak kapan nyokap lo pake jas?” Rio mulai menatap Dea sinis...

Dea tampak sangat ketakutan dan ia tak mengeluarkan kata-kata sedikitpun..

Rio menahan tawanya dan hanya tersenyum,

“Nyantai aja kali, ga usah gugup gitu ketemu temen, okee, gue cabut ya, ga enak lama-lama gangguin... Over...” Rio melangklahkan kakinya sambil menatap Dea tersenyum...

***

Panik! Itu yang aku rasakan sekarang, diama buku itu? Dimana diary bersampul hijau tosca itu? Berulang-ulang aku mencarinya di kamar, sampai ke seluruh penjuru rumah aku cari..

“Apa mungkin disekolah ya?” gumamku, tapi sayang hari sudah larut malam, tak ada waktu lagi untuk mencarinya, aku pun akhirnya memutuskan untuk beristirahat agar esok bisa datang lebih pagi kesekolah...

***

Dan benar saja, aku datang selagi sekolah masih sepi, cepat-cepat ku lihat meja tempatku duduk, di laci, bahkan di loker sekolah, tapi hasilnya nihil. Perasaan cemas ku bertambah parah, aku pun berlari ke taman itu, kucari disekitarnya, kucari sampai ke pelosok semak-semak...

Ck! Lagi-lagi aku berfikir bahwa aku adalah gadis yang bodoh! Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkan barang berhargaku di sembarang tempat? Bagimana tanggapan orang yang membacanya? Sepertinya aku memang harus bersiap untuk dipermalukan hari ini juga...

“Apa mungkin ditemuin sama seseorang ya?” gumamku masih dengan perasaan gelisah...

Aku memelotokan mata ketika melihat Rio yang berjalan di koridor sekolah. Aku baru ingat, terakhir aku membawanya ketika bersama Rio, apa mungkin diary itu ada ditangan Rio???

***

Sesampai dirumah aku masih bersyukur bahwa tidak ada yang mempermalukanku disekolah karena diary itu, aku pasrah. Mungkin diary itu memang telah hilang secara tragis, dibuang, dibakar, atau mungkin basah dan hancur karena air...

Duduklah aku di taman komplek sore ini, sendiri, tanpa ditemani diary kesayanganku, kubunyikan mp3 dari ponselku untuk mengusir sepi, aku tersenyum melihat judul lagu teratas yang sering sekali aku putar, sekali lagi, diwaktu ini aku memutar kembali lagu itu...

Ku suka dirinya, mungkin aku sayang..
Namun apakah mungkin kau menjadi milikku...

Ku nikmati setiap alunan melody dari lagu itu dengan menghayati lirik-liriknya, akhirnya air mata dalam senyumanku menetes kembali.. Sambil memandangi langit-langit sore hari yang cerah, aku melihat bayangan sesosok orang yang berdiri dibelakangku.. Aku menolehnya...

Senyuman dan tatapan mata yang teduh itu kembali memikatku saat ini, dengan penampilannya yang sederhana, hanya dengan kaos, jeans dan sweater birunya. Sedikit menyesal karena artinya aku telah gagal menghilangkannya di otakku, dan aku yakin otakku akan cepat sekali merekam raut wajah yang merupakan anugerah Tuhan yang sedang berdiri dihadapanku ini..

“Hei...” sapanya, aku pun berdiri...

“Lo lagi ngapain Fy? Kok sendiri?”

“Gue ga ngapa-ngapain, cuma mau nikmatin langit aja...” jawabku, “Ehm, ada apa ya Yo? Kok lo kesini?”

“Ga papa, kebetulan lewat dan gue liat lo...” jawab Rio tersenyum...

“Fy, gue mau kasih tau sesuatu...” Rio menghela nafas..

“Iya, ada apa? Lo ada masalah lagi?” aku memberanikan diri untuk bertanya..

“Gue putus sama Dea...” Rio memejamkan matanya sesaat..

Aku terkejut mendengar kata-kata itu, ada sesuatu yang bergetar dihatiku saat ini, seakan-akan darahku yang sempat berhenti kini mengalir kembali dengan lancar dan bertambah cepat..

“Gue.. gue udah tau Dea itu orangnya gimana, dia udah jahat sama gue, dia kepergok selingkuh dibelakang gue! Dan gue liat sendiri...” ujar Rio, nada bicaranya tampak tenang dan tidak gugup ataupun sedih..

Aku lebih kaget mendengar fakta itu, tak kusangka Dea bisa bersikap sangat keji, dia benar-benar jahat dengan memperlakukan orang yang sangat mencintainya dengan cara begini.

“Lo sabar ya Yo.. Gue yakin lo pasti dapet pelajaran penting dari semua masalah lo, dan lo harus percaya, setiap masalah pasti ada jalan keluarnya...”

Rio tersenyum, “Thanks Fy.. Gue beneran dapet pelajaran itu.. Dan, dan sekarang gue tau masih ada dan banyak banget cewek yang lebih baik dari Dea, yang bisa gue cintai, dan yang lebih berhak dapetin cinta tulus gue..

Aku membalas senyumannya, dan lega dengan kata-kata yang diucapkan Rio.. Setidaknya aku bisa tersenyum kembali melalui hari-hari hidupku dengan menjadi orang yang mengaguminya bahkan memendam perasaan padanya..

Kau pernah menjadi, menjadi miliknya...
Namun salahkah aku...
Bila kupendam rasa ini...?

“Ify...” tegur Rio lagi...

“Kalo nyimpen perasaan buat seseorang itu ga salah ya?” Aku terkejut mendengar pertanyaan Rio..

“Eh... maksudnya? Kok lo nanya gitu ke gue?”

Dia sedikit tertawa mendengar jawabanku, sementara aku masih tampak heran..

“Gue udah tau dan nemuin cewek yang lebih baik itu, gue yakin dia lebih baik daripada Dea, dan... dan sekarang dia ga perlu nyimpen perasaannya lagi...” Rio mengeluarkan sesuatu ditanganya dan menunjukkannya kepadaku sambil tersenyum...

Jantungku terasa tinggal tersangkut seperti benang, yang artinya sudah sekarat dan siap untuk terlempar-lempar diskujur tubuhku, kulihat senyumannya yang penuh arti itu sambil memegang buku yang sejak kemarin aku cari-cari...

Aku membalas senyumannya, mulai berani menatap wajahnya, rona merah tampak jelas di pipiku...

“Ify, mulai detik ini, esok, dan seterusnya....” bisik Rio...

1 komentar: